Posts tagged ‘masyarakat’

31 Mei 2012

Rabi Weiss: Zionis Israel Telah Ciptakan ‘Sungai Darah’!!

Kekejaman rezim Zionis Israel terhadap masyarakat Palestina dikecam seorang Rabbi Yahudi. Yisroel Dovid Weiss (55), seorang Rabbi Yahudi berkebangsaan Amerika Serikat (AS), menilai rezim Zionis Israel telah menciptakan sungai darah bagi dunia.

Weiss menuding Israel telah menghapus rakyat Palestina dari tanah kelahirannya. Menurut dia, semua tindakan Israel itu sungguh biadab. “Tidakan keji Zionis ini tidak berarti sebagai seorang Yahudi. Dan ini bertentangan dengan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa,” kata Weis dalam wawancara bersama Aljazeera pekan lalu.

Rabbi Weiss dkk

Rabi Weis adalah pimpinan umat Yahudi Ashkenazi aliran Haredi di New York, AS. Ia adalah salah satu aktivis Yahudi yang gencar mengkampanyekan kekejaman Israel dan anti-pemerintahan Zionis. Ia menganggap apa yang diklaim ‘mempertahankan diri’ pemerintah Zionis, baik isu Iran maupun rakyat Palestina adalah tindakan yang tidak didasari oleh keyakinan Yahudi.

Menurutnya, Zionis bukan hanya ancaman bagi Palestina, Iran dan warga dunia, namun juga bagi umat Yahudi. Zionisme, jelas dia, meyakini berlaku kejam atas dasar Taurat dan ketaatan kepada Tuhan. “Zionisme akan membawa dunia jauh lebih buruk. Dan Tuhan tidak akan membiarkan kejahatan zionis ini terus terjadi,” ungkapnya.

Weiss juga menyangkal semua alasan pendirian negara Yahudi atas dasar nubuat Taurat. Ia menyebutkan ada perbedaan besar antara Zionis dan sejarah Yahudi. Zionis adalah ideologi politik dan memiliki sejarah buruk dalam pelecehan kesucian agama. Dan Yahudi tidak pernah mengajarkan keyakinan keji itu.

Weiss juga menjelaskan bahwa Israel selalu melegalkan perang dengan alasan sejarah fiksi Israel yang dibuat-buat. Hal itu yang membuat Weiss percaya bahwa Israel adalah sebuah negara tidak sah.

Ketika Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu mengunjungi Washington dalam liburan Purim pekan lalu, untuk bertemu Presiden AS Barack Obama. Netanyahu memberikan salinan kitab Perjanjian Lama Ester.

Netanyahu kemudian menyebutkan latar belakang perlunya serangan terhadap Iran. Dengan alasan adanya hubungan sejarah panjang orang Yahudi di kerajaan Persia sekitar 2.500 tahun yang lalu. Hal ini dianggap oleh para ahli sebagai fiksi besar untuk pembenaran serangan militer terhadap Iran modern.

Dan fiksi-fiksi seperti itu pula-lah yang digunakan Israel untuk melegalkan pencaplokan Palestina setelah perang dunia ke dua.

Video: Rabbi Weiss pada saat berbicara di Al-Jazeera

source: republika.co.id

pb: mattula_ada@live.com

23 Mei 2012

Mengintip Kelahiran PNPM Pusaka: The Next Generation of PNPM Mandiri

by: Gilang Prayoga

Pelaksanaan PNPM Mandiri selama sejak tahun 2007, di nilai cukup positif dalam menanggulangi kemiskinan yang ada di Indonesia. Melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat yang mengedepankan prinsip-prinsip musyawarah mufakat, PNPM mampu memberikan ruang pembelajaran dalam pengambilan keputusan yang demokratis. PNPM sendiri di rencanakan akan selesai pada tahun 2014. PNPM Sendiri seperti yang kita terdiri dari berbagai macam program seperti PNPM Mandiri Perdesaan, PNPM Perkotaan / Program Pegembangan Kecamatan Perkotaan (P2KP), PNPM Generasi, PNPM Paska Bencana, PNPM Paska Krisis, PNPM Integrasi, PNPM PISEW, PNPM Pariwisata dan lain sebagainya.

