Posts tagged ‘Allah’

25 Mei 2012

Bersikap Baik-lah terhadap Pembantu

Anas bin Malik RA adalah sahabat yang mendapat kehormatan untuk membantu mengurus kebutuhan rumah tangga Rasulullah SAW.

Saat itu, ia masih belia. Selama kurang lebih sepuluh tahun mengabdi, ia tidak pernah mendapati Rasulullah mengumpat, atau menyalah-nyalahkan pekerjaan yang telah ia lakukan.

Dalam kurun waktu itu pula, yang ia dapati justru penghormatan dan perlakuan baik dari Nabi beserta keluarga. Rasulullah juga tidak pernah menjadikan profesi yang dilakoni Anas bin Malik sebagai status sosial, lalu mendiskriminasikan mereka yang berada di level sosial paling bawah.

Ada kalanya untuk membantu pekerjaan di rumah, seseorang mempekerjakan seorang pembantu. Sang majikan memberikan pekerjaan tertentu dengan imbalan upah, sesuai dengan kesepakatan. Dari interaksi itulah, lantas muncul hak dan kewajiban. Pola hubungan antara tuan dan pembantunya itu diatur sedemikian rupa dalam Islam.

Hal itu, salah satu tujuannya ialah untuk menghindari terjadinya pelanggaran hak dan tidak terlaksananya kewajiban. Bagaimana memperlakukan pembantu yang baik menurut Islam?

Sikap yang diteladankan Rasulullah saat memperlakukan pembantunya pada dasarnya menjadi gambaran umum tentang pola ideal antara majikan dan pembantu.

Beberapa hal penting yang dite ankan Islam terkait etika mempekerjakan pembantu terangkum dalam beberapa poin utama berikut. Yaitu, pertama, berperilaku baik dan wajar kepada para pembantu. Mereka sama halnya manusia lainnya yang memiliki rasa dan hak untuk diperlakukan laik dan pantas.

 

Dalam hadis riwayat Bukhari yang mengisahkan perihal sikap Rasulullah terhadap Anas bin Malik, adalah acuan mendasar yang harus dijadikan pedoman bagi para majikan.

Kedua, bayarlah gaji pembantu sesuai dengan kesepakatan awal. Lebih baiknya, kesepakatan tersebut tercatat rapi dalam sebuah dokumen. Cara ini akan lebih memudahkan untuk arsip bila suatu saat terjadi masalah. Pembayaran gaji yang tidak sama dengan perjanjian awal dianggap sebagai kezaliman yang besar.

Dalam sebuah riwayat Bukhari, Rasulullah bersabda, “Allah SWT berfirman, ‘Ada tiga kategori golongan yang Aku menentangnya (kelak) di hari kiamat: lelaki yang berinfak kemudian ditarik kembali, lelaki yang menjual orang merdeka lalu memakan uangnya, dan orang yang mempekerjakan pekerja dan telah mendapatkan hasilnya, tetapi tidak memberikan upah.”

Termasuk dalam poin ini ialah, hendaknya membayar upah pembantu tepat waktu dan tidak menundanya selama ia mampu. Seorang majikan yang mampu lantas tidak menunaikan kewajibannya, maka tindakan itu dikategorikan sebagai perbuatan zalim.

Penundaan (membayar utang) orang yang kaya adalah zalim