Posts tagged ‘MUI’

22 Mei 2012

Lady Gaga bukan Hanya Sekedar Tontonan (Selamat Jalan MUI)

by: Ibnu Dawam Azis

Freemason ( th 1717 ) dalam membangun masyarakat baru yang diidamkan yaitu, bebas dari tyrani dan dogma ( Agama ), kemudian dipertegas melalui kelompok illuminati ( 1 Mei 1776 tanggal ini berhasil menjadi hari buruh sedunia ) merupakan persekongkolan yang bertujuan untuk mendirikan Tatanan Dunia Baru melalui Pemerintahan dibawah kendali Korporasi .

Revolusi Perancis dengan slogan : Liberty, egality dan fraternity sebenarnya adalah slogan dari Freemason dan gerakan Revolusi Perancis sendiri adalah satu persekongkolan dalam membentuk satu pemerintahan dalam mewujudkan keinginan kaum borjuis yang dirancang oleh kelompok illuminati. ( Illuminati Bavaria )

Keberhasilan di Perancis berkembang sampai ke Amerika . Tokoh Kemerdekaan Amerika Serikat Benyamin Franklin adalah Master pertama dalam sejarah Freemason di AS. diikuti oleh Presiden Pertama Amerika Serikat George Washington adalah juga seorang Freemason. Dan Amerika Serikat adalah puncak keberhasilan Freemason/Illuminati untuk mewujudkan Pemerintahan dalam kendali Korporasi.

Zion kelompok Yahudi berhasil masuk dalam korporasi dan bahkan memguasai Korporasi dalam Freemason diawali dengan kerja sama antara Benyamin Franklin sang Founding Father AS juga Master pertama Freemason Amerika Serikat dengan dynasti Rothschild , walaupun akhirnya Benyamin Franklin sadar akan bahaya Yahudi di Amerika Serikat, semua sudah terlambat. Freemason memang berhasil di Amerika Serikat, dengan terpilihnya George Washington sebagai Presiden pertama Amerika Serikat. Kelompok illuminati dalam Freemason juga berhasil menerapkan Korporasi sebagai pengendali Pemerintahan di AS. tapi tanpa sadar bahwa korporasi yang seharusnya dimotori oleh Freemason ternyata telah dikendalikan oleh Zion Yahudi.

Disamping nama Rothschild berderet nama-nama Rockefeller, George Soros, Ralph Lauren (Polo), Levis Straus (Levi’s Jeans), Sergey Brin (Google) , Howard Schultz ( Starbuck’s) dan sederet panjang nama –nama Yahudi dalam korporasi.

Dari Microsoft, Dow Jones, Wall Street sampai Dunkin Donat.
Dari CNN, New York Times, Time sampai Washington Post
Hampir tidak ada yang terlewat korporasi di Negara Paman Sam semua dikuasai Yahudi. Kekhawatiran Benyamin Franklin sang Master Freemason pun terbukti.

Kembali pada Lady Gaga, simbol Freemason, simbol kebebasan , simbol peradaban baru yang menginginkan bebas tanpa batas melepaskan diri dari segala dogma termasuk yang ada dalam Agama, juga merupakan ujung tombak untuk menjajagi kemampuan Pimpinan Negeri ini terhadap cengkeraman kaum illuminati, dan sekaligus satu evaluasi apakah korporasi Internasional betul-betul telah berhasil menguasai Pemerintahan Negeri ini.

Penampilan Lady Gaga dalam salah satu konsernya

Keberhasilan manggung Lady Gaga sebagai ujung tombak Freemason, juga tolok ukur keberhasilan kaum Iluminati yang sekaligus keberhasilan Zion Yahudi yang mengendalikan korporasi.
Bila MUI tidak mengetahui hal ini, maka itu satu kebodohan , tapi bila MUI sebenarnya tahu hal ini tapi tidak bisa berbuat lain , selain menghalalkan Konser Lady Gaga karena tekanan Penguasa yang sudah menjadi tangan-tangan korporasi ( Istilah lain kita sebut Mafia ), atau apa lagi bila fatwa halal oleh MUI untuk konser Lady Gaga itu karena segepok uang , itu berarti kehancuran karakter Ulama Negeri ini. Yang akan diikuti oleh kehancuran karakter Umat Islam Negeri ini.

