Posts tagged ‘macet’

19 Mei 2012

Langkah Ekstrim Untuk Mengantisipasi Bencana Macet Jakarta

by: Anton Dewantoro

Bicara soal macet Jakarta seolah mengurai benang kusut yang tiada ujung. Benarkah? Saya rasa yang bilang begitu hanyalah orang-orang yang tidak mau berusaha saja. Bisanya cuman ngaku ahlinye tapi ternyata cuman ahli narsis pasang baliho. Bujug dah!

Manusia di Jakarta memang kelewat banyak tapi bukan banyaknya orang yang bikin kota ini macet bundhet ruwet. Kalau kita telusuri di kota ini masih banyak perumahan yang bisa ditinggali. Bahkan sampai tahun 2010 ini di beberapa bagian Jakarta Timur, Barat, dan Selatan masih ada saja pemukiman baru dibuka, masih di dalam DKI. Sebagai perbandingan, di beberapa kota besar di China dan Amerika Serikat hampir tidak mungkin membeli rumah menapak tanah dalam kota. Hanya apartemen satu-satunya pilihan.

Yang bikin macet Jakarta adalah terlalu besarnya volume kendaraan. Betapa tidak, setiap hari dealer di seluruh Jabotabek menjual sepuluh ribuan motor dan seribuan mobil baru sementara yang lama  tentu masih saja berkeliaran di jalan. Dengan demikian, sehebat apa pun percepatan pembangunan jalan tentu tidak akan mampu mengimbangi pertumbuhan kendaraan.

Macetnya Jakarta

Langkah ekstrim perlu dilakukan untuk melawan bencana macet ulah manusia ini. Kita tentu tidak ingin kejadian 25 Oktober 2010 jadi santapan sehari-hari kita dan pulang ke rumah jam 2 dini hari hanya akibat macet di jalan. Tindakan yang saya usulkan di sini mungkin bisa membikin shock banyak pihak termasuk negara Jepang sebagai pengekspor lisensi kendaraan (baca: kemacetan) terbesar di negara kita. Berikut ini beberapa usulan saya:

1. Moratorium Penjualan Kendaraan Pribadi

Dealer motor dan mobil baru di seluruh Jabodetabek harus ditutup selama setidaknya 5 tahun agar tidak ada pertambahan volume kendaraan lagi.Pemerintah pun tidak boleh melakukan pengadaan mobil dinas baru untuk semua instansi kecuali mungkin peralatan perang TNI. Jika memang perlu tambahan mobil dinas, ada banyak sekali rental mobil yang siap menjawab kebutuhan ini.

2. Menaikkan Pajak Kendaraan Bermotor Pelat Hitam.

Pajak mobil saat ini hanya sekitar 1,5 juta rupiah saja. Jika kita tingkatkan hingga 5 kali lipat pun tentu masih banyak sekali orang yang sanggup membayarnya. Sebagai insentif sekaligus kompensasi, pajak pelat kuning digratiskan dan biaya izin trayek dihapuskan. Volume kendaraan pribadi berkurang dan kas negara akan semakin tebal. Jika tidak dikorupsi maka dana tersebut bisa digunakan untuk menambah infrastruktur jalan.

3. Road Pricing

Di samping membayar biaya parkir saat keluar gedung, pemilik kendaraan pribadi wajib membayar harga jalan (road price) yang akan dilalui. Jika gedung itu berada di kawasan segitiga emas (Sudirman, Gatot Subroto, Rasuna Said) katakanlah dikenakan biaya Rp 50.000 per mobil tiap kali keluar dari sebuah lahan parkir. Berturut-turut makin ke pinggir makin murah sehingga mungkin untuk Jalan Raya Pulo Gebang cukup membayar Rp 1000 saja. Sebaiknya dana road pricing ini langsung bisa dianggarkan untuk pengadaan transportasi massal.

4. Mengelola 3 in 1

Betapa pun macetnya Gatot Subroto di pagi hari dari arah Cawang akan seketika menjadi lega begitu melewati perempatan Kuningan. Ya, 3 in 1 mulai berlaku dari titik ini. Jika 3 in 1 diberlakukan secara lebih meluas tentu jalanan akan makin lengang karena pemilik kendaraan akan berpikir dua kali sebelum menembus 3 in 1. Warung Buncit hingga Menteng sepanjang Jalan Rasuna Said adalah ruas yang perlu segera diterapkan 3 in 1.  Selanjutnya Cawang hingga Grogol juga sebaiknya menjadi full 3 in 1 sebagai kelanjutan aturan 3 in 1 yang sudah berlaku di Jalan Gatot Subroto.

