Posts tagged ‘negara’

29 Maret 2012

Mengejar Cinta ke Ibu Kota Negara

by: Muh. Takdir

Pertama sekali simpatik terhadap gadis itu ketika menjadi Chief Even Organizer pada salah satu kegiatan yang pernah dilakukan di sekolahnya. Kebetulan pada saat itu sekolah kami ada undangan untuk menghadiri acaranya. Saya dan beberapa teman lainnya sebagai utusan dari sekolah kami. Mengenal dia dari salah satu teman. Selama masa-masa Madrasah Aliyah (setingkat SMA) kami beberapa kali ketemu dalam beberapa kegiatan-kegiatan tertentu. Hanya saja pada saat itu saya tidak ada kemauan untuk mengungkapkan rasa ini. Yaa berusaha melaksanakan amanah orang tua. “Nak, kamu jangan sekali-sekali dulu berfikir mau pacaran, fokus lah dulu sama sekolah kamu. Suatu saat kamu akan dapat sendiri gadis pujaan kamu dan Allah SWT pasti memberikan yang terbaik buat kamu. Belajar saja dengan rajin dan tekun nak.! “ kata orang tua kepada saya sebelum meninggalkan kampung halaman untuk pergi sekolah di Ibu Kota Kabupaten dimana saya tinggal pada saat itu.

Setelah menyelesaikan sekolah di Madrasah Aliyah beliau sudah tidak ada kabar, entah kemana dirinya melancong. Beberapa kali mencari kabar tentang dia, namum tidak ada hasil. Yaa terkadang pesimis itu sudah mulai menghantui akan dirinya kalau saya tidak akan ketemu lagi dengan dia. Meskipun selama kuliah sempat jalan dengan gadis-gadis lain, tapi perasaan itu hanya sebatas teman, sahabat bahkan diantaranya seakan-akan saudara sendiri. Kuliah S1 selesai belum ada juga kabar tentang dia.Beberapa kali searching tentang dia melalu jejaring sosial, sebutlah Facebook, twitter, friendster, dan lain-lain belum juga ada hasil.

Menjelang tujuh tahun kemudian setelah tamat di Mad. Aliyah. Salah satu junior saya di Mad. Aliyah datang di Makassar dari Jakarta yang kebetulan pada saat itu saya yang menjemputnya di Bandara Hasanuddin Makassar. Berbincang-bincang tentang almamater, ternyata banyak teman-teman yang kuliah di Jakarta. Secara tidak langsung menyebut nama gadis yang selama ini saya cari-cari. Kebetulan dia yangarrange-kan tiket. Bekerja di salah satu Travel di Jakarta sambil melanjutkan S2 di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Itulah profesinya saat ini. Terenyuh dan terkesimah mendengar informasinya, ternyata masih seperti dulu selalu aktif dalam hal apapun yang sifatnya education dan karir.

Terima kasih buat junior saya, karena beliau data tentangnya sudah saya dapat termasuk Contact Person dan akun Facebooknya, itu sudah melebihi dari cukup. Keesokan harinya membuka facebook dan searching akunnya. Alhamdulillah, dapat dan meminta pertemanan. Dikonfirmasi dan memulai chating. Hampir tiap hari kamichat. Yaa tentu diawal-awal chat kami saling bercanda gurau meskipun sebenarnya dia tidak tau saya secara dekat, apalagi semasa Mad. Aliyah aku dikenal hanya sebatas nama meskipun beberapa kali ketemu.

Kurang lebih dua minggu berjalan sejak mulai akrab lewat dunia maya (Facebook) bahkan tidak jarang kami SMS-an dan bicara lewat Handphone. Dan pada saat itu aku mengungkapkan perasaan kepada dia. Dalam hati seraya berdoa semoga saja beliau belum ada yang memiliki. Hehehe. Awalnya sih dia mengira kalau saya hanya bercanda. Namun aku tetap berusaha meyakinkan bahwa saya betul-betul ada rasa pada dirinya. Akhirnya beliau menjawab dengan mengawali kalimatnya permohonan maaf kepada saya. Ternyata beliau sudah dipersunting oleh seorang laki-laki dari seberang pulau. Jawaban itu tidak membuat saya pesimis malah saya berjanji sama dia kalaupun kita bukan jodoh, kita akan tetap menjalin komunikasi tapi paling itu sebatas teman melainkan bukan lagi orang spesial.

