Posts tagged ‘pewarta warga’

25 Maret 2012

Pewarta Warga: Pencarian Jati Diri (2)

by: Retty N. Hakim

Problema utama saya sebagai pewarta warga adalah waktu. Bagaimana menyediakan waktu untuk menulis dengan berimbang dan obyektif sekaligus pencarian informasi secara langsung adalah kendala terbesar bagi saya. Karena itu menulis dengan tenggat waktu merupakan kesulitan yang nyata terasakan selama dua tahun bergelut dalam dunia jurnalisme warga ini.

Dahulu, seorang teman yang mantan wartawan profesional pernah menasehati agar saya lebih mengasah kemampuan menulis feature, karena tulisan seperti itu yang lebih awet dan lebih mudah “dijual”. Saya yang cenderung menyukai menulis opini memang harus banyak belajar berkisah dengan memandang sebuah peristiwa dalam bingkai feature. Terbiasa belajar menulis opini dan feature membuat saya harus menyesuaikan diri lagi dengan tuntutan piramida terbalik yang biasa digunakan dalam sebuah penulisan berita (news). Hal ini yang seringkali menjadi sorotan editor dari OMNI (OhmyNews International) ketika membaca tulisan saya. Walaupun tidak secara langsung menyentil struktur berita yang saya buat, biasanya saya diingatkan untuk meletakkan paragraf pembuka (lead) yang menarik di bagian atas.

Saya juga sering mendengar bahwa jurnalisme warga lebih cenderung ke arah feature dan opinidaripada hard news. Tapi, sebagai pembaca saya seringkali menemukan bacaan menarik justru di halaman-halaman opini dan feature . Karena itu lebih mudah bagi saya untuk tidak mengindahkan masalah gaya penulisan. Buat saya menulis bagaikan aliran air sungai yang mengarah ke laut, terkadang mungkin sedikit berbelok tapi akhirnya ke laut juga. Gaya penulisan seperti ini yang membuat pembaca tulisan saya mengatakan bahwa saya terlalu mengikuti emosi. Dan kejelekannya, mungkin seringkali saya jadi kehilangan fokus dalam berkisah.

Masalah fokus dan sampainya isi berita akan lebih mudah terbaca bila ada yang mengomentari tulisan yang diturunkan. Di Wikimu, fungsi editorial ini dilakukan langsung oleh pembaca lewat kolom komentar. Sebenarnya saya pernah bereksperimen juga meminta bung administrator Wikimu yang baik hati untuk mengomentari dua tulisan saya; satu tulisan yang memang disiapkan untuk Wikimu, dan satu lagi tulisan dalam bahasa Inggris yang saya siapkan untuk OMNI. Ternyata masukan dari administrator Wikimu cukup memperlihatkan kejeliannya menangkap “lompatan-lompatan” dalam otak yang membelokkan alur cerita di beberapa tempat, atau dimana ada alur yang seharusnya digali lebih dalam.

Buat saya adanya kritikan memang menjadi bahan pembelajaran, tapi ada kemungkinan juga bagi orang lain bisa menjadi pematah semangat. Sama seperti ketika semangat menulis saya untuk OMNI melorot karena tuntutan yang tinggi sementara waktu konsentrasi saya kurang. Karena itu buat saya bentuk “bisa-bisanya kita…” dari Wikimu tetap menarik untuk melihat proses pembelajaran yang terjadi. Pembelajaran yang terutama adalah bagaimana tanggapan pembaca terhadap tulisan yang dimuat, karena hal itu akan membantu penulis mengetahui apakah misi tulisannya tercapai.

Jurnalisme warga semakin berkembang

Saat ini jurnalisme warga sudah semakin berkembang, harian cetak juga berlomba-lomba memberikan tempat bagi suara warga. Begitu pula dengan kehadiran media interaktif di internet yang membukakan pintu suara bagi warga dalam komunikasi dengan pewarta profesional.

Sebenarnya beberapa media cetak konvensional di Indonesia dari dahulu memang memberikan tempat bagi suara warga dalam rubrik opini, maupun kontribusi tulisan feature. Perkembangan situs jurnalisme warga tampaknya juga membantu membukakan pintu untuk berkembangnya kontribusi suara warga di dalam lembaran harian cetak. Harian Kompas misalnya semakin memperkuat barisan “Muda”nya. The Jakarta Post tampak memperbesar porsi suara pembacanya. Beberapa harian cetak lain mengatakan membuka pintu bagi jurnalisme warga di hariannya. Salah satu harian lama yang baru bangun lagi yakni Harian Merdeka, juga berangkat dengan slogan akan menjadi pintu interaktif bagi citizen journalism, hal itu yang membuat saya diundang menulis pada edisi simulasi mereka. Perkembangan ini merupakan sinergi yang baik bagi harian cetak dengan jurnalisme warga, yang tentunya akan lebih menguntungkan harian cetak bila dikelola dengan serius dengan sentuhan editorial pada artikel warga yang ditampilkan.