Joki 3 in 1 harus dikelola dengan baik dan jangan asal diberantas. Yang boleh menjadi joki adalah mereka yang telah di daftar dan resmi memiliki tanda pengenal. Kalau bukan joki resmi boleh dipidanakan. Ditetapkan tarif resmi penggunaan joki yang sifatnya flat, jauh-dekat Rp 15.000 misalnya. Dengan demikian mungkin akan menciutkan niat pengendara mobil pribadi dan mereka akan beralih ke angkutan umum.

5. Pemblokiran Keluar Parkir Saat Macet Parah

Pada saat macet di salah satu ruas jalan sudah diatas ambang batas, Polda Metro Jaya membroadcast perintah untuk menutup pintu-pintu keluar parkir seluruh gedung yang menuju jalan tersebut. Toh apa gunanya kalau bisa keluar parkir dari gedung lalu pindah “parkir” di jalan raya.

6. Cawang – Pluit bukan Jalan Tol Lagi

Jalan tol dalam kota sesungguhnya adalah ide bodoh. Kendaraan yang hanya sekadar lewat (misal dari Bandung menuju Lampung) harus lewat Semanggi karena adanya tol dalam kota tadi. Tol dalam kota ruas Cawang – Pluit sebaiknya ditutup saja karena hanya akan menarik lebih banyak kendaraan dari luar kota masuk ke pusat kota. Namun demikian, kita harus konsekuen, ruas tol lingkar luar dari Serpong ke lingkar barat harus sudah tersambung.

7. Senin – Jumat Motor Dilarang Masuk Jalan Utama.

Bagaimana pun motor adalah kendaraan yang tidak aman dan amat berpotensi memperkeruh suasana macet Jakarta. China sudah secara tegas melarang adanya sepeda motor di kota-kota besar. Tidak ada salahnya Jakarta mencobanya juga setidaknya setiap hari kerja. Motor yang masih boleh beroperasi adalah ojek resmi dan pengantar paket serta delivery makanan. Jalur yang semula dikuasai motor pun kelak akan bisa diambil alih oleh sepeda kayuh yang sehat dan ramah lingkungan.

8. Ojek Resmi dengan Argometer

Taksi di Indonesia adalah salah satu yang layanannya terbaik di Dunia. Mengapa ojek tidak juga dibikin seperti itu? Dengan layanan yang resmi, terkoordinasi dan berargo-meter,  ojek akan semakin diminati pengguna jalan sehingga bisa menjadi alternatif naik mobil pribadi.

9. Mikrolet Jalur Sepi Dialihkan jadi Shuttle CBD

Kini banyak trayek mikrolet menjadi sepi terutama setelah adanya jalur busway. Trayek Senen- Kp.Melayu dan Tn.Abang-Kota misalnya, bisa kita lihat bahwa rata-rata mikrolet di sini kosong melompong dan hanya sibuk ngetem memenuhi badan jalan sehingga membikin macet.

Ada cara pemberdayaan mikrolet agar tetap bisa beroperasi yaitu dengan menjadikannya shuttle CBD antara SCBD-Mega Kuningan – Setiabudi – Plaza Semanggi  dan kembali lagi di SCBD.  Mereka hanya bisa berhenti di halte khusus di keempat tempat tersebut. Bagi yang ketahuan menaik-turunkan penumpang di luar halte khusus langsung dicabut izin trayeknya.

10. Pelebaran Trotoar dan Pemasangan Travelator

Agar orang Jakarta mau jalan kaki maka trotor pun harus dilebarkan. Pedagang asongan boleh berdagang asal membayar pajak minimal sepertiga dari keuntungan harian mereka itu pun dengan catatan tidak memakan lebih dari sepertiga badan trotoar.  Dana dari penarikan pajak itu bisa digunakan untuk memasang travelator di beberapa ruas jalan terutama Sudirman  – Thamrin.

11. Pengadaan Hari Tanpa Kendaraan Bermotor

Untuk mendidik masyarakat agar mengurangi ketergantungan memakai kendaraan bermotor (motor, mobil), maka perlu digalakkan seminggu sekali di kawasan tertentu dan sekali setahun di semua kawasan, satu hari tertentu tanpa kendaraan bermotor.

***

Langkah ini mungkin akan menyakitkan banyak pihak, tapi bagaikan imunisasi, badan panas sebentar namun bisa jadi akan membawa manfaat seumur hidup

pb: mattula_ada@live.com

19 Mei 2012

Cagub yang Mana yang Akan Sanggup Menyelesaikan Kemacetan?

by: Leo Kusima

Selama “kampanye” pilkada Jakarta, para Cagub telah menyampaikan ide-ide mereka untuk menyelesaikan program mereka untuk menyelesaikan masalah nomor 1 di Jakarta, KEMACETAN!

Sayang sekali, rasanya belum menggigit. Dikawatirkan jika kemacetan tidak diselesaikan dalam waktu dua tahun (sisa waktu sebelum stadium 4 datang), maka Kemacetan Jakarta akan menjadi kronis.