Hal yang membuat saya semakin optimis karena sebagian keluarganya kurang setuju dengan laki-laki tersebut. Pada umumnya keluarganya menyayangkan kalau dia menikah dengan laki-laki itu. Dari sisi materi dan semangat hidup itulah yang dimiliki laki-laki tersebut, tapi dari sisi pendidikan dia agak ketinggalan dalam hal itu. Sementara gadis itu, sejak SD sampai tamat di Mad. Aliyah tidak pernah melepaskan peringkat tiga besar, apalagi sekarang lagi on progress penyelesaian S2. “Kami bukan tidak menghargai dia. Kami tau kalau dia juga punya kelebihan yang belum tentu dimiliki oleh sebagian orang yang berpendidikan. Tapi alangkah lebih bagusnya kalau kamu mempunyai pendamping hidup yang sepadan dengan pendidikan kamu, paling tidak seorang laki-laki yang selesai S1.” Kalimat ini yang sering muncul dari keluarga gadis tersebut.

Suatu ketika gadis tersebut menceritakan kepada keluarganya mengenai niat suci saya. Beliau menjelaskan tentang saya, mulai dari latar belakang pendidikan, keluarga, dan cukup uniknya kalau saya dan dia pernah sekolah di satu Yayasan Pendidikan yang sama yaitu Pondok Pesantren As’ Adiyah. Hanya saja mulai dari MTs (setingkat SMP) sampai Mad. Aliyah siswa laki-laki dan perempuan dipisahkan. Sehingga perempuan dan laki-laki masing-masing punya sekolah tersendiri. Pada prinsipnya kalau kurang lebih orang tuanya mendukung saya.

Suatu hari saya pun nekat ke Jakarta ingin bertemu dengan dia. Awalnya sih dia tidak setuju kalau saya ke Jakarta dengan tujuan hanya karena dia. Karena dia lagi terikat dengan laki-laki yang sudah mempersuntingnya. Selama tidak ada janur kuning, kemungkinan-kemungkinan yang tidak disangka masih bisa terjadi. Gadis tersebut sangat khawatir kalau saya ke Jakarta yang akhirnya aku kecewa. Meskipun kalimat-kalimat itu sering disampaikan kepada saya, nekat untuk pergi tetap akan aku lakukan. Dan akhirnya aku pun berangkat ke Jakarta dan bertemu dengan beliau. Alhamdulillah, kedatangan saya ke rumahnya mendapat respon positif dari keluarganya. Saya pun semakin optimis. Kembali ke Makassar dengan rasa senang. Tinggal menunggu informasi selanjutnya tentang dia. Karena sesuatu hal yang dilakukan oleh pihak laki-laki yang mempersuntingnya yang secara tidak langsung membuat orang tuanya kecewa. Sesuatu hal itu menyangkut harga diri. Akhirnya orang tuanya memutuskan untuk tidak melanjutkan.

Sembari menunggu suasana tenang itu di keluarganya saya pun menyampaikan ke orang tua mengenai niat saya menikahi gadis tersebut. Pada dasarnya orang tua pun sangat setuju dengan gadis itu, meskipun gadis itu hanya dikenalnya lewat poto dan komunikasi lewat telpon. Itulah salah satu kelebihan yang dimiliki orang tua yang harus dipelajari bagi generasi muda bahwa meskipun hanya lewat telpon dan poto sudah bisa menebak karakter seseorang.

Apakah dia akan menjadi jodoh saya atau tidak. Semuanya diserahkan kepada Allah SWT. Usaha maksimal untuk memilikinya sudah dilakukan. Mengakhiri tulisan ini dengan mengutip pribahasa dalam versi bugis oleh salah seorang senior, kakanda, dan advisor kami sebagai berikut :

GALIGO HARI INI (SERI 98 )
Menjawab pertanyaan Ifa HR dan Takdir

Mauluttu Massuajang (8)
Oki SiputanraE (7)
Teppa Rewe’mua (6)

Arti Bugis Umum
Mauni lao tega laona, narekko siputotoi, tette’i siruntu

Arti Indonesia
Dimanapun keberadaannya, kalau sudah jodoh, takkan kemana.