Lady Gaga

Kaum Illuminati dengan Yahudi yang menumpang didalamnya yang berupaya membangun peradaban Dunia Baru, akhirnya akan bertepuk tangan setelah runtuhnya tembok pertahanan MUI dalam rangkulan diplomasi Big Daddy dan membuktikan bahwa Big Daddy layak bergabung dalam korporasi Promotor Dunia yang dikendalikan oleh Zionis dalam membangun kebebasan berekspresi tanpa batas untuk menggulingkan peradaban luhur Bngsa ini.
Selamat jalan MUI.

pb: mattula_ada@live.com

Baca juga:

~ https://appwi.wordpress.com/2012/05/20/pesan-pesan-syetan-dalam-lagu-lady-gaga/

~ https://appwi.wordpress.com/2012/05/20/akhirnya-mui-halalkan-tonton-lady-gaga-bergembiralah-wahai-anak-monster/

Iklan
20 Mei 2012

Akhirnya MUI Halalkan Tonton Lady Gaga, Bergembiralah Wahai Anak Monster!

by: Adi Supriadi

Mengejutkan! Dari awal Majelis Ulama Indonesia (MUI) memfatwakan Haram Menonton Lady Gaga, Kini MUI menghalalkannya. Beginilah jadi Ulama Pemerintah, tergantung berapa uang yang masuk ke kantong, sehingga hukum agamapun berupa Fatwa bisa diubah dalam hitungan hari.

Terkait rencana Konser Lady Gaga, beberapa waktu yang lalu MUI mengharamkan untuk menonton Lady Gaga, dengan dasar ini pulalah pada akhirny POLDA Metro Jaya tidak memberikan Izin Keramaian untuk konser Lady Gaga. (Kompas.com)

Tetapi, Malam ini MUI merubah Fatwanya. Boleh menonton Lady Gaga pada 3 Juni 2012 mendatang. Majelis Ulama Indonesia (MUI) hanya meminta manajemen Lady GaGa serta promotor konser menyesuaikan konser dengan budaya Indonesia. Apabila himbauan ini tidak ditaati maka MUI meminta polisi menjerat penyelenggara konser dengan Undang-Undang Pornografi.

Sebagaimana diberitakan MetroTV merilis berita bahwa Wakil Sekertaris Jenderal MUI Tengku Zulkarnain pihaknya tidak bisa melarang penyelenggaraan konser Lady GaGa karena hal tersebut adalah wewenang kepolisian. Bukan hanya itu Tengku Zulkarnain juga mengimbau promotor, agar konser Lady GaGa disesuaikan dengan budaya yang berlaku di Indonesia.

Sementara itu, Big Daddy berjanji akan menyesuaikan konser dengan budaya Indonesia dan manajemen Lady GaGa pun sudah menyetujui hal tersebut. Hingga saat ini promotor konser Lady GaGa masih mengupayakan agar konser tetap dilakukan, tanpa mengubah lokasi maupun tanggal tampilnya Lady GaGa yang tinggal 12 hari lagi.

Kemarin MUI bilang Haram Nonton Lady Gaga, Kemarinnya lagi MUI bilang Lady Gaga melakukan Pemujaan Setan, dan Malam ini MUI telah menghalalkan semuanya, nonton Lady Gaga halal dan Lady Gaga tidak memuja Setan. Uang memang telah menjadi Raja Saat ini. Selamat Untuk MUI dan Bergembiralah Wahai Anak Monster (Julukan Pengikut Monster Gaga)

MUI yang kini seperti Macan Ompong

Sumber :

MUI Melunak, Akhirnya Halal Nonton Lady Gaga

POLDA : MUI Haramkan Tonton Lady Gaga

pb: mattula_ada@live.com

10 Februari 2012

DILARANG TOTAL UNTUK MEROKOK!!!

by: Mattula’ada

Alhamdulillah masih ada lembaga Islam yang berani berfatwa bahwa merokok itu haram meski banyak pihak keberatan.

Bagaimana pun juga keputusan itu harus kita dukung.
Nabi Muhammad dan para sahabat tidak pernah merokok. Begitu pula dengan tabi’in serta para Imam Madzhab.

Kebiasaan merokok datang dari suku Indian yang kafir. Pada tahun 1600-an, rokok menyebar ke Eropa, kemudian baru ke dunia Islam.

Dulu para ulama berpendapat rokok itu makruh karena tidak ada label bahaya pada rokok.