Pada umumnya, para cagub hanya menyebutkan secara gamblang, galakan transportasi umum, tetapi transportasi tidak hanya transportasi umum? mengapa harus transportasi umum? karena harganya bisa murah, TAPI KENYATAAN, NAIK MOTOR LEBIH MURAH DARI BUS, bagaimana ini? Padahal pengendara motor tidak, sedangkan Bus way di subsidi (katanya) menggragoti dana APBD DKI.

Ada Cagub yang bilang, sanggup selesaikan dalam waktu 3 tahun, ada yang mengatakan, tidka akan menggusur PKL dengan satpol PP, padahal PKL adalah sasatu sumber biang kemacetan.

Macetnya Jakarta

Bersama ini, saya sampaikan penelitian saya selama kurang lebih 6-7 tahun, penyebab kemacetan DKI, dan saran penyelesaian. Jika pembaca berminat, silahkan membaca.

Masalah transportasi di Jakarta

1. Luas jalan hanya 6,2% dari Luas Kota, sedangkan kota-kota yang lalulintasnya lancar, perbandingan luas jalan dengan luas kota, idealnya 15% s/d 20%.
Cara penyelesaian : membangun jalan layang khusus motor dan sepeda. Biaya lebih murah jauh dan tidak memakan lahan tanah yang besar.

2. Parkir tidak cukup, apalagi parkir on street, sangat mengganggu luas jalan yang sebetulnya sudah tidak cukup. Seringkali parkirnya sampai 2 – 3 lapis, sehingga memakan setengah badan jalan. belum ketika memarkir dan keluar, khususnya memarkir, sangat mengganggu arus lalulintas.
Cara Penyelesaian : untuk parkir mobil, membangun gedung parkir atau parkir berlantai satu. Dan membangun jalan layang khusus motor yang mempunyai fasilitas lantai parkir yang sangat luas. Tarip parkir mobil harus dinaikan untuk gedung parkir atau parkir berlantai. Bagi kompleks perkantoran dab kompleks Ruko yang akan dibangun, diwajibkan membangun lokasi parkir mobil dan motor/sepeda yang memadai jumlahnya. Khusus gedung Mall perbelanjaan dan Food Court, perbandingan harus lebih diperbesar lagi. Untuk perkantoran, Mall, kompleks ruko yang memiliki lahan parkir memadai, sebagai hadiah, tarip parkirnya boleh dinaikan menjadi 3000 rupiah per jam.

3. Kendaraan yang mampu melaju dicampur baur dengan kendaraan pelan, misalnya Truk, Kontainer, kendaraan umum, gerobak, motor, sepeda dan becak.  Sehingga kecepatannya menjadi pelan.
Cara penyelesaian :
A. Untuk memisahkan mobil dengan motor, sepeda, membuat jalan layang khusus motor dan sepeda, dan di jalan yang cukup lebar, dibuat jalur lambat.
B. Seluruh gerobak, gerobak sampah, gerobak air, gerobak barang, harus menggunakan penggerak motor.
C. Truk besar, kontainer dijalan tertentu, dilarang lewat pada siang hari, hanya boleh jalan pada setelah jam 22:00 s/d 05:00.
D. Pabrik dengan kapasitas produksi sedang dan besar wajib pindah keluar daerah yang ada akses jalan besar.
E. Di jalan raya sebelah kanan (jalur cepat), dipasang portal, sehingga hanya boleh dilewati kendaraan yang lebih cepat.

4. Kendaraan umum ngetem disembarangan tempat, dengan jumlah kendaraan umum + 90,000 unit, dan seringnya ngetem, maka, seakan-akan jakarta memiliki tambahan 900,000 unit kendaraan pribadi. Daya tampung jalan habis total.
Cara penyelesaian :
A. Halte bus dibuat mencoak ke dalam, sehingga ketika menaikan dan menurunkan penumpang tidak mengganggu kendaraan belakangnya untuk melaju. Sebaiknya angkot, metro mini juga berhenti dijalan yang mencoak kedalam.
B. Menghapus posisi juragan angkot, sehingga supir adalah bos. Ijin trayek diberikan kepada sepasang supir yang memenuhi klarifikasi. Dengan demikian income supir akan membaik, dan karenanya ia tidak berani sembarang melanggar peraturan, terutama ngetem sembarangan.
C. Memasang alat GPS + pengawas sidik jari, jika supir berani berhenti dilokasi yang tidak diijinkan, maka akan dikenakan denda. Alat sidik jari digunakan untuk mencegah supir tembakan, yang menyebabkan perkosaan penumpang.
D. Pengemudi diberikan subsidi BBM, sehingga mereka tidak berani berbuat kesalahan, dan dengan subsidi BBM, maka tarip angkot bisa jadi murah. Sehingga Omprengan tidak bisa melawan angkot resmi. Bila berani berbuat pelanggaran apalagi kriminil, ijin trayek dicabut, subsidi BBM dipotong.
E. Tempat turun dan naik penumpang, dibuat lebih tinggi. Kendaraan umum juga dibuat khusus, tempat naik turun penumpang adalah kurang lebih 1 meter dari jalan, sehingga penumpang tidak bisa turun naik bila bukan dihaltenya.

