Posts tagged ‘mahasiswa’

17 Mei 2012

Setujukah Denda 50 Juta untuk Mahasiswa yang Merokok di Kampus?

by: Yori Pusparani Olye

Bagi mahasiswa, merokok bukanlah hal yang tabu di lingkungan sehari-hari. Kebiasaan buruk ini kerapkali terjadi justru ketika berada di lingkungan kampus. Di Kampus Yayasan Administrasi Indonesia yang berlokasi di Jl Salemba, Jakarta Pusat, kebiasaan merokok ini tidak hanya dilakukan para mahasiswa yang notabene masih meminta uang dari orangtuanya, tetapi juga beberapa dosen. Tidak hanya mahasiswa, beberapa mahasiswi pun kerap kali kepergok sedang merokok di saat selesai mengikuti perkuliahan atau sedang kongkow-kongkow dengan teman-temannya.

Menyikapi hal ini, Pudek I Fakultas Ilmu Komunikasi Dr Tisna Kuswara Rustama M Hum menyatakan bahwa pihak rektorat akan mengeluarkan peraturan melarang merokok di lingkungan kampus. ”sebentar lagi kita akan mengeluarkan peraturan di kampus. Supaya mahasiswa yang merokok akan dikenakan denda Rp 50 juta, ” katanya saat perkuliahan perancangan komunikasi visual II, beberapa waktu lalu.

Sejumlah mahasiswa pun mendukung upaya kampus bebas rokok tersebut. Apalagi dikaitkan dengan peraturan daerah DKI No 2/2005 tentang Pengendalian Polusi Udara Perkotaan dan Pergub No 75/2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok.

Nah, apakah rekan-rekan mahasiswa YAI setuju denda 50 juta tersebut, supaya kampus tercinta ini bebas dari asap rokok?

source: republika.co.id

pb: mattula_ada@live.com

Iklan
17 Mei 2012

Twitter Lebih Bersinar Dibanding Media Massa

by: Vanny Dermawanti

Hampir 80 persen masyarakat khususnya mahasiswa, lebih menyukai mendapatkan informasi dari sosial media seperti Twitter dibandingkan membaca suratkabar. Informasi yang didapat dari Twitter lebih cepat dan update dibandingkan suratkabar yang baru keesokan harinya muncul. Sejumlah mahasiswa YAI mengaku mereka memilih twitter dibandingkan menonton televisi atau membaca suratkabar. ”Setiap saat dan setiap waktu. Nah untuk lebih detailnya barulah membaca berita online,” ujar Disty Resta Denada, salah satu mahasiswi FIKOM YAI yang rajin ngetweet.

Berdasarkan penelitian Semiocast, lembaga riset media sosial yang berpusat di Paris, Prancis, ternyata jumlah pemilik akun Twitter di negara ini merupakan yang terbesar kelima di dunia.
Indonesia berada di posisi kelima dengan jumlah akun 19,5 juta, setelah disalip oleh Inggris Raya yang berhasil berada di posisi keempat dengan 23,8 juta akun. Sementara itu, posisi satu ditempati Amerika Serikat dengan 107,7 juta, posisi kedua diraih Brasil dengan 33,3 juta, dan Jepang di posisi ketiga dengan 29,9 juta akun. “Berita dan informasi di twitter  lebih informatif dan cepat tanpa harus kita membaca koran setiap pagi, dan di twitter kita bisa melihat informasi terbaru setiap jam dan setiap detiknya tanpa harus mencari-cari koran lagi”, ujar Dewi, mahasiswi FIKOM YAI.

Twitter adalah sebuah situs web yang dimiliki dan dioperasikan oleh Twitter Inc., yang menawarkan jejaring sosial berupa mikroblog sehingga memungkinkan penggunanya untuk mengirim dan membaca pesan yang disebut tweets.

Tweets adalah teks tulisan hingga 140 karakter yang ditampilkan pada halaman profil pengguna. Tweets bisa dilihat secara luar, namun pengirim dapat membatasi pengiriman pesan ke daftar teman-teman mereka saja. Pengguna dapat melihat kicauan penulis lain yang dikenal dengan sebutan follower.

source: republika.co.id

pb: mattula_ada@live.com

3 April 2012

Jangan Pesimis Kuliah di Perguruan Tinggi Swasta!

written by: Muh. Takdir

edited by: Mattula’ada

Kembali bercerita tentang dunia pendidikan. Terutama dari sisi status sekolah tersebut. Terkadang dari kalangan adik-adik kita merasa kurang percaya diri yang sekolah di tingkat pendidikan yang status swasta, ntah itu SMP, SMA ataupun Perguruan Tinggi. Padahal kualitas dan mutu pendidikan bukanlah dari sekolah yang bersangkutan melainkan dari kemauan personal yang ingin belajar.

