Posts tagged ‘buku’

26 Mei 2012

SBY Antek Yahudi-AS?

by: Mattula’ada

Itulah judul buku karya Dr. Eggi Sudjana, SH, MSi; mantan aktivis HMI yang saat ini memiliki kantor Law Firm sendiri bernama “Eggi Sudjana & Partners” sejak Maret 2004.

Eggi Sudjana

Buku yang terbilang sangat berani ini, mengkritik berbagai kebijakan SBY yang pro asing, utamanya kalau itu juga menyangkut kepentingan Yahudi-AS. Sebagai contoh, lahirnya UU Migas yang jelas-jelas menguntungkan asing dan merugikan negara. Dalam salah satu artikel berjudul “Selamatkan Sektor Migas Indonesia” yang terdapat di http://www.theglobalreview.com dikemukakan: “Terbukti bahwa dalam penyusunan UU Minyak dan Gas Bumi yang kemudian kita kenal sebagai UU No. 22/2001, ternyata AS melalui USAID, telah mengalirkan dana sebesar Rp 200 miliar atau US$ 21,1 juta. Sungguh suatu skandal berskala nasional, apalagi jika kelak terbukti melibatkan sejumlah anggota DPR.”

Selain itu, penandatanganan Joint Operating Agreement (JOA) Blok Cepu (15-3-2006) yang menetapkan Exxon Mobil pada posisi puncak dalam organisasi pengelola Blok Cepu setelah sebelumnya juga dilakukan Kontrak Kerja Sama (KKS) pada 17-9-2005 (KKS memperpanjang keikutsertaan ExxonMobil dalam pengelolaan Blok Cepu hingga 2035) menunjukkan betapa kuatnya pengaruh AS dengan paham neoliberalisme dan kapitalisme mereka dalam percaturan ekonomi Indonesia. Padahal, sebagaimana dikemukakan Marwan Batubara dalam pengantar bukunya Tragedi dan Ironi Blok Cepu, sangat sulit untuk diterima ketika Indonesia didera krisis energi, terutama BBM (yang dijadikan alasan pemerintah menaikkan harga BBM), kita justru membagi cadangan minyak dan gas alam yang amat besar kepada pihak asing (sebagai catatan, konsumsi minyak Indonesia sekitar 1,3 juta barel per hari). Padahal, Blok Cepu yang mengandung minyak potensial hingga 2,6 miliar barel dan gas alam 14 triliun kaki kubik bisa dikelola sendiri oleh Pertamina.

Disamping itu, Freeport diperpanjang masa kontraknya selama 95 tahun ke depan di masa Presiden SBY yang mana hal ini dapat diduga sebagai salah satu bentuk kompensasi Pemerintah SBY kepada AS untuk didukung penuh menjadi Presiden RI, atau bertujuan agar tidak diganggu oleh jaringan Yahudi-AS selama SBY menjabat Presiden dan tetap langgeng menjadi antek AS?.

Masalah lainnya adalah bailout Rp 6,7 triliun Bank Century. Aneh, mengapa Presiden SBY mengeluarkan Perpu No. 4 tahun 2008 tentang JPSK (Jaring Pengaman Sistem Keuangan) yang dalam salah satu pasalnya, yaitu Pasal 29, memberikan hak perlindungan hukum penuh atau menjadikan Gubernur BI (saat itu dijabat Boediono) dan Menteri Keuangan (saat itu dijabat Sri Mulyani) kebal hukum, sehingga mereka dalam menjalankan tugasnya tidak dapat dihukum/dipidanakan. Hal ini sungguh aneh dan sangat bertentangan dengan Pasal 27 ayat 1 UUD 1945.

“Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.”

Bahkan, keputusan politik DPR yang menyatakan bahwa Boediono dan Sri Mulyani bersalah, ditanggapi “dingin” oleh SBY, tidak ada keinginan untuk memberhentikan keduanya meskipun dukungan data-data faktual dari hasil audit kertas kerja pemeriksaan keuangan dari BPK dan hasil analisis berupa kertas kerja dari PPATK mengungkapkan adanya masalah (pelanggaran) dalam pengucuran dana bailout Rp 6,7 T Bank Century. Ironisnya lagi, alih-alih dituntut untuk memberhentikan keduanya, SBY malah memberikan restu kepada Sri Mulyani yang mendapatkan tawaran sebagai direksi dari Bank Dunia. Tentunya jabatan tsb akan menjadikan Sri Mulyani sebagai TKW Indonesia termahal dalam sejarah Indonesia.

