Posts tagged ‘AS’

28 Mei 2012

Kebiadaban NATO Makin Merajalela di Afghanistan!

by: Nurdin Tgk. Abd. Gani

Pasukan AS sebagai pemimpin koalisi di Afghanistan kembali melakukan kebiadabannya terhadap warga sipil Afghanistan,sebagaimana dilaporkan oleh Ruhullah Samon Jubir pemerintahan dari Propinsi Paktia. Menurut informasi yang diliput oleh BBC London,Minggu 27 Mei 2012 bahwa pasukan NATO pimpinan AS  kembali melakukan kebiadabannya dengan memborbardir membabi buta terhadap sebuah desa di Paktia, Afghanista  Timur.

Serangan maut yang dilakukan AS dan sekutunya pukul 20.00 waktu setempat terhadap sebuah desa Suri Khail yang menewaskan Shafi, isterinya berserta keenam anak-anaknya meskipun mereka tidak terkait sama sekali  dengan para pejuang Thaliban,ujar Ruhullah Samon pula kepada AFP.

Mendengar tragedi yang kesekian kali terjadi terhadap warga sipil Afghanistan ,bisa dipastikan sebagaimana biasanya para petinggi Afghansitan di kabul dan juga para komandan NATO/ISAF segera berembuk,untuk menanggapi masalah tersebut. Prewsiden Hamid Karzai marah-marah,lalu kemudian diam lagi pasca Obama minta maaf dengan sedikit janji akan memeriksanya dengan aturannya sendiri.

Jika diurut kebelakang sedikit,maka kelihatan jelas bagaimana kejamnya pasukan NATO pimpinan AS terhadap warga sipil Afghanistan. Padahal belum hilang di ingatan kita betapa sadisnya pasukan AS ketika dini hari membantai warga sipil Afganistan yang menewaskan 18 orang di propinsi Logar,Kapisa,Helmand dan Badghis.

One of the victims killed by the US soldiers

Hal semacam itu selalu terulang kembali,tetapi bagi pasukan AS dan sekutunya sepertinya mereka tidak pernah menngambil sesuatu pembelajaran masa lalu.Soalnya meskipun mendapat kutukan dri berbagai kebiadaban ,tetapi pasukan AS dan sekutunya masih juga melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum -hukum internasional,serta tidak akan mengulanginya lagi.

Para tentara AS pada saat sedang mengencingi mayat warga Afganistan

Menurut informasi yang dapat dipercaya,bahwa pada  tahun 2011 saja sekitar  3021 orang warga Afghanistan  tewas karena serangan membabi buta yang dilakukan oleh pasukan NATO.Membakar Al Qur’an di penjara Balgram,utara Kabul.Memang betapapun kejahatan perang yang dilakukan oleh pasukan AS di berbagai event ,akan tetapi ICC tidak bisa menangkapi atau m,engdilinya karena Washington tidak mengakui ICC tersebut.Nah ini pula yang menyebabkan pasukan AS semakin arogan dan mengabaikan aturan-aturan hukum internasional.

pb: mattula_ada@live.com

Iklan
28 Mei 2012

Kekejaman Tentara AS di Afganistan!

by: Novel Attamimi

Selama 5 bulan pertama tahun 2010, satu peleton tentara AS di Afghanistan pergi melakukan penembakan untuk kesenangan mereka, menewaskan sedikitnya 4 warga sipil tak bersenjata dan memutilasi beberapa mayat korban.

“Tim pembunuh” tersebut adalah anggota dari Brigade Kendaran Lapis Baja Stryker ke-5 yang ditempatkan dekat Kandahar, Afghanistan, kemudian mereka mengambil puluhan foto pembunuhan tersebut dan lain-lainnya.

Sebelum kejahatan perang yang dilakukan tentara AS tersebut terkuak ke publik, Pentagon (Departemen Pertahanan AS) melakukan langkah-langkah yang luar biasa untuk mencegah foto-foto tersebut agar tak tersebar ke publik, mencari setiap foto-foto yang ada dan menarik dari peredaran agar tak terjadi skandal besar seperti skandal Abu Ghraib.