Koneksi internet lancar masih termasuk mahal bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal ini terkadang mengganggu kelancaran memasukkan berita maupun foto. Terkadang editor dari OMNI merasa heran karena tidak ada masalah dalam sistem mereka, tetapi artikel dan foto saya tidak berhasil masuk kesana. Kesulitan koneksi menjadi kendala bagi kecepatan memasukkan tulisan, belum lagi waktu yang terbuang untuk mengirimkannya.

Kehadiran media cetak konvensional menjadi warna lain bagi jurnalisme warga. Seorang pedagang kaki lima juga bisa mengirimkan tulisannya ke sebuah buletin hanya berbekal kertas bekas bungkus nasi. Hal ini bukan fiksi, melainkan terjadi di Media Suara Warga Jakarta terbitan LSM Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), seperti yang tercatat di situs Satu Dunia.

Mengembangkan kemampuan mengeluarkan pendapat melalui tulisan, bukan melulu melalui demo dan tindakan anarkis akan semakin mengembangkan makna demokrasi di Indonesia. Tentu saja diharapkan bahwa pihak yang membaca dan berkepentingan dengan masalah yang disuarakan warga tidak sekedar ikut berkomentar lagi, melainkan menjadi masukan untuk mencari solusi masalah yang lebih tepat.

Harian Kompas mengangkat topik bagaimana mengaktifkan jurnalisme warga dalam kevakuman penulisan kritik seni yang berbobot. Hal ini menurut penulisnya, Ade Tanesia, juga akan mendorong terjadinya demokratisasi dalam seni rupa.

Sinergi para penyumbang suara

Satu keuntungan bagi jurnalis profesional dalam memperoleh akses berita adalah karena mereka memang bekerja di bidang tersebut. Hal ini juga yang menurut Ade Tanesia menjadikan tidak semua wartawan bisa menuliskan kritik seni dengan mudah, karena bidang kerja mereka yang berbeda. Berarti keuntungan seorang pengamat seni, seorang dokter, ataupun seorang analis saham dalam menghasilkan tulisan berbobot dalam bidangnya bisa jadi akan lebih besar dari seorang jurnalis profesional.

Kemungkinan terbesar kendala yang dimiliki warga non jurnalis adalah sempitnya waktu, bahkan mungkin juga kemampuan menulis yang tidak terasah. Portal jurnalisme warga di internet adalah akses tanpa batas bagi pembaca daring yang memungkinkan interaksi atau komunikasi yang akan menghasilkan pemikiran yang lebih tajam dan obyektif. Semakin banyak dan beragam warga yang menyumbangkan suara mereka tentunya akan semakin berbobot hasil akhir yang bisa diperoleh.

Para jurnalis profesional juga memerlukan waktu untuk meramu semua informasi yang mereka miliki sebelum menyajikan yang terbaik kepada pembaca. Tuntutan agar menerima berita terkini tetap memerlukan pula kepiawaian dalam meramu tulisan itu. Setidaknya seorang profesional akan lebih dimampukan untuk itu karena memang membuat alokasi waktu dan biaya untuk itu.

Undangan atau aksestabilitas untuk pewarta warga dalam suatu acara/jumpa pers mungkin akan terjadi seiring dengan meningkatnya kepercayaan kepada blogger. Hal ini sebenarnya juga bisa mengurangi kehadiran wartawan amplop. Bila warga berhak untuk ikut mendengar apa yang disampaikan kepada pers, secara otomatis penyalenggara acara akan kerepotan bila masih mau menyediakan amplop. Tentu saja sekali lagi kredibilitas sebagai blogger sangat dibutuhkan.

Keinginan untuk berbagi dan bertumbuh bersama sangat penting dalam membentuk sinergi antara pewarta warga dengan media konvensional agar sama-sama mendapatkan sesuatu yang berarti dari kegiatan jurnalisme. Pada dasarnya tujuan akhir dari kegiatan jurnalisme ini adalah pelayanan masyarakat, sama-sama mengusahakan perbaikan dalam kehidupan bermasyarakat, serta bertumbuhnya pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam menjalani kehidupannya.

source: http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=12738

pb: mattula_ada@live.com

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=pewarta%20warga%3A%20pencarian%20jati%20diri%20(1)&source=web&cd=2&ved=0CCUQFjAB&url=http%3A%2F%2Fwww.wikimu.com%2FNews%2FDisplayNews.aspx%3Fid%3D12738&ei=kPhuT525OomsrAflqb2hDg&usg=AFQjCNFGz65oB8_yrOeZneTM2vEkB_Neyg&cad=rja

25 Maret 2012

Pewarta Warga: Pencarian Jati Diri (1)

by: Retty N. Hakim

Sebagai pewarta warga yang mengikuti dua situs jurnalisme warga, wikimu.com sebagai portal lokal dan OhmyNews International (OMNI) sebagai portal internasional, seringkali saya merasa berdiri di antara dua kutub.