Sekarang dengan adanya label bahaya, kenapa sebagian ulama masih ragu akan haramnya rokok? Bukankah berbuat sesuatu yang membahayakan diri sendiri dan orang lain dengan asap rokok itu haram?

Bukankah Allah menyatakan orang yang berbuat boros/mubazir adalah saudaranya setan? Diperkirakan Rp 200 trilyun dihabiskan untuk rokok dalam setahun. Coba seandainya uang itu dipakai untuk mensejahterakan fakir miskin.

Keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Muhammadiyah yang secara resmi mengeluarkan fatwa haram merokok menandakan adanya empati kepada anak selaku korban atau potensial korban yang dizalimi, tak berdaya dan putus asa. Hal tsb juga menandakan kepekaan terhadap kebutuhan spesifik anak untuk mendapatkan perlindungan agar bisa berkembang secara sehat, baik fisik, mental, sosial maupun moral (Mohamad Farid, dalam Sularto, 2000). Hasil Ijtima’ Ulama Fatwa III MUI di Kabupaten Padang Panjang, Padang, Sumatera Barat, 25 Januari 2009, yang juga mengharamkan rokok dihisap di tempat umum, bukan saja untuk melindungi para perokok pasif tapi sekaligus agar para perokok itu tidak menjadi contoh buruk bagi anak-anak. Hal ini sejalan dengan semangat children mainstreaming, sebagai upaya mewujudkan sebuah dunia yang layak bagi anak.

Kalau ada yang berpendapat Fatwa Merokok itu Haram akan mengakibatkan ratusan ribu pelinting rokok yang gajinya paling di sekitar UMR akan menganggur, maka orang itu tidak percaya kalau Allah itu adalah Maha Pemberi Rezeki. Sebelum ada pabrik rokok di tahun 1600-an, ummat Islam sudah bisa hidup bahkan lebih makmur ketimbang para pelinting rokok yang melarat. Mereka makmur dan hidup berkah dari rezeki yang halal.

Ada pun para pekerja di pabrik rokok, sudah miskin, maka itu bisa tidak berkah bagi mereka karena sesuatu yang haram, maka upahnya jadi haram. Jika itu terjadi, sudah melarat di dunia, di akhirat pun cuma jadi bahan bakar api neraka seperti rokok yang mereka linting:

Tiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram maka api neraka lebih utama membakarnya. (HR. Ath-Thabrani)

Dari Rp 200 trilyun/tahun uang rokok, paling yang masuk ke buruh itu kurang dari Rp 20 trilyun. Sebaliknya Rp 180 trilyun masuk ke Phillip Moris yang Yahudi serta pengusaha rokok lain yang umumnya non Muslim. Pengusaha-pengusaha ini di Indonesia, mengantarkan mereka dalam jajaran pengusaha terkaya di Indonesia. Majalah Forbes  Asia, misalnya, sering menempatkan para taipan dari pabrik rokok Djarum, Gudang Garam, dan Sampoerna sebagai orang-orang yang berada dalam formasi 10 orang terkaya di Indonesia.

Seandainya ummat Islam tidak merokok, Rp 200 trilyun itu bisa dibelikan daging sapi, susu, biaya sekolah, dsb. Uang Rp 200 trilyun akan beralih ke industri lain yang halal dan berkah.

Sekedar diketahui bahwa lebih dari 4.000 bahan kimia beracun dimodifikasi dalam setiap batang rokok. Atas izin negara, racun-racun itu diproduksi secara massal, dipasarkan melalui jaringan yang luas, dan dikonsumsi berbagai kalangan. Tanpa disadari negara telah memfasilitasi warganya untuk melakukan bunuh diri dengan menghisap bahan radioaktif (polonium-201), bahan yang biasa digunakan di dalam cat (acetone), pencuci lantai (ammonia), kapur barus (naphthalene), racun serangga (DDT), racun semut putih (arsenic), hingga gas beracun (hydrogen cyanide). Racun-racun itu secara perlahan tapi pasti menggerogoti kesehatan dan merenggut nyawa manusia tanpa ada yang diminta pertanggungjawabannya secara perdata, apalagi pidana.

Logika tentang kontribusi rokok terhadap pembangunan telah mengelabui akal sehat kita. Padahal, menurut peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi UI, Abdillah Ahsan, industri rokok hanya menyumbang 1,3 persen dari total produk domestik bruto (PDB). Bandingkan dengan kerugian kesehatan akibat merokok yang jauh lebih tinggi daripada keuntungan ekonomi yang diperoleh.