Timbul pertannyaan dari kita, lantas akan ada program apa sebagai pengembang dan penerus dari PNPM? Pihak depdagri menyatakan bahwa akan ada kelanjutan dari program PNPM yang system dan mekanismenya tidak terlampau jauh berbeda dengan PNPM. Meski belum di putuskan apakah masih menggunakan nama PNPM kembali ataukah ganti baju dengan nama yang lain.

Jawaban atas pertanyaan itu sedikit terungkap, saat saya membaca status Facebook dari Deputi Kemenkokesra, Sujana Royat yang menyatakan bahwa akan lahir generasi baru dari PNPM yaitu PNPM Pusaka.

Menurut beliau, PNPM Pusaka diharapkan dapat mendorong kelompok-kelompok masyarakat peminat kebudayaan lokal untuk mencintai dan melestarikan budaya, adat istiadat, kuliner, seni dan tata krama budaya lokal dan menerapkan dalam kehidupannya menjadi lebih berbudaya (culturally vibrant), dan akhirnya bila ini bisa dilakukan di semua tempat maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang bermartabat kembali, bukan pengejar materi dan kekuasan dan sering di adu domba dan dimanfaatkan oleh berbagai kelompok kepentingan.

PNPM Pusaka rencananya akan di luncurkan serempak di berbagai kota bulan Agustus setelah Hari Peringatan Proklamasi Kemerdakaan Indonesia untuk menjadi gerakan nasional untuk mencintai budaya lokal. Aspek yang di sentuh dalam PNPM Pusaka adalah dimensi ketiga dari kemiskinan yaitu kemiskinan budaya, akhlak dan tata krama. Setelah sebelumnya dimensi kemiskinan harta dan kemiskinan ilmu, yang telah di sentuh melalui PNPM Mandiri.

Mungkin akan saya kutip status Facebook Sujana Royat yang di tulis pada awal bulan Mei 2012.

Setelah bangsa ini terpecah belah oleh partai politik, pemekaran wilayah dan radikalisme di bidang agama dan etnis. Maka sudah waktunya bangsa ini direkatkan lagi dan di persatukan lagi melalui budaya. Kebudayaan adalah perekat bangsa. Semua kelompok masyarakat harus kembali ke akar tradisi dan budaya lokalnya. Kebudayaan nasional adalah puncak puncak kebudayaan lokal. Masyarakat harus memelihara budaya lokal dan melestarikannya. Ini intinya PNPM Pusaka, siapa saja yang mencintai budaya, seni dan potensi kekayaan alam saujana / landscape bisa bergabung dalam upaya ini. Rekatkan bangsa melalui budaya!”

Dari komentar singkat kami, sebagai praktisi pemberdayaan, saya sungguh merasa mempunyai harapan yang tinggi terhadap program PNPM Pusaka ini. Saya hanya membayangkan kira-kira akan seperti apa mekanisme, prosedur, juknis dan terapan pelaksanaan di masyarakat. Dan reksi apa yang timbul di masyarakat. Apakah senang, antusias, ataukah acuh saja.

Sudah menjadi rahasia umum di masyarakat desa atau di pinggirian urban (bagi pemanfaat dana P2KP) apalagi untuk PNPM Mandiri Perdesaan, banyak sekali anggapan yang menilai bahwa PNPM adalah “banyak uangnya”. Masyarakat ingin berpartisipasi dalam PNPM jelas di sana menjanjikan “gula-gula” proyek yang cukup besar. Dengan kondisi pembangunan infrastruktur perdesaan yang belum merata, menjadikan PNPM di perebutkan dengan sangat gaduh dan seringkali melalui cara-cara intimidatif. Proses Musyawarah Antar Desa (MAD) sebagai forum tertinggi di tingkat kecamatan di pakai bukan untuk mencari solusi atas permasalahan-permasalahan mereka se-kecamatan, namun di persempit dengan nafsu mendapatkan dana proyek bagi desa mereka masing-masing. Dan memang tidak bisa di salahkan ketika masyarakat berkehendak demikian. Gelombang arus bawah dari masyarakat, menjadikan nilai-nilai dan prinsip program menjadi mengambang dan hanya di jadikan emblem administratif.