Wikimu dengan slogan “bisa-bisanya kita” merupakan kutub dimana posisi sebagai warga terasa sangat besar, sementara OMNI merupakan kutub yang lain dengan porsi jurnalistik terasa lebih kuat.

Berada di antara kedua kutub ini membuat saya mengalami beberapa pergulatan pikiran karena sering terjadi tarik ulur di antara kedua kutub ini.

Warga atau Jurnalis?

Awal memulai perjalanan bersama OMNI saya mengalami banyak benturan. Tulisan yang saya masukkan tanpa konsultasi kepada senior editor, langsung masuk ke kotak tak layak tayang.

Kemudian saya juga harus menerima foto saya dianggap tidak layak tayang karena tidak meminta izin kepada obyek foto (penyalenggara acara) untuk penayangan foto tersebut di media. Beberapa aturan mengenai pemakaian foto dan izin pengambilan foto membuka mata saya terhadap aturan-aturan yang berlaku di dunia internasional.

Yang paling menjengkelkan bagi saya adalah masalah tenggat waktu. Liputan yang tidak segera dikirimkan pernah ditolak mentah-mentah dengan alasan berita sudah basi. Pernah juga saya diminta untuk menambah dari 500 kata menjadi paling sedikit 800 kata, atau kali lain malahan diminta menyingkat menjadi kurang lebih 800 kata. Kalau sudah tidak disetujui oleh editor, percuma saya kirimkan, pasti masuk kotak sampah lagi. Ada beberapa tulisan yang menurut saya sudah melalui pengecekan fakta yang akurat dan berisi hal yang penting dan benar, akhirnya saya masukkan saja ke blog saya Buah Pena. Ternyata ada juga tanggapan pembaca yang masuk.

Awalnya saya rajin menulis dengan menggunakan link dari berbagai media lokal. Tujuan saya supaya suara media lokal juga diperhatikan di luar negeri. Link yang saya ambil biasanya harian cetak yang saya anggap cukup bonafid. Tapi kemudian saya pernah membaca kritikan terhadap pewarta warga yang dianggap hanya sekedar menyadur dan menggabungkan berita darimainstream media. Hal ini kemudian membuat saya lebih fokus menulis berita yang saya liput sendiri.

Kesulitan muncul ketika saya merasa membutuhkan press release untuk mendapat info yang lebih obyektif dan akurat. Padahal tanpa kartu identitas pers, ada perasaan menjadi tamu tak diundang yang mengemis ingin minta undangan. Hal ini hampir sama dengan yang diungkapkan Yunus Bani Sadar dalam tulisan “Wartawan Warga, Bodrek, dan Identitas” (lihat http://www.wikimu.com/News/displaynews.aspx?id=12066)

Kebetulan mas Yunus mendengar percakapan saya dengan bung Enda Nasution dalam Pesta Blogger Nasional 2008 (PB 2008) seputar akses blogger yang berfungsi sebagai pewarta warga ke dalam acara jumpa pers ataupun untuk mendapatkan press release. Karena itu saya merasa mendapat pencerahan membaca tulisan ”Jurnalis Warga(2) Tak Kenal Dirjen? EGP…” dari Duto Sri Cahyono (lihat http://www.wikimu.com/News/displaynews.aspx?id=12071). Toh sebenarnya saya, mungkin sama dengan pewarta warga lain, tidak begitu menikmati acara Jumpa Pers. Tetapi tidak bisa saya pungkiri bahwa dalam acara “Jumpa Pers” banyak juga pertanyaan kritis dari wartawan yang tadinya tidak terpikirkan oleh saya sebagai warga. Hal itu membantu saya juga untuk lebih kritis dalam memandang suatu masalah. Di luar itu saya juga jadi bisa mengamati berapa besar atensi media terhadap sebuah kegiatan/ acara, berapa besar tempat yang tersedia di media cetak untuk hasil liputan mereka.

Memiliki Press Release bagi seorang warga juga bisa merugikan. Saya beruntung pihak Kompas mau memberikan saya kesempatan mengikuti salah satu acara jumpa pers untuk acara Indonesia Japan Expo 2008 dengan memperkenalkan diri sebagai pewarta warga dari OMNI. Kemudian, karena kekurangan waktu (setelah mendahulukan menurunkan tulisan bagi wikimu) saya tergesa menulis bagi OMNI, rupanya gaya bahasa saya sangat terpengaruh oleh press release yang saya pegang. Hal itu langsung terendus oleh senior editor, saya diminta mengganti paragraf pembuka yang menurutnya sangat mirip dengan gaya press release (dia belum tahu kalau saya memang memegang Press Release). Saya jadi tersadar betapa besar pengaruh tenggat waktu dan kepiawaian seorang jurnalis senior untuk mengolah artikelnya menjadi hidup dan dengan bahasa yang khas penulis itu sendiri. Seorang rekan jurnalis profesional yang berasal dari Jepang ketika saya minta membaca tulisan saya di OMNI malah merasa kehilangan sentuhan yang lebih “rakyat” dari tulisan tersebut. Kemungkinan gaya peliputan ini tidak akan ada bila saya menulis hanya berdasarkan catatan saya pribadi tanpa memperdulikan kehadiran Press Release.

