Posts tagged ‘KPSI’

9 Mei 2012

Nasionalisme dari Bumi Cenderawasih

by: Indra Sastrawat

Berita bergabungnya Titus Bonai dalam TC Timnas Senior Di Yogyakarta kontan menimbulkan pro dan kontra di antara supporter bola nasional. Bagi pendukung IPL, Tibo adalah nasionalis sejati dari bumi Cenderawasih sedangkan bagi fans ISL Tibo tidak ubahnya seorang penghianat. Bagi saya, terlepas dari semua polemik tersebut, siapapun anak bangsa yang ingin membela garuda maka dia patut diapresiasi. Bergabungnya Tibo dalam skuad Garuda yang dipersiapkan ke Palestina bukan kemenangan bagi pendukung IPL tapi kemenangan sepakbola nasional.

Muara dari setiap kompetisi di belahan dunia manapun adalah menciptakan pemain tim nasional yang bisa membela Negara masing-masing. Membela tim nasional merupakan kehormatan bagi pemain bola, seorang Lucas Padolski rela bermain di klub kecil, FC Koeln hanya untuk menjaga posisinya di timnas Jerman, padahal Padolski bukan asli ras Arya, Jerman. Kedua orang tuanya adalah Polandia asli, negeri yang pernah di invasi oleh Jerman.

Titus Bonai bukan sekedar mutiara dari negeri Papua dia adalah anak bangsa yang punya nasionalisme. Di saat nasionalisme pemain yang pernah membela timnas tergadaikan oleh asap dapur yang mengepul disaat itu kita kembali di sadarkan oleh seorang anak Papua bernama Tibo, sebelumnya seorang anak yang DNAnya hanya 50% Indonesia bernama Diego Michels telah mengajari arti sebuah nasionalisme itu.

Di Spanyol dan Italia asoasiasi pemain professional mereka punya kekuatan untuk mendesak federasi sepakbola, lalu bagaimana dengan APPInya Indonesia yang hanya omong doang. Ketakutan, zona nyaman, ikatan kontrak atau entah apa lagi alasan pemain di liga sebelah untuk tidak mau membela timnasnya. Bahkan ketika timnas kita terbantai 0-10, para pendukung KPSI justru bersorak gembira. Sungguh ini aib besar, ketika bangsa tertimpa musibah justru ada anak bangsa yang senang bahkan menghina perjuangan Garuda.

Belajarlah pada Jepang yang pernah luluh lantah dihantam bom atom oleh sekutu, mereka tidak menghujat kaisar yang telah membawa Jepang kedalam perang. Mereka para Samurai bersatu dan bangkit dan hasilnya dalam 3 dekade bangsa Matahari Terbit telah membuat kagum dunia. Bukankah timnas besar dunia seperti Rusia, Belanda, Spanyol juga pernah kalah besar. Lupakah kita dengan kekalahan 0-7 dari Thailand di Sea Games 1985, kemudian dengan kekompakan dan semangat kita mampu merebut emas dua tahun kemudian bahkan setahun sebelumnya kita masuk 4 besar Asia di Asian Games Seoul 1986.

Semoga dengan kehadiran Tibo, Timnas bisa mendapatkan hasil yang bagus di Palestina. Namun yang utama kehadiran Tibo bisa menjadi magnet bagi pemain lain untuk ikhlas membela timnasnya. Kami menanti Tibo yang lain yang masih menyimpan hasrat bersama timnas. Jangan takut dengan ancaman siapapun, bukankah nenek moyang kita dulu adalah para pemberani lalu kenapa keturunannya melahirkan generasi penakut !!!. Saya sebagai putra Bugis Makassar terharu dengan berita pagi ini, salut buat mu Tibo,Garuda di dada Ku Garuda Kebanggan ku.

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id

Iklan
12 April 2012

Najwa Serang Tony, Marwan Dihajar Bobotoh!

by: Indra Sastrawat

Saya tidak sempat nonton Mata Najwa di Metro semalam, tapi saya dapat script wawancaranya di sini. Klimaks dari pertanyaan cerdas seorang Najwa Shihab yaitu :

Najwa : tapi nanti timnas yang akan anda buat ini nanti akan bertanding lawan siapa?