Lebih dari 150 foto-foto yang telah diperoleh majalah Rolling Stone, menggambarkan kebiasaan tentara AS yang membunuh warga sipil yang tak berdosa untuk kesenangan mereka. ”Kebanyakan anggota tentara di unit ini tidak menyukai orang-orang Afghanistan,” kata seorang tentara kepada para penyelidik militer AS. “Setiap anggota unit akan mengatakan bahwa mereka (orang-orang Afganistan) adalah orang-orang liar.”

Banyak foto yang menggambarkan pembunuhan tersebut yang belum diidentifikasi oleh Pentagon. Di kalangan para prajurit AS, koleksi foto-foto semacam itu oleh mereka diperlakukan sebagai kenang-kenangan.

Sewaktu istrirahat, para prajurit AS mengambil foto diri mereka untuk merayakan pembunuhan mereka. Pada foto di atas, tampak kopral Jeremy Morlock (21 tahun) menyeringai dan mengacungkan jempolnya saat ia berpose dekat mayat Gul Mudin (15 tahun). Perhatikan, jari kanan anak tersebut tampak telah terputus. Sersan kepala Calvin Gibbs melaporkan bahwa jari tangan anak itu dipotong dengan menggunakan gunting yang tajam kemudian jari tangan itu oleh Morlock diberikan kepada Andrew Holmes sebagai “piala” penghargaan atas pembunuhan pertama yang dilakukan oleh Holmes. Mudin mengenakan topi kecil dan jaket hijau gaya Barat. Dia tak memegang apa-apa di tangannya yang bisa diduga sebagai senjata, juga tidak memegang sekop. Ekspresi wajahnya ramah. “Dia bukan ancaman,” Morlock mengaku kemudian.

Kopral Jeremy Morlock bersama Sersan Kepala David Bram.
(Cpl. Jeremy Morlock with Staff Sgt. David Bram)
Kopral Jeremy Morlock dengan pistol yang ditemukan di tempat kejadian.
(Cpl. Jeremy Morlock with the pistol found at the scene)

Walaupun Morlock telah bergabung dengan Angkatan Darat AS, ia terus mendapat masalah. Pada tahun 2009, sebulan sebelum ia dikirim ke Afghanistan, ia dituduh melakukan kekerasan, menyundut istrinya dengan rokok. Setelah ia tiba di Afghanistan, ia kedapatan membawa opium, ganja, Ambien, amitriptyline, flexeril, Phenergan, codeine, trazodone.

Morlock berpose bersama seorang anak Afghanistan. Foto-foto yang dikoleksi oleh tentara AS termasuk banyak foto anak-anak penduduk setempat, dan juga menampilkan korban berdarah anak-anak. Di suatu tempat, tentara Peleton 3 dari kendaran lapis baja Stryker melempar keluar permen saat mereka berkendara melalui sebuah desa dan kemudian mereka menembaki anak-anak yang datang berlari untuk memungut permen.

Seorang tentara tak dikenal di samping puing-puing sebuah truk Polisi Nasional Afghanistan yang telah diledakkan dekat gerbang pangkalan. Di dalam truk tersebut, Sersan Kepala Gibbs menemukan sebuah senjata AK-47 dengan popor lipat dan 2 majalah. Menurut saksi, Gibbs meletakkan AK-47 dan majalah tersebut ke dalam sebuah kotak logam di salah satu kendaran lapis baja Strykers dan kemudian menggunakannya untuk membingkai 2 warga sipil tidak bersenjata yang dibunuh oleh pasukan AS yang dianggap sebagai musuh.

Didalam proses memblokir foto-foto tersebut, Angkatan Darat AS mungkin juga telah berusaha menjaga kerahasiaan kejadian pembunuhan warga sipil yang dilakukan oleh beberapa anggota Peleton 3. Dalam foto di atas, mayat 2 orang Afganistan diikat tangannya bersama-sama, dan diletakkan disamping jalan.