Korea Selatan, asal OMNI, mungkin juga mengenal wartawan “bodrex” atau bahkan wartawan profesional yang menyalahgunakan kartu identitas pers mereka. Karena itu, OMNI tidak mengenal kartu identitas bagi pewarta warganya. Ketika saya diundang ke Seoul tahun 2007 ternyata banyak pewarta warga lokal yang membuat sendiri kartu nama mereka dengan logo OhmyNews.com (kartu nama bukan kartu pers), tapi tampaknya pewarta warga internasional tidak ada yang melakukan hal ini.

Dengan tuntutan jurnalistik yang terasa tinggi tanpa bekal kartu identitas memang terasa berat, sampai pernah saya berpikir: “Apakah OMNI hanya menginginkan netizen yang jurnalis dan mantan jurnalis profesional? Atau sungguh menginginkan juga kontribusi warga?” Saat ini saya sendiri dalam proses mengenali bagaimana menjadi blogger sekaligus pewarta warga.

Bung Enda Nasution dalam perbincangan singkat kami di PB 2008 mengatakan setidaknya tingkat kesadaran jurnalistik seorang “pewarta warga” diharapkan lebih tinggi daripada blogger lainnya. Kata pewarta warga saya tulis dalam tanda kutip karena pada dasarnya semua blogger adalah pewarta warga, seperti kata Oh Yeon Ho, “every citizen is a reporter”, tapi “pewarta warga” yang masuk dari komunitas pewarta warga seharusnya lebih menyadari fungsinya sebagai pewarta.

Pengalaman di OMNI membuat saya termasuk rajin protes (secara pribadi) kepada pengelola wikimu.com. Bahkan, karena tahu bahwa tiga orang pendirinya adalah jurnalis profesional, saya sempat berburuk sangka; “Apakah mereka sengaja membiarkan supaya terlihat kepada khalayak bahwa kemampuan pewarta warga memang hanya seperti ini?” Tapi penjelasan dari Bayu Wardhana, editor dan administrator wikimu.com, membuat saya mengetahui bahwa tujuan utama wikimu.com adalah pembelajaran bagi anggota komunitas untuk berani mengeluarkan pendapat dan belajar saling menghargai pendapat orang lain. Dengan gaya wikimu yang sekarang ini, saya memang melihat beberapa orang yang semula tidak “PD” (percaya diri) menulis, akhirnya memberanikan diri untuk menulis, sampai menjadi terbiasa menulis. Biasanya yang lebih terasah adalah kepekaan untuk melihat dan merekam pengalaman hariannya atau kejadian yang kebetulan disaksikannya.

Mungkin seperti yang saya katakan kepada Tristram Perry, Pejabat Atase Pers dari Kedutaan Amerika, di Pesta Blogger Nasional 2007: “Kalau saya menulis, saya ingin orang tahu bahwa yang menulis adalah seorang ibu rumah tangga. Kalau saya menulis yang bersinggungan dengan politik, bisa jadi itu adalah cara pandang seorang ibu rumah tangga terhadap masalah tersebut yang terbentuk dari berbagai sumber berita yang masuk kepada saya. Saya bukan politikus ataupun pengamat politik, saya hanya seorang ibu rumah tangga.” Jadi setiap pewarta warga dengan latar belakang berbeda akan memberikan warna yang berbeda kepada portal jurnalisme warga. Karena itu pula pengaruh ‘blogging’ menjadi kuat di dalam jurnalisme warga, walaupun mencoba meliput dengan obyektif tetap saja subyektivitas kemungkinan akan ada di dalamnya. Banyak pembaca yang memang mencari portal jurnalisme warga karena mencari subyektivitas ini, mencari pandangan warga terhadap suatu kejadian, acara, ataupun produk. Pembaca yang mencari suara berbeda dari suara di media konvensional.

Karena itu pesan Pepih Nugraha (wartawan) dan Budi Putra (mantan wartawan yang menjadi ‘full time blogger’) dalam sesi bahasan jurnalisme warga di Pesta Blogger 2008 adalah agar pewarta warga menjadi diri sendiri, menulis hal yang memang mereka kuasai, serta tetap cek dan recek dalam menuliskan beritanya. Dengan begitu mungkin suara baru ini akan semakin berarti kehadirannya. Hal lain yang terungkap dari sesi ini adalah sikap akan saling mendukung bagi pewarta warga yang tersangkut kasus hukum selama dalam penulisan berita pewarta warga tersebut sudah mengikuti kode etik jurnalistik, karena itu perlu juga bagi pewarta warga untuk mengetahui kode etik jurnalistik.