Penjelasan
Galigo ini tidak termasuk dalam kategori sulit, tidak memiliki pelapisan makna, tidak juga memiliki kata kunci sebagai pembuka keseluruhan maknanya. Galigo ini mudah dicerna, meski kata yang dipakai bukan lagi kata dalam kosa kata Bugis yang jamak ditemui saat ini. (Sumber : http://www.facebook.com/suryadin.laoddang)

 wb: mh_takdir@yahoo.com

Iklan
24 Maret 2012

Profesi Termahal di Negeri Ini: Menjadi Anggota DPR

by: Indra Sastrawat

Pernah anda bertanya ke anak-anak tentang cita-cita mereka ??? sebagian besar mereka menjawab “jika besar ingin menjadi dokter, Insinyur, pilot, pemain bola, aktris” hampir tidak ada yang menjawab ingin menjadi anggota DPR. Ketika masih kanak-kanak mereka masih waras, namun ketika dewasa sepertinya kewarasan mereka telah sirna.

Diatas hanya sekedar ilustrasi sederhana, betapa profesi yang dekat dengan masyarakat menjadi pilihan, lalu apakah menjadi anggota DPR tidak mendekatkan seseorang dengan rakyat ??? Faktanya menjadi anggota DPR bukan lebih mendekatkan seseorang dengan rakyat tapi mendekatkan mereka dengan sel tahanan karena gemar korupsi, mendekatkan mereka dengan uang hingga sense of crisis menjadi hilang, mendekatkan mereka dengan golongan kaya yang menyebabkan mereka menjadi selebritis baru.

Anggota DPR mendapatkan ketenaran yang tinggi, mereka bagai terbang ke langit ke-7 namun lupa untuk mendarat ke bumi. Biaya untuk mendapatkan satu kursi di strata terendah di DPRD kota/daerah saja minimal harus menghabiskan uang pribadi seratus juta rupiah (Rp. 100 juta), satu kursi DPRD Provinsi lebih mahal lagi minimal dua ratus lima puluh juta rupiah (Rp. 250 juta) dan paling mahal satu kursi DPR pusat harganya selangit satu milliar rupiah (Rp. 1 milliar), pantas saja jika terpilih mereka bagai terbang ke langit ke-7.

Biaya ini jauh lebih mahal dari kuliah bertahun-tahun untuk menjadi seorang dokter spesialis, dengan uang sebanyak itu ratusan mungkin juga ribuan pelajar bisa kuliah sampai strata 3 di universitas terbaik di dunia. Tidak berlebihan jika profesi wakil rakyat merupakan profesi yang mahal, dimana hanya segelintir orang yang mampu meraih mimpi sebagai wakil rakyat terhormat.

Seorang filsuf  Yunani kuno bernama Plato pernah berujar bahwa seorang anggota senat mestinya tidak usah menerima gaji dari negara, alasannya sederhana menjadi senator merupakan kehormatan, dan kehormatan tidak pantas dibayar dengan uang rakyat. Pilihan ini tentu sulit mengingat biaya tinggi menjadi anggota DPR. Maka tidak mengherankan jika ada calon anggota DPRD di pulau Sulawesi yang menjual istrinya demi biaya kampanye, dan banyak kasus lagi dimana calon wakil rakyat yang menjual asetnya demi ketenaran sebagai wakil rakyat.

Ibarat berdagang seorang anggota DPR yang terpilih sekuat tenaga mengembalikan semua duit pribadi yang telah di investasikan di ladang politik. Permasalahannya adalah gaji dan tunjangan anggota DPR rasa-rasanya tidak mampu membuat Break even point atau bahasa awamnya kembali modal dalam waktu yang singkat, belum lagi gaya hidup parlente membuat post pengeluaran wakil rakyat ini semakin buncit. Jalan pintasnya adalah ramai-ramai melakukan mark-up.

Solusi paling ampuh adalah menekan biaya tinggi pemilihan kita, mengawasi setiap pengeluaran negara yang rawan di gerogoti parpol, membatasi setiap sumbangan yang masuk ke kas parpol dan transparansi laporan keuangan. Jika beberapa point diatas bisa dilaksanakan, saya yakin harga satu kursi di DPR tidak semahal seperti sekarang, dan menjadi wakil rakyat bukan lagi mimpi bagi rakyat di negeri zamrud khatulistiwa.

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id

22 Maret 2012

Ketika Sepele Berubah Luar Biasa!

by: Indra Sastrawat

Alkisah di suatu kampung berdiri dua usaha pembuatan kapal. Sejak dahulu kedua perusahaan ini selalu bersaing, dan persaingan sudah terjadi sejak 3 generasi sebelum mereka. Sejak lama kampung itu memang dikenal denganpembuatan kapal yang bagus. Pemasaran kapal tersebut adalah tujuan ekspor ke Negara berkembang. Walau bersaing, uniknya kapal tersebut mempunyai rancangan yang sama persis baik kualitas mapun harganya. Ini sudah menjadi komitmen mereka.