Tony : yang penting kita persiapkan dulu.

Najwa : Lho, dipersiapkan untuk bertanding melawan siapa kalau tidak diakui…

Tony : dipersiapkan untuk bertanding tentunya nanti untuk membela republik Indonesia.

Najwa : Iya. Melawan siapa? Bagaimana pertanggungjawaban anda kepada pemain, kepada tim, kepada suporter. Karena kalau memang kan tadi FIFA tidak mengakui timnas yang dibuat terus tanding melawan siapa?

Saya bisa maklumi  kalau jawaban bung Tony mutar-mutar kayak obat nyamuk, karena KPSI atau PSSI AncolNya tidak lain hanya organisasi tandingan yang penuh kepentingan politik. Mungkin juga kapasitas bung TA yang dokter tidak sehebat La Nyala yang bekas jago kampung.

*****

Saya masih ingat ketika tinggal di asrama dulu yang kebetulan penghuni kostnya dominan laki-laki. Hampir setiap sore kami main di petak kecil (setiap tim 4 pemain) di depan kost2an kami, dan kadang tiap pekan kami buat pertandingan ekshibis dengan asrama lain. Lalu bagaimana memilih pemainnya ??? pemain kami pilih dari liga kecil kami.

Bahkan menjelang kejuaraan “resmi” antar asrama (pondokan) persiapan kami lebih panjang dan lebih lama. Saya di tunjuk sebagai manajer team mempersiapkan pemain dan kebutuhan logistik pemain. Tim nasional mini yang kami bentuk dipersiapkan untuk laga tertentu.

Makanya saya heran dengan omongan Bung Tony yang ingin membentuk timnas dengan pelatih yang katanya hebat tapi tidak punya lawan tanding. Anda dan KPSI tidak lebih baik dari kami yang membentuk team dengan rencana yang sudah ada, bukan hanya dorongan emosional dan nafsu saja.

Main di Viva world cup saja. Mungkin itu solusi yang lebih baik buat timnas ala PSSI Ancol. Mereka tidak perlu main dengan lumba-lumba, kura-kura atau sejenisnya, di Viva world cup timnas KPSI bisa bertarung dengan negara-negara tertentu yang tidak di akui FIFA.

Persoalannya mau kah KPSI di terima menjadi anggota Viva World cup !!! ok, taruh lah mereka di terima, mereka bisa bermain dengan timnas Maluku Selatan atau Papua Barat, lumayankan punya lawan tanding dari timnas separatis.

Dari pada terus menerus merecoki sepakbola nasional dan menguras APBD sebaiknya berlapang hati untuk membubarkan diri. Wong di jaman orde baru dulu PKI yang katanya kejam masih mau membubarkan diri.

Oh ya semalam sebelum tragedi memalukan di studio Metro TV, sore harinya laga Persib vs Gresik United berjalan penuh drama lebih tepatnya lebih meriah. Kalau di Thailand di kenal olehraga  Thai Boxing yaitu perpaduang tinju dan tendangan maka di ISL lebih meriah lagi sepakbola di campur tinju, di tambah kungfu dan di lengkapi dengan judo.

Hasil pertandingan 1-0 buat Persib tidak seheboh dengan luka memar di kepala Marwan Sayedeh atau terjangan yang membuat kedua pemain ada yang terkapar di lapangan. Padahal pertandingan ini di beri lebel bigmatch oleh ANTV. Sebuah tontonan kelas satu buat pecinta ISL.

Satu kata yang pas: “Marwan Maafin Persib yah…”

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id

23 Maret 2012

Tutur Tinular, Abu Nawaz, dan PSSI Siluman

by: Indra Sastrawat

Generasi tahun 90an pasti kenal dengan sandiwara radio terpopuler bernama Tutur Tinular. Sandiwara yang berlatar sejarah ini menjadi hit pada zamannya. Arya Kamandanu, Mei Shin, Ranggalawe hingga Mpu Tong Bajil membuat angan-angan kecil kami mengembara ke suatu dimensi sejarah masa lalu. Sandiwara ini memang fenomenal. HIngga di akhir decade 90an Tutur Tinular menjelma di layar kaca, dan pamor Tutur Tinular tetap mempesona.