Jadi, ingin jadi pewarta warga atau jurnalis profesional? Andalah yang memilih! Jurnalis professional juga warga dan berhak bersuara sebagai warga. Sementara untuk menjadi jurnalis profesional tentunya pendidikan lapangan serta jam terbang mereka akan menunjukkan profesionalitas mereka. Tentu saja tidak tertutup kemungkinan bagi warga untuk menjadi jurnalis profesional di kemudian hari (walaupun rasanya kemungkinan ini hanya berlaku untuk yang berusia muda).

Yang penting untuk keduanya miliki adalah kredibilitas, karena yang menentukan apakah sebuah tulisan layak menjadi “berita” (mungkin bisa juga dibaca sebagai “bacaan”) adalah pembaca, dan pembaca biasanya hanya setia kepada sumber berita yang mereka percaya. Gaya bahasa penulisan adalah masalah selera pasar.

Tulisan saya yang selalu serius tidak selalu menarik pembaca untuk membacanya, tapi toh pembaca di internet tidak terbatas jumlahnya. Pembaca tulisan di wikimu tidak selalu anggota komunitas wikimu saja. Karena itu kredibilitas nama menjadi hal yang sangat penting. Kalau menjaga kredibilitas namanya, maka tidak akan ada penulis yang berani menjadi “serigala” dengan memasukkan berita yang tidak benar. Sanksi sosial akibat tidak memperhatikan kredibilitas bisa menjadikan penulis kehilangan pembacanya. (bersambung)

source: http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=12503

pb: mattula_ada@live.com

25 Maret 2012

Refleksi Seorang Pewarta Warga di Penghujung 2008

by: Retty N. Hakim

Tahun 2008 lalu saya sudah melakukan renungan sebagai seorang blogger. Terus terang menjadi blogger lebih menarik dan terasa lebih mudah buat saya, apalagi menurut Vincent Maher menjadi blogger itu pasti lebih menguntungkan daripada menjadi pewarta warga (citizen reporter). Tahun ini, menjelang dua tahun menjadi pewarta warga, saya ingin merefleksikan kembali perjalanan saya sebagai pewarta warga.

Memang setelah saya amati, kegiatan blogging akan lebih menguntungkan kalau kita memiliki profesi tertentu dan membuat blog yang sesuai dengan profesi tersebut. Atau sekalian membuat blog pribadi dengan kisah sehari-hari yang menarik perhatian pembaca. Tetapi saya terlanjur masuk ke dunia blogger melalui gerbang netizen (internet citizen: warga internet), sehingga sulit bagi saya untuk fokus hanya pada satu topik tertentu, sementara untuk membuat buku harian pribadi saya dalam bentuk daring masih belum sesuai dengan kata hati saya.

Dalam buku harian pribadi saya bisa seenaknya menulis, tidak perlu penjelasan latar belakang dan detail pemikiran karena pembacanya hanya saya seorang. Kalau hari ini saya ngomel panjang lebar soal suami dan anak, maka besok lusa bisa jadi saya menulis kecintaan dan kekaguman saya pada mereka. Kalau saya mengkritik suatu kebijaksanaan atau teori maka detailnya mungkin hanya ada di otak saya. Di akhir tahun saya hanya bisa tersipu-sipu membaca betapa emosionalnya saya, bahkan bisa menertawakan diri yang menulis tanpa tata bahasa yang benar.

Berangkat dari Profesi yang Termajinalisasi

Menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan pribadi yang berangkat dari pemikiran mengenai pendidikan anak dan kualitas waktu bersama dalam keluarga. Konsekuensi yang harus dipikul bukan hanya dari segi pemasukan keluarga yang tentunya lebih kecil daripada dari dua sumber penghasilan, serta  tidak teraturnya waktu penerimaan pemasukan (karena pilihan pekerjaan suami), tetapi seringkali juga dari segi emosional karena seringkali dianggap sebagai orang yang tidak memberikan kontribusi apa-apa.

Pernah dalam satu masa, KTP saya memiliki status TIDAK BEKERJA. Saya tidak begitu ingat bagaimana awalnya status ini bertengger selama bertahun-tahun di KTP saya. Hanya seingat saya, waktu itu saya ditanya pekerjaan dan menjawab bahwa saya ibu rumah tangga. Setelah pindah rumah, pihak kelurahan di tempat yang baru mau menerima status pekerjaan Ibu Rumah Tangga untuk dicantumkan di dalam KTP.

Pernah juga, dalam satu acara reuni unit kegiatan mahasiswa seorang rekan senior ketika diundang memberikan kata sambutan menyatakan kekecewaannya kepada mantan aktivis-aktivis perempuan yang dikenalnya  karena lebih banyak yang memilih tinggal di rumah daripada berkarier. Terus terang, beberapa rekan (termasuk saya he…he…he…) agak tersinggung, karena sebenarnya profesi satu ini kami pilih bukan tanpa pengorbanan pribadi.