Kebijakan bailout Bank Century tidaklah tepat jika yang dijadikan alasan adalah untuk mencegah perekonomian Indonesia dari dampak krisis ekonomi global yang berpusat di AS. Oleh sebab itu, bailout tsb jelas-jelas merupakan tindakan penyalahgunaan wewenang dan pemborosan terhadap uang negara/rakyat. Benar ucapan Jusuf Kalla ketika itu dengan menyatakan bahwa hal itu sesungguhnya adalah bentuk perampokan terhadap uang negara. Namun sayangnya, statement perampokan dari JK tidak ditindaklanjuti oleh DPR RI untuk membongkar kasus tsb sampai ditemukan aktor intelektualnya. Seharusnya DPR RI mengajukan kasus itu ke MK untuk mengimpeach Presiden SBY karena ia telah melanggar UUD’45 (lihat perubahan ke-4 UUD’45 Pasal 7B ayat 1).

Pelanggaran yang dimaksud bisa dikaitkan dengan tindakan SBY yang mengeluarkan Perpu No. 4 Tahun 2008 tentang JPSK sehingga membawa kerugian negara. Disisi lain, mestinya KPK segera mengusutnya lebih jauh dan tegas untuk membongkar sampai terlihat aktor intelektualnya, atau dengan kata lain memeriksa SBY sebagai Presiden yang mengetahui persis pengeluaran uang negara sampai 6,7 T lewat kebijakan Menkeu. Bagaimana mungkin Presiden tidak tahu Menkeu mengambil kebijakan? Bukankah Menkeu bertanggung jawab terhadap Presiden? Untuk itulah, sangat logis dan patut Presiden diperiksa untuk dimintai pertanggung jawabannya, baik melalui impeachment oleh DPR sesuai Pasal 7b ayat (1) UUD 1945 ataupun oleh KPK.

SBY

Selain masalah Freeport dan Bank Century yang tidak tuntas, belakangan banyak sumber daya alam Indonesia yang diobral murah kepada pihak asing yang merupakan networking dari Pemerintah AS. Isu terakhir misalnya perihal penjualan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) PT. Krakatau Steel (KS) dengan harga yang terlalu murah. Perusahaan milik negara di bidang industri baja ini menawarkan sahamnya ke publik sebesar Rp 850 per saham, dari kisaran harga yang ditetapkan sebesar Rp 800 – Rp 1050 per lembar. Harga penawaran umum perdana KS ditengarai bisa mencapai Rp 1150 per saham.

Murahnya harga saham BUMN tsb disebut-disebut terkait dengan tuntutan dan permintaan kalangan investor asing. Padahal, seharusnya KS diperkuat untuk kepentingan nasional. Lebih dari itu, jalan KS ke lantai bursa juga diselimuti isu-isu terkait pesanan saham para pejabat dan politisi. Bahkan, Amien Rais sampai menuding harga saham KS bisa menjadi skandal yang lebih besar dibanding skandal Bank Century, karena menjual aset negara dengan harga murah.

Hampir seluruh sumber daya alam milik bangsa/rakyat Indonesia sudah tergadaikan. Dengan demikian, terjadilah kemiskinan struktural sebagai akibat dari kebijakan Pemerintah SBY yang bercirikan neoliberalisme dan kapitalisme serakah. Semua itu tentulah dibawah kendali AS melalui paham kesepakatan Washington (Washington Consensus).

Tidak hanya itu, proyek Naval Medical Research Unit 2 (NAMRU-2) disinyalir menjadi sarang agen-agen intelijen asing. Adalah Siti Fadilah Supari, Menkes RI ketika itu, sukses membongkar rahasia NAMRU-2 di Indonesia. Rupanya NAMRU-2 merupakan bagian dari setting konspirasi internasional guna menguasai virus dan kesehatan penduduk dunia dengan melibatkan WHO.