5. Sistim jalan di Jakarta sangat amburadul, terkadang jalan yang 4 lajur, bisa mendadak menyempit menjadi 3 lajur. Banayk jalan dipasang POLISI TIDUR, bahkan jalan rusak parah sudah seperti polisi tidur. Ada tiang listrik dilokasi pinggir jalanan, tidak ada jalur pejalan kaki, tidak ada jalur motor/sepeda.
Cara penyelesaian :
A. Membersihkan seluruh polisi tidur.
B. Jalan jangan ada bottle neck, sehingga arus bisa lancar.
C. Jalan yang rusak diganti dengan jalan cor semen.
D. Dibuat jalur motor/sepeda selebar 1.5 meter, jangan jalan tanah, harus jalan cor beton.  Dan dibuat jalan trotoar, harus cukup lebar, dan jangan ditanam tanaman segala sehingga menyempit.
E. Tiang listrik, Tiang telepon yang masih di jalan raya harus diangkat.

6. Di Jabodetabek ada 9 juta motor, daya angkutnya sebetulnya jauh melebihi kemampuan 90,000 bus/angkot. Tapi pemda sangat bermusuhan dengan motor. Motor dapat berangkat dari awal (original), dan tiba di tujuan (destination), sedangkan angkot/bus hanya dari halte ke halte. Masalah dari rumah ke halte dan dari halte ke tempat tujuan tidak pernah dipikir.
Memang, dengan jumlah motor di Jabodetabek mencapai 9 juta unit dan mobil/bus hanya 3 juta unit, kelihatanya seakan-akan motor adalah biang kerok kemacetan, apalagi tingkah laku pengendaraan motor sangat amburadul.
Cara Penyelesaian :
A. Membuat jalan layang khusus untuk motor/sepeda, sehingga jikalau 80% motor ada di jalan layang, maka otomatis kendaraan di jalan raya akan lancar.
B. Membuat jalan layang untuk motor biayanya jauh lebih murah daripada jalan layang untuk mobil/truk/kontainer.
C. Dengan membangun jalan layang untuk motor/sepeda, akan menurunkan secara dratis angka kematian. Angka kematian mencapai lebih dari 32,000 orang per tahun, 80% adalah pengemudi atau penumpang sepeda motor, dan terutama usia produktif.
D. Dikeluarkan peraturan daerah, tidak memiliki SIM C, tidak berhak beli motor. SIM C digabung dengan STNK. Suatu kenyataan, banyak pengemudi motor tidak memiliki SIM C dan tidak mengerti peraturan lalulintas.

7. Kita sering melihat mobil motor parkir di jalanan memakan setengan badan jalan.  Pada malam hari, di gang-gang, banyak rumah yang tidak memiliki lahan parkir memarkirkan mobil, truk bahkan kontainer di jalanan. Dengan banyak mobil parkir di jalanan, seakan-akan membuat bottleneck dadakan, yang akan mengurangai kecepatan lalulintas.
Cara penyelesaian :
A. Warga Jabodetabek yang ingin memiliki mobil, harus memiliki pelataran parkir dirumah, jumlah mobil yang dimiliki harus sesuai dengan tempat parkir. Pemda mengeluarkan sertifikat parkir, disertifikat parkir dicantumkan alamat, kode pos, kemudian nomor urut parkir, koordinat bumi dan simpan di database. Misalnya rumah saya di Jakarta Barat, dengan kode pos 11830, rumah saya memiliki 3 lahan parkir, maka sertifikat saya adalah bernomor 11830-000001A, 11830-000001B dan 11830-000001C.  Ketika saya membeli mobil, harus melampirkan nomor sertifikat saya, dan di STNK dicantumkan nomor sertifikat lahan parkir. Jika saya menjual mobil, kalau sipembeli tidak mau ganti nama, maka saya tidak bisa beli mobil baru karena saya tidak ada sertifikat parkir. Cara ini bisa mengurangi orang yang tidak mau ganti nama mobil, dan pemda akan menghasilkan biaya BBN mobil.  Juga bisa mengerem warga Jakarta yang sudah beli mobil, ketika malam atau siang hari, diparkir di jalan sehingga membuat macet jalanan.
B. Bagi perusahaan/pabrik yang ingin membeli mobil box/truck/kontainer/pickup, harus mempunyai latar parkir. Pemandangan truk/kontainer parkir di jalanan pada waktu malam hari dapat berkurang banyak, dan ini dapat mengurangi kemacetan.
C. Yang mengeluarkan sertifikat parkir adalah pemda/dishub bukan kepolisian. atau suatu otoritas yang menangani kemacetan lalulintas Jakarta.