Sebagai gambaran, tahun 2005, biaya kesehatan yang dikeluarkan Indonesia karena penyakit yang terkait tembakau mencapai 18,1 miliar dollar AS atau 5,1 kali lipat pendapatan negara dari cukai tembakau pada tahun yang sama (Kompas, 15/1/2009). Lebih memprihatinkan karena 91%perokok berasal dari kalangan menengah ke bawah, di mana setiap keluarga mengeluarkan 7,4 sampai 12 persen pendapatannya untuk membeli rokok. Dalam banyak kasus, para perokok lebih mementingkan membeli rokok, mengabaikan memenuhi kebutuhan sembako keluarga, bahkan untuk membiayai sekolah anaknya.

Peringatan “merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin” yang tercetak pada kemasan bungkus rokok ternyata tak cukup efektif mencegah orang merokok. Pesan bahaya merokok itu kalah daya pesona dibanding iklan, promosi dan program sponsorship dari perusahaan rokok.

Riset Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM), tahun 2006, menemukan sebanyak 9.230 iklan rokok di TV, 1.780 di media cetak dan 3.239 lainnya di media luar ruang. Penelitian Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) dan Universitas Hamka, menemukan korelasi langsung antara iklan rokok, promosi dan sponsor perusahaan  rokok dengan meningkatnya usia inisiasi dini perokok anak dan jumlah perokok. Sehingga disadari atau tidak, mulai dari lomba tujuh belasan, seminar, konser musik, hingga berbagai pertandingan olahraga dibiayai dari “hasil membunuh” oleh para perokok.

Jumlah konsumsi rokok di Indonesia memang terbilang tinggi. Menurut Tobacco Atlas, 2002, Indonesia menempati posisi kelima tertinggi di dunia dengan 215 miliar batang, setelah China (1,634 triliun batang), Amerika Serikat (451 miliar batang), Jepang (328 miliar batang), dan Rusia (258 miliar batang). Tingginya tingkat konsumsi rokok berdampak pada risiko yang harus ditanggung. Berdasarkan riset Lembaga Demografi UI, di Indonesia, sebanyak 427.948 orang meninggal rata-rata per tahunnya akibat berbagai penyakit yang disebabkan oleh rokok.

Data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) Indonesia, tahun 2006, memperlihatkan sebanyak 24,5 persen remaja laki-laki dan 2,3 persen remaja perempuan merupakan perokok, dimana 3,2 diantaranya sudah kecanduan. Survei terhadap remaja berusia 13-15 tahun itu menyimpulkan, sebanyak 3 dari 10 pelajar mencoba merokok sejak di bawah usia 10 tahun.

Fakta mengerikan ini diperkuat oleh pernyataan Ketua Umum Forum Komunikasi Pembinaan dan Pengembangan Anak Indonesia (FK PPAI), Rachmat Sentika, bahwa usia prevalensi anak merokok bergeser hingga usia tujuh tahun. Realitas ini membuat muncul prediksi, pada tahun 2020, kemungkinan besar profil penderita penyakit akibat merokok adalah generasi yang berusia lebih muda, yang notabene merupakan usia produktif.

Industri rokok dituding memanfaatkan karakteristik remaja yang menginginkan kebebasan, independen, dan berontak dari norma-norma, dalam iklan-iklan yang membius mereka.

Sebagai konsumen muda, mereka lebih sering memperoleh promosi menyesatkan dibanding pendidikan tentang bahaya merokok. Menurut dokumen “Perokok Remaja: Strategi dan Peluang”, RJ Reynolds Tobacco Company Memo Internal, 1984, perokok remaja telah menjadi faktor penting dalam perkembangan setiap industri rokok dalam 50 tahun terakhir karena mereka adalah satu-satunya sumber perokok pengganti. Jika para remaja tidak merokok, industri akan bangkrut sebagaimana sebuah masyarakat yang tidak melahirkan generasi penerus akan punah.

Ketidaktahuan dan ketidakberdayaan mereka yang sudah kecanduan, membuat generasi belia ini berada pada posisi korban yang perlu segera dipulihkan dan diselamatkan.

Pendekatan teologis yang dilakukan MUI dan Muhammadiyah mesti dibaca pada konteks ini. Demi kepentingan terbaik bagi anak, hukum merokok ditetapkan sebagai haram bukan makruh (dianjurkan untuk dihindari).