Setelah 3 tahun salah satu perusahaan tersebut dikabarkan jatuh bangkrut dan satunya  lagi berkembang sangat cepat. Semua orang dikampung itu seperti tidak percaya dengan kabar tersebut. Penyebabnya order ke perusahaan yang bangkrut menurun tajam sehingga biaya produksi tidak bisa tertutupi atau mengalami kerugian. Padahal dari segi kualitas dan harga antara keduanya sama.

Selidik punya selidik walau keduanya punya rancangan dan harga yang sama tapi keduanya berbeda dalam memperlakukan kapalnya.Yang satu pada kapalnya tertulis informasi bahwa kapal ini mampu memuat 200 penumpang (angka yang wajar)sedangkan yang satu lagi hanya menuliskan kapal ini hanya mampu memuat 100 penumpang. Walau secara ekonomis kapal mampu memuat penumpang 200 orang tapi umumnya di Negara berkembang kapal cenderung memuat 2x lipat dari muatan maksimum akibatnya kapal tersebut banyak yang tenggelam. Karena sering tenggelam pemerintah Negara  tersebut marah dan melarang kapal dari perusahaan tersebut dijual ke Negara tersebut, akibatnya permintaan menjadi nihil dan perusahaan bangkrut.

Yang satu mampu survive dan melaju kencang karena memahami persoalan social bisnis, dia paham di Negara berkembang pemilik kapal cenderung ’serakah’jika kapal di beri informasi 100 pemumpang maka kemungkinan pemilik kapal akan terus memuat 200 penumpang yang artinya pas dengan kondisi maksimum kapal (yang memang mampunya 200 penumpang), sebuah trik yang bagus. Dampaknya posistif kapal bisa survive dan bertahan lama sehingga customer merasa aman dan senang.

Kadang banyak yang melupakan hal-hal kecil yang mendetail padahal hal-hal kecil itu bisa sangat menentukan. Seperti dalam ilustrasi diatas sebuah informasi kecil yang kadang di sepelekan ternyata mampu membuat perubahan besar. Dalam kehidupan kita sering kali menganggap sepele hal-hal kecil, sebuah korek api yang kecil mampu membakar sebuah gedung yang besar.

Kita mungkin masih ingat bagaimana hebatnya seorang Habibie membuat pesawat terbang, bahkan Negara kita dianggap sukses dalam bidang dirgantara di Asia. Sayangnya sukses tersebut tidak berlangsung lama, banyak yang menganggap remeh urusan pemasaran dan keuangan pokoknya bikin terus pesawat itu. Padahal pemasaran dan keuangan merupakan jantung dan hati sebuah perusahaan mana pun. Karena cash flow tidak bagus akibatnya perusahaan dirgantara kita bangkrut total, para insiyurnya banyak yang lari ke luar negeri. Hingga muncul plesetan nama Habibi = hanya bisa bikin.

Dalam bisnis jasa memberi senyum, salam dan sapa sebuah hadiah kecil seringkali mampu membuat customer merasa nyaman sebaliknya pegawai yang terlihat kaku dan malas senyum apalagi malas mengucapkan salam tidak lain seperti memelihara singa di rumah sendiri. Jadi jangan pernah meremehkan hal  yang dianggap kecil dan gampang karena bisa jadi yang kelihatan mudah itu yang akan mampu mengubah jalannya sebuah sejarah.

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id

6 Februari 2012

Akar Eksistensi Citizen Journalism

by: Mung Pujanarko

Kerap kali orang bertanya mengapa sih ada citizen journalism? Fenomena apa ini ?, apa yang melatar belakangi munculnya citizen journalism (Jurnalisme warga). Dan ada pertanyaan yang paling telak yakni : mengapa ada orang yang susah payah mau menjadi Citizen Journalist (pewarta warga)? padahal tanpa memperoleh bayaran sedikitpun jua.

Apa alasannya?orang lalu menebak : oh mungkin hanya ingin eksis, ingin famous, ingin terkenal.

