Posts tagged ‘Twitter’

30 Mei 2012

Indonesia Negara Terindah Keempat di Dunia

Ternyata Indonesia bukan negara terindah di dunia seperti yang banyak orang sangka. Dalam sebuah survei di jejaring sosial, Twitter dan Pinterest disebutkan, Indonesia hanya menempati urutan keempat sebagai negara terindah di dunia.

Lalu negara mana yang memiliki pemandangan paling menakjubkan di dunia? para pengguna dua jejaring sosial itu menyebutkan satu nama negara, Latvia. Sementara Meksiko dan Turki menyusul di tempat kedua dan ketiga, atau di atas Indonesia.

Ya, meski kebanyakan orang cenderung mengatakan negara yang bermandikan cahaya matahari dan beriklim tropis adalah negara paling indah di dunia, tapi Indonesia yang memiliki kriteria tersebut tak masuk dalam tiga besar.

Raja Ampat di Papua adalah salah satu tempat di Indonesia yang disebut-sebut sebagai surga dunia.

Survei ini pertama-tama meminta wisatawan untuk menunjuk gambar negara yang menurut mereka paling indah di dunia pada Pinterest atau menjelaskan negara mana yang layak dikatakan paling indah melalui Twitter. Hasilnya pun cukup mengejutkan.

Seperti dinukil dari Dailymail, Sejauh ini, Latvia mendapat suara sebesar 36 persen melalui Twitter dan Pinterest. Disusul Meksiko dan Turki dengan 11 dan 5 persen suara. Sementara Indonesia menempati posisi empat diikuti Inggris dan Italia di rangking kelima dan keenam. Destinasi liburan yang juga berhasil masuk ke 10 negara teratas, termasuk Selandia Baru di tempat ketujuh, diikuti oleh Brasil, India, Kanada dan Irlandia.

Latvia adalah sebuah negara di Eropa Utara yang beribu kota di Riga. Latvia memiliki batas darat dengan dua negara Baltik, yaitu Estonia di utara dan Lituania di selatan, serta dengan Rusia dan Belarusia di sebelah timur. Latvia juga memiliki batas maritim dengan Swedia. Negara ini menawarkan destinasi wisata berupa pantai laut biru dan pasir bak kristal. Adapula Taman Nasional Gauja dan penduduknya yang energik.

Berikut ini daftar negara yang dinilai paling indah di dunia, menurut First Choice:
1. Latvia
2. Meksiko
3. Turki
4. Indonesia
5. Inggris
6. Italia
7. Selandia Baru
8. Brasil
9. India
10. Kanada
11. Irlandia
12. Amerika Serikat
13. Kroasia
14. Swiss
15. Australia
16. Kolombia
17. Yunani
18. Peru
19. Portugal
20. Prancis.

source: republika.co.id

pb: mattula_ada@live.com

17 Mei 2012

Twitter Lebih Bersinar Dibanding Media Massa

by: Vanny Dermawanti

Hampir 80 persen masyarakat khususnya mahasiswa, lebih menyukai mendapatkan informasi dari sosial media seperti Twitter dibandingkan membaca suratkabar. Informasi yang didapat dari Twitter lebih cepat dan update dibandingkan suratkabar yang baru keesokan harinya muncul. Sejumlah mahasiswa YAI mengaku mereka memilih twitter dibandingkan menonton televisi atau membaca suratkabar. ”Setiap saat dan setiap waktu. Nah untuk lebih detailnya barulah membaca berita online,” ujar Disty Resta Denada, salah satu mahasiswi FIKOM YAI yang rajin ngetweet.

Berdasarkan penelitian Semiocast, lembaga riset media sosial yang berpusat di Paris, Prancis, ternyata jumlah pemilik akun Twitter di negara ini merupakan yang terbesar kelima di dunia.
Indonesia berada di posisi kelima dengan jumlah akun 19,5 juta, setelah disalip oleh Inggris Raya yang berhasil berada di posisi keempat dengan 23,8 juta akun. Sementara itu, posisi satu ditempati Amerika Serikat dengan 107,7 juta, posisi kedua diraih Brasil dengan 33,3 juta, dan Jepang di posisi ketiga dengan 29,9 juta akun. “Berita dan informasi di twitter  lebih informatif dan cepat tanpa harus kita membaca koran setiap pagi, dan di twitter kita bisa melihat informasi terbaru setiap jam dan setiap detiknya tanpa harus mencari-cari koran lagi”, ujar Dewi, mahasiswi FIKOM YAI.