Di balik kesuksesan program, sebaliknya terdapat pula fenomena faktual yang berkembang di masyarakat. Kita ambil contoh. Bahwa tidak dapat kita pungkiri bahwa kualitas proses dan partisipatif masyarakat cenderung mengalami grafik penurunan. Masyarakat yang menghadiri musyawarah baik di desa dan kecamatan telah merasakan kecenderungan bosan dengan banyaknya rapat yang ada di PNPM. Ujungnya adalah ketika mereka menghadiri Musyawarah Antar Desa (MAD) yang hakikatnya adalah berjuang bagi desa mereka sendiri untuk mengakomodir hak, usulan dan merupakan bentuk partisipasi demokrasi, rata-rata mereka menghendaki adanya transport yang di bebankan dari pihak desa. Kalau tidak ada transportnya mereka tidak mau berangkat. Contoh lain adalah proses pemilihan pelaku PNPM seperti Unit Pengelola Keuangan (UPK) banyak di warnai dengan nuansa politis yang kental. Yang membuat para calon UPK melakukan manuver-manuver yang terkadang tidak sehat dan menodai prinsip-prinsip PNPM itu sendiri.

Kita ini sudah menjadi manusia Indonesia yang berjuang bukan untuk kepentingan bersama, tapi sudah terkotak-kotak hanya untuk pribadi, golongan, institusi, lembaga. Musuh kita sebenarnya adalah uang, yang kita perebutkan dengan berbagai cara tanpa peduli saudara, kerabat atau apapun. Kenikmatan bergotong-royong telah di gantikan dengan kenikmatan materiil. Adapun data-data kesuksesan yang tertampil dalam lembar-lembar laporan kita adalah data administratif yang tidak cukup dan bahkan tidak mampu menggambarkan wajah program pemberdayaan ini secara komprehensiif. Wajah itu terlihat parsial tergantung dari sisi mana kita melihatnya.

Namun dengan adanya rencana kelahiran PNPM Pusaka, sedikit banyak memberikan harapan yang baru. Ketika manusia tidak mengenal budaya, tidak mengapresiasi seni, tidak menyukai keindahan sesungguhnya dia telah menolak hakikat sejati dirinya. Manusia dengan perwujudan akal dan budi, mampu melahirkan ragam kebudayaan yang membuat manusia itu merasa manusia. Yang terjadi sekarang adalah manusia tidak melihat dia sendiri menjadi manusia, namun lebih melihat apakah dia Konsultan, Bupati, Direktur, tukang ojek, petani atau apapun saja. Manusia menjauh dari sifat sejati manusia. Ketika manusia sudah tidak berlaku sebagai manusia maka apa yang disampaikan Sujana Royat menjadi nyata “ terpecah belah oleh partai politik, pemekaran wilayah dan radikalisme di bidang agama dan etnis. Dan tantangan tersebut mau tidak mau harus di hadapi oleh PNPM Pusaka.

Meskipun saya masih meraba-meraba bentuknya akan seperti apa. Karena bagaimana menilai budaya. Bagaimana menghitung budaya secara kuantitatif? Namun, setidaknya akan ada hembusan angin segar dengan hadirnya PNPM Pusaka. Meskipun tantangan ke depan masih membayang, namun setidaknya patut di apresiasi dan di dukung dengan sepenuh hati.

pb: mattula_ada@live.com

23 Mei 2012

KPMD, antara Kompensasi dan Realitas Pemberdayaan Desa

by: Gilang Prayoga

Sebagai salah seorang pelaku pemberdayaan saya banyak menemui bahwa peran-peran strategis di Desa tidak berlangsung secara optimal seperti yang di amanatkan oleh program. Bukan berarti semua Desa pelakunya tidak optimal, namun dari kacamata pengalaman saya, hampir rata-rata pelaku di Desa terkadang terpusat hanya kepada orang-orang itu saja. Meskipun dalam PNPM, telah terbentuk pelaku-pelaku yang di syahkan pada saat Musyawarah Desa (MD), namun kualitas yang di harapkan belum dapat dikataka menggembirakan.