Sebuah tanda, tulisan tangan di atas karton boks, digantungkan ke leher orang mati. Tulisannya : TALIBAN MATI. Menurut sumber unit militer Bravo, korban-korban tersebut dibunuh oleh peleton lain, yang sebelumnya tidak pernah terlibat skandal itu. “Korban pembunuhan tersebut adalah beberapa petani yang tak bersalah,” menurut sumber tersebut. “Prosedur standar operasi mereka, setelah membunuh para korban, korban di seret ke sisi jalan.”

Koleksi foto-foto juga termasuk lusinan foto korban tak dikenal, seperti juga dengan kepala orang terpenggal yang tampak di foto di atas. Di dalam banyak foto, tidak jelas apakah korban adalah warga sipil atau anggota Taliban. Kemungkinan bahwa para korban tak dikenal tidak ada hubungannya dengan perbuatan Peleton 3, dan tak melibatkan aksi ilegal tentara Amerika. Namun mengambil foto korban tersebut dan berbagi dengan orang lain, jelas merupakan pelanggaran norma-norma Angkatan Darat Amerika.

Sebelum terjadinya pembunuhan terhadap Mudin, di bulan Nopember 2009 unit militer Baravo dikirim untuk memulihkan tubuh seorang pemberontak yang terbunuh oleh roket helikopter tempur. Ketika mereka mengumpulkan sisa-sisa tubuhnya. seperti yang terlihat pada foto di atas, salah satu dari mereka mengeluarkan pisau berburu lalu menikamkannya ke mayat tersebut. Sersan kepala Gibbs yang baru saja bergabung dengan peleton tersebut sebagai pemimpin pasukan, bermain dengan gunting di dekat jari mayat tersebut. “Aku ingin tahu apakah gunting ini bisa memotong jari ?” tanya Gibbs.

AS MINTA MAAF SOAL FOTO KONTROVERSIAL

WASHINGTON DC — Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) menyampaikan permintaan maaf secara resmi atas foto kontroversial sejumlah personel AS di Afghanistan. Foto itu menunjukkan para personel tersebut berpose dengan para korban warga sipil Afghanistan

Dalam pernyataannya, Angkatan Darat AS menyebutkan foto yang dimuat di majalah Rolling Stone dan Der Spiegel itu sangat mengganggu dan bertentangan dengan aspek kemanusiaan. Foto-foto itu diperkirakan dibuat 2010 saat para personel “nakal” bertugas di Afghanistan

Menurut BBC, militer AS juga telah mengadili mereka yang diduga terlibat dalam kasus ini. Salah satu pelakunya adalah Jeremy Morlock yang dihukum 24 tahun. Mor lock mengajukan keringanan hukuman 2 hari setelah harian Jerman, Der Spiegel menerbitkan tulisan secara perinci penembakan oleh Morlock bersama serdadu AS lainnya di Afghanistan. Der Spiegel menampilkan foto Morlock bersama jenazah pria yang baru dibunuhnya Januari 2010.

Menurut Eric Bates, editor eksekutif majalah Rolling Stone, pihaknya memiliki sekitar 150 foto sejenis dan 17 lainnya. Pihaknya telah menayangkan dua rekaman video serangan militer AS di Afghanistan.

Der Spiegel juga mengaku memiliki sekitar 4.000 foto atau rekaman video sejenis. Beberapa foto memperlihatkan 2 prajurit berlutut di dekat tubuh warga Afghanistan yang tewas. Pose lain memperlihatkan serdadu AS menjambak rambut warga Afghanistan yang tewas Salah satu tentara AS meringis menyaksikan adegan itu.

Angkatan Darat AS akan mencari informasi lebih jauh guna mengungkap kebenaran meski harus berisiko menghadapi investigasi yang melelahkan dan sulit. Foto di Rolling Stone sungguh menyulitkan dan bertentangan dengan standar norma di Angkatan Darat AS, kata siaran pers Pentagon yang dikutip USA Today.

Penayangan foto itu kian mempertajam rasa benci antara rakyat Afghanistan dan pemerintahannya sendiri ataupun pasukan koalisi pimpinan AS di sisi lain. (Sumber: Koran Republika).

pb: mattula_ada@live.com

26 Mei 2012

SBY Antek Yahudi-AS?

by: Mattula’ada

Itulah judul buku karya Dr. Eggi Sudjana, SH, MSi; mantan aktivis HMI yang saat ini memiliki kantor Law Firm sendiri bernama “Eggi Sudjana & Partners” sejak Maret 2004.