Twitter adalah sebuah situs web yang dimiliki dan dioperasikan oleh Twitter Inc., yang menawarkan jejaring sosial berupa mikroblog sehingga memungkinkan penggunanya untuk mengirim dan membaca pesan yang disebut tweets.

Tweets adalah teks tulisan hingga 140 karakter yang ditampilkan pada halaman profil pengguna. Tweets bisa dilihat secara luar, namun pengirim dapat membatasi pengiriman pesan ke daftar teman-teman mereka saja. Pengguna dapat melihat kicauan penulis lain yang dikenal dengan sebutan follower.

source: republika.co.id

pb: mattula_ada@live.com

29 Maret 2012

Mengejar Cinta ke Ibu Kota Negara

by: Muh. Takdir

Pertama sekali simpatik terhadap gadis itu ketika menjadi Chief Even Organizer pada salah satu kegiatan yang pernah dilakukan di sekolahnya. Kebetulan pada saat itu sekolah kami ada undangan untuk menghadiri acaranya. Saya dan beberapa teman lainnya sebagai utusan dari sekolah kami. Mengenal dia dari salah satu teman. Selama masa-masa Madrasah Aliyah (setingkat SMA) kami beberapa kali ketemu dalam beberapa kegiatan-kegiatan tertentu. Hanya saja pada saat itu saya tidak ada kemauan untuk mengungkapkan rasa ini. Yaa berusaha melaksanakan amanah orang tua. “Nak, kamu jangan sekali-sekali dulu berfikir mau pacaran, fokus lah dulu sama sekolah kamu. Suatu saat kamu akan dapat sendiri gadis pujaan kamu dan Allah SWT pasti memberikan yang terbaik buat kamu. Belajar saja dengan rajin dan tekun nak.! “ kata orang tua kepada saya sebelum meninggalkan kampung halaman untuk pergi sekolah di Ibu Kota Kabupaten dimana saya tinggal pada saat itu.

Setelah menyelesaikan sekolah di Madrasah Aliyah beliau sudah tidak ada kabar, entah kemana dirinya melancong. Beberapa kali mencari kabar tentang dia, namum tidak ada hasil. Yaa terkadang pesimis itu sudah mulai menghantui akan dirinya kalau saya tidak akan ketemu lagi dengan dia. Meskipun selama kuliah sempat jalan dengan gadis-gadis lain, tapi perasaan itu hanya sebatas teman, sahabat bahkan diantaranya seakan-akan saudara sendiri. Kuliah S1 selesai belum ada juga kabar tentang dia.Beberapa kali searching tentang dia melalu jejaring sosial, sebutlah Facebook, twitter, friendster, dan lain-lain belum juga ada hasil.

Menjelang tujuh tahun kemudian setelah tamat di Mad. Aliyah. Salah satu junior saya di Mad. Aliyah datang di Makassar dari Jakarta yang kebetulan pada saat itu saya yang menjemputnya di Bandara Hasanuddin Makassar. Berbincang-bincang tentang almamater, ternyata banyak teman-teman yang kuliah di Jakarta. Secara tidak langsung menyebut nama gadis yang selama ini saya cari-cari. Kebetulan dia yangarrange-kan tiket. Bekerja di salah satu Travel di Jakarta sambil melanjutkan S2 di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Itulah profesinya saat ini. Terenyuh dan terkesimah mendengar informasinya, ternyata masih seperti dulu selalu aktif dalam hal apapun yang sifatnya education dan karir.

Terima kasih buat junior saya, karena beliau data tentangnya sudah saya dapat termasuk Contact Person dan akun Facebooknya, itu sudah melebihi dari cukup. Keesokan harinya membuka facebook dan searching akunnya. Alhamdulillah, dapat dan meminta pertemanan. Dikonfirmasi dan memulai chating. Hampir tiap hari kamichat. Yaa tentu diawal-awal chat kami saling bercanda gurau meskipun sebenarnya dia tidak tau saya secara dekat, apalagi semasa Mad. Aliyah aku dikenal hanya sebatas nama meskipun beberapa kali ketemu.