Salah satu peran pelaku yang selama ini di pandang penting namun terlupakan adalah KPMD. Kader Desa yang di bentuk PNPM yang mengemban tugas dalam hal memfasilitasi segala mediasi, konsultasi, evaluasi dan monitoring terhadap kegiatan PNPM di desa tersebut dengan supervise dari Fasilitator Kecamatan. Singkat kata KPMD adalah pengendali pelaksanaan program di Desa untuk memastikan bahwa kegiatan program berjalan sesuai dengan prinsip dan prosedur PNPM, meskipun dalam beberapa hal kewenangannya di batasi. Yaitu hanya dalam soal pencairan dana proyek PNPM saja tidak memerlukan KPMD. Karena pencariran dana mutlak di sertifikasi langsung oleh Fasilitator. Meskipun tidak di larang apabila KPMD memberikan rekomendasi kepada Fasiliator kaitanya dengan pelaksanaan kegiatan desa.

Namun dalam banyak tahapan lain, peran-peran KPMD memegang posisi strategis untuk mengawal kegiatan PNPM. KPMD lah agent culture of change yang sejati di desa. Dalam perjalanan program, peran KPMD di nilai belum memberikan kontribusi secara maksimal dalam proses pemberdayaan masyarakat di Desa. KPMD hanya terbatas sebagai tangan panjang FK untuk membuat proposal usulandan tugas administrative yang lain saja. Amat jarang di temukan Fasilitator, membimbing para kader dengan nilai-nilai pemberdayaan. Karena memang nilai pemberdayaan itu tidak ada sekolahnya. Harus di landasi dengan moral dan nurani. Bila nilai pemberdayaan tidak di landasari dua nilai tersebut, sangat memungkinkan untuk terpeset menjadi proyek pengeruk keuntungan belaka.

 

Tidak mengecilkan peran KPMD dan mungkin ini hanya bersifat kasuistik saja, bahwa secara umum pemahaman KPMD hampir tidak memiliki peran apa-apa di Desa. Kecuali sebagian besar pekerjaanya hanyalah datang ketika Rakor KPMD untuk menerima transport dan menghadiri Musdes yang ada. Datang dan duduk saja mendengarkan. Padahal di PTO pun tercantum bahwa yang memfasilitasi musyawarah adalah KPMD. Fasilitator hanya memfasilitasi pada saat Musdes Sosialiasi. Tapi kembali lagi bahwa dominasi fasilitator yang sangat tinggi membuat desa, KPMD atau pelaku yang lain sangat tergantung kepadanya. Bahkan ada rasa kalau Musdes atau kegiatan lain tidak di dampingi dan di arahkan fasilitator merasa takut salah dan rasa minder lainnya. Bila kasus yang ini, yang harus di jewer pertama kali adalah fasilitatornya yang kurang memberikan bimbingan, peluang dan kepercayaan untuk para pelaku berkembang. Meskipun tetap harus tetap ada pendampingan dan evaluasi untuk memastikan tahapan tidak keluar dari prinsip program.

Setiap kali saya menghadiri Musdes, banyak masyarakat yang mengeluh menyampaikan kepada saya,” sulit sekarang mas, cari orang yang mau menjadi berjuang bagi desa yang tidak mendapatkan apa-apa.” Ada lagi yang juga mengatakan,”mencari orang yang kober (punya waktu) untuk mengurusi desa sudah jarang mas. Mereka lebih memikih mencari pekerjaaan di tempat lain daripada mengurusi desa namu tidak mendapatkan apa-apa. Yang anak muda tidak perduli dengan pembangunan desanya, yang pintar rata-rata sudah bekerja di luar kota, tinggal hanya yang tua-tua yang sudah phase-out.”

Sehingga yang terjadi adalah ketika proses pemilihan KPMD terpilih orang-orang seadanya yang hanya sebagai penggugur kewajiban saja. Apakah calon KPMD itu punya kompetensi atau tidak bukan merupakan hal yang memusingkan. Yang penting Desa mendapat proyek PNPM.