8. Dengan membuat jalan layang untuk sepeda/motor yang 3 tingkat, tingkat paling bawah digunakan untuk lahan parkir, dan sebagian untuk lahan PKL. Dengan demikian janji pak Jokowi tidak menggusur PKL dengan satpol-PP akan terwuiud. Ketika pak Jokowi menyatakan tidak akan memakai satpol-PP untuk menggusur PKL, ada pendapat dari pembaca di web, yang menyatakan pak Jokowi tidak akan bisa selesaikan kemacetan karena tidak mau menindak PKL, dan tidak bisa membereskan kesemerawutan karena tidak menyentuh PKL. Cara penyelesaian PKL dengan tidak menggusur oleh satpol – PP? Pindah seluruh PKL ke lokasi parkir motor di Jalan layang khusus motor!
Lokasi PKL disamping lokasi parkir motor akan sangat menguntungkan karena pembeli pedagang PKL rata-rata adalah kelas yang memiliki motor.
Cara penyelesaian :
A. PKL kelontong dibatasi jumlahnya misalnya 100,000 lokasi. Harus ber-KTP DKI lebih dari sekian tahun. Satu orang/keluarga hanya boleh memiliki satu lokasi. Tarip sewanya sangat murah, bahkan lebih murah daripada setoran ke oknum satpam/hansip/kelurahan.
B. PKL penjual makanan disediakan misalnya 10,000 lokasi, kondisi sama dengan atas.  Tentu harus dijaga faktor keamanan kebakaran, jangan sampai terjadi peristiwa jalan layang Tol terbakar oleh penghuni liar di kolong Tol.
C. Setelah pemda menyediakan tempat mereka berusaha, maka bagi yang melanggar, pemda akan bertindak tegas dan keras.
D. Hak bagi warga Jakarta yang ingin meminta lahan, sebaiknya dilakukan secara undi, sehingga tidak ada permainan dan dirasakan adil.  Sebaiknya warga Jakarta-pusat mendapat jatah di wilayah Jakarta-pusat sesuai dengan KTP-nya, sehingga mengurangi trafik ketika mereka mau pergi kelokasi dagang.
E. Penyewaan berlaku 5 tahun, dan akan diundi setiap 5 tahun, sehingga yang lain juga mendapat kesempatan. Para PKL harus dapat mengumpulkan suatu hasil pada masa 5 tahun, tidak dihamburkan. Karena pada 5 tahun berikutnya, ia harus bisa naik kelas mungkin menjadi pedagang di kios komersil.
F. Biaya tarip sewa sangat rendah, dan biaya air pam, listrik memadai.
G. Bagi usia subur yang mendapat jatah PKL, wajib mengikuti program KB, dan menyatakan maksimum 2 anak.

9. Salah satu penyebab warga wanita takut ber-angkot, atau taksi, karena kasus perkosaan.
Cara penyelesaian :
A. Taksi, angkot dan lain-lain, tidak boleh memakai kaca gelap.
B. Dalam cabin angkot, taksi, dipasang lampu yang lumayan terang, sehingga kita bisa melihat tembus pandang dari luar.
C. Dilengkapi dengan GPS tracking dan alat sidik jari.
D. Khusus untuk taksi, harus memakai tipe mobil yang tidak memiliki tutupan bagasi, seperti taksi di Solo, memakai kendaraan jenis MPV. Dengan demikian kawanan perampok/pemerkosa tidak bisa umpet di bagasi mobil.
E. Bagi pemerkosa dihukum potong anunya.

10. Bagaimana mendesain back bone transportasi umum? Untuk menghindari kebocoran, Sebaiknya back-bone dikelola oleh BUMD, karena ada subsidi besar-besaran.
Saran penyelesaian :
A. Dibuat koridor Busway yang mengelilingi inner ring road (Tol dalam kota) dan outer ring road, sehingga tidak mengganggu jalan raya umum.
B. Penumpang Busway antara back bone dapat pindah tanpa biaya tambahan.
C. Antara Back bone Busway, bisa interkoneksi dengan KRL dan MRT.
D. Sesama Back Bone (Bus way, KRL dan MRT bebas interchange selama tidak keluar dari terminal/stasiun).
E. Feeder menghubungi halte/terminal ketujuan.