Kurang lebih dua minggu berjalan sejak mulai akrab lewat dunia maya (Facebook) bahkan tidak jarang kami SMS-an dan bicara lewat Handphone. Dan pada saat itu aku mengungkapkan perasaan kepada dia. Dalam hati seraya berdoa semoga saja beliau belum ada yang memiliki. Hehehe. Awalnya sih dia mengira kalau saya hanya bercanda. Namun aku tetap berusaha meyakinkan bahwa saya betul-betul ada rasa pada dirinya. Akhirnya beliau menjawab dengan mengawali kalimatnya permohonan maaf kepada saya. Ternyata beliau sudah dipersunting oleh seorang laki-laki dari seberang pulau. Jawaban itu tidak membuat saya pesimis malah saya berjanji sama dia kalaupun kita bukan jodoh, kita akan tetap menjalin komunikasi tapi paling itu sebatas teman melainkan bukan lagi orang spesial.

Hal yang membuat saya semakin optimis karena sebagian keluarganya kurang setuju dengan laki-laki tersebut. Pada umumnya keluarganya menyayangkan kalau dia menikah dengan laki-laki itu. Dari sisi materi dan semangat hidup itulah yang dimiliki laki-laki tersebut, tapi dari sisi pendidikan dia agak ketinggalan dalam hal itu. Sementara gadis itu, sejak SD sampai tamat di Mad. Aliyah tidak pernah melepaskan peringkat tiga besar, apalagi sekarang lagi on progress penyelesaian S2. “Kami bukan tidak menghargai dia. Kami tau kalau dia juga punya kelebihan yang belum tentu dimiliki oleh sebagian orang yang berpendidikan. Tapi alangkah lebih bagusnya kalau kamu mempunyai pendamping hidup yang sepadan dengan pendidikan kamu, paling tidak seorang laki-laki yang selesai S1.” Kalimat ini yang sering muncul dari keluarga gadis tersebut.

Suatu ketika gadis tersebut menceritakan kepada keluarganya mengenai niat suci saya. Beliau menjelaskan tentang saya, mulai dari latar belakang pendidikan, keluarga, dan cukup uniknya kalau saya dan dia pernah sekolah di satu Yayasan Pendidikan yang sama yaitu Pondok Pesantren As’ Adiyah. Hanya saja mulai dari MTs (setingkat SMP) sampai Mad. Aliyah siswa laki-laki dan perempuan dipisahkan. Sehingga perempuan dan laki-laki masing-masing punya sekolah tersendiri. Pada prinsipnya kalau kurang lebih orang tuanya mendukung saya.

Suatu hari saya pun nekat ke Jakarta ingin bertemu dengan dia. Awalnya sih dia tidak setuju kalau saya ke Jakarta dengan tujuan hanya karena dia. Karena dia lagi terikat dengan laki-laki yang sudah mempersuntingnya. Selama tidak ada janur kuning, kemungkinan-kemungkinan yang tidak disangka masih bisa terjadi. Gadis tersebut sangat khawatir kalau saya ke Jakarta yang akhirnya aku kecewa. Meskipun kalimat-kalimat itu sering disampaikan kepada saya, nekat untuk pergi tetap akan aku lakukan. Dan akhirnya aku pun berangkat ke Jakarta dan bertemu dengan beliau. Alhamdulillah, kedatangan saya ke rumahnya mendapat respon positif dari keluarganya. Saya pun semakin optimis. Kembali ke Makassar dengan rasa senang. Tinggal menunggu informasi selanjutnya tentang dia. Karena sesuatu hal yang dilakukan oleh pihak laki-laki yang mempersuntingnya yang secara tidak langsung membuat orang tuanya kecewa. Sesuatu hal itu menyangkut harga diri. Akhirnya orang tuanya memutuskan untuk tidak melanjutkan.

Sembari menunggu suasana tenang itu di keluarganya saya pun menyampaikan ke orang tua mengenai niat saya menikahi gadis tersebut. Pada dasarnya orang tua pun sangat setuju dengan gadis itu, meskipun gadis itu hanya dikenalnya lewat poto dan komunikasi lewat telpon. Itulah salah satu kelebihan yang dimiliki orang tua yang harus dipelajari bagi generasi muda bahwa meskipun hanya lewat telpon dan poto sudah bisa menebak karakter seseorang.

Apakah dia akan menjadi jodoh saya atau tidak. Semuanya diserahkan kepada Allah SWT. Usaha maksimal untuk memilikinya sudah dilakukan. Mengakhiri tulisan ini dengan mengutip pribahasa dalam versi bugis oleh salah seorang senior, kakanda, dan advisor kami sebagai berikut :

GALIGO HARI INI (SERI 98 )
Menjawab pertanyaan Ifa HR dan Takdir

Mauluttu Massuajang (8)
Oki SiputanraE (7)
Teppa Rewe’mua (6)

Arti Bugis Umum
Mauni lao tega laona, narekko siputotoi, tette’i siruntu

Arti Indonesia
Dimanapun keberadaannya, kalau sudah jodoh, takkan kemana.