Tergiur oleh rating tinggi, akhir tahun lalu muncul lagi versi terbaru Tutur Tinular dengan nama Tutur Tinular versi 2011. Berbeda dengan sebelumnya Tutur Tinular versi baru menyimpang dari cerita aslinya. Seperti munculnya tokoh dalam cerita Mahabarata dalam cerita tersebut, lalu property dan setting gambar yang kadang menampilkan aspal atau menara Telkom. Persoalan lain adalah melencengnya cerita dari alur sejarah, kostum pemain yang tidak sesuai dengan latar sejarah Majapahit dan Singosari, dan munculnya music pop dangdut dalam cerita padahal music ini tidak menggambarkan budaya masa itu.

Setelah diamati ternyata antara Tutur Tinular versi 2011 punya benang merah dengan PSSI Siluman atau PSSI versi KPSI.

1.      Munculnya tokoh diluar struktur yang menjadi ketua umum PSSI bayangan tersebut. Di luar struktur karena La Nyala menyalahi aturan yang mensyaratkan calon ketum minimal 5 tahun sebagai pengurus PSSI.

Foto: Ketua KPSI, La Nyalla Mattaliti

2.      Kemunculan KPSI  ini seperti ingin mengulang kembali masa-masa lalu zaman Nurdin Halid dulu, sama persis dengan munculnya  Tutur Tinular 2011.

3.      Tokoh pentolan KPSI banyak membelokan fakta sesungguhnya tentang PSSI. Berdalih atas nama kongres Bali mereka menjadi pembelot. Sama persis dengan Tutur Tinular versi 2011 yang ceritanya telah melenceng dari cerita aslinya.

4.      Dibalik kehadiran KPSI tidak bisa dielakkan karena pengaruh duit, orang-orang KPSI seperti cacing kepanasan karena kebijakan baru PSSI yang melarang klub professional memakai APBD. Belum lagi karena penunjukan MNC Group sebagai pemegang hak siar live mengusik beberapa oknum. Kejadiannya sama dengan munculnya Tutur Tinular versi 2011 yang hanya ingin meraup keuntungan.

5.      Ketua umum KPSI sekarang adalah politisi salah satu partai gurem yang gagal menembus pemilu 2014, speertinya dia memang sengaja dating menggoyong PSSI seperti sebuah melodi lagu dangdut yang bersayu-sayu. Bila ditarik benang merahnya maka KPSI mirip dengan sebuah iringan lagu dangdut dalam sinetron Tutur Tinular versi 2011.

***********

Kelakuan KPSI atau PSSI bayangan yang memang mencita-citakan sepakbola kita kena sanksi dari FIFA  mirip dalam kisah Abu Nawaz.

Alkisah pada suatu hari datang dua orang wanita menghadapa baginda raja. Mereka yang sedang mempersengketakan seorang anak, sama-sama keduanya mengklaim anak mereka. Sang raja bingung menentukan siapa sebenarnya ibu sah anak tersebut ??? lantas sang raja menyerahkan masalah ini ke Abu Nawaz. Kemudian Abu Nawaz ditunjuk menjadi hakim antara keduanya. Keesokan paginya kedua ibu tersebut dipanggil dalam persidangan.

Lama berargumentasi keduanya sama-sama mengklaim anak tersebut adalah anak mereka. Lalu muncul inisiatif Abu Nawaz membagi dua anak tersebut. Salah satu ibu tersebut histeris mendengar penyataan Abu Nawaz sedangkan ibu yang lain gembira dengan solusi Abu Nawaz. Sambil berurai airmata si ibu tadi mengikhlaskan anak tersebut menjadi milik ibu yang satunya dari pada harus membagi dua anak itu yang sama saja membunuhnya. Melihat kejadian itu Abu Nawaz akhirnya mengetahui siapa sesungguhnya pemilik sah anak itu, tiada lain adalah seorang ibu yang dari tadi menangis tidak sudi anaknya terbagi dua.

