Posts tagged ‘jurnalisme warga’

26 Mei 2012

Berkat Jurnalisme Warga, Israel tak Bisa Bohong Soal Palestina

Israel tidak lagi bisa menutup-nutupi tindakan biadab tentara dan warganya terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Sebab, warga Palestina mulai mengeliatkan “jurnalisme warga”.

Sebagai contoh saja, video yang dibuat oleh seorang guru bernama Ibrahim Makhlouf. Dalam rekaman itu, seorang tentara Israel menembaki warga desa Aseera al-Qibliya, wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel. Peristiwa itu mengakibatkan salah seorang pemuda desa terkena tembakan tentara Israel.

Warga Palestina melempar dengan batu kearah pasukan penjajah Israel dalam bentrokan yang terjadi saat memperingati 64 Tahun Hari Nakba dekat kota Ramallah di Tepi Barat Palestina, Selasa (15/5). (Bernat Armangue/AP)

“Kami ingin seluruh dunia melihat apa yang Israel lakukan. Mereka mencuri dan menyerang kami, dan dunia berkata kamilah  teroris dan kriminal,” katanya seperti dikutip alarabiya.net, Kamis (24/5).

Tak lama setelah diunggah, Departemen Pertahanan Israel yang melihat video itu segera memerintahkan penyelidikan. Seperti sikap Israel sebelumnya, mereka selalu saja berdalih bahwa ada hal yang dilebihkan warga Palestina terhadap Israel guna menarik simpati masyarakat internasional. “Tampaknya video tersebut tidak mencerminkan kejadian secara menyeluruh,” dalih juru bicara Departemen Pertahanan Israel.

Juru bicara pemukim Yahudi mengatakan, bentrokan itu dimulai ketika warga Palestina mulai melemparkan batu. Melihat tindakan itu, tentara Israel segera meresponnya dengan meletuskan tempakan ke arah kerumunan warga Palestina. “Mereka yang memulai,” kata dia.

Organisasi HAM Israel,  B’Tselem menyatakan dokumentasi video yang diunggah warga Palestina merupakan keberhasilan program Jurnalisme Warga yang dimulai tahun 2007 silam. Saat itu, pihaknya mendistribusikan 150 camcoder kepada warga Palestina di Tepi Barat. Program itu sendiri bertujuan untuk mengungkap pelanggaran yang dilakukan pemukim Yahudi dan militer Israel melalui media sosial.

“Program  yang kami jalankan ini merupakan usaha untuk menunjukan apa saja yang dilakukan militer dan organ-organ pemerintah,” ungkap Juru bicara B’Tselem, Sarit Michaeli.

Sarit mengatakan medium jejaring sosial mungkin hanya menampilkan sebuah video berdurasi satu menit. Namun,  keberadaan video itu segera menarik minat pengunjung yang hendak melihatnya. Lalu terbentuklah opini dari masing-masing pengunjung.

source: republika.co.id

pb: mattula_ada@live.com

Iklan
25 Maret 2012

Menyorot Kredibilitas Reportase dalam Jurnalisme Warga

by: Joko Martono

Dari sebutannya saja sebagai: jurnalisme warga (baca: citizen journalism), apalagi penyebarluasan informasinya disampaikan melalui media online. Mestinya tidak akan “pas” bahkan terlalu naif kalau tiba-tiba dibandingkan dengan hasil kerja para jurnalis profesional yang bekerja untuk media mainstream (suratkabar, majalah, radio, televisi, kantor berita, dan sebagainya). Terutama dalam hal kualitas produk, misalnya hasil reportase – tentu lebih memiliki bobot pemberitaan yang dikelola media mainstream karena telah diperkuat barisan pewarta terlatih.

Jika dilihat karakteristik medianya saja sudah berbeda, ketersediaan sumber daya manusia, pendanaan, organisasi/kelembagaan, rekrutmen pewartanya juga berlainan, sehingga dari secuplik cermatan aspek tersebut maka proses dan mekanisme kerja untuk membuahkan suatu reportase jelas tidaklah akan sama.

Pewarta profesional yang bekerja untuk mengisi rubrikasi di media mainstream telah dibekali kemampuan jurnalistik. Walaupun mereka berlatar belakang keilmuan berbeda namun sudah digodok dalam sebuah pelatihan internal (in house training). Teknik peliputan terhadap peristiwa selalu mempertimbangkan akurasi, presisi, cover bothside, nilai berita disesuaikan kode etik dan muaranya tentu menghasilkan reportase yang benar.

Di samping itu, dalam sistem maupun mekanisme kerja secara organisatoris – jurnalis profesional tunduk pada pemegang otorita di atasnya, hasil peliputan harus diolah melalui seleksi ketat sebelum dipublikasi atau dikonsumsikan kepada khalayak.