Penjelasan
Galigo ini tidak termasuk dalam kategori sulit, tidak memiliki pelapisan makna, tidak juga memiliki kata kunci sebagai pembuka keseluruhan maknanya. Galigo ini mudah dicerna, meski kata yang dipakai bukan lagi kata dalam kosa kata Bugis yang jamak ditemui saat ini. (Sumber : http://www.facebook.com/suryadin.laoddang)

 wb: mh_takdir@yahoo.com

6 Februari 2012

Tenggelam Dalam Dunia Maya

Oleh : Ika Yuliasari, pembelajar media komunikasi

Perkembangan teknologi informasi saat ini memunculkan media komunikasi dalam dunia cyber dengan  internet sebagai infrastrukturnya.  Straubhaar dan La Rose (2005,261) memaparkan tentang fenomena komunikasi dimana saat ini khalayak lebih tertarik pada informasi , hiburan, dan belanja elektronik (e-commerce) yang difasilitasi oleh internet. Hal ini dapat kita jumpai di  bidang pemerintahan, pendidikan, politik, sosial, ekonomi dan budaya, bahwa eksistensi dunia internet sangat bermanfaat saat sosialisasi pesan dilakukan untuk memberikan pengetahuan dan pencerahan kepada publik. Secara online masyarakat juga dapat melakukan pengurusan kartu identitas , pembayaran tagihan telepon dan listrik, jual beli di bidang property, pemesanan tiket moda transportasi,  pembelian produk kebutuhan pangan dan sandang, transaksi produk otomotif, layanan game untuk hiburan, membentuk jaringan komunitas di Facebook,Twitter, Yahoo dan sebagainya. Sampai detik ini istilah ‘gaul’ bagi masyarakat Indonesia dapat diindikasikan  dengan  keterlibatan individu dalam dunia ‘online’. Orang yang tidak melibatkan diri dalam dunia cyber  diasumsikan sebagai orang yang ketinggalan zaman dan tidak mengikuti trend masa kini.

Eksistensi dunia maya secara langsung akan membawa perubahan pola dan perilaku komunikasi  . Bayangkan saja, untuk mengakses internet kita tidak membutuhkan perangkat komputer lagi, namun cukup dengan telepon genggam beraplikasi lengkap kita dapat mengakses dunia maya dimanapun dan kapanpun. Bahkan demam  laptop, notebook,blackberry, iPhone, dan iPad  dewasa ini juga turut menyemarakkan euphoria teknologi informasi di berbagai belahan dunia. Media komunikasi modern akan menghubungkan jutaan orang di dunia secara terus menerus dan tentu saja pesan yang disampaikan sangat heterogen. Hal ini seperti yang disebut oleh Mc Luhan sebagai ‘the global village’.
Dampak dari fenomena kemajuan di bidang teknologi informasi tersebut , pertama,  komunikasi tak berbatas, komunikasi tanpa batas jarak, ruang dan waktu menggulirkan proses interaksi yang sangat responsive diantara penggunanya. Sebagai contoh adalah fasilitas gratis di internet dari Yahoo, Google, Facebook , Twitter akan memberikan manfaat yang menyenangkan bagi penggunanya, seperti chating, memajang iklan komersial, membentuk jaringan komunikasi, dan sebagainya. Proses transformasi pesan melalui berbagai media sosial tersebut dapat dilakukan tanpa mengenal jarak , ruang, dan  waktu akan  berlangsung sangat cepat. Kedua, konvergensi media komunikasi, , konvergensi media dipicu oleh hadirnya infrastruktur  internet dan digitalisasi informasi yang selalu diperbaharui. Tidak sebatas pada pergeseran penggunaan media sosial masyarakat di cyberspace, namun juga melibatkan aspek sosial dan budaya dimana masyarakat akan berinteraksi secara dinamis untuk mengaktualisasikan diri dan menemukan pola terbaru dalam pemanfaatan teknologi informasi. Ketiga, kehadiran dunia semu(maya) . Hal inilah yang selama ini disinyalir sebagai pendukung terbentuknya realitas semu.