Adalah hak seorang perempuan untuk memilih antara karier di luar rumah, atau memilih menjadi ibu rumah tangga. Walaupun menjadi ibu rumah tangga tidak memiliki jenjang karier, tapi sebenarnya pekerjaan adalah sebuah pilihan profesi juga. Tentunya pilihan menjadi ibu rumah tangga tidak seharusnya memasung perempuan dalam mengembangkan eksitensi dirinya.

Tapi seringkali nada keheranan terdengar kalau saya mendaftar seminar dan memerlukan mengisi kolom  pekerjaan. Padahal tanpa memperkaya pengetahuan pribadi maka ilmu yang dahulu diperoleh di bangku sekolah maupun kuliah akan menjadi tertinggal, sehingga pada saat dibutuhkan mungkin sudah tidak kompetitif lagi. Dari sudut pandang berbeda, maka pengeluaran untuk kegiatan ekstra di luar urusan rumah tangga menjadi beban finansial yang akan membebani pengeluaran rumah tangga. Maka bisa jadi seorang ibu secara otomatis mengurangi pengeluaran ini untuk biaya anak-anaknya.

Beberapa tulisan saya yang masuk dalam tulisan opini harian cetak sebelum saya mengenal situs jurnalisme warga, saya kirim dengan status sebagai ibu rumah tangga. Seingat saya hanya satu yang menuliskan profesi saya sebagai ibu rumah tangga dalam keterangan pengantar mengenai penulis, tapi itupun dengan mencantumkan tambahan profesi freelance, dan organisasi.

Menjadi Pewarta Warga

Benar juga pendapat sebagian orang yang menganggap jurnalisme warga sebagai jurnalisme akar rumput (grassroots journalism), karena suara ibu rumah tangga yang mungkin sulit mendapatkan ruang di halaman cetak tetap bisa terdengar melalui jurnalisme warga.

Hampir setiap orang yang saya temui, mempertanyakan alasan yang membuat orang mau menjadi pewarta warga tanpa imbalan materi untuk waktu dan biaya yang dikeluarkan. Bagi saya pribadi, menjadi pewarta warga adalah sebuah jalan untuk berbagi sesuai dengan kemampuan saya, sambil menghidupkan api gairah menulis secara konsisten. Secara idealistis mungkin saya ingin juga menyumbangkan sesuatu bagi negara dalam kapasitas saya sebagai ibu rumah tangga, berbagi suara untuk kepentingan perdamaian dan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak bangsa.

Tahun ini anak kembar saya masuk ke Sekolah Dasar sementara mereka belum bisa membaca, sebuah masalah untuk masuk sekolah dasar di Indonesia.  Sejak bulan Februari 2008 saya sibuk berkutat dengan permasalahan mereka, tentunya waktu yang bisa saya bagikan untuk kegiatan jurnalisme warga menjadi berkurang. Hal ini terasa sekali dalam kontribusi saya ke OhmyNews.com. Kalau tahun lalu saya menulis sebanyak 23 artikel, maka tahun ini menciut menjadi 6 artikel. Sementara di wikimu.com, tulisan saya tahun ini berjumlah 82 tulisan (tidak termasuk tulisan ini bila tertayang sebelum 2009). Dari daftar anggota saya lihat total tulisan saya ada 180, berarti tahun lalu saya lebih produktif dengan 98 tulisan. Sementara untuk harian cetak saya hanya menghasilkan satu tulisan, itupun karena mendapat undangan menulis mengenai citizen journalism dari Harian Merdeka untuk terbitan simulasi mereka pada tanggal 10 Oktober 2008 lalu. Kehadiran situs jurnalisme warga membuat gairah saya mengirim artikel ke harian cetak memang berkurang, terutama karena di portal jurnalisme warga artikel yang dimasukkan lebih cepat dan lebih pasti tertayang.

Turun drastisnya tulisan saya untuk OhmyNews bukan karena perubahan sistem apresiasi tulisan yang berupa cybercash, tapi lebih karena kebutuhan waktu dan konsentrasi dalam menulis bagi portal internasional ini  jauh lebih tinggi. Sebenarnya ada beberapa undangan dari portal jurnalisme warga internasional yang menawarkan insentif tunai (walaupun tidak besar), tetapi belum saya terima karena faktor waktu dan “kendala pribadi”, lagipula tahun ini saya banyak menulis hal-hal yang sangat lokal.

“Kendala pribadi” saya beri tanda kutip, karena selain bermacam alasan pribadi, sebenarnya saya sendiri sedang bingung dengan status sebagai pewarta warga. Saya bingung memilih antara menjadi blogger saja, atau tetap berada di jalur pewarta warga. Kenapa? Karena dengan menjadi blogger saja, saya mungkin bisa fokus pada satu topik yang akan menguntungkan saya pada akhirnya. Sementara menjadi pewarta warga berarti tetap mempertahankan blog Buah Pena sebagai buku harian seorang pewarta warga yang berfungsi sebagai media sosial.