Siti Fadilah Supari

Yang menarik, salah seorang peneliti utama di Balitbang Depkes RI bernama Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih diduga terlibat dalam jaringan konspirasi AS tsb. Endang pernah membawa virus H5N1 (flu burung) ke Hanoi, Vietnam, tanpa seizin Menkes. Alhasil, doktor lulusan Harvard School of Public Health, Boston, AS tsb diturunkan dari peneliti utama ke peneliti biasa oleh Menkes Siti Fadilah Supari. Tidak hanya itu, Fadilah Supari juga menghentikan kerjasama dengan NAMRU-2 pada 16-10-2009.

Lucunya, pada Kabinet Indonesia Bersatu II 2009-2014, SBY justru mengangkat Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai Menkes yang menggantikan Siti Fadilah Supari. Hal ini membuktikan sekali lagi betapa terangnya keberpihakan SBY kepada Yahudi AS. Atau hal ini menjadi indikasi nyata bahwa SBY memang bagian dari jaringan Yahudi AS itu.

Menurut Eggi Sudjana, semua kebijakan SBY yang pro Yahudi-AS sulit untuk dibantah jika kita pernah menyimak apa yang pernah dikatakan SBY sbb: “I love the United State, with all its faults. I consider it my second country.”, yang bila diterjemahkan artinya: “Saya mencintai AS dengan segala kesalahannya. Saya anggap AS adalah negeri kedua saya.” Ucapan demikian disampaikan SBY ketika ia menjadi Menko Polkam pada era Presiden Megawati. Ucapan ini boleh jadi waktu itu untuk memperoleh credit point dari AS agar kelak jadi Presiden RI. Karena pada waktu itu ada suasana untuk pergantian kepemimpinan/Presiden RI.

Oleh karenanya, dengan strategi demikian SBY ternyata berhasil menjadi Presiden RI yang tentunya dapat dukungan penuh dari AS, dan partai SBY pun dinamakan Partai Demokrat yang namanya sama dengan Partai Demokrat di AS.

Nampak pada gambar kiri bawah, 3 penyanyi papan atas AS; Jay-Z, Kenya West, dan Rihanna membentuk kedua tangannya dengan gambar Piramida yang merupakan simbol kelompok pemuja setan (Freemason/Illuminati) [lihat gambar kiri atas] yang juga merupakan simbol bintang Zionis-Yahudi (lambang negara Israel) [lihat gambar kanan atas]; yang mana hal yang sama dilakukan SBY pada gambar kanan bawah. Mungkinkah lambang Partai Demokrat memiliki keterkaitan dengan lambang bintang Zionis-Yahudi?

Sebelum Obama menjadi Presiden AS, ia menyatakan di depan konfrensi lobi Yahudi AIPAC, Yerusalem sebagai ibukota Israel Raya untuk selamanya (“Undivided Jerusalem, the Capital of Israel for all Eternity). Bahkan Obama mengatakan bahwa “Yerusalem tidak boleh terpisah, dia harus menjadi ibukota Israel”. Dia mengatakan pula jika menjadi Presiden, AS akan bahu membahu dengan Israel. Para anggota AIPAC melakukan applaus setelah mendengar 15 menit orasi Obama, yang mana hal ini dapat diduga untuk menarik dukungan kaum Yahudi, sehingga bila dihubungkan dengan pernyataan SBY, logikanya SBY meminta restu dukungan Pemerintah AS, sedangkan Obama minta dukungan lobi Yahudi yang pusatnya di Israel, atau dengan kata lain, bahwa AS adalah Israel besar dan Israel adalah AS kecil.

Obama & SBY

Bagi Eggi Sudjana, ucapan SBY ini sebagai wujud bahwa ia memperhambakan dirinya kepada dan untuk kepentingan AS dan sekutunya di Indonesia. Kepentingan mereka diatas kepentingan bangsa Indonesia. Sejak Soeharto lengser, tidak ada calon Presiden lain yang memberikan pernyataan demikian, kecuali SBY. Pernyataan SBY ini pun harus dipertanyakan arti dan maksudnya apa? Sebagai catatan, tentunya kita juga mafhum kalau kekuatan lobi Yahudi mempunyai pengaruh besar untuk mempengaruhi berbagai kebijakan setiap rezim AS, dan kita juga tahu kalau Yahudi selalu memegang prinsip sebagai bangsa yang chauvinis, sehingga memandang rendah dan hina bangsa lain.

Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas, masih banyak kejanggalan-kejanggalan lain yang disebutkan Eggi Sudjana dalam buku “SBY Antek Yahudi-AS?”. Selain itu, sang pendengung Revolusi tsb, dalam bukunya juga banyak membahas tentang sepak terjang Yahudi dalam menghancurkan dunia, utamanya Indonesia yang dimulai dari menjatuhkan Soekarno lewat PKI sampai akhirnya menjajah Indonesia lewat perusahan-perusahaannya yang berhasil mengeruk amat sangat banyak sumber daya alam kita.

Maka dari itu, melihat isinya yang sangat berbobot penuh pengetahuan, maka menurut saya buku ini termasuk kategori “WAJIB UNTUK DIBACA!!!”.

Inilah buku “SBY Antek Yahudi-AS” karya Eggi Sudjana

Sumber: Eggi Sudjana, SBY Antek Yahudi-AS? Suatu Kondisional Menuju Revolusi, Ummacom Press, Tangerang, 2011.

wb: mattula_ada@live.com

Iklan
21 Mei 2012

Lima Tips Mencari Penerbit

by: Johan Wahyudi

Jika mau bersikap jujur, semua penulis pasti berkeinginan agar tulisan-tulisannya dapat dibukukan. Jika sekadar berbentuk lembaran naskah, tentu kebermanfaatannya kurang. Setidaknya perawatannya menjadi lebih sulit. Naskah itu mudah hilang atau kotor atau terkena virus. Jika naskah itu kurang bernilai, tentu penulis tidak merasa begitu kehilangan. Namun, penulis akan menyesali keteledorannya yang teramat sangat jika naskah itu begitu pentingnya.

Bagi penulis buku pemula, tentu dirinya akan merasa canggung atau malu. Penulis merasa bahwa naskahnya kurang bagus. Anggapan itu tentu akan berdampak pada rasa percaya diri. Penulis menjadi enggan untuk mencoba menggali informasi penerbit. Dan jika rasa itu terus dipelihara, penulis itu sudah menciptakan kegagalan baginya. Maka, seorang calon penulis harus mempunyai keyakinan dan keteguhan hati bahwa naskahnya adalah naskah terbaik.

Rasa kebanggaan itu akan berdampak positif ketika naskah itu ditawarkan kepada penerbit. Setiap penerbit pasti mewawancarai atau menanyakan kelebihan naskah penulis. Penerbit akan menyukai tulisan-tulisan inspiratif, berisi, dan sarat manfaat. Bukan sekadar tulisan yang berisi keluh kesah atau rasa diri.

Berkenaan dengan kondisi demikian, saya akan berbagi tips tentang strategi atau teknik menawarkan naskah kepada penerbit. Teramat kebetulan, dua jenis tulisanku di kompasiana dilirik penerbit untuk dijadikan buku. Dua jenis itu adalah opiniku tentang dunia pendidikan dan artikel tentang teknik penulisan buku. Ada lima tips yang perlu diperhatikan para penulis untuk menawarkan tulisannya, yaitu:

1. Perhatikan jenis produk buku yang dihasilkan penerbit. Setiap penerbit sudah mempunyai ciri khusus tentang produknya. Apakah penerbit itu menerbitkan buku sekolah, buku bahan ajar, buku life skill, atau buku-buku motivasi? Ketepatan pemilihan penerbit akan menjadi awal kesuksesan penulis.

2. Susunlah tulisan dalam bentuk mind set yang apik dan unik. Maksudnya, buatlah kerangka buku yang berbentuk daftar isi. Kerangka alur pengembangan dan materi akan menjadi daya tarik pihak editor ketika membaca tulisan kita. Editor penerbit belum perlu membaca keseluruhan isi. Biasanya editor cukup memperhatikan kemahiran penulis dengan membaca kerangka buku yang disusunnya.

3. Berikanlah gambaran atau deskripsi kelebihan buku secara komprehensif. Yakinkanlah bahwa naskah kita adalah naskah terbaik. Jarang ada naskah buku sebagaimana tulisan kita. Penulis harus meyakini naskahnya dan meyakinkan penerbit disertai dengan data-data. Maka, akan lebih baik jika penulis menggunakan beberapa contoh buku lain sebagai pembanding.