Dengan kolaborasi media konvensional(Koran, TV, radio, dll), fasilitas internet, dan perangkat lunak untuk mengakses dunia maya, maka secara tidak disadari realitas ‘maya’ dalam ruang komunikasi terbentuk. Berbagai media cetak dan elektronik saat ini juga mengembangkan distribusi informasi dengan penyediaan laman media di internet. Sangat berbeda dengan realitas fisik yang mengakomodir interaksi sosial secara fisik di antara komunitas masyarakat, realitas semu lebih mudah terbentuk dengan dunia internet beserta implikasinya.

Sebagai contoh, pada saat kita melangsungkan percakapan via internet ( chating) beragam informasi yang disampaikan belum tentu memiliki tingkat kebenaran yang tinggi demikian pula pada saat kita melakukan update status maupun mengunggah informasi di berbagai jaringan media sosial.

Dengan sekilas uraian tersebut, sekiranya masyarakat mampu membentengi diri dengan pengetahuan dan pemahaman yang memadai tentang aktivitas di dunia cyber. Kemanjaan masyarakat dalam buaian teknologi informasi, setidaknya menjadi peringatan awal, bahwa realitas fisik sosial tidak dapat diabaikan begitu saja. Karena interaksi manusia sebagai makhluk sosial akan mewujudkan sistem sosial yang lebih kuat dan bersifat nyata. Meskipun mereguk kemudahan dalam melangsungkan aktivitas keseharian melalui fasilitas internet , masyarakat disarankan untuk tetap memiliki pola pemikiran kritis dalam menghadapi pesatnya kemajuan teknologi informasi. Hal tersebut ditempuh untuk menghindari efek dunia maya yang berpotensi menimbulkan  beragam permasalahan . Melonjaknya jumlah  pengguna media sosial seperti Facebook, Twitter dan media sosial online  lainnya menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia saat ini sudah mengalami melek teknologi dan sesungguhnya dibayangi kerentanan masalah dalam dunia maya. Hiperrealitas(hiperreality)  seperti yang dipergunakan oleh Baudrillad untuk menjelaskan tentang kondisi masyarakat yang gamang membedakan realitas fisik sosial dengan simulasi realitas yang tercipta melalui pemanfaatan teknologi nampaknya menjadi kenyataan yang saat ini dialami dan mengejawantah dalam perikehidupan masyarakat dunia.

Pergeseran nilai-nilai budaya dan norma kehidupan masyarakat juga didukung oleh  gempuran informasi global yang melanda . Pengaruhnya adalah pada pola pikir, gaya hidup, dan perubahan norma yang dipatuhi oleh masyarakat dan dapat  membawa kehidupan masyarakat pada realitas sosial baru yang mungkin bertentangan dengan realitas fisik masyarakat.

Sebagai ilustrasi ,munculnya berbagai permasalahan dalam dunia maya seperti pencemaran nama baik, kriminalitas , pornografi, dan penyamaran informasi kepada publik telah marak terjadi. Kita dapat menilik  pada  kasus pengaduan pencemaran nama baik lembaga atau individu di dunia maya yang pada akhirnya  menjadi konsumsi berita publik dan dilansir di media televisi, radio, dan koran. Jika masyarakat memiliki pengetahuan dan pemahaman baik terhadap regulasi yang berlaku seperti UU ITE 2008 yang diterapkan di Indonesia, tentu saja berbagai permasalahan yang muncul dari dunia maya dapat diminimalkan. Namun demikian tetap dibutuhkan sosialisasi dan pengawasan dari pihak terkait seperti pemerintah dan pengelola media sosial untuk mengantisipasi keretakan hubungan sosial di media internet.

Bagaimanapun, kemajuan teknologi di bidang informasi adalah realitas fisik yang mendatangkan manfaat bagi umat manusia, tetapi sisi negatif dari kemunculan teknologi informasi sebenarnya dapat dikendalikan oleh peranan masyarakat dalam implementasi teknologi informasi untuk  kehidupan masyarakat. Realitas semu yang pembentukannya didukung  oleh aplikasi teknologi informasi seyogyanya menjadi bagian dari proses pembelajaran masyarakat terhadap konvergensi media modern. Bukannya menjadikan masyarakat berkarakter sebagai masyarakat instan yang menginginkan segala sesuatu serba cepat dan masyarakat yang gemar menenggelamkan diri  dalam gejolak dunia maya. (*)

source: http://pewarta-indonesia.com/inspirasi/opini/7370-tenggelam-dalam-dunia-maya.html

pb: mattula_ada@live.com