Bila ditarik benang merahnya ke persoalan dualisme sepakbola kita, sesungguhnya ibu yang tidak sudi membagi dua anaknya adalah PSSI pimpinan Djohar Arifin yang tidak rela jika PSSI terbagi dua.

Foto: Ketua PSSI, Djohar Arifin Husin

Sedangkan ibu jahat yang gembira melihat anak terbagi dua tiada lain adalah para gerombolan KPSI yang telah mengatur strategi PSSI terbagi dua dan kemudian mendapatkan sanksi dari FIFA yang di analogikan sebagai anak yang terbagi dua yang pastinya akan mati. Sedang Abu Nawaz dari cerita ini tiada lain adalah FIFA sendiri yang semoga bijak memandang persoalan ini.

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id

22 Maret 2012

Skenario KPSI Ikut Viva World Cup 2012

by: Indra Sastrawat

Kisruh antara PSSI dengan KPSI belum menunjukan titik terangnya. KPSI tetap ngotot ingin terus menggulirkan liga di luar liga resmi yang diakui PSSI, AFC dan FIFA. Masalah dualisme liga ini membuat kekuatan tim nasional kita menjadi berkurang.

Yang kemudian jadi masalah adalah pemain yang bermain di liga tandingan tidak dapat membela tim nasional negara masing-masing, ini sesuai dengan statuta FIFA. Jalan keluarnya sebagai liga yang tidak resmi yang dibesarkan oleh badan sepakbola tandingan bernama KPSI (komite penyelamat sepakbola Indonesia), maka satu-satunya cara KPSI bisa go international adalah dengan mengikuti kejuaraan dunia dibawah bendera NF Board. Nama turnamen dunia dibawah bendera NF Board adalah VIVA World Cup. Turnamen ini diselenggarakan dua tahun sekali.

Kurdistan Iraq tuan rumah Viva World Cup 2012

Lebih jauh tentang NF Board dan Viva World cup

NF Board atau Nouvelle Federation-Board merupakan organisasi untuk negara-negara yang tidak bergabung dengan FIFA. Organisasi ini dibentuk pada tanggal 12 Desember 2003. Organisasi ini bukan bagian dari dewan pengurus FIFA. Sebenarnya asosiasi ini dibentuk untuk mengakomodasi beberapa negara separatis dunia yang negara mereka tidak diakui oleh dunia. Dan bisa saja KPSI mengusulkan diri agar bisa diterima masuk dalam organisasi ini, apalagi sudah tertutup jalan diterima masuk FIFA.

Tiap dua tahun sekali NF Board menyelenggarakan Piala Dunia VIVA. Piala dunia VIVA 2012 akan diselenggarakan di Kurdistan, Iraq.

Anggota NF Board diantaranya adalah: Monako, Siprus Utara, Chechnya, Sahara Barat, Zanzibar, Kurdistan, Padania, Gozo, Tibet, Kamerun Selatan, Maluku Selatan dan Papua Barat dll. Saya baru tahu ternyata Maluku Selatan dan Papua Barat adalah anggota NF Board.

1328066245539007828

Suporter tim nasional Padania

Dan seperti ingin menandingi FIFA, maka NF Board juga memiliki piala dunia tersendiri namanya adalah VIVA World Cup. Viva World Cup sudah diselenggarakan sebanyak 4 kali, pada edisi terakhir Viva World Cup 2010 Padania keluar sebagai Juara. Padania merupakan tim sepakbola yang berasal dari Italia utara. Padania tercatat paling sukses di turnamen ini dengan gelar tiga kali juara.

Mimpi KPSI go International

Dari pada terus menerus membuat teror di sepakbola nasional, mungkin lebih baik KPSI ikut dalam liga/turnamen dunia diluar FIFA salah satunya ikut VIVA World Cup. Selain VIVA World cup, masih ada turnamen lain diluar FIFA seperti FIFI Wild cup, The UNPO Cup atau The ELF Cup.

Jadi pemain yang bermain di liga tandingan (tarkam) bernama Liga Indonesia bisa juga go international atau bisa tersalurkan bermain di tingkat dunia dengan mengikuti salah satu turnamen tidak resmi di atas.

Jadi, bagaimana KPSI anda berminat ikut turnamen VIVA World Cup 2012 ???

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id