Eggi Sudjana

Buku yang terbilang sangat berani ini, mengkritik berbagai kebijakan SBY yang pro asing, utamanya kalau itu juga menyangkut kepentingan Yahudi-AS. Sebagai contoh, lahirnya UU Migas yang jelas-jelas menguntungkan asing dan merugikan negara. Dalam salah satu artikel berjudul “Selamatkan Sektor Migas Indonesia” yang terdapat di http://www.theglobalreview.com dikemukakan: “Terbukti bahwa dalam penyusunan UU Minyak dan Gas Bumi yang kemudian kita kenal sebagai UU No. 22/2001, ternyata AS melalui USAID, telah mengalirkan dana sebesar Rp 200 miliar atau US$ 21,1 juta. Sungguh suatu skandal berskala nasional, apalagi jika kelak terbukti melibatkan sejumlah anggota DPR.”

Selain itu, penandatanganan Joint Operating Agreement (JOA) Blok Cepu (15-3-2006) yang menetapkan Exxon Mobil pada posisi puncak dalam organisasi pengelola Blok Cepu setelah sebelumnya juga dilakukan Kontrak Kerja Sama (KKS) pada 17-9-2005 (KKS memperpanjang keikutsertaan ExxonMobil dalam pengelolaan Blok Cepu hingga 2035) menunjukkan betapa kuatnya pengaruh AS dengan paham neoliberalisme dan kapitalisme mereka dalam percaturan ekonomi Indonesia. Padahal, sebagaimana dikemukakan Marwan Batubara dalam pengantar bukunya Tragedi dan Ironi Blok Cepu, sangat sulit untuk diterima ketika Indonesia didera krisis energi, terutama BBM (yang dijadikan alasan pemerintah menaikkan harga BBM), kita justru membagi cadangan minyak dan gas alam yang amat besar kepada pihak asing (sebagai catatan, konsumsi minyak Indonesia sekitar 1,3 juta barel per hari). Padahal, Blok Cepu yang mengandung minyak potensial hingga 2,6 miliar barel dan gas alam 14 triliun kaki kubik bisa dikelola sendiri oleh Pertamina.

Disamping itu, Freeport diperpanjang masa kontraknya selama 95 tahun ke depan di masa Presiden SBY yang mana hal ini dapat diduga sebagai salah satu bentuk kompensasi Pemerintah SBY kepada AS untuk didukung penuh menjadi Presiden RI, atau bertujuan agar tidak diganggu oleh jaringan Yahudi-AS selama SBY menjabat Presiden dan tetap langgeng menjadi antek AS?.

Masalah lainnya adalah bailout Rp 6,7 triliun Bank Century. Aneh, mengapa Presiden SBY mengeluarkan Perpu No. 4 tahun 2008 tentang JPSK (Jaring Pengaman Sistem Keuangan) yang dalam salah satu pasalnya, yaitu Pasal 29, memberikan hak perlindungan hukum penuh atau menjadikan Gubernur BI (saat itu dijabat Boediono) dan Menteri Keuangan (saat itu dijabat Sri Mulyani) kebal hukum, sehingga mereka dalam menjalankan tugasnya tidak dapat dihukum/dipidanakan. Hal ini sungguh aneh dan sangat bertentangan dengan Pasal 27 ayat 1 UUD 1945.

“Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.”

Bahkan, keputusan politik DPR yang menyatakan bahwa Boediono dan Sri Mulyani bersalah, ditanggapi “dingin” oleh SBY, tidak ada keinginan untuk memberhentikan keduanya meskipun dukungan data-data faktual dari hasil audit kertas kerja pemeriksaan keuangan dari BPK dan hasil analisis berupa kertas kerja dari PPATK mengungkapkan adanya masalah (pelanggaran) dalam pengucuran dana bailout Rp 6,7 T Bank Century. Ironisnya lagi, alih-alih dituntut untuk memberhentikan keduanya, SBY malah memberikan restu kepada Sri Mulyani yang mendapatkan tawaran sebagai direksi dari Bank Dunia. Tentunya jabatan tsb akan menjadikan Sri Mulyani sebagai TKW Indonesia termahal dalam sejarah Indonesia.