Namun di sisi lain, seperti yang tercetus dari ungkapan teman yang menyampaikan aspirasinya dari grup Facebook, yang terang-terang kecewa karena hanya mendapatkan transport yang minimalis, sehingga ia tidak mau lagi menjadi kader desa kembali. Banyak KPMD juga membandingkan pendapatanya dengan TPK misalnya. Mereka menganggap itu tidak adil. Sehingga banyak juga yang menuntut untuk memberikan kompensasi yang pantas bagi KPMD.

Terus akan seperti apa menyikapi hal ini? Saya sih secara pribadi tidak keberatan kalau umpamanya KPMD dapat gaji atau setidaknya kompensasi yang wajar. Jangankan KPMD, kalau perlu pak RT juga boleh untuk di usulkan. Karena kalau pemikiran kita adalah membangun desa sendiri tidak mendapat kompensasi, ya itu penerapanya jangan berlaku hanya pada wilayah desa saja, Namun coba kembangkan ke wilayah lain yang lebih luas, Misalnya sering ada pernyataan “Buat kader desa, tak usahlah fokus pada Rupiah, ibarat bangun rumah sendiri (desamu!), masak bangun rumah sendiri minta gaji/honor,….” Sering terpaksanya saya sendiri sering bilang, bila memang bahasanya seperti itu saya sih setuju saja. Namun coba di kembangkan lagi bahasanya, umpamanya kader desa di ganti dengan Presiden, DPR, Gubernur, Bupati, Kades dlsb. ‘Buat para Presiden, tak usahlah fokus pada Rupiah, ibarat bangun rumah sendiri ( Negaramu!) masak bangun negaramu minta gaji/honor. Silahkan yang lain di teruskan sendiri.

Seperti halnya Pendamping Lokal (PL), KPMD pewaris ilmunya pemberdayaan di desa. Dialah yg nantinya akan jadi ujung tombak konsultasi, monitoring, evaluasi, mediasi dlsb yang tidak hanya untuk PNPM saja namun juga untuk program-program yang lain. Pengawal prinsip, prosedur dan pengusung misi pemberdayaan. Bila desa ingin berdaya salah satu indikatornya adalah kemampuan KPMD dalam fasilitasi di desa. Tanpa kerja KPMD, PNPM menjadi sekarang ini yaitu hanya terjebak kepada Proyek semata namun lepas esensi pemberdayaannya.

So. Saya sih setuju saja dan umpamanya mendukung adanya gaji KPMD, namun juga di pastikan bahwa kualitas KPMD juga bisa di pertangunggungjawabkan. Sehingga jangan ada lagi nada-nada minor yg menuduh KPMD hanya sebagai pelengkap program, mau transportnya tapi tak mau kerjanya. Hanya datang ketika rakor KPMD dan hanya jadi peserta Musdes, tapi lupa denga misi yang harus di kawalnya. KPMD pun harus berubah serta mampu menunjukkan kapasitas dan buktinya kepada masyarakat juga program. Dan jangan lupa bahwa di tangan KPMDlah nilai pemberdayaan di desa ini nanti akan dititipkan.

pb: mattula_ada@live.com

 

6 Februari 2012

Akar Eksistensi Citizen Journalism

by: Mung Pujanarko

Kerap kali orang bertanya mengapa sih ada citizen journalism? Fenomena apa ini ?, apa yang melatar belakangi munculnya citizen journalism (Jurnalisme warga). Dan ada pertanyaan yang paling telak yakni : mengapa ada orang yang susah payah mau menjadi Citizen Journalist (pewarta warga)? padahal tanpa memperoleh bayaran sedikitpun jua.

Apa alasannya?orang lalu menebak : oh mungkin hanya ingin eksis, ingin famous, ingin terkenal.

Baiklah saudara pembaca, nafsu ingin terkenal ini memang banyak istilah gaul belakangan ini menganggap orang tersebut adalah: sok eksis , ingin eksis, eksis wanna be, atau malah narsis dan narcisstic. Dan sebagian dari negasi orang yang tak paham, dikatakan :”kurang kerjaan kali…”.

Dan banyak lagi reason atau alasan yang ditujukan kepada orang-orang yang menjalankan kegiatan Citizen Journalism.

