Posts tagged ‘kantor berita’

31 Mei 2012

Saat Anda Membaca Ini, 215 Anak Palestina Sedang di Penjara Zionis!!

Seorang peneliti masalah-masalah tawanan Palestina, Abdul-Nasser Farwana melaporkan saat ini ada 215 orang anak dan lima orang perempuan di penjara-penjara Zionis Israel. Jumlah total warga Palestina yang kini berada di dalam penjara lebih dari 4600 orang.

“Jumlah ini bertambah dan berkurang setiap hari, karena penangkapan-penangkapan itu terus terjadi setiap hari,” jelas Farwana kepada kantor berita PIC di Gaza kemarin.

Perempuan Palestina berusaha mencegah tentara Zionis menawan seorang anak

Menurut data terbaru yang dikumpulkannya, Farwana memastikan bahwa sejak terjadinya Intifadhah kedua (Intifadhah Al-Aqsha) yang dimulai pada 28 September 2000 sampai hari ini, warga Palestina yang dipenjara oleh Zionis Israel lebih dari 75 ribu orang. Diantara mereka 9000 orang anak-anak berusia 16 tahun ke bawah, dan lebih dari 900 orang perempuan juga ikut dipenjara.

Farwana juga melaporkan bahwa diantara yang kini ditawan oleh Zionis, 302 orang diantaranya merupakan “tahanan administratif” (artinya ditahan tanpa alasan hukum, dan tanpa proses pengadilan apapun). Dintara tawanan itu juga terdapat 27 orang anggota parlemen Palestina, 3 orang bekas menteri, seorang bekas anggota parlemen.

Seluruh tawanan Palestina disekap di 17 penjara diantaranya Nafha, Raymond, the Negev, Ofer, Megiddo, Hadarim, Ashkelon, Hasharon and Ramle.

Lebih jauh Farwana memaparkan, bahwa di luar warga Palestina itu, terdapat juga warga negara lain yang dipenjara oleh Zionis karena pembelaannya terhadap Masjidil Aqsha dan Palestina khususnya mereka yang berasal dari Yordania, Suriah dan Mesir.

Para tawanan Palestina terdiri dari 463 tawanan asal Jalur Gaza, 345 dari Al-Quds dan kawasan Palestina yang dijajah, dan sisanya sebagian besar dari wilayah Tepi Barat.

Peneliti ini juga melaporkan 535 tawanan telah divonis penjara seumur hidup atau lebih (ada yang 10 kali seumur hidup, 20 kali seumur hidup dan seterusnya). Diantara mereka ini ada 62 orang yang biasa disebut “Dekan-dekan Penjara”, yaitu yang telah ditawan, disekap, dan disiksa oleh Zionis Israel selama 20 tahun terakhir ini terus menerus.

Menurut Farwana, diantara para tawanan juga ada gelar kehormatan yang disebut “Jenderal-jenderal Kesabaran” yang diberikan kepada mereka yang sudah ditawan, disekap, dan disiksa Zionis di penjara-penjara selama lebih dari 25 tahun. Jumlah para “Jenderal Kesabaran” ini mencapai 22 orang tawanan.

“Penghulu dari semua ‘dekan’ dan ‘jenderal’ kesabaran itu ialah Karim Younes,” kata Farwana. Karim adalah seorang Muslim Palestina yang lahir dan dibesarkan di wilayah yang sepenuhnya dijajah Zionis sejak tahun 1948. Karim ditawan, disekap, dan disiksa oleh Zionis di penjara sejak bulan Januari 1983. Sudah 29 tahun dipenjara hanya karena ingin tanah suci Palestina dan Masjidil Aqsha merdeka.*

source: hidayatullah.com

pb: mattula_ada@live.com

Iklan
25 Maret 2012

Menyorot Kredibilitas Reportase dalam Jurnalisme Warga

by: Joko Martono

Dari sebutannya saja sebagai: jurnalisme warga (baca: citizen journalism), apalagi penyebarluasan informasinya disampaikan melalui media online. Mestinya tidak akan “pas” bahkan terlalu naif kalau tiba-tiba dibandingkan dengan hasil kerja para jurnalis profesional yang bekerja untuk media mainstream (suratkabar, majalah, radio, televisi, kantor berita, dan sebagainya). Terutama dalam hal kualitas produk, misalnya hasil reportase – tentu lebih memiliki bobot pemberitaan yang dikelola media mainstream karena telah diperkuat barisan pewarta terlatih.

Jika dilihat karakteristik medianya saja sudah berbeda, ketersediaan sumber daya manusia, pendanaan, organisasi/kelembagaan, rekrutmen pewartanya juga berlainan, sehingga dari secuplik cermatan aspek tersebut maka proses dan mekanisme kerja untuk membuahkan suatu reportase jelas tidaklah akan sama.