Kebijakan bailout Bank Century tidaklah tepat jika yang dijadikan alasan adalah untuk mencegah perekonomian Indonesia dari dampak krisis ekonomi global yang berpusat di AS. Oleh sebab itu, bailout tsb jelas-jelas merupakan tindakan penyalahgunaan wewenang dan pemborosan terhadap uang negara/rakyat. Benar ucapan Jusuf Kalla ketika itu dengan menyatakan bahwa hal itu sesungguhnya adalah bentuk perampokan terhadap uang negara. Namun sayangnya, statement perampokan dari JK tidak ditindaklanjuti oleh DPR RI untuk membongkar kasus tsb sampai ditemukan aktor intelektualnya. Seharusnya DPR RI mengajukan kasus itu ke MK untuk mengimpeach Presiden SBY karena ia telah melanggar UUD’45 (lihat perubahan ke-4 UUD’45 Pasal 7B ayat 1).

Pelanggaran yang dimaksud bisa dikaitkan dengan tindakan SBY yang mengeluarkan Perpu No. 4 Tahun 2008 tentang JPSK sehingga membawa kerugian negara. Disisi lain, mestinya KPK segera mengusutnya lebih jauh dan tegas untuk membongkar sampai terlihat aktor intelektualnya, atau dengan kata lain memeriksa SBY sebagai Presiden yang mengetahui persis pengeluaran uang negara sampai 6,7 T lewat kebijakan Menkeu. Bagaimana mungkin Presiden tidak tahu Menkeu mengambil kebijakan? Bukankah Menkeu bertanggung jawab terhadap Presiden? Untuk itulah, sangat logis dan patut Presiden diperiksa untuk dimintai pertanggung jawabannya, baik melalui impeachment oleh DPR sesuai Pasal 7b ayat (1) UUD 1945 ataupun oleh KPK.

SBY

Selain masalah Freeport dan Bank Century yang tidak tuntas, belakangan banyak sumber daya alam Indonesia yang diobral murah kepada pihak asing yang merupakan networking dari Pemerintah AS. Isu terakhir misalnya perihal penjualan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) PT. Krakatau Steel (KS) dengan harga yang terlalu murah. Perusahaan milik negara di bidang industri baja ini menawarkan sahamnya ke publik sebesar Rp 850 per saham, dari kisaran harga yang ditetapkan sebesar Rp 800 – Rp 1050 per lembar. Harga penawaran umum perdana KS ditengarai bisa mencapai Rp 1150 per saham.

Murahnya harga saham BUMN tsb disebut-disebut terkait dengan tuntutan dan permintaan kalangan investor asing. Padahal, seharusnya KS diperkuat untuk kepentingan nasional. Lebih dari itu, jalan KS ke lantai bursa juga diselimuti isu-isu terkait pesanan saham para pejabat dan politisi. Bahkan, Amien Rais sampai menuding harga saham KS bisa menjadi skandal yang lebih besar dibanding skandal Bank Century, karena menjual aset negara dengan harga murah.

Hampir seluruh sumber daya alam milik bangsa/rakyat Indonesia sudah tergadaikan. Dengan demikian, terjadilah kemiskinan struktural sebagai akibat dari kebijakan Pemerintah SBY yang bercirikan neoliberalisme dan kapitalisme serakah. Semua itu tentulah dibawah kendali AS melalui paham kesepakatan Washington (Washington Consensus).

Tidak hanya itu, proyek Naval Medical Research Unit 2 (NAMRU-2) disinyalir menjadi sarang agen-agen intelijen asing. Adalah Siti Fadilah Supari, Menkes RI ketika itu, sukses membongkar rahasia NAMRU-2 di Indonesia. Rupanya NAMRU-2 merupakan bagian dari setting konspirasi internasional guna menguasai virus dan kesehatan penduduk dunia dengan melibatkan WHO.