Sebenarnya begini, dalam Ilmu Komunikasi dikenal dengan adanya Teori Interaksi Simbolik atau lazimnya disebut sebagai Symbolic Interaction Theory (SIT) di mana penggagas teori ini adalah George Herbert Mead (1934)-gurunya Herbert Blummer, kemudian disusul oleh Ralph La Rosa dan Donald C Reits ( 1993). Dalam teori SIT ini asumsi utamanya dibagi dalam tiga hal pokok yakni :

-Pentingnya makna bagi perilaku manusia.

-Pentingnya konsep mengenai diri.

-Pentingnya hubungan antara individu dan masyarakat.

Dalam Teori Interaksi Simbolik sebagai lingkup Ilmu Komunikasi dijelaskan bahwa motif orang untuk melakukan interaksi bukan hanya didasarkan oleh keuntungan (rewards) semata, seperti halnya yang dijelaskan dalam Teori Pertukaran Sosial atau Social Exchange Theory (SET) oleh John Thibaut dan Harold Kelley (1959), yang menandaskan bahwa : “hubungan hanya terjadi bila terdapat adanya selisih rasional antara reward dan cost, yang berkorelasi pada level perbandingan atau alternatif level perbandingannya.

Namun, Mead menjelaskan bahwa interaksi dengan orang lain adalah proses bersama mencari makna (meaning) atau arti, melalui pengembangan pikiran (mind) bersama (yang terjadi saat proses komunikasi).

Dengan penjelasan Teori ini membantu kita saat mengamati secara seksama tentang fenomena Citizen Journalism, maka jelaslah secara empiris, bahwa kebanyakan motif seseorang melakukan kegiatan Citizen Journalism sebagai bentuk komunikasi ini, adalah adanya suatu dorongan instingtif yang terwarisi dari sifat alamiah dasar manusia, sejak manusia ada pertama kali di muka Bumi.

Dorongan ini adalah dorongan naluriah orang untuk mengabarkan sesuatu. Ini adalah primary need,(dasar), bukan lagi ada di puncak piramida Maslow yakni aktualisasi diri seperti ingin famous.

Citizen Journalism kerap kali adalah dorongan manusia untuk mewartakan sesuatu (berkomunikasi) yang berguna bagi orang lain, sama halnya dorongan insting manusia untuk makan, minum dan basic need lainnya.

Citizen Journalism sebagai bentuk komunikasi ini, bertujuan untuk :

-Membantu komunitas (community buliding).

-Menghindarkan bencana bagi komunitas .

-Mengharapkan respon dari komunitas agar terbangun komunitas yang harmonis dengan alam.

Maka dorongan alamiah seseorang untuk mewartakan sesuatu pada orang banyak, memang tidak perlu menunggu seseorang untuk menjadi wartawan koran/ wartawan TV yang digaji perusahaan, namun dorongan orang untuk mewartakan berita, sebuah ide,makna, atau sebuah hal, dorongan untuk bersuara itu adalah sah, legitimate, dan naluriah belaka adanya. Kita berpengalaman bahwa sebuah rezim sekuat Orde baru pun tak bisa mengekang orang untuk bersuara.

Kita tidak bisa menggeneralisasi bahwa orang yang melakukan kegiatan Citizen Journalism adalah orang ingin famous, ingin eksis dan ingin dikenal.

Dorongan ingin famous atau ingin dikenal ini ada pada top (puncak) piramida hierachy of need-nya Maslow.

Sedangkan dorongan ingin mewartakan sesuatu ini adalah termasuk primary need, seperti halnya bayi menangis minta makan/susu. Bayi menangis karena butuh sesuatu, ini adalah bentuk komunikasi awal manusia. Dorongan berkomunikasi dengan orang lain ini adalah pimer sifatnya.

Misalnya kita tarik visi ke belakang sejarah, kembali pada jaman era komunitas manusia gua, jaman Pithecantropus erectus, serta jaman Homo sapiens mula, yakni kira-kira 20.000-30.000 tahun yang lalu. -Sebenarnya saya ingin memberi iustrasi jaman manusia neanderthal, tapi spesies ini punah pada jaman es-. Seorang caveman homo sapiens awal atau manusia gua sudah berkomunikasi dengan manusia lainnya melalui simbol, suara dan gambar-gambar dinding yang menyebutkan akan adanya : aneka binatang liar, bahaya, dan cuaca.