11. Sanggupkan MRT menyelesaikan kemacetan lalulintas?
Pendapat saya:
A. Bahwa MRT effisien untuk kota-kota yang bangunannya berbentuk vertikal, sedangkan kota Jakarta adalah kota yang berbentuk horinsontal.
B. Selama sistim MRT belum menjadi suatu network di Jakarta, MRT tidak bisa menyelesaikan kemacetan dalam waktu 10 tahun. Tetapi kemacetan sudah memasuki tahap GAWAT. setadium 4!
C. MRT hanya mengangkut penumpang dari stasiun ke stasiun. Dari rumah ke stasiun masih memerlukan biaya, dan keluar dari stasiun ke tujuan juga masih butuh biaya.
D. Gaji para karyawan masih belum mampu membayar biaya MRT.
E. Para manager yang mampu naik MRT, setiba dikantor, jika perlu bepergian, memakai mobil apa? Taksi?
Kalau seorang eksekutif dari thamrin ingin meninjau langganannya di Cibinong, Bekasi, bahkan ke airport, bisakah naik MRT ke Cibinong, Bekasi dan airport?
Kesimpulan :
MRT silahkan start, tetapi selama Jakarta masih merupakan suatu kota bangunan horisontal, dan MRT belum menjadi sebuah network, dan investasi MRT belum turun 70%, mustahil GNP kita sanggup menginvest dan menggunakan MRT. Dan MRT tidak sanggup menyelesaikan kemacetan dalam kurun waktu 10 tahun.

12. Bagaimana menyelesaikan benang kusut di persimpangan jalan? Pengemudi di Indonesia, ada polisi saja berani kurang ajar, apalagi tidak ada polisi, khususnya pada jam sibuk, hujan dan dipersimpangan jalan. Mereka tidak perduli dengan signal lampu lalulintas, sudah lampu merah tetap serobot. Maka, pada hari hujan dan jam sibuk, dipersimpangan jalan sering tidak ada polisi. Terjadi bukanlagi macet, istilah macet terlalu sederhana, melainkan benang kusut.
Cara penyelesian :
A. Dipasang portal electrik, bila lampu merah menyala, portal akan naik, sehingga mobil dan motor tidak bisa menerobos sama sekali jika lampu merah.
B. Jika lampu sudah merah, mobil terlanjur di area persimpangan, untuk menghindari kemacetan benang kusut dan ditilang berat, mobil tersebut harus masuk ke kiri, sehingga mulut persimpangan tidak macet.
C. Diberlakukan sistim kotak kuning.
D. Denda bagi yang ketika lampu merah sudah di persimpangan dan tidak mau tikung ke kiri, misalnya denda 500,000 rupiah.

13. Bus-way memakan jalur jalan raya umum. Busway yang bersinggungan dengan tol dalam kota sebaiknya memakai jalur tol dalam kota. Maka, pemandangan di jalur Busway yang bersinggungan dengan Tol dalam kota, adalah terjadi kemacetan di tempat masuk dan keluar pintu Tol.
Cara penyelesaian :
A. Bus way dipindah kedalam Tol, sehingga jalan masyarakat tidak diambil oleh busway, mengurangi kemacetan.
B. Busway turun dan naikkan penumpang di bahu jalan Tol, dan langsung naik ke terminal/halte, naik tangga untuk keluar, seperti yang sudah jalan sekarang.
C. Kemactan di jalur Busway tersebut dapat dikurangi.

14. Tikungan tumpul. Tikungan di Jakarta kebanyakan berbentuk 90 derajat. Bagi kendaraan mobil, apalagi truck dan kontainer, ini cukup tajam, sehingga ketika menikung, kita sering ambil jalan lajur kedua dari kiri, jika tidak ban belakang sebelah kiri bisa bergesek dengan trotoar atau jeblos ke got. Sehingga kendaraan dilajur kedua harus memperlambatkan kendaraannya.
Cara penyelesaian :
Tempat tikungan dibuat menjadi 135 derajat (tikungan tumpul), maka, penikungan akan menjadi mudah dan tidak memakan jalur kedua.

15. Keep in Line. Di Indonesia, banyak pengemudi mobil, truk dan apalagi motor, mempunyai hobby membawa kendaraannya gaya pilot pesawat terbang. Mereka membawa kendaraannya bukan diantara 2 garis lurus (garis terputus-putus atau garis tidak terputus), melainkan diatas garis, bagaikan pilot yang sedang mau take off.
Cara penyelesaian :
A. Dimulut perempatan dan persimpangan, dan setiap 100 meter dijalan raya, dibuat beton pemisah lajur disemua lajur, dengan ketinggian beton 50 cm, maka semua kendaraan terpaksa harus berbaris rapi.
B. Dengan berbaris, maka kecepatan kendaraan bisa ditingkatkan.
C. Juga dapat mengurangi kecelakaan.