Siti Fadilah Supari

Yang menarik, salah seorang peneliti utama di Balitbang Depkes RI bernama Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih diduga terlibat dalam jaringan konspirasi AS tsb. Endang pernah membawa virus H5N1 (flu burung) ke Hanoi, Vietnam, tanpa seizin Menkes. Alhasil, doktor lulusan Harvard School of Public Health, Boston, AS tsb diturunkan dari peneliti utama ke peneliti biasa oleh Menkes Siti Fadilah Supari. Tidak hanya itu, Fadilah Supari juga menghentikan kerjasama dengan NAMRU-2 pada 16-10-2009.

Lucunya, pada Kabinet Indonesia Bersatu II 2009-2014, SBY justru mengangkat Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai Menkes yang menggantikan Siti Fadilah Supari. Hal ini membuktikan sekali lagi betapa terangnya keberpihakan SBY kepada Yahudi AS. Atau hal ini menjadi indikasi nyata bahwa SBY memang bagian dari jaringan Yahudi AS itu.

Menurut Eggi Sudjana, semua kebijakan SBY yang pro Yahudi-AS sulit untuk dibantah jika kita pernah menyimak apa yang pernah dikatakan SBY sbb: “I love the United State, with all its faults. I consider it my second country.”, yang bila diterjemahkan artinya: “Saya mencintai AS dengan segala kesalahannya. Saya anggap AS adalah negeri kedua saya.” Ucapan demikian disampaikan SBY ketika ia menjadi Menko Polkam pada era Presiden Megawati. Ucapan ini boleh jadi waktu itu untuk memperoleh credit point dari AS agar kelak jadi Presiden RI. Karena pada waktu itu ada suasana untuk pergantian kepemimpinan/Presiden RI.

Oleh karenanya, dengan strategi demikian SBY ternyata berhasil menjadi Presiden RI yang tentunya dapat dukungan penuh dari AS, dan partai SBY pun dinamakan Partai Demokrat yang namanya sama dengan Partai Demokrat di AS.

Nampak pada gambar kiri bawah, 3 penyanyi papan atas AS; Jay-Z, Kenya West, dan Rihanna membentuk kedua tangannya dengan gambar Piramida yang merupakan simbol kelompok pemuja setan (Freemason/Illuminati) [lihat gambar kiri atas] yang juga merupakan simbol bintang Zionis-Yahudi (lambang negara Israel) [lihat gambar kanan atas]; yang mana hal yang sama dilakukan SBY pada gambar kanan bawah. Mungkinkah lambang Partai Demokrat memiliki keterkaitan dengan lambang bintang Zionis-Yahudi?

Sebelum Obama menjadi Presiden AS, ia menyatakan di depan konfrensi lobi Yahudi AIPAC, Yerusalem sebagai ibukota Israel Raya untuk selamanya (“Undivided Jerusalem, the Capital of Israel for all Eternity). Bahkan Obama mengatakan bahwa “Yerusalem tidak boleh terpisah, dia harus menjadi ibukota Israel”. Dia mengatakan pula jika menjadi Presiden, AS akan bahu membahu dengan Israel. Para anggota AIPAC melakukan applaus setelah mendengar 15 menit orasi Obama, yang mana hal ini dapat diduga untuk menarik dukungan kaum Yahudi, sehingga bila dihubungkan dengan pernyataan SBY, logikanya SBY meminta restu dukungan Pemerintah AS, sedangkan Obama minta dukungan lobi Yahudi yang pusatnya di Israel, atau dengan kata lain, bahwa AS adalah Israel besar dan Israel adalah AS kecil.

Obama & SBY

Bagi Eggi Sudjana, ucapan SBY ini sebagai wujud bahwa ia memperhambakan dirinya kepada dan untuk kepentingan AS dan sekutunya di Indonesia. Kepentingan mereka diatas kepentingan bangsa Indonesia. Sejak Soeharto lengser, tidak ada calon Presiden lain yang memberikan pernyataan demikian, kecuali SBY. Pernyataan SBY ini pun harus dipertanyakan arti dan maksudnya apa? Sebagai catatan, tentunya kita juga mafhum kalau kekuatan lobi Yahudi mempunyai pengaruh besar untuk mempengaruhi berbagai kebijakan setiap rezim AS, dan kita juga tahu kalau Yahudi selalu memegang prinsip sebagai bangsa yang chauvinis, sehingga memandang rendah dan hina bangsa lain.

Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas, masih banyak kejanggalan-kejanggalan lain yang disebutkan Eggi Sudjana dalam buku “SBY Antek Yahudi-AS?”. Selain itu, sang pendengung Revolusi tsb, dalam bukunya juga banyak membahas tentang sepak terjang Yahudi dalam menghancurkan dunia, utamanya Indonesia yang dimulai dari menjatuhkan Soekarno lewat PKI sampai akhirnya menjajah Indonesia lewat perusahan-perusahaannya yang berhasil mengeruk amat sangat banyak sumber daya alam kita.

Maka dari itu, melihat isinya yang sangat berbobot penuh pengetahuan, maka menurut saya buku ini termasuk kategori “WAJIB UNTUK DIBACA!!!”.

Inilah buku “SBY Antek Yahudi-AS” karya Eggi Sudjana

Sumber: Eggi Sudjana, SBY Antek Yahudi-AS? Suatu Kondisional Menuju Revolusi, Ummacom Press, Tangerang, 2011.

wb: mattula_ada@live.com

20 Mei 2012

Eks CIA: Usamah Bukan Dibunuh Tentara AS

Seorang mantan agen CIA mengungkapkan bahwa pemimpin milisi al Qaidah, Usamah bin Ladin, telah meninggal karena sebab alamiah lima tahun sebelum AS mengumumkan kematiannya.

Usamah Bin Ladin

Berkan Yashar, agen CIA yang juga seorang politikus Turki, mengatakan kepada Channel 1 Rusia bahwa AS tidak membunuh pemimpin al Qaidah tersebut.

“Pada September 1992, saya berada di Chechnya. Saat itulah saya pertama kali bertemu dengan pria yang bernama Usamah bin Ladin,” kata Yashar. ”Pertemuan berlangsung di sebuah rumah dua lantai di kota Grozny. Lantai atas ditinggali sebuah keluarga Gamsakhurdia, presiden Georgia, yang kemudian diusir dari negaranya. Kami bertemu di lantai bawah dan Usamah tinggal di gedung yang sama.”

Mantan agen CIA itu mengaku dia secara pribadi mengenal tiga pengawal Usamah bin Ladin yang telah melindunginya. Dia menyaksikan kematian pemimpin al Qaidah itu pada 26 Juni 2006.

“Bahkan jika seluruh dunia yakin, saya tidak mungkin percaya,” kata Yashar. “Saya pribadi tahu orang Chechen yang melindunginya. Mereka adalah Sami, Mahmood, dan Ayub.”

Yashar mengatakan ketiga warga Chechnya itu menemani Usamah hingga akhirnya hayatnya. Ketiganya yang mengubur jenazah Usamah di pegunungan dekat perbatasan Pakistan-Afghanistan.”

Yashar menambahkan bahwa CIA menculik salah seorang pengawal pribadi Usamah, Sami, sebelum pengumuman pembunuhan Usamah. Dia mengatakan Sami mengungkapkan ke AS tempat dari pemakaman Usamah di pegunungan.

“Tidak ada serangan. Saya tahu operasi Amerika dari dalam. Mereka menemukan kuburan, menggali jasadnya dan memberitahu semua orang tentang hal ini,” kata Yashar.

Pada 2 Mei 2011, Washington mengumumkan bahwa Usamah bin Ladin tewas oleh pasukan AS di kompleks di Abbottabad, Pakistan, sebagaimana juga yang telah disampaikan dari buku teranyar sekaligus keempat dari Peter L. Bergen “Manhunt: The Ten-Year Search for Bin Laden From 9/11 to Abbottabad” (lihat ‘Manhunt’ & Detil Sekilas Operasi Pembunuhan Usamah Bin Ladin’). Informasi yang tidak transparansi mengenai kematian Usamah telah menimbulkan keraguan lebih lanjut atas pengumuman tersebut.

source: republika.co.id

pb: mattula_ada@live.com