Pewarta profesional yang bekerja untuk mengisi rubrikasi di media mainstream telah dibekali kemampuan jurnalistik. Walaupun mereka berlatar belakang keilmuan berbeda namun sudah digodok dalam sebuah pelatihan internal (in house training). Teknik peliputan terhadap peristiwa selalu mempertimbangkan akurasi, presisi, cover bothside, nilai berita disesuaikan kode etik dan muaranya tentu menghasilkan reportase yang benar.

Di samping itu, dalam sistem maupun mekanisme kerja secara organisatoris – jurnalis profesional tunduk pada pemegang otorita di atasnya, hasil peliputan harus diolah melalui seleksi ketat sebelum dipublikasi atau dikonsumsikan kepada khalayak.

Sedangkan dalam jurnalisme warga, justru sebaliknya. Sebab itulah beberapa sisi perbedaan tersebut sebenarnya sudah menunjukkan sejauhmana kredibilitas reportase yang telah dihasilkan oleh pewarta warga. Pertanyaan ringan menjadi layak dilontarkan, bagaimana mungkin tanpa pemahaman jurnalistik yang memadai – pewarta warga pada umumnya (semua orang/tanpa pandang bulu ikutan memasok dan menyebarkan informasi) bisa menghasilkan reportase berkredibilitas atau layak dipercaya?

Dalam kaitan penampilan reportase di kompasiana.com bilamana ada yang berpendapat masih perlu dipertanyakan validitas data atau sumber pemberitaan, malahan ada yang semakin melebar dengan menyebutkan beralih fungsi – menurutku ini terlalu lebay-lah. Menjadi kurang relevan (walau pun telah di amini sebagian kalangan) karena dasar pijakan yang dipakai “jelas-jelas tidak jelas” sehingga ke arah mana maksud dan tujuan tulisan menjadi semakin bias.

Kehadiran jurnalisme warga sesungguhnya memiliki nilai lebih. Setelah era reformasi bergulir, rakyat punya ruang untuk langsung menyuarakan aspirasi maupun opininya. Setiap warga punya peluang sama untuk memberikan kontribusi, “siapa saja boleh menjadi pewarta dan menulis tentang apa saja” tanpa dibayar, apalagi mengharap bayaran.

Namun kehadiran para pewarta atau jurnalis warga dapat di-ibaratkan “pisau bermata dua.” Di satu sisi, bisa menguntungkan atau memiliki nilai lebih karena media mainstream mempunyai keterbatasan daya jangakau peliputan bahkan tidak mampu meng-cover seluruh peristiwa yang terjadi di wilayah luas seperti Indonesia. Dalam hal inilah keberadaan pewarta/jurnalis warga menjadi penting untuk membantu peliputan dan penyebaran informasi yang pantas diketahui khalayak.

Sebagai contoh, Cut Putri, seorang warga Aceh berhasil merekam detik-detik pertama tsunami Aceh tahun 2004 lalu merupakan sebuah reportase warga yang memiliki nilai pemberitaan. Hasil jepretan beliaulah media mainstream menjadi terbantu untuk mengangkat peristiwa itu sebagai berita utama. Bukankah ini merupakan suatu fungsi yang telah diberikan oleh pewarta/jurnalis warga yang selanjutnya berperanan dalam menyebarluaskan pesan-pesan mendesak dan perlu segera diketahui masyarakat luas?

Di sisi lain memang harus diakui bahwa kehadiran jurnalis warga bisa saja merugikan, dalam artian karena keakuratan datanya dinilai banyak kalangan belum setaraf dengan jurnalis profesional. Hal demikian bukan lantas kita buru-buru memvonis dan selalu nyinyir memojokkan keberadaan jurnalisme warga serta para pengelolanya tanpa dasar pemahaman yang kuat. Gejala tersebut bisa dimaklumi karena berbagai aspek yang melingkupinya sangat berbeda dengan jurnalisme profesional sehingga kredibilitas pewartaan maupun reportase dalam kancah jurnalisme warga masih memerlukan filter guna memilah dan memilihnya.

Harapan kita semua, terutama kepada para pewarta warga, di mana pun dan di media apa pun berkiprah, seyogyanya tidak asal-asalan dalam mengirim, memasok atau memosting sebuah produk berupa tulisan, termasuk dalam meliput, mengolah dan menyebarluaskan informasi tanpa mempertimbangkan dampak-dampak yang ditimbulkannya kelak di kemudian hari.*

source: http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2011/06/09/menyorot-kredibilitas-reportase-dalam-jurnalisme-warga/

pb: mattula_ada@live.com