Sedangkan dalam jurnalisme warga, justru sebaliknya. Sebab itulah beberapa sisi perbedaan tersebut sebenarnya sudah menunjukkan sejauhmana kredibilitas reportase yang telah dihasilkan oleh pewarta warga. Pertanyaan ringan menjadi layak dilontarkan, bagaimana mungkin tanpa pemahaman jurnalistik yang memadai – pewarta warga pada umumnya (semua orang/tanpa pandang bulu ikutan memasok dan menyebarkan informasi) bisa menghasilkan reportase berkredibilitas atau layak dipercaya?

Dalam kaitan penampilan reportase di kompasiana.com bilamana ada yang berpendapat masih perlu dipertanyakan validitas data atau sumber pemberitaan, malahan ada yang semakin melebar dengan menyebutkan beralih fungsi – menurutku ini terlalu lebay-lah. Menjadi kurang relevan (walau pun telah di amini sebagian kalangan) karena dasar pijakan yang dipakai “jelas-jelas tidak jelas” sehingga ke arah mana maksud dan tujuan tulisan menjadi semakin bias.

Kehadiran jurnalisme warga sesungguhnya memiliki nilai lebih. Setelah era reformasi bergulir, rakyat punya ruang untuk langsung menyuarakan aspirasi maupun opininya. Setiap warga punya peluang sama untuk memberikan kontribusi, “siapa saja boleh menjadi pewarta dan menulis tentang apa saja” tanpa dibayar, apalagi mengharap bayaran.

Namun kehadiran para pewarta atau jurnalis warga dapat di-ibaratkan “pisau bermata dua.” Di satu sisi, bisa menguntungkan atau memiliki nilai lebih karena media mainstream mempunyai keterbatasan daya jangakau peliputan bahkan tidak mampu meng-cover seluruh peristiwa yang terjadi di wilayah luas seperti Indonesia. Dalam hal inilah keberadaan pewarta/jurnalis warga menjadi penting untuk membantu peliputan dan penyebaran informasi yang pantas diketahui khalayak.

Sebagai contoh, Cut Putri, seorang warga Aceh berhasil merekam detik-detik pertama tsunami Aceh tahun 2004 lalu merupakan sebuah reportase warga yang memiliki nilai pemberitaan. Hasil jepretan beliaulah media mainstream menjadi terbantu untuk mengangkat peristiwa itu sebagai berita utama. Bukankah ini merupakan suatu fungsi yang telah diberikan oleh pewarta/jurnalis warga yang selanjutnya berperanan dalam menyebarluaskan pesan-pesan mendesak dan perlu segera diketahui masyarakat luas?

Di sisi lain memang harus diakui bahwa kehadiran jurnalis warga bisa saja merugikan, dalam artian karena keakuratan datanya dinilai banyak kalangan belum setaraf dengan jurnalis profesional. Hal demikian bukan lantas kita buru-buru memvonis dan selalu nyinyir memojokkan keberadaan jurnalisme warga serta para pengelolanya tanpa dasar pemahaman yang kuat. Gejala tersebut bisa dimaklumi karena berbagai aspek yang melingkupinya sangat berbeda dengan jurnalisme profesional sehingga kredibilitas pewartaan maupun reportase dalam kancah jurnalisme warga masih memerlukan filter guna memilah dan memilihnya.

Harapan kita semua, terutama kepada para pewarta warga, di mana pun dan di media apa pun berkiprah, seyogyanya tidak asal-asalan dalam mengirim, memasok atau memosting sebuah produk berupa tulisan, termasuk dalam meliput, mengolah dan menyebarluaskan informasi tanpa mempertimbangkan dampak-dampak yang ditimbulkannya kelak di kemudian hari.*

source: http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2011/06/09/menyorot-kredibilitas-reportase-dalam-jurnalisme-warga/

pb: mattula_ada@live.com

6 Februari 2012

Suara Jurnalisme Warga

by: Mung Pujanarko

Kita sudah sama-sama mengetahui kalau jurnalisme warga itu adalah bentuk komunikasi verbal dan non verbal yang sampai kepada komunikan-komunitas melalui beragam media, baik cetak maupun elektronik. Namun kemudian masih banyak orang yang lalu mengajukan pertanyaan, “Kalau saya sudah menjadi citizen journalist, seorang pewarta warga, lalu apa yang sebaiknya saya tulis, saya wartakan ?, karena saya takut seperti Prita Mulyasari, baru mengeluh sedikit saja di milis, terpublikasi di internet, tahu-tahu terjerat UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik), dipenjara pula, padahal niatnya hanya mewartakan apes yang dialaminya”.