Prinsip the best interest of the child, tampaknya oleh MUI dan Muhammadiyah, diletakkan sebagai pertimbangan utama (a primary consideration), yang memang sudah seharusnya dilakukan oleh institusi kesejahteraan sosial pada sektor publik maupun privat, badan legislatif dan yudikatif, serta organisasi masyarakat sipil lainnya.

Begitupun, pengharaman merokok bagi ibu hamil harus dilihat sebagai ikhtiar guna melindungi janin dari ancaman penyakit dan kematian. Untuk diketahui, janin dalam kandungan sudah termasuk kategori anak yang harus dilindungi, berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Ia memiliki hak hidup, yang dalam wacana instrumen/konvensi internasional merupakan hak asasi yang universal dan dikenal sebagai supreme right. Prinsip hak hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan, menjadi kontekstual jika kita mencermati fenomena 2/3 (dua per tiga) yang ditunjukkan WHO, tahun 2002. Fenomena ini menemukan, 2/3 kematian bayi usia 0-1 tahun terjadi pada bayi berumur 0-28 hari. Kedua, 2/3 kematian bayi terjadi pada hari pertama. Penyebab utama kematian bayi itu, selain faktor pengaruh obat-obatan selama kehamilan, juga karena pengaruh buruk rokok.

Di bungkus rokok jelas disebut bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, gangguan kesehatan janin, dan impotensi..

Oleh karena itu rokok bisa dibilang haram karena merusak diri sendiri dan orang lain:

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” [Al Baqarah:195]

Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan, saudara mereka Syu’aib, maka ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” [Al ‘Ankabuut:36]

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya” [Al A’raaf:56]

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan” [Asy Syu’araa:183]

Dari Sa’id bin Malik ra, bahwa Rasululloh SAW bersabda, “Dilarang segala yang berbahaya dan menimpakan bahaya.” (Hadits hasan diriwayatkan Ibnu Majah, Daruquthni, dan Malik dalam Al-Muwatha’)

Allah dan Rasulnya menghalalkan segala yang baik dan mengharamkan semua yang buruk:

“Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” [Al A’raaf:157]

Sering orang merokok di tempat umum sehingga mengganggu orang lain. Bau dan asap rokok mengganggu orang lain. Ini adalah dosa besar. Jangankan rokok yang haram, orang yang makan bawang putih yang halal karena baunya mengganggu dilarang masuk ke dalam masjid:

Ibnu Umar ra. berkata:

Sesungguhnya Rasulullah saw. dalam perang Khaibar pernah bersabda: Barang siapa makan buah ini (bawang putih), maka janganlah ia memasuki mesjid. (Shahih Muslim No.870)

Anas ra.: Bahwa Dia pernah ditanya tentang bawang putih. Anas menjawab: Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda: Barang siapa yang makan pohon ini (bawang putih), maka janganlah ia dekat-dekat kami dan jangan ia ikut salat bersama kami. (Shahih Muslim No.872)

Jabir ra. berkata: Rasulullah saw. melarang makan bawang merah dan bawang bakung. Suatu saat kami butuh sekali sehingga kami memakannya. Beliau bersabda: Barang siapa yang makan pohon tidak sedap ini, janganlah ia mendekati mesjid kami. Sesungguhnya para malaikat akan merasa sakit (karena aromanya) seperti halnya manusia. (Shahih Muslim No.874)

Rokok haram karena merupakan pemborosan. Jika sebungkus rokok seharga Rp 8.000 dihabiskan dalam sehari, maka sebulan orang tersebut harus mengeluarkan kurang lebih Rp 240 ribu untuk hal yang justru merusak dirinya sendiri dan orang lain. Padahal uang tersebut mungkin bisa digunakan untuk menyekolahkan 2 orang anaknya. Allah melarang sifat boros yang merusak seperti itu:

”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” [Al Israa’:26-27]

Merokok haram karena bukan hanya tidak berguna, tapi justru merusak. Selain itu tanpa kita sadari bahwa memakan makanan yang tidak halal dan tidak baik adalah langkah yang disukai syaitan.

Abu Hurairoh ra berkata: “Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan Tirmidzi dan lainnya)

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS Al-Baqarah [2]:168)

Sebenarnya, telah ada  Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan, yang mengatur mengenai kandungan kadar nikotin dan tar, persyaratan produksi dan penjualan rokok, persyaratan iklan dan promosi rokok, serta penetapan kawasan tanpa rokok. Namun PP ini dianggap kurang memadai karena tidak melarang secara tegas anak-anak merokok. Kerena itu, Muhammadiyah, Komnas PA dan lembaga-lembaga yang concern hendak melindungi anak dari bahaya rokok mendesak pemerintah meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).

