Posts tagged ‘puncak’

29 Maret 2012

Restoran di Ketinggian 1500 mdpl

by: Muh. Takdir

Termasuk langka jika bisa menemukan restoran di ketinggian 1500 mdpl apalagi menikmati hidangan makan, minuman dan cemilang-cemilang lainnya di restoran dengan ketinggin itu. Kawasan Puncak pegunungan merupakan salah satu alternatif tujuan wisata yang banyak dipilih masyarakat, khususnya bagi orang-orang kota yang sehari-hari sibuk dengan pekerjaan, hawa panas, dan asap knalpot. Memanjakan diri di kawasan pegunungan yang berhawa dingin, panorama alam yang begitu indah, bukan tembok-tembok tinggi dan gedung-gedung bertingkat yang angkuh yang dijumpai di kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Makassar pun sudah mulai seperti itu, sungguh menjadi sarana melepas kepenatan, kegalauan, stress, kepimplangan, dan sebagainya. Tak ada kebisingan yang membuat telinga menjadi tidak lagi “peka” terhadap gejala-gejala alam. Mendengar kata “Puncak”, yang mungkin terbayang adalah sebuah tempat antara Bogor dan Cianjur yang kini telah dipenuhi vila-vila orang kota. Tak banyak yang tahu bahwa daerah di luar Jawa pun memiliki kawasan puncak yang tak kalah indah mempesona. Sulawesi Selatan misalnya. Penduduk Sulawesi Selatan sendiri masih banyak yang kurang tahu kalau Sulawesi Selatan pun punya tempat-tempat rekreasi yang kalah indahnya dengan yang ada di pulau Jawa.

Kota Malino, yang terletak 90 km arah selatan Kota Makassar, tepatnya di Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, merupakan salah satu kawasan wisata alam yang memiliki daya tarik yang luar biasa, seperti kawasan puncak Bogor ataupun Bandung. Waktu kecil saya mendengar Wisata Malino adalah objek wisata terbaik yang ada di Gowa di Sulawesi Selatan. Pertama kali menginjak kaki di Wisata Malino ketika menjadi Mahasiwa Baru di LIKMI STEKOM Sengkang, Sulawesi Selatan. Malino dengan objek wisata yang dikenal diantaranya air terjun takapala, air terjun Jonjo, Air terjun Lembanna, pohon pinus, pohon strawbery, serta kebun teh yang ada dipuncak pegunungan Malino dengan ketinggian kurang lebih 1500 mdpl. Kebun teh, ketika orang baru melihatnya melalui poto mengira kalau itu di pulau Jawa, anggaplah Bogor misalnya. Yaa, seperti itulah bagi orang-orang yang belum tahu tentang Kebun Teh Malino.

Kebun Teh Malino merupakan kawasan wisata yang cukup diminati masyarakat di Sulawesi-selatan bahkan orang-orang asing karena pemandangan yang indah dan udara yang sangat sejuk serta bebas dari polusi. Perkebunan Teh Malino yang terletak di Desa Bulutan dengan jarak sekitar 9 km dari kota Malino. Perkebunan teh ini merupakan hasil kerja sama antara Mitsui Norin Co. Ltd dan PT. Dharma Incharcop Coy, sebagai share holder dibawa bendera PT. Nittoh Malino Tea.

Namun semakin hari semakin banyak pengunjung berdatangan di kebun teh ini, pada awal Desember tahun 2011 lalu, pemerintah setempat serta beberapa instansi-instansi terkait berinisiatif melakukan renovasi di kebun teh ini. Mulai dari jalanan yang awalnya hanya jalanan yang tanpa aspal dijadikan aspal seperti jalanan pada umumnya, dibangun juga jalanan setapak menuju ke air terjun yang masih dalam kawasan kebun teh dan yang paling uniknya lagi yaitu membangun sebuah restoran dipuncak kebun teh Malino. Sejak habis direnovasi Kebun teh ini mulai beroperasi per tanggal 25 Desember 2011. Karcisnya pun sebelumnya hanya Rp. 5.000 itupun terkadang orang mengistilahkan uang rokok buat security, tapi sekang karcis sudah status resmi dengan harga Rp. 50.000/ orang dewasa.

Restoran inilah yang sangat unik karena letaknya berada di ketinggian 1500 mdpl. Saya rasa kalau restoran ini jika dikembangkan dan diperkenalkan ke seluruh daerah di Indonesia terkhusus di Sulawesi akan semakin banyak pengunjung berdatangan.

 

Nampak dari jauh restoran dipuncak kebun teh yang diambil dari bagian bawah kebun teh tersebut.

 

Nampak gambar restoran ini dari sudut samping dan depan.  

Seperti inilah pemandangan yang bisa dilihat di restoran ini. Pengunjung dapat memandang gunung berjejeran yang setinggi dengan lokasi bahkan pengunjung dapat melihat Bendungan Bili-bili dan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

Jalanan aspal yang harus dilewati menuju Restoran puncak Kebun Teh Malino.

wb: mh_takdir@yahoo.com

Iklan
28 Maret 2012

Refreshing dengan Mendaki

by: Muh. Takdir

Banyak hal yang dilakukan orang untuk refreshing. Jalan-jalan ke Mall, ke pantai, museum-museum ataupun tempat-tempat rekreasi lainnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap insan memang butuh refreshing diri demi penyegaran otak dari rutinitas-rutinitas tertentu.