4. Berikanlah hard copy atau cetakan. Hendaknya penulis berhati-hati. Sebaiknya penulis memberikan naskah cetakan dan bukan soft copy. Mengapa? Karena ada juga beberapa penerbit nakal. Karena keteledoran penulis dengan memberikan soft copy, penerbit kadang mengubah nama penulis tanpa pemberitahuan. Oleh karena itu, mintalah bukti penerimaan naskah yang diberi stempel perusahaan atau penerbit. Bukti penerimaan itu dapat digunakan untuk menjadi barang bukti jika terjadi masalah di kemudian hari (mudah-mudahan tidak, ya)

5. Rajin-rajinlah bersilaturahmi dengan penulis senior. Gemarlah berdiskusi dengannya. Mintalah saran dan nasihatnya atas kualitas tulisan kita. Terimalah kritikan atau sarannya dengan senang hati. Hendaknya calon penulis buku menjauhi sikap resisten atau kebal kritik. Dari perhatian penulis senior itulah, penulis pemula akan mulai mendapatkan angin segar menuju penulis profesional.

Sebenarnya saya telah menuliskan cukup banyak tips yang berhubungan dengan penerbit. Namun, ternyata masih banyak rekan-rekan menanyakannya melalui email atau inbox. Oleh karena itu, mudah-mudahan tulisan ini dapat menjadi jawaban karena saya tidak mungkin membalas pesan-pesan satu persatu. Semoga sekadar tulisan ini bermanfaat. Amin. Terima kasih.

pb: mattula_ada@live.com

9 Maret 2012

Buku Literasi Media

Berikut berita yang dilansir oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI):

Buku Literasi Media Program literasi media televisi yang salah satunya dalam bentuk penulisan buku panduna ini adalah satu program strategis dalam rangka menciptakan duta KPI untuk membantu dalam memperbaiki isi siaran di televisi kita. Hal ini dikarenakan adanya kesadaran penuh dari KPI yang tidak mungkin untuk menciptakn media yang sehat dengan tanpa bantuan dari khalayak. Apabila khalayak sudah dapat mengkritisi isi siaran media penyiaran televisi, maka secara otomatis perbaikan dan penyehatan isi siaran media penyiaran televisi akan berjalan dengan lebih baik dan efektif, sehingga dapat menciptakan martabat dan moral bangsa yang semakin baik.

Dengan adanya buku ini diharapkan dapat bermanfaat bagi seluruh elemen masyarakat dan dapat membantu kekeosongan bahan literasi media yang selama ini masih minim dan belum dikenal oleh masyarakat Indonesia.

Silahakan klik disini untuk download buku literasi media

Sumber: http://www.kpi.go.id

pb: mattula_ada@live.com

9 Maret 2012

Terungkapnya Hubungan ‘Spesial’ Malaysia – Yahudi

by: Mattula’ada

Sungguh sangat mengejutkan! Ternyata Malaysia memiliki hubungan erat dengan Yahudi dalam berbagai hal! Hal ini tergambar dalam buku “Perjanjian Rahasia Malaysia Yahudi” karya Mircea Windham.

Gambar: Portal Malaysia Jews: http://www.kosherdelight.com/Malaysia.htm

Begitu membaca Bab Pendahuluan, kita langsung dihentak dengan kalimat “Jika mengikut kajian DNA secara acak, ternyata bangsa Melayu mempunyai kesamaan sebanyak 25% dengan bangsa Yahudi”. Selain itu, banyak lagi kalimat lain yang dapat semakin membuat pembaca buku tsb menjadi terhenyak. Berikut saya ambil intisarinya:

– Para pemimpin UMNO (partai paling berpengaruh di Malaysia), khususnya PM Tun Razak, menggunakan konsultan APCO Worldwide yang mempunyai kaitan dengan Zionis dan Neo Konservatif AS. Kerjasama ini menjadikan Malaysia adalah satu-satunya klien APCO yang berbentuk lembaga negara.

