Posts tagged ‘antek’

28 Mei 2012

Siap-Siap Berjihad! Tentara Israel Hancurkan Masjid Gaza!!

Berikut berita terbaru dari Republika:

“Pasukan Israel secara sengaja telah menggempur rumah-rumah ibadah muslim di jalur Gaza dengan rudal dan senjata berat lainnya. Dalam aksinya tersebut, banyak korban yang berjatuhan khususnya orang-orang yang tengah melaksankan ibadah di dalam masjid. Hal ini dilakukan penjajah Israel dalam perang menyeluruh terhadap jalur Gaza. Pasukan Israel juga menghancurkan banyak mushola dan institusi sipil, serta gedung-gedung yang berada di sekitar jalur Gaza.”

Berikut videonya:

Dari berita tsb jelas tergambar kebiadaban Israel yang sudah amat sangat diluar batas! Untuk itu, sudah saatnya umat Islam bersatu untuk siap-siap melakukan Jihad Besar melawan Zionis-Yahudi beserta antek-anteknya!

sumber: republika.co.id

Iklan
26 Mei 2012

SBY Antek Yahudi-AS?

by: Mattula’ada

Itulah judul buku karya Dr. Eggi Sudjana, SH, MSi; mantan aktivis HMI yang saat ini memiliki kantor Law Firm sendiri bernama “Eggi Sudjana & Partners” sejak Maret 2004.

Eggi Sudjana

Buku yang terbilang sangat berani ini, mengkritik berbagai kebijakan SBY yang pro asing, utamanya kalau itu juga menyangkut kepentingan Yahudi-AS. Sebagai contoh, lahirnya UU Migas yang jelas-jelas menguntungkan asing dan merugikan negara. Dalam salah satu artikel berjudul “Selamatkan Sektor Migas Indonesia” yang terdapat di http://www.theglobalreview.com dikemukakan: “Terbukti bahwa dalam penyusunan UU Minyak dan Gas Bumi yang kemudian kita kenal sebagai UU No. 22/2001, ternyata AS melalui USAID, telah mengalirkan dana sebesar Rp 200 miliar atau US$ 21,1 juta. Sungguh suatu skandal berskala nasional, apalagi jika kelak terbukti melibatkan sejumlah anggota DPR.”

Selain itu, penandatanganan Joint Operating Agreement (JOA) Blok Cepu (15-3-2006) yang menetapkan Exxon Mobil pada posisi puncak dalam organisasi pengelola Blok Cepu setelah sebelumnya juga dilakukan Kontrak Kerja Sama (KKS) pada 17-9-2005 (KKS memperpanjang keikutsertaan ExxonMobil dalam pengelolaan Blok Cepu hingga 2035) menunjukkan betapa kuatnya pengaruh AS dengan paham neoliberalisme dan kapitalisme mereka dalam percaturan ekonomi Indonesia. Padahal, sebagaimana dikemukakan Marwan Batubara dalam pengantar bukunya Tragedi dan Ironi Blok Cepu, sangat sulit untuk diterima ketika Indonesia didera krisis energi, terutama BBM (yang dijadikan alasan pemerintah menaikkan harga BBM), kita justru membagi cadangan minyak dan gas alam yang amat besar kepada pihak asing (sebagai catatan, konsumsi minyak Indonesia sekitar 1,3 juta barel per hari). Padahal, Blok Cepu yang mengandung minyak potensial hingga 2,6 miliar barel dan gas alam 14 triliun kaki kubik bisa dikelola sendiri oleh Pertamina.

Disamping itu, Freeport diperpanjang masa kontraknya selama 95 tahun ke depan di masa Presiden SBY yang mana hal ini dapat diduga sebagai salah satu bentuk kompensasi Pemerintah SBY kepada AS untuk didukung penuh menjadi Presiden RI, atau bertujuan agar tidak diganggu oleh jaringan Yahudi-AS selama SBY menjabat Presiden dan tetap langgeng menjadi antek AS?.

Masalah lainnya adalah bailout Rp 6,7 triliun Bank Century. Aneh, mengapa Presiden SBY mengeluarkan Perpu No. 4 tahun 2008 tentang JPSK (Jaring Pengaman Sistem Keuangan) yang dalam salah satu pasalnya, yaitu Pasal 29, memberikan hak perlindungan hukum penuh atau menjadikan Gubernur BI (saat itu dijabat Boediono) dan Menteri Keuangan (saat itu dijabat Sri Mulyani) kebal hukum, sehingga mereka dalam menjalankan tugasnya tidak dapat dihukum/dipidanakan. Hal ini sungguh aneh dan sangat bertentangan dengan Pasal 27 ayat 1 UUD 1945.

“Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.”