Beberapa teman dari Ohmynews yang memiliki latar belakang jurnalistik menjauhi kehadiran blog karena menurut mereka kehadiran blog menghabiskan waktu mereka, entah apabila ada alasan lain di baliknya. Tetapi toh orang-orang seperti Dan Gillmor, Steve Outing, dan Vincent Maher juga mempunyai blog mereka masing-masing. Sekarang para jurnalis professional Indonesia juga secara terang-terangan membuka blog mereka, termasuk juga harian konvensional yang membuka pintu untuk kehadiran blog.

Menjadi blogger juga membuat saya harus memilih, tetap sebagai bridge blogger yang mengunakan bahasa asing di blognya, atau lebih fokus ke dalam negeri dengan memakai bahasa Indonesia. Menjadi bridge blogger membuat saya harus memilih topik-topik yang mungkin bisa bergaung di luar negeri. Dan terkadang karena bukan berasal dari dunia jurnalistik, sering terasa sulit meramu sebuah berita lokal masuk ke dalam perspektif internasional.

Terkadang status blogger ini juga membuat saya ragu untuk mewawancara orang dalam upaya mencari berita yang lebih mendalam dan akurat. Atau timbul perasaan bersalah bila tidak berhasil menuangkan hasil wawancara ke dalam bentuk tulisan. Hal ini seringkali terjadi  pada artikel untuk portal OhmyNews yang sangat memperhatikan tenggat waktu untuk berita yang meliput peristiwa.  Wikimu lebih baik hati dalam banyak hal, termasuk dalam membantu penempatan foto-foto yang seringkali saya terima beres. Di OhmyNews semua itu harus saya kerjakan sendiri, kecuali dalam beberapa kasus dimana editor berbaik hati membantu tapi dengan syarat hanya satu atau dua foto saja.

Dalam refleksi tahun ini saya bersyukur bahwa saya memiliki kesempatan mengenal dunia pewarta warga. Setidaknya tahun ini saya menghasilkan 88 artikel bagi portal jurnalisme warga, dan juga tambahan tulisan untuk blog yang tidak sempat saya hitung. Blog mengenai koleksi perangko dan kartu pos masih terbengkalai, mungkin akan menjadi perhatian saya tahun depan. Keseimbangan dalam membagi waktu dan perhatian tampaknya juga akan menjadi prioritas utama, terutama dengan adanya krisis keuangan dunia yang mungkin mau tidak mau akan mempengaruhi kinerja sebagai pewarta warga di tahun mendatang, terutama bila koneksi internet yang murah tapi lancar sulit diperoleh.

source: http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=12447

pb: mattula_ada@live.com

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=12447

7 Februari 2012

Hybrid Journalism, Sebuah Penghargaan bagi Jurnalisme Warga!

by: Ronny Buol

Beberapa hari lalu, saya diajak bertemu dengan pemilik salah satu media online di Sulawesi Utara. Diskusi sudah berlagsung dua kali. Dalam diskusi yang encer itu, saya diajak untuk bergabung bersama mereka. Saya akan diberi ruang sendiri pada website mereka.

Seperti media online lainnya, kontent news masih mendominasi halaman mereka. Baik reportase wartawan mereka sendiri, maupun hasil kolaborasi dengan media online lainnya. (baca: republish).

Namun satu hal yang membuat saya tertarik dalam diskusi kedua itu, ketika salah satu Redakturnya menyampaikan keinginan untuk merubah porsi kontent mereka. Dari 70 persen news menjadi 70 persen kontent komuniti.

Jurnalisme Warga

Selama beberapa tahun ini saya memang intens bergerak sebagai seorang citizen reporter. Melakukan kegiatan jurnalistik, tetapi tidak sebagai seorang wartawan resmi dari media. Saya punya Kartu Pers, dari sebuah majalah cetak nasional. Tetapi saya lebih senang menggunakan Citizen Reporter Card yang dikeluarkan oleh PPWI (Persatuan Pewarta Warga Indonesia), sebuah organisasi yang memayungi aktivitas pewarta warga di Indonesia.

Beberapa kali juga, saya ditawarkan oleh media mainstream di Sulawesi Utara menjadi kontributor bahkan redaktur mereka. Saya menampiknya, dan tetap senang menjadi seorang pewarta warga.

Shayne Bowman dan Chris Willis  mendefinisikan citizen journalism sebagai ‘…the act of citizens playing an active role in the process of collecting, reporting, analyzing, and disseminating news and information”. Dan itulah yang saya lakukan selama ini, tanpa harus jadi seorang wartawan resmi.