16. Sumber dana. Tidak ada sumber dana maka tidak bisa menyelesaikan kemacetan. Untuk hal ini karena menyangkut banyak peraturan pemerintah, kita akan diskusi dengan pemda dan tidak dipublish dulu.

pb: mattula_ada@live.com

29 Maret 2012

Jas Merah Turun Gunung, Flyover Dikuasai Mahasiswa

by: Indra Sastrawat

Awan mendung menggelayut di langit Makassar ketika kami baru selesaikan sebuah persentasi di salah satu kampus di Makassar. Kampus yang kebetulan kami datangi berada tidak jauh dari flyover tempat atau pusat aksi demonstrasi mahasiswa Makassar menolak kenaikan BBM hari ini. Universitas Muslim Indonesia (UMI) nama kampus tersebut, kami bersyukur saat datang demo belum terjadi di depan UMI.

Kabar burung akan adanya demo besar hari ini terus membayangi pikiran saya, bahkan saat persentasi para peserta terus menerus meng-update perkembangan terakhir demo tersebut, bukan apa-apa kalau demo terjadi pasti mereka semua terjebak macet. Saya juga agak khawatir.

13330160751788351808

Dari parkiran UMI, kelihatan konvoi Unhas menuju flyover

Bergegas pulang, kami ke parkiran kampus UMI, dari kejauhan saya melihat konvoi jas merah memenuhi jalanan. Saya kenal dengan jas merah itu, seperti membuka memori masa lalu saya ketika konvoi panjang kami yang konon sepanjang 10 KM berarak menuju lapangan Karebosi menuntut Soeharto turun tahun 1998 silam. Mereka adik-adik saya dari kampus merah, kampus reformasi Universitas hasanuddin (unhas). Dengan menerikan yel-yel anti kenaikan BBM mereka menuju pusat demo di flyover.

13330162521063986550

jalur kiri dikuasai mahasiswa, di jalur kanan macet

Di dada setiap anak Unhas terpatri sebuah logo ayam jantan, symbol keberanian orang Bugis Makassar. Simbol yang tiada berarti jika hanya melahirkan generasi pengecut yang tidak peduli sama nasib rakyat. Namun hari ini mereka seperti turun gunung menyuarakan kepedihan dan rasa takut sebagian besar rakyat kecil. Saya bergetar melihat pemandangan ini, ingin rasanya berada diantara mereka kembali. Pemandangan seperti ini sangat jarang terjadi di zaman reformasi, sangat jarang mahasiswa Unhas bisa mengumpulkan massa yang banyak dan berkonvoi menuju pusat kota.

Sebagian mahasiswa UMI yang melihat mereka hanya tersenyum dan berkata “iya tawwa anak Unhas” salah seorang demontran dari UMI lantas mengajak beberapa mahasiswa UMI yang lain untuk ikut berdemo “kita jangan kalah dengan anak Unhas”.

Jalanan pun macet, jalur dua dimana satu jalur dikuasai oleh mahasiswa Unhas. Tidak ingin membiarkan moment ini lewat begitu saja, kami lantas mengambil beberapa gambar sebagai kenang-kenangan. Di Flyover berkumpul ratusan hingga ribuan mahasiswa Makassar, bentuk solidaritas menantang kenaikan BBM.

Belum kelihatan anarkisme di depan UMI, tapi bayang-bayang kemacetan di depan Kantor Bosowa Urip Sumohardjo sudah kelihatan. Sekelompok kecil mahasiswa UMI memasang balok kayu dipinggir jalan dan membakar ban, seperti tidak ingin memberi ruang bagi pengendara untuk melintas. Dalam batin saya berujar “ini alamat bakal macet total”. Tidak putus asa saya melihat ada ruang kecil untuk lewat, saya lihat sebagian pengendara memanfaatkan celah tersebut. Dan akhirnya kami bisa lolos dari kepungan macet.

1333016352828289276

disisi lain kota Makassar, mahasiswa UVRI

Syukurlah kami lolos dan melintas dengan mantap di Urip Sumoharjo, jalanan yang kami lalui sangat berbeda dengan biasanya yang ramai dan kadang macet. Jalanan melompong, saya seperti berkendadara diantara jam 11 malam hingga jam 6 pagi, benar-benar tidak padat. Di depan  M’tos sekelompok kecil mahasiswa antah berantah (saya tidak tahu asalnya, karena disekitar situ tidak ada kampus) membuat kekacuan kecil. Mereka memasang balok kayu di ¾ jalanan hingga membuat macet. Hal yang sama terjadi didepan kampus UIM, sekelompok kecil mahasiswa membakar ban dan membuat adegan teatrikal shalat jenazah dimana sebagian yang shalat Nampak tidak bisa menahan tawa. Pengendara yang lewat hanya berujar “mahasiswa gila”.