Bahkan, keputusan politik DPR yang menyatakan bahwa Boediono dan Sri Mulyani bersalah, ditanggapi “dingin” oleh SBY, tidak ada keinginan untuk memberhentikan keduanya meskipun dukungan data-data faktual dari hasil audit kertas kerja pemeriksaan keuangan dari BPK dan hasil analisis berupa kertas kerja dari PPATK mengungkapkan adanya masalah (pelanggaran) dalam pengucuran dana bailout Rp 6,7 T Bank Century. Ironisnya lagi, alih-alih dituntut untuk memberhentikan keduanya, SBY malah memberikan restu kepada Sri Mulyani yang mendapatkan tawaran sebagai direksi dari Bank Dunia. Tentunya jabatan tsb akan menjadikan Sri Mulyani sebagai TKW Indonesia termahal dalam sejarah Indonesia.

Kebijakan bailout Bank Century tidaklah tepat jika yang dijadikan alasan adalah untuk mencegah perekonomian Indonesia dari dampak krisis ekonomi global yang berpusat di AS. Oleh sebab itu, bailout tsb jelas-jelas merupakan tindakan penyalahgunaan wewenang dan pemborosan terhadap uang negara/rakyat. Benar ucapan Jusuf Kalla ketika itu dengan menyatakan bahwa hal itu sesungguhnya adalah bentuk perampokan terhadap uang negara. Namun sayangnya, statement perampokan dari JK tidak ditindaklanjuti oleh DPR RI untuk membongkar kasus tsb sampai ditemukan aktor intelektualnya. Seharusnya DPR RI mengajukan kasus itu ke MK untuk mengimpeach Presiden SBY karena ia telah melanggar UUD’45 (lihat perubahan ke-4 UUD’45 Pasal 7B ayat 1).

Pelanggaran yang dimaksud bisa dikaitkan dengan tindakan SBY yang mengeluarkan Perpu No. 4 Tahun 2008 tentang JPSK sehingga membawa kerugian negara. Disisi lain, mestinya KPK segera mengusutnya lebih jauh dan tegas untuk membongkar sampai terlihat aktor intelektualnya, atau dengan kata lain memeriksa SBY sebagai Presiden yang mengetahui persis pengeluaran uang negara sampai 6,7 T lewat kebijakan Menkeu. Bagaimana mungkin Presiden tidak tahu Menkeu mengambil kebijakan? Bukankah Menkeu bertanggung jawab terhadap Presiden? Untuk itulah, sangat logis dan patut Presiden diperiksa untuk dimintai pertanggung jawabannya, baik melalui impeachment oleh DPR sesuai Pasal 7b ayat (1) UUD 1945 ataupun oleh KPK.

SBY

Selain masalah Freeport dan Bank Century yang tidak tuntas, belakangan banyak sumber daya alam Indonesia yang diobral murah kepada pihak asing yang merupakan networking dari Pemerintah AS. Isu terakhir misalnya perihal penjualan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) PT. Krakatau Steel (KS) dengan harga yang terlalu murah. Perusahaan milik negara di bidang industri baja ini menawarkan sahamnya ke publik sebesar Rp 850 per saham, dari kisaran harga yang ditetapkan sebesar Rp 800 – Rp 1050 per lembar. Harga penawaran umum perdana KS ditengarai bisa mencapai Rp 1150 per saham.

Murahnya harga saham BUMN tsb disebut-disebut terkait dengan tuntutan dan permintaan kalangan investor asing. Padahal, seharusnya KS diperkuat untuk kepentingan nasional. Lebih dari itu, jalan KS ke lantai bursa juga diselimuti isu-isu terkait pesanan saham para pejabat dan politisi. Bahkan, Amien Rais sampai menuding harga saham KS bisa menjadi skandal yang lebih besar dibanding skandal Bank Century, karena menjual aset negara dengan harga murah.

Hampir seluruh sumber daya alam milik bangsa/rakyat Indonesia sudah tergadaikan. Dengan demikian, terjadilah kemiskinan struktural sebagai akibat dari kebijakan Pemerintah SBY yang bercirikan neoliberalisme dan kapitalisme serakah. Semua itu tentulah dibawah kendali AS melalui paham kesepakatan Washington (Washington Consensus).

Tidak hanya itu, proyek Naval Medical Research Unit 2 (NAMRU-2) disinyalir menjadi sarang agen-agen intelijen asing. Adalah Siti Fadilah Supari, Menkes RI ketika itu, sukses membongkar rahasia NAMRU-2 di Indonesia. Rupanya NAMRU-2 merupakan bagian dari setting konspirasi internasional guna menguasai virus dan kesehatan penduduk dunia dengan melibatkan WHO.

Siti Fadilah Supari

Yang menarik, salah seorang peneliti utama di Balitbang Depkes RI bernama Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih diduga terlibat dalam jaringan konspirasi AS tsb. Endang pernah membawa virus H5N1 (flu burung) ke Hanoi, Vietnam, tanpa seizin Menkes. Alhasil, doktor lulusan Harvard School of Public Health, Boston, AS tsb diturunkan dari peneliti utama ke peneliti biasa oleh Menkes Siti Fadilah Supari. Tidak hanya itu, Fadilah Supari juga menghentikan kerjasama dengan NAMRU-2 pada 16-10-2009.