Hasil diskusi dengan beberapa teman-teman bahwa tidak semestinya teman-teman dari perguruan tinggi Negeri (PTN) memandang remeh teman-teman yang kuliah di perguruan tinggi swasta (PTS). Demikian pun sebaliknya bahwa teman-teman yang dari PTS tidak seharunya minder dengan dirinya yang hanya kuliah di PTS.

Melihat adik-adik calon Mahasiwa tahun 2011 lalu ketika melihat UMPTN yang diantaranya banyak yang tidak lulus masuk PTN, sangat kecewa akan hal itu, bahkan diantara mereka ada yang rela melakukan cara negatif demi masuk PTN sebutlah misalnya siap menyogok dengan puluhan juta demi masuk PTN. Sempat bertanya ke beberapa mahasiswa terkait dengan PTN dan PTS dengan beberapa argumen. Ini persoalan gengsi, tidak tren kalau tidak kuliah di PTN, dengan PTN jaminan kerja lebih banyak peluangnya, dll. Hemm, tersenyum tersimpuh mendengar komentar-komentar dari beberapa mahasiwa.

Apakah betul bahwa PTN lebih berkualitas kebanding PTS??? Saya rasa pertanyaan ini agak kurang rasional. Walaupun kuliah di PTN tapi kalau semasa kuliah kebanyakan ketidak hadirnya kebanding hadirnya, bisa jadi juga hasilnya akan lebih ambur aduk dari jebolan PTS.

Pernah saya bertanya dengan salah satu dosen di suatu tempat, kebetulan saja waktu itu cerita-cerita tentang pendidikan. Eh ternyata dia seorang dosen. Beliau memberikan sedikit inspirasi. Sebagian dosen-dosen negeri pada saat jam mengajarnya, malah mereka memberikan ke asistennya untuk mengajar dan dia lebih cenderung mengajar di tempat lain, dan tak lain adalah di PTS. Artinya kualitas pendidikan di PTS sebenarnya tidak kalah dibanding di PTN karena PTS sebagian besar diajar langsung oleh dosen inti. Yaa meskipun sebenarnya hasil diskusi ini tidak seharusnya dijadikan sebagai data standar dalam mengambil kesimpulan, paling tidak bisa dijadikan motivasi buat adik-adik yang kuliah di PTS.

Gambar: Nampak gedung UII Yogyakarta dari kejauhan. Berdasarkan pengumuman pemeringkatan PTN/PTS oleh 4 International College and Universities (4ICU) pada awal 2012. Lembaga ini menempatkan UII pada peringkat Kopertis V, peringkat dua dari seluruh PTS di Indonesia, dan peringkat 13 nasional dari seluruh PTN/PTS. Sebelumnya, UII berada pada peringkat 18 PTN/PTS.

Berbicara dengan kesuksesan, malah sebagian orang-orang sukses yang cukup terkenal banyak diantaranya yang tidak kuliah. Kehadiran kita menempuh pendidikan di PTS bukanlah jaminan kalau tidak bisa bersaing dengan jebolan-jebolan PTN. Peribadi penulis sangat yakin bahwa sampai saat ini masih selalu optimis bisa sepadan dengan lulusan PTN meskipun saya hanyalah dari jebolan dari PTS. Apalagi ditempat saya kerja sekarang. Saya tidak bisa masuk kerja ditempat ini kalau tidak berhasil menaklukkan beberapa kandidat terakhir yang notabene mereka jebolan PTN.

Semoga adik-adik mahasiswa yang kuliah PTS tetap semangat. Belajar…belajar…dan belajar. Mari persiapkan diri lebih baik, persiapkan diri sesuai cita masing-masing. Supaya kelak pada saat kesempatan itu ada, kita tidak akan kaku lagi dengan persiapan diri yang matang yang sudah dilakukan.

wb: mh_takdir@yahoo.com

eb: mattula_ada@live.com

29 Maret 2012

Jas Merah Turun Gunung, Flyover Dikuasai Mahasiswa

by: Indra Sastrawat

Awan mendung menggelayut di langit Makassar ketika kami baru selesaikan sebuah persentasi di salah satu kampus di Makassar. Kampus yang kebetulan kami datangi berada tidak jauh dari flyover tempat atau pusat aksi demonstrasi mahasiswa Makassar menolak kenaikan BBM hari ini. Universitas Muslim Indonesia (UMI) nama kampus tersebut, kami bersyukur saat datang demo belum terjadi di depan UMI.