Fatwa tentang haram merokok, sejatinya memang dijadikan sebagai bentuk dukungan moral dan momentum untuk menata regulasi rokok. Ada yang menyarankan agar  pemerintah menaikkan tarif cukai tembakau sampai 57 persen karena dengan begitu akan mencegah 2,4 juta kematian akibat rokok dan menambah pendapatan negara Rp50,1 triliun.

Desakan paling keras berkaitan permintaan untuk memperketat iklan di semua media. Bahkan, ada yang minta supaya iklan rokok dihapus dari layar kaca, sebagaimana dilakukan Inggris, tahun 1955, dan Amerika Serikat, tahun 1970. Di beberapa negara maju, larangan iklan rokok turut mempengaruhi penurunan prevalensi perokok.

Langkah-langkah bertahap secara pragmatis dan terukur harus pula segera dilakukan Pemda, misalnya, memperluas area bebas dari asap rokok, termasuk menjauhkan sekolah dari segala promosi berbau rokok, sampai pada radius tertentu.  Selanjutnya, melarang anak-anak sebagai pedagang rokok, juga memperketat larangan menjual rokok untuk anak-anak dan remaja, apalagi bila mereka berpakaian seragam sekolah.

Bila perlu rokok tidak dijual bebas di warung-warung atau kios-kios di perkampungan dan kompleks perumahan. Dan yang paling realistis, mulai sekarang, tiadakan asbak dari rumah kita sebagai bentuk komitmen menjadikan masing-masing dari kita sebagai figur gaya hidup sehat tanpa rokok.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (PA) Seto Mulyadi menyambut baik keluarnya fatwa haram merokok dan perhatian besar lembaga keagamaan menghadapi semakin tingginya angka perokok di Indonesia. ”Komnas PA menyampaikan apresiasi kepada pengurus PP Muhammadiyah. Jutaan anak Indonesia berterima kasih karena diselamatkan dari asap rokok,” kata pria yang akrab disapa Kak Seto ini.

Menurut Seto, angka perokok anak terus mengalami peningkatan. Bahkan, sebuah survei menunjukkan, anak diindikasi menjadi perokok sejak usia 5 tahun. ”Ini sama saja namanya merusak generasi penerus. Maka, butuh perhatian kita semua,” ujarnya.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/10/02385421/muhammadiyah.merokok.haram

Oleh sebab itu, marilah kita bersama-sama mendukung fatwa MUI dan Muhammadiyah yang menyatakan Merokok itu Haram!!!. Karena berdasarkan dalil Al Qur’an dan Hadits, memang begitu adanya.

http://media-islam.or.id/2008/08/20/mendukung-fatwa-haram-merokok-mui/

Dan semoga pula pada akhirnya Pemerintah dengan dukungan wakil rakyat di parlemen akan mengeluarkan fatwa dalam bentuk aturan baku (yang sudah tentu bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi) bahwa:

DILARANG TOTAL UNTUK MEROKOK!!!

Notes:
* Angka kematian akibat rokok di Indonesia mencapai 427.923 jiwa/tahun
* Berdasarkan hasil penelitian KPAI perokok aktif di Indonesia sekitar 141,4 juta orang
* Dari 70 juta anak di Indonesia, 37 persen atau 25,9 juta anak diantaranya merokok.
* Sekitar 43 juta anak usia hingga 18 tahun terancam penyakit mematikan
* Tahun 2006 konsumsi rokok di Indonesia 230 milyar batang atau sekitar Rp 184 trilyun/tahun

http://media-islam.or.id/2008/02/22/merokok-itu-haram/

Sumber:

~ http://kabarislam.wordpress.com/2010/03/17/ayo-dukung-fatwa-muhammadiyah-merokok-itu-haram/

~ www.tribun-timur.com/read/artikel/9211

~ http://andes-rizky07.blogspot.com/2009/06/bahaya-merokok-mungkin-anda-sudah-tahu.html

~ http://kabarislam.wordpress.com/2010/03/25/4-000-bahan-kimia-dan-400-racun-di-dalam-rokok/

wb: mattula_ada@live.com