– Dibalik kepentingan Inggris di Malaya terselip kepentingan Yahudi melalui Lord Hastings. Kepentingan itu nyata saat Israel terlibat pada pemerintahan Singapura 147 tahun setelahnya, saat Singapura yang menjadi bagian dari Federasi Malaysia diberi kemerdekaannya.

– Gerald Templer (seorang keturunan Yahudi) yang banyak berjasa dalam mengatasi pemberontak komunis di Malaysia terlibat aktif dalam pembentukan federasi Malaya.

– Dengan berakhirnya konfrontasi antara Indonesia-Malaysia di era Soekarno, maka kepentingan-kepentingan ekonomi bangsa barat yang dikendalikan Yahudi di Selat Malaka semakin diuntungkan.

– Pada 1963, ada 20 keluarga Yahudi yang tinggal di Malaya. Saat ini, ada sekitar 100 orang Yahudi yang berada di Malaysia, yang sebagian besar adalah pengungsi dari Rusia. Salah satu peninggalan mereka adanya Sinagog dan kuburan Yahudi yang terletak di Penang.

– Malaysia-Israel menjalin kontak ekonomi. Kedua negara terlibat dalam kegiatan ekspor-impor yang menyentuh angka jutaan dollar AS.

– UMNO pernah membayar jutaan ringgit ke sebuah perusahaan Yahudi, Satchi & Satchi untuk membantu Mahathir memenangkan strategi pemilu 1986.

– Reaksi keras dari umat Islam Malaysia sewaktu pesawat Israel melintasi ruang udara Malaysia tidak dihiraukan oleh Mahathir.

– Para petinggi Malaysia beberapa kali terlibat pembicaraan dengan para petinggi Israel. Salah satunya antara Mahathir dengan Yithzak Rabin di Prancis. Berita yang dilansir oleh TV Israel dan AFP ini dibantah Mahathir dengan alasan yang mengada-ada.

– Di bulan Desember 1986, Mahathir menyerukan negara-negara Arab untuk tidak berperang dengan Israel, dengan alasan perang bukanlah jalan terbaik menyelesaikan masalah.

– Atas prakarsa Mahathir, perkampungan ‘Hollywood’ dibuat di Cyberjaya dengan bantuan orang-orang Yahudi.

– Pada 16-8-1999, Mahathir mengucapkan selamat kepada Ehud Barak yang baru dilantik menjadi PM Israel.

– Pada 16-6-2009, Menhan Malaysia (Zahid Hamidi) bertemu dengan Menhan Israel (Ehud Barak), dimana pada waktu itu Zahidi meminta agar tidak ada tukang foto.

– Pada 1986 Mahathir mengadakan pertemuan rahasia dengan Henry Kissinger, seorang Yahudi Amerika yang merupakan pengusaha AS serta penasihat strategi Israel. Berkat nasihatnya, Mahathir Muhammad berhasil menjabat sebagai PM Malaysia selama 22 tahun sejak 1981 hingga 2003.

– Pengangkatan Mahathir menjadi PM tidak terlepas dari lobi-lobi Yahudi. Beberapa ahli Freemason telah menjadi pekerja partai UMNO sejak 1974.

– Pemerintah Malaysia tidak melarang berdirinya perkumpulan Freemason di Malaysia, walau mendapat kecaman dari umat Islam disana, sehingga gerakan ini semakin berkembang. Sejak 1977, gerakan Freemason Malaysia telah memiliki 55 perkumpulan (lodges) dan 2.984 anggota.

– Pada tahun 1800-an James Brooke yang merupakan anggota Freemason diangkat menjadi Raja Sarawak oleh Sultan Brunei, dan berhak memerintah dan mengendalikan negeri Sarawak.

– Secara global, para pemimpin teras Malaysia baik Pemerintah maupun oposisi tidak bisa lepas dari kisah bersama agen Israel. Mahatir Muhammad sebagai petinggi partai UMNO dan mantan pejabat tinggi Malaysia memiliki koneksi dekat dengan Henry Kissinger, seorang yahudi pro Israel dan Anwar Ibrahim juga punya koneksi dengan Paul Wolfowitz, seorang agen Mossad.

Sumber: Mircea Windham, Perjanjian Rahasia Malaysia Yahudi, Pustaka Solomon, Yogyakarta, 2010

wb: mattula_ada@live.com