Hasil dari perburuan saya itu, selain saya publish di blog pribadi saya, juga saya kirimkan ke beberapa media. Salah satu ruang yang memberikan kebebasan warga menulis adalah Kompasiana. Saya mempunyai akun di microsite milik kompas.com itu. Beberapa kali tulisan saya menjadi headline.

Menjadi seorang citizen reporter memang unik. Kita tidak terikat dengan deadline berita. Liputan dapat dilakukan kapan saja, bahkan hal kecil yang terjadi di lingkungan rumah pun bisa menjadi sebuah berita menarik. Tidak ada pembatasan dari arah kebijakan redaksional. Tulisan kita pun tidak harus melalui meja redaktur. Kita adalah reporternya, sekaligus sebagai redakturnya.

Diperlukan sebuah integritas dan komitmen untuk dihargai sebagai seorang pewarta warga. Tidak bias dalam melaporkan sebuah peristiwa merupakan modal utama. Bagaimana kita mendapat pengakuan dari pembaca, bahwa apa yang kita tulis merupakan berita yang benar, jelas memerlukan proses. Konsistensi adalah kuncinya.

Pemilik media online yang mengajak saya bertemu itu, mengenal saya dari reportase independen yang saya lakukan. Maka, ketika diskusi mengerucut ke substansi tawaran bergabung, saya mengajukan konsep citizen journalism ini.

Hybrid Journalism

Saya ingin bergabung, tetapi tetap sebagai seorang citizen reporter. Saya ingin menulis dari sisi saya sebagai seorang warga yang peduli dengan isu-isu di ruang publik. Mempostingnya tanpa harus melalui proses seleksi redaksinonal. Apa yang saya laporkan, harus tampil sebagaimana adanya. Soal kebenaran, portofolio saya menjadi sebuah jaminan.

“Jika saya diberi ruang, saya ingin, warga yang lain juga mempunyai akses yang sama dalam memberitakan reportase mereka,” saya mengajukan sebuah syarat lagi. Sebab, dimata saya, siapa saja bisa menjadi pelaku citizen journalism.

Diskusi itu berjalan menarik. Hingga pada topik, sejauh mana redaktur mereka berhak menayangkan tulisan warga itu sebagai berita utama. Saya langsung teringat dengan apa yang dilakukan Pepih Nugraha di Kompas.com. Hybrid Journalism, namanya.

Steve Outing dalam tulisan 11 Layer of Citizen Journalism menjelaskan pada layer ke-10 tentang integrating citizen and pro journalism under one roof. Dalam hal ini Steve berpendapat bahwa apabila dunia jurnalisme profesional disinergikan dengan jurnalisme warga dalam satu produk, maka akan menjadi sebuah konsep jurnalisme yang menarik.

Pepih Nugraha mewujudkan hal itu pada tulisan warga di kompasiana.com yang ditampilkan kembali sebagai berita utama di halaman kompas.com. Tulisan itu bukan sekedar copy paste, tetapi sebuah berita baru, judul baru, lead baru, dengan badan berita yang benar-benar baru. Penulis dijadikan sebagai sumber berita.  Hasil reportase saya di kompasiana dengan judul Kondisi Danau Limboto Semakin Memprihatinkan, dihybrid oleh Pepih Nugraha dan tampil di halaman utama Kompas.com dengan judul, Danau Limboto Akan Menjadi Kenangan.

Reportase foto-foto mengenai danau yang berada di Provinsi Gorontalo itu, juga di hybrid oleh sebuah harian di Sulawesi Utara, dengan judul, Danau Limboto Menunggu Ajal. Bahkan salah satu reportase dengan judul, Pelajaran Ekstrakurikuler Mereka Menanam Padi di kompasiana, terpublish di Harian Kompas edisi Cetak.

Konsep mengkolaborasikan tulisan warga yang bergerak dalam ranah citizen journalism dengan kekuatan media mainstream itulah yang saya tawarkan pada diskusi tersebut. Mereka menyambut baik. Dengan demikian, dari sisi aktivitas pewarta warga, mereka semakin mendapat tempat di media mainstream. Pemberian ruang ini dapat memotivasi semangat warga untuk terus melakukan kegiatan citizen journalism.

Hybrid journalism juga membantu media maintsream mengangkat isu-isu publik yang tidak terjangkau oleh wartawan mereka. Begitu banyak isu sosial yang terjadi, yang bagi media mainstream tidak menarik sebagai berita utama, tetapi mempunyai kekuatan cerita. Hybrid Journalism adalah jalan keluarnya. Dan dengan demikian, pewarta warga mendapat penghargaan atas kerjanya.

Diskusi tersebut masih akan berlanjut, dengan membahas secara teknis pelaksanaannya. Semoga bisa membuahkan hal yang dapat lebih menggairahkan aktivitas pewarta warga.

source: http://media.kompasiana.com/new-media/2012/02/29/hybrid-journalism-sebuah-penghargaan-bagi-jurnalisme-warga/

pb: mattula_ada@live.com