Kabar burung akan adanya demo besar hari ini terus membayangi pikiran saya, bahkan saat persentasi para peserta terus menerus meng-update perkembangan terakhir demo tersebut, bukan apa-apa kalau demo terjadi pasti mereka semua terjebak macet. Saya juga agak khawatir.

13330160751788351808

Dari parkiran UMI, kelihatan konvoi Unhas menuju flyover

Bergegas pulang, kami ke parkiran kampus UMI, dari kejauhan saya melihat konvoi jas merah memenuhi jalanan. Saya kenal dengan jas merah itu, seperti membuka memori masa lalu saya ketika konvoi panjang kami yang konon sepanjang 10 KM berarak menuju lapangan Karebosi menuntut Soeharto turun tahun 1998 silam. Mereka adik-adik saya dari kampus merah, kampus reformasi Universitas hasanuddin (unhas). Dengan menerikan yel-yel anti kenaikan BBM mereka menuju pusat demo di flyover.

13330162521063986550

jalur kiri dikuasai mahasiswa, di jalur kanan macet

Di dada setiap anak Unhas terpatri sebuah logo ayam jantan, symbol keberanian orang Bugis Makassar. Simbol yang tiada berarti jika hanya melahirkan generasi pengecut yang tidak peduli sama nasib rakyat. Namun hari ini mereka seperti turun gunung menyuarakan kepedihan dan rasa takut sebagian besar rakyat kecil. Saya bergetar melihat pemandangan ini, ingin rasanya berada diantara mereka kembali. Pemandangan seperti ini sangat jarang terjadi di zaman reformasi, sangat jarang mahasiswa Unhas bisa mengumpulkan massa yang banyak dan berkonvoi menuju pusat kota.

Sebagian mahasiswa UMI yang melihat mereka hanya tersenyum dan berkata “iya tawwa anak Unhas” salah seorang demontran dari UMI lantas mengajak beberapa mahasiswa UMI yang lain untuk ikut berdemo “kita jangan kalah dengan anak Unhas”.

Jalanan pun macet, jalur dua dimana satu jalur dikuasai oleh mahasiswa Unhas. Tidak ingin membiarkan moment ini lewat begitu saja, kami lantas mengambil beberapa gambar sebagai kenang-kenangan. Di Flyover berkumpul ratusan hingga ribuan mahasiswa Makassar, bentuk solidaritas menantang kenaikan BBM.

Belum kelihatan anarkisme di depan UMI, tapi bayang-bayang kemacetan di depan Kantor Bosowa Urip Sumohardjo sudah kelihatan. Sekelompok kecil mahasiswa UMI memasang balok kayu dipinggir jalan dan membakar ban, seperti tidak ingin memberi ruang bagi pengendara untuk melintas. Dalam batin saya berujar “ini alamat bakal macet total”. Tidak putus asa saya melihat ada ruang kecil untuk lewat, saya lihat sebagian pengendara memanfaatkan celah tersebut. Dan akhirnya kami bisa lolos dari kepungan macet.

1333016352828289276

disisi lain kota Makassar, mahasiswa UVRI

Syukurlah kami lolos dan melintas dengan mantap di Urip Sumoharjo, jalanan yang kami lalui sangat berbeda dengan biasanya yang ramai dan kadang macet. Jalanan melompong, saya seperti berkendadara diantara jam 11 malam hingga jam 6 pagi, benar-benar tidak padat. Di depan  M’tos sekelompok kecil mahasiswa antah berantah (saya tidak tahu asalnya, karena disekitar situ tidak ada kampus) membuat kekacuan kecil. Mereka memasang balok kayu di ¾ jalanan hingga membuat macet. Hal yang sama terjadi didepan kampus UIM, sekelompok kecil mahasiswa membakar ban dan membuat adegan teatrikal shalat jenazah dimana sebagian yang shalat Nampak tidak bisa menahan tawa. Pengendara yang lewat hanya berujar “mahasiswa gila”.

Dan setelah beberapa menit memaju kendaraan kami akhirnya tiba dengan selamat di kantor. Hari ini terasa istimewa bisa menjadi saksi demo besar anti kenaikan BBM. Pulang di kantor saya membuka facebook dan menemukan beberapa gambar lautan mahasiswa di flyover Urip Sumoharjo. Dan diantara mereka ada ratusan jas merah yang seperti seniornya dulu tetap peduli sama rakyat.

Salam Perjuangan

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id