Baiklah saudara pembaca, nafsu ingin terkenal ini memang banyak istilah gaul belakangan ini menganggap orang tersebut adalah: sok eksis , ingin eksis, eksis wanna be, atau malah narsis dan narcisstic. Dan sebagian dari negasi orang yang tak paham, dikatakan :”kurang kerjaan kali…”.

Dan banyak lagi reason atau alasan yang ditujukan kepada orang-orang yang menjalankan kegiatan Citizen Journalism.

Sebenarnya begini, dalam Ilmu Komunikasi dikenal dengan adanya Teori Interaksi Simbolik atau lazimnya disebut sebagai Symbolic Interaction Theory (SIT) di mana penggagas teori ini adalah George Herbert Mead (1934)-gurunya Herbert Blummer, kemudian disusul oleh Ralph La Rosa dan Donald C Reits ( 1993). Dalam teori SIT ini asumsi utamanya dibagi dalam tiga hal pokok yakni :

-Pentingnya makna bagi perilaku manusia.

-Pentingnya konsep mengenai diri.

-Pentingnya hubungan antara individu dan masyarakat.

Dalam Teori Interaksi Simbolik sebagai lingkup Ilmu Komunikasi dijelaskan bahwa motif orang untuk melakukan interaksi bukan hanya didasarkan oleh keuntungan (rewards) semata, seperti halnya yang dijelaskan dalam Teori Pertukaran Sosial atau Social Exchange Theory (SET) oleh John Thibaut dan Harold Kelley (1959), yang menandaskan bahwa : “hubungan hanya terjadi bila terdapat adanya selisih rasional antara reward dan cost, yang berkorelasi pada level perbandingan atau alternatif level perbandingannya.

Namun, Mead menjelaskan bahwa interaksi dengan orang lain adalah proses bersama mencari makna (meaning) atau arti, melalui pengembangan pikiran (mind) bersama (yang terjadi saat proses komunikasi).

Dengan penjelasan Teori ini membantu kita saat mengamati secara seksama tentang fenomena Citizen Journalism, maka jelaslah secara empiris, bahwa kebanyakan motif seseorang melakukan kegiatan Citizen Journalism sebagai bentuk komunikasi ini, adalah adanya suatu dorongan instingtif yang terwarisi dari sifat alamiah dasar manusia, sejak manusia ada pertama kali di muka Bumi.

Dorongan ini adalah dorongan naluriah orang untuk mengabarkan sesuatu. Ini adalah primary need,(dasar), bukan lagi ada di puncak piramida Maslow yakni aktualisasi diri seperti ingin famous.

Citizen Journalism kerap kali adalah dorongan manusia untuk mewartakan sesuatu (berkomunikasi) yang berguna bagi orang lain, sama halnya dorongan insting manusia untuk makan, minum dan basic need lainnya.

Citizen Journalism sebagai bentuk komunikasi ini, bertujuan untuk :

-Membantu komunitas (community buliding).

-Menghindarkan bencana bagi komunitas .

-Mengharapkan respon dari komunitas agar terbangun komunitas yang harmonis dengan alam.

Maka dorongan alamiah seseorang untuk mewartakan sesuatu pada orang banyak, memang tidak perlu menunggu seseorang untuk menjadi wartawan koran/ wartawan TV yang digaji perusahaan, namun dorongan orang untuk mewartakan berita, sebuah ide,makna, atau sebuah hal, dorongan untuk bersuara itu adalah sah, legitimate, dan naluriah belaka adanya. Kita berpengalaman bahwa sebuah rezim sekuat Orde baru pun tak bisa mengekang orang untuk bersuara.

Kita tidak bisa menggeneralisasi bahwa orang yang melakukan kegiatan Citizen Journalism adalah orang ingin famous, ingin eksis dan ingin dikenal.

Dorongan ingin famous atau ingin dikenal ini ada pada top (puncak) piramida hierachy of need-nya Maslow.

Sedangkan dorongan ingin mewartakan sesuatu ini adalah termasuk primary need, seperti halnya bayi menangis minta makan/susu. Bayi menangis karena butuh sesuatu, ini adalah bentuk komunikasi awal manusia. Dorongan berkomunikasi dengan orang lain ini adalah pimer sifatnya.

Misalnya kita tarik visi ke belakang sejarah, kembali pada jaman era komunitas manusia gua, jaman Pithecantropus erectus, serta jaman Homo sapiens mula, yakni kira-kira 20.000-30.000 tahun yang lalu. -Sebenarnya saya ingin memberi iustrasi jaman manusia neanderthal, tapi spesies ini punah pada jaman es-. Seorang caveman homo sapiens awal atau manusia gua sudah berkomunikasi dengan manusia lainnya melalui simbol, suara dan gambar-gambar dinding yang menyebutkan akan adanya : aneka binatang liar, bahaya, dan cuaca.