Saudara pembaca, citizen journalism atau jurnalisme warga ini sekali lagi adalah alamiah dan ilmiah sifatnya. Alamiah karena merupakan dorongan Hak Asasi Manusia untuk bersuara, menyuarakan apa yang dialaminya, apa yang dilihatnya. Ilmiah karena secara sadar atau tidak, citizen journalist telah menerapkan ilmu komunikasi.

Siapa saja tidak dilarang atau dihambat untuk menyalurkan hak asasi manusia miliknya yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa berupa dorongan berkomunikasi. Memang ada etika dan tata cara komunikasi, namun ini adalah amat relatif dan bahkan norma berkomunikasi adalah berbeda dalam setiap suku bangsa dan puak-puak yang mendiami bumi ini.

Tapi yang saya ingin kemukakan adalah bagi kita yang suka menapaki jalan pewarta warga, memiliki dorongan yang kuat untuk menuliskan warta berita bagi orang banyak, maka tidak perlu anda resah apa topik yang akan kita tulis.

Setiap pewarta warga dapat menulis apa saja yang dialaminya, misalnya seperti saat sekarang ini ada banjir di berbagai wilayah di Indonesia. Jika kita kebetulan adalah pewarta warga yang tinggal di lokasi banjir tersebut, kita bisa menulis tentang apa saja yang masyarakat rasakan, masyarakat butuhkan dalam situasi banjir seperti ini. Saya pernah mengadakan pelatihan menulis, ketika seorang peserta mencari topik yang tidak dikuasainya maka dia akan macet untuk menulis, tapi ketika dia saya minta untuk menuliskan peristiwa luar biasa yang pernah dialaminya, maka dia lancar sekali menuliskannya, menceritakannya dalam tulisan seperti halnya berbicara scara verbal. Intinya jika peristiwa itu di depan mata kita, kita alami, maka menulispun tanpa terasa kita bisa menyalurkan prinsip Harold Lasswell 5W- 1H. Tidak perlu kita khawatir tidak dapat menulis. Apalagi jika menulis peristiwa untuk situs pewarta warga, di setiap situs pewarta warga manapun, biasanya digawangi oleh korektor bahasa sebagai admin-nya.

Seorang pewarta warga tidak perlu menunggu reporter televisi untuk datang ke lokasi banjir itu untuk memberitakan, barulah bantuan datang. Tidak, citizen reporter atau citizen journalist (pewarta warga) dapat secara langsung mengabarkan apa yang dirasakan, dialami dan dibutuhkan oleh masyarakat, komunitas di sekitarnya.

Jika kita seorang warga desa yang baru saja terkena gusur secara sewenang-wenang, maka kita bisa langsung menuliskannya untuk diunggah dalam jejaring sosial kita, atau dalam media yang menyediakan ruang jurnalisme warga. Takut karena keselamatan terancam ?, kita bisa mengirim email pribadi kepada PPWI atau kepada media massa mana saja untuk meliputnya, atau bila kita masih ragu, maka kita dapat merekam peristiwa itu dan kita segera unggah ke youtube dengan nama samaran.

Tapi sekarang ini sepanjang saya pernah bekerja media masa konvensional di Pulau Jawa, masyarakat sudah sadar dan berani mengunjungi kantor redaksi untuk menceritakan warta bila ada ketidak-adilan di desanya. Kegiatan mengunjungi kantor redaksi ini terjadi bila tidak ada seoarang pun warga desa yang mampu mengunggah warta di internet melalui media sosial, atau cj web (citizen journalist-web). Tapi bila di luar Pulau Jawa, memang terjadi banyak kendala bagi warga untuk mengabarkan sebuah tragedi atau ketidak-adilan atau peristiwa penting di desanya.

Tragedi Mesuji bisa sampai teredam dan terendam selama tiga bulan lamanya sebelum naik ke permukaan. Untungnya ada warga yang melakukan kegiatan citizen journalist dengan merekam dengan kamera hand phone dan menyebarkannya secara terus bergulir, dan secara alamiah sampai sekarang seluruh Indonesia tahu. Sekarang ini bukan era orde baru, di mana pembantaian satu desa tidak akan mungkin terungkap oleh siapapun, karena saking takutnya orang untuk bersuara, ada guyonan, candaan : “Kalau mau ke dokter gigi di Singapura saja, karena di negara itu bebas buka mulut”.