Dan setelah beberapa menit memaju kendaraan kami akhirnya tiba dengan selamat di kantor. Hari ini terasa istimewa bisa menjadi saksi demo besar anti kenaikan BBM. Pulang di kantor saya membuka facebook dan menemukan beberapa gambar lautan mahasiswa di flyover Urip Sumoharjo. Dan diantara mereka ada ratusan jas merah yang seperti seniornya dulu tetap peduli sama rakyat.

Salam Perjuangan

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id

7 Februari 2012

Kesal, Iko Uwais from Makassar Hajar Pengendara Matic

by: Indra Sastrawat

Bulan Januari kemarin sebuah kejadian unik sekaligus horor terjadi didepan mata saya, ceritanya ketika pulang ke rumah pas melewati jalan Perintis Kemerdekaan antara tugu Adipura dan M’Tos, Makassar. Entah kenapa jalan di antara Perintis dan M’Tos malam itu macet, padahal malam itu jalanan lain tidak macet. Jam-jam setelah magrib apalagi merupakan waktu-waktu paling krusial, berburu dengan rasa lapar dan rasa gerah semua orang ingin secepatnya tiba di rumah. Rasa tidak sabar membuat beberapa orang seperti memaksakan kendaraannya untuk segera lepas dari kemacetan.

Macet di Makassar, kalau seperti seringkali emosi tidak terkontrol (www.daenggassing.com)

Dan disaat semua kendaraan seperti merangkak, tiba-tiba dari arah samping jaraknya sekitar 3 M dari kami, seorang pemuda tanggung dengan gaya silatnya ala Iko Uwais dalam film Merantau menerjang seorang pengendara kendaraan yang lain. Sambil berteriak menantang “ayo kita berkelahi”, “berani ko lawan kah”, Iko Uwais yang membabi buta ini terus menghujamkan tinjunya ke pengendara yang memakai motor matic ini. Untungnya beberapa pukulan melesat dari target mengenai helm. Malam itu saya seperti melihat adegan film Mandarin, sebuah perkelahian di jalanan atau lebih tepatnya pemukulan karena yang dipukul hanya berusaha menghindar.

Rupanya beberapa detik sebelumnya si pengendara matic ini ugal-ugalan, dalam kondisi macet dia masih memaksakan kendaraanya. Dan salah seorang pendendara merasa jengkel, mungkin kendaraannya ikut kena senggol. Karena emosi dia langsung menghampiri dan menghajar tanpa ampun si matic seperti Mike Tyson menghajar Frank Bruno. Saya kadang heran, sebagian besar pengendara matic suka ugal-ugalan, suka menyalip dan lajunya sangat kencang.

Merasa kalah-secara fisik si penyerang memang berbadan lebih besar, dia berlari sambil berucap “tunggu saya di sini, awas ko”. Saya tahu dia lari ke suatu tempat untuk mencari senjata badik atau parang. Seketika para pengendara yang tadi bosan lepas dari kemacetan seperti mendapat tontonan gratis dari layar lebar di twenty one. Rasa malu membuatnya melupakan motor maticnya yang seperti tuannya juga terkapar di jalanan, dia tinggalkan motornya untuk mencari sesuatu yang bisa membuat keadaan menjadi seimbang, apalagi kalau bukan badik.

Dalam hati saya, wah ini sudah tidak asyik lagi. Beberapa bulan sebelumnya di sekitar lokasi ini pernah terjadi penikaman. Korbannya ada 3 orang yang meninggal. Perkaranya hanya sepele, ada insiden antara si tukang ogah yaitu orang yang membantu polisi mengatur lalu lintas dengan pengendara. Si pengendara motor ini rupanya naik pitam dan langsung menikam si ogah, seorang temannya yang ingin membantu juga kena tikaman. Belum puas, dalam keadaan terjepit di kejar massa, si barbar ini lari mencari angkot. Namun supir yang ditumpangi angkotnya menolak untuk menjalankan kendaraannya, emosi kemudian si barbar itu menikam supir tadi. Jadi dalam tempo 10 menit ada 3 nyawa melayang ke alam baka.

Saya tahu batasan emosi orang Makassar, ibarat kompor sumbunya memang pendek. Dengan sumbu yang pendek sebuah kompor mudah meledak. Makanya kejadian semalam sudah saya perkirakan akan gampang terjadi di Makassar. Dalam 3 tahun terakhir lalu lintas Makassar berubah ekstrim, seperti neraka dimana-mana mulai macet sejak pagi hingga sehabis Magrib sering macet.

Saya tidak ingin berlama-lama ditempat itu, secepatnya begitu ada ruang, motor saya pacu secepatnya. Saya belum tahu kelanjutan drama semalam. Entah bagaimana kabar keduanya, si Iko Uwais kalau dia masih waras harusnya segera minggat dari tempat itu. Kejadian diatas bisa saja menimpa siapapun, benar kata media: jalanan seringkali menghadirkan horor yang tak tertuga.

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id