Saya termasuk salah seorang yang punya hobby “jalan-jalan” ke mana saja. Diantara sekian objek refreshing yang belum saya lakukan sebelumnya yaitu mendaki (hiking). Penasaran dengan pengalaman mendaki. Karena sebagian orang beranggapan kalau mendaki itu, hanya cari mati, membuat diri sengsara, capek atau semacamnya, termasuk saya pernah berpikiran seperti itu.

Pengalaman hiking pertama kali yaitu ke Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan dengan ketinggian kurang lebih 1353 mdpl salah satu gunung yang cukup tinggi di Sulawesi Selatan yang sering dikunjungi masyarakat lokal maupun masyarakat luar baik dari kalangan mahasiswa ataupun masyarakat umum yang ingin menikmati keindahan puncak gunung tersebut.

1326343342278059411

Puncak Gunung Bulusaraung (Dokumen pribadi)

Pendakian pertama itu bersama Mahasiswa Fakultas Sastra UNHAS dan satu dari Mahasiwa Fakultas Hukum UMI. Meninggalkan Kampus UNHAS jam 18.30 dengan menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam tiba di desa Tompobullu tempat dimana kendaraan diparkir. Menginap satu malam kemudian keesokan harinya sekitar jam 08.00 pagi  trackingdilanjutkan ke  puncak Gunung Bulusaraung ditempuh sekitar tiga jam. Lumayan lama karena dua gadis ikut dirombongan kami. Saya salut dengan kedua gadis itu, dengan semangat yang gigih akhirnya mereka mampu menginjakkan kaki dipuncak Bulusaraung kebanding satu laki-laki dari rekan kami tidak mampu kepuncak. Kami menginap satu malam di gunung Bulusaraung tapi bukan di puncaknya, kemudian keesokannya kami kembali dan meninggalkan Bulusaraung jam 10.00 pagi tiba di Tompobullu  jam 12.00, istirahat sampai jam 14.00 kemudian melanjutkan perjalanan ke kota Makassar tiba sekitar pukul. 16.00.

Hal yang paling berkesan sewaktu ke Bulusaraung yaitu merupakan pendakian pertama yang saya lakukan, ternyata kebersamaan sangat terjalin dan begitu kompak padahal saya tidak pernah saling mengenal dengan pendaki lainnya kecuali dua orang diantaranya, dan hal yang paling menyenangkan ketika sampai dipuncak, seakan-akan perjuangan jatuh bangun, jerih-payah dan capek dijalan menuju ke puncak sudah terlupakan.

Pendakian yang kedua yaitu di Ramma-Tallung, kaki Gunung Bawakaraeng dengan ketinggian sekitar 1600 mdpl. Hiking kali ini bersama Mahasiswa dari POLITEKNIK MEDIA (POLIMEDIA) Makassar tambah satu Mahasiwa Fakultas Hukum UMI. Perjalanan ke Ramma-Tallung ditempuh kurang lebih enam jam perjalanan dari Makassar. Tempat parkiran kendaraan sebelum melakukan hiking yaitu Lembanna, yang kurang lebih 1 km dilewati kota Malino dari arah Makassar.

1326343432184152492

Tallung-Ramma (Dokumen pribadi)

Meninggalkan Kota Makassar jam 10.00 pagi dan tiba di Malino jam 12.00 siang. Istirahat sejenak terus melanjutkan perjalanan ke Lembanna. Di Lembanna istirahat sekitar satu jam kemudian melanjutkan hiking ke Tallung-Ramma. Tracking ditempuh sekitar empat jam yang semestinya bisa ditempuh tiga jam. Hal yang tidak bisa dipungkiri sebagai pemula bahwa aktivitas kami selama dijalan dominan dokumentasi. Kami hanya menginap satu malam di Ramma dan kembali keesokan harinya. Bukit dan gunung yang memagari Ramma dan Tallung menjadi pemandangan yang menarik di tempat ini. Di siang hari langit biru menyelimuti dengan indahnya awan sedangkan malam hari lembah ini berselimut hitam dengan taburan bintang-bintang yang bersinar. Anak sungai di mana-mana, airnya segar mengalahkan minuman bermerek. Menikmati suasana malam seraya diiringi suara-suara air sungai yang mengalir. Pemandangan kehijau-hijauan yang begitu indah terasa mengingatkan akan pentingnya hidup.

Dengan pengalaman hiking di dua objek tersebut menjadikan saya berkeinginan menginjakkan kaki di Gunung Bawakarareng yang merupakan salah Satu Gunung tertinggi di Sulawesi Selatan. Semoga harapan itu secepatnya tercapai.

Teringat salah satu Materi Pencinta Alam :
Ingatlah hai engkau penjelajah alam :
1. Take nothing, but pictures (jangan ambil sesuatu kecuali gambar)
2. Kill nothing, but times (jangan bunuh sesuatu kecuali waktu)
3. Leave nothing, but foot-print (jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak kaki)
(sumber : dari beberapa referensi)

Kesimpulan yang bisa saya petik ternyata hiking merupakan refreshing yang sangat bermanfaat dalam diri saya dibandingkan refreshing-refreshing lain yang pernah saya lakukan sebelumnya.  Dari hiking ataupun adventure kita bisa melihat jati diri kita. “Berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya”, kata Soe Hoek Gie. Jika ingin mengetahui jati dirimu maka bersahabatlah dengan alam. Hiking membuat saya betul-betul refreshing. Bagi yang belum pernah merasakan selamat mencoba.

wb: mh_takdir@yahoo.com