Yah, dan memang jaman dulu itu tak ada jurnalisme warga, boro-boro, bikin media konvensional saja sulitnya luar biasa, dan bila kita bukan siapa-siapa, ya hanya mimpi saja punya media massa. Kini tidak, untungnya dan akhirnya, kita benar-benar bisa bersuara di media massa, meskipun ada UU ITE yang bisa digunakan untuk menjerat suara di ranah cyber-media. Tapi kalau yang bersuara banyak, -atau sendiri sekalipun- tapi mantap dalam menyuarakan aspirasi yang hakiki, maka argumentasi hukum demi kebenaran dan keadilan bisa dikemukakan dalam pengadilan untuk memperoleh keadilan.

Topik untuk kegiatan pewarta warga memang idealnya tidak perlu susah-susah diburu, tidak perlu dicari secara susah payah seperti halnya topik untuk liputan wartawan reguler. Wartawan reguler dalam tuntutan kerjanya berbeda dengan pewarta warga, karena dalam tuntutan pekerjaannya, secara profesional wartawan reguler dibayar, wartawan reguler dibebani oleh keharusan meliput berita berdasarkan desk liputannya. Namun pewarta warga menyuarakan suaranya, berdasarkan hak asasi manusia miliknya, yakni mengemukakan aspirasi, dan menyuarakan aspirasi komunitasnya untuk mewartakan apa saja yang dirasakan oleh panca inderanya. Inilah kekhususan jurnalisme warga, maka itu topik jurnalisme warga bisa saja seperti ini misalnya :

-“ Kami ingin agara polusi dari pabrik tak mencemari desa kami : atau “Desa ‘ini’ tercemar berat polusi ”

-“ Kami ingin agar kemaksiatan tidak ada di lingkungan kami, dll”

-“ Warga wilayah ‘tertentu’ membutuhkan bantuan akibat bencana”

-“ Bantuan belum dirasakan oleh warga wilayah ‘tertentu’ padahal sudah ada penggalangan dana secara nasional,” dll “

Dan berbagai macam topik yang kita mampu menyuarakannya, secara tulisan maupun siaran audio visual. Warta kita tentu harus didukung oleh bukti dan fakta yang ada apa adanya. Di Indonesia karena tingkat pendidikan yang cenderung masih rendah, maka berkembangnya jurnalisme warga membutuhkan waktu yang lama, mungkin -bila tidak ada aral melintang- bisa sampai 10 tahun baru orang bisa biasa dengan jurnalisme warga.

Di Amerika dan Eropa sebagai Negara Dunia Pertama yang telah lebih lama merdeka, aktivitas pewarta warga kini telah berkembang dengan pesat dan baik, ada fenomena “we media/media kita” atau bahkan “I media/ media saya”. Contohnya seorang yang bernama Kevin Sites yang pergi ke berbagai tempat konflik (hot zone) yang berbahaya di seluruh dunia dengan modal back packers, kamera dan laptop, seorang solo jurnalis yang tidak tergabung dalam grup media raksasa, untuk mewartakan apa saja yang terjadi di lokasi konflik berrbahaya tersebut.

Di Indonesia, contohnya kasus Mesuji, warga membutuhkan waktu hingga tiga sampai empat bulan untuk menyampaikan peristiwa penembakan petani sawit plasma, warga kepada media massa konvensional. Bila hal serupa terjadi di Amerika maka hanya dalam hitungan menit, berita ini telah sampai seluruh negara bagian, dan dalam hitungan jam berita seperti Mesuji, -seperti kasus sekte David Koresh di Waco, Texas Amerika yang diserbu tentara federal mengakibatkan tewasnya anggota komunitas itu- sampai mendunia.

Tapi semoga dengan seiring berkembangnya waktu, kita Pewarta Warga Indonesia dapat secara alamiah mengeluarkan aspirasi kita, warta penting kita bagi komunitas masyarakat kita, bagi Negara kita, sebagai kesadaran hak asasi manusia yang telah kita sandang semenjak kita lahir.

Dalam Teori Komunikasi Massa oleh Dennis Mc Quail (2008) djelaskan bahwa public interest atau kepentingan publik, dapat dikomunikasikan oleh media massa konvensional sebagai agensi informasi dan oleh publik itu sendiri yang membuat  medianya, membuat net work medianya, sebagai konsekuensi logis berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi.

Jurnalisme Warga / Citizen Journalism tentu saja sah menggunakan media sosial jenis apa saja (konvergensi media). Kita hidup sekarang ini seperti apa yang dikatakan Dennis Mc Quail dalam : ”Mass Communication Theory” (2008) sebagai “Global Communication Village”atau sebuah desa komunikasi global. (*)

Mung Pujanarko : Menempuh Thesis Jurnalistik di  IISIP Jakarta.

source: http://pewarta-indonesia.com/kolom-pewarta/mung-pujanarko/7441-suara-jurnalisme-warga.html

pb: mattula_ada@live.com