Berita pertama yang disebutkan manusia gua (caveman) adalah: “ada hewan”, di mana selanjutnya direspon oleh komunitas dengan memburu hewan tersebut untuk makan satu komunitas kecil. Berita selanjutnya adalah isyarat baik gerak tubuh dan suara yang memberitakan : “ada kebakaran” atau “ada bahaya alam, salju, banjir, ancaman tanah longsor dan lain-lain” yang segera direspon oleh kaum manusia perintis awal itu untuk menyelamatkan diri.

Jadi, semenjak jaman manusia perintis ini selalu ada caveman yang berani keluar gua untuk memantau situasi wilayahnya dan kembali lagi ke komunitasnya, untuk mewartakan apa yang dilihatnya, yang kira-kira berguna untuk komunitas tersebut. Maka kejujuran menjadi jaminan mutlak bahwa sang pewarta ini menjadi kepercayaan masyarakatnya.

Kita tentu pernah mendengar kisah : “Seorang Anak dan Serigala”, dimana dikisahkan ada anak yang berkata pada penduduk, “Ada serigala!”, namun tidak terbukti, keesokan harinya mewarta lagi anak itu “Ada Serigala!” dan tidak terbukti lagi. Karena kehilangan kepecayaan dari penduduk, maka saat ketiga kalinya anak itu mewartakan “Ada Serigala !,” penduduk sudah tidak percaya, dan anak itu mati dimakan Serigala. Ini kisah dengan pesan moral yang bagus, meskipun oleh Josef Goebbels pakar komunikasi sahabat Hitler, kemudian dikatakannya dengan sombong bahwa : “kebohongan yang ditanamkan berulang kali adalah kebenaran”.

Tapi, biar bagaimanapun juga, namanya kebohongan apapun pasti tersingkap. Ada kisah menarik dari hikayat Eropa tentang “Raja Telanjang dan Anak Kecil”, yang mengungkap bahwa pakaian mahal yang dipakai raja ternyata djahit oleh dua orang penipu, dikatakan oleh penipu itu bahwa benang yang dipakai menenun pakaian adalah ‘benang kebijaksanaan’, jadi kalau tidak bijak, maka orangtersebut tidak bisa melihat indahnya pakaian itu. Raja yang takut dibilang tidak bijak, termakan olehnya. Memang ternyata adalah tidak ada pakaian sama sekali. Jadi, pada waktu Raja memamerkan pakaiannya pada rakyat (padahal tidak berpakaian), setiap orang terdiam tercekam, karena takut dihukum oleh Raja, namun seorang anak kecil dengan lugu berteriak keras di tengah keheningan rakyat yang takut, “Heii…Raja itu telanjang!”, dan tertawalah rakyat semua.

Dorongan manusia untuk melakukan kegiatan Citizen Journalism (jurnalisme warga) adalah lebih dasar dan lebih primer dari sekadar aktualisasi diri. Niat Prita Mulyasari umpamanya, dia menceritakan apa yang dialaminya, apa deritanya, adalah agar orang lain tahu dan memberikan respon terhadap apa yang dialaminya itu. Ini sama alamiah dengan kita yang memberitakan bahwa ‘aku sakit karena sesuatu’. Maka respon orang-orang pada kita akan beragam, tapi umumnya mengarah pada satu hal yang positif yakni : ‘bertahan hidup’ .

Akar insting Citizen Journalism di manapun jua pada dasarnya adalah kembali pada untuk keinginan ‘berguna bagi masyarakat’, berguna bagi society. Rasa ingin berguna ini pada dasarnya adalah rasa keinginan untuk survive atau bertahan hidup secara sosial (bersama),- dan bukanlah prinsip indvidual : ‘gua hidup, loe mati’-, dalam sebuah community masyarakat, baik untuk keluarga, kampung, wilayah, dan negara bangsa. (*)

Oleh : Mung Pujanarko, – terus belajar ilmu komunikasi, jurusan ilmu Jurnalistik.

source: http://pewarta-indonesia.com/kolom-pewarta/mung-pujanarko/7439-akar-eksistensi-citizen-journalism.html

pb: mattula_ada@live.com