Lucunya, pada Kabinet Indonesia Bersatu II 2009-2014, SBY justru mengangkat Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai Menkes yang menggantikan Siti Fadilah Supari. Hal ini membuktikan sekali lagi betapa terangnya keberpihakan SBY kepada Yahudi AS. Atau hal ini menjadi indikasi nyata bahwa SBY memang bagian dari jaringan Yahudi AS itu.

Menurut Eggi Sudjana, semua kebijakan SBY yang pro Yahudi-AS sulit untuk dibantah jika kita pernah menyimak apa yang pernah dikatakan SBY sbb: “I love the United State, with all its faults. I consider it my second country.”, yang bila diterjemahkan artinya: “Saya mencintai AS dengan segala kesalahannya. Saya anggap AS adalah negeri kedua saya.” Ucapan demikian disampaikan SBY ketika ia menjadi Menko Polkam pada era Presiden Megawati. Ucapan ini boleh jadi waktu itu untuk memperoleh credit point dari AS agar kelak jadi Presiden RI. Karena pada waktu itu ada suasana untuk pergantian kepemimpinan/Presiden RI.

Oleh karenanya, dengan strategi demikian SBY ternyata berhasil menjadi Presiden RI yang tentunya dapat dukungan penuh dari AS, dan partai SBY pun dinamakan Partai Demokrat yang namanya sama dengan Partai Demokrat di AS.

Nampak pada gambar kiri bawah, 3 penyanyi papan atas AS; Jay-Z, Kenya West, dan Rihanna membentuk kedua tangannya dengan gambar Piramida yang merupakan simbol kelompok pemuja setan (Freemason/Illuminati) [lihat gambar kiri atas] yang juga merupakan simbol bintang Zionis-Yahudi (lambang negara Israel) [lihat gambar kanan atas]; yang mana hal yang sama dilakukan SBY pada gambar kanan bawah. Mungkinkah lambang Partai Demokrat memiliki keterkaitan dengan lambang bintang Zionis-Yahudi?

Sebelum Obama menjadi Presiden AS, ia menyatakan di depan konfrensi lobi Yahudi AIPAC, Yerusalem sebagai ibukota Israel Raya untuk selamanya (“Undivided Jerusalem, the Capital of Israel for all Eternity). Bahkan Obama mengatakan bahwa “Yerusalem tidak boleh terpisah, dia harus menjadi ibukota Israel”. Dia mengatakan pula jika menjadi Presiden, AS akan bahu membahu dengan Israel. Para anggota AIPAC melakukan applaus setelah mendengar 15 menit orasi Obama, yang mana hal ini dapat diduga untuk menarik dukungan kaum Yahudi, sehingga bila dihubungkan dengan pernyataan SBY, logikanya SBY meminta restu dukungan Pemerintah AS, sedangkan Obama minta dukungan lobi Yahudi yang pusatnya di Israel, atau dengan kata lain, bahwa AS adalah Israel besar dan Israel adalah AS kecil.

Obama & SBY

Bagi Eggi Sudjana, ucapan SBY ini sebagai wujud bahwa ia memperhambakan dirinya kepada dan untuk kepentingan AS dan sekutunya di Indonesia. Kepentingan mereka diatas kepentingan bangsa Indonesia. Sejak Soeharto lengser, tidak ada calon Presiden lain yang memberikan pernyataan demikian, kecuali SBY. Pernyataan SBY ini pun harus dipertanyakan arti dan maksudnya apa? Sebagai catatan, tentunya kita juga mafhum kalau kekuatan lobi Yahudi mempunyai pengaruh besar untuk mempengaruhi berbagai kebijakan setiap rezim AS, dan kita juga tahu kalau Yahudi selalu memegang prinsip sebagai bangsa yang chauvinis, sehingga memandang rendah dan hina bangsa lain.

Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas, masih banyak kejanggalan-kejanggalan lain yang disebutkan Eggi Sudjana dalam buku “SBY Antek Yahudi-AS?”. Selain itu, sang pendengung Revolusi tsb, dalam bukunya juga banyak membahas tentang sepak terjang Yahudi dalam menghancurkan dunia, utamanya Indonesia yang dimulai dari menjatuhkan Soekarno lewat PKI sampai akhirnya menjajah Indonesia lewat perusahan-perusahaannya yang berhasil mengeruk amat sangat banyak sumber daya alam kita.

Maka dari itu, melihat isinya yang sangat berbobot penuh pengetahuan, maka menurut saya buku ini termasuk kategori “WAJIB UNTUK DIBACA!!!”.

Inilah buku “SBY Antek Yahudi-AS” karya Eggi Sudjana

Sumber: Eggi Sudjana, SBY Antek Yahudi-AS? Suatu Kondisional Menuju Revolusi, Ummacom Press, Tangerang, 2011.

wb: mattula_ada@live.com