Berita pertama yang disebutkan manusia gua (caveman) adalah: “ada hewan”, di mana selanjutnya direspon oleh komunitas dengan memburu hewan tersebut untuk makan satu komunitas kecil. Berita selanjutnya adalah isyarat baik gerak tubuh dan suara yang memberitakan : “ada kebakaran” atau “ada bahaya alam, salju, banjir, ancaman tanah longsor dan lain-lain” yang segera direspon oleh kaum manusia perintis awal itu untuk menyelamatkan diri.

Jadi, semenjak jaman manusia perintis ini selalu ada caveman yang berani keluar gua untuk memantau situasi wilayahnya dan kembali lagi ke komunitasnya, untuk mewartakan apa yang dilihatnya, yang kira-kira berguna untuk komunitas tersebut. Maka kejujuran menjadi jaminan mutlak bahwa sang pewarta ini menjadi kepercayaan masyarakatnya.

Kita tentu pernah mendengar kisah : “Seorang Anak dan Serigala”, dimana dikisahkan ada anak yang berkata pada penduduk, “Ada serigala!”, namun tidak terbukti, keesokan harinya mewarta lagi anak itu “Ada Serigala!” dan tidak terbukti lagi. Karena kehilangan kepecayaan dari penduduk, maka saat ketiga kalinya anak itu mewartakan “Ada Serigala !,” penduduk sudah tidak percaya, dan anak itu mati dimakan Serigala. Ini kisah dengan pesan moral yang bagus, meskipun oleh Josef Goebbels pakar komunikasi sahabat Hitler, kemudian dikatakannya dengan sombong bahwa : “kebohongan yang ditanamkan berulang kali adalah kebenaran”.

Tapi, biar bagaimanapun juga, namanya kebohongan apapun pasti tersingkap. Ada kisah menarik dari hikayat Eropa tentang “Raja Telanjang dan Anak Kecil”, yang mengungkap bahwa pakaian mahal yang dipakai raja ternyata djahit oleh dua orang penipu, dikatakan oleh penipu itu bahwa benang yang dipakai menenun pakaian adalah ‘benang kebijaksanaan’, jadi kalau tidak bijak, maka orangtersebut tidak bisa melihat indahnya pakaian itu. Raja yang takut dibilang tidak bijak, termakan olehnya. Memang ternyata adalah tidak ada pakaian sama sekali. Jadi, pada waktu Raja memamerkan pakaiannya pada rakyat (padahal tidak berpakaian), setiap orang terdiam tercekam, karena takut dihukum oleh Raja, namun seorang anak kecil dengan lugu berteriak keras di tengah keheningan rakyat yang takut, “Heii…Raja itu telanjang!”, dan tertawalah rakyat semua.

Dorongan manusia untuk melakukan kegiatan Citizen Journalism (jurnalisme warga) adalah lebih dasar dan lebih primer dari sekadar aktualisasi diri. Niat Prita Mulyasari umpamanya, dia menceritakan apa yang dialaminya, apa deritanya, adalah agar orang lain tahu dan memberikan respon terhadap apa yang dialaminya itu. Ini sama alamiah dengan kita yang memberitakan bahwa ‘aku sakit karena sesuatu’. Maka respon orang-orang pada kita akan beragam, tapi umumnya mengarah pada satu hal yang positif yakni : ‘bertahan hidup’ .

Akar insting Citizen Journalism di manapun jua pada dasarnya adalah kembali pada untuk keinginan ‘berguna bagi masyarakat’, berguna bagi society. Rasa ingin berguna ini pada dasarnya adalah rasa keinginan untuk survive atau bertahan hidup secara sosial (bersama),- dan bukanlah prinsip indvidual : ‘gua hidup, loe mati’-, dalam sebuah community masyarakat, baik untuk keluarga, kampung, wilayah, dan negara bangsa. (*)

Oleh : Mung Pujanarko, – terus belajar ilmu komunikasi, jurusan ilmu Jurnalistik.

source: http://pewarta-indonesia.com/kolom-pewarta/mung-pujanarko/7439-akar-eksistensi-citizen-journalism.html

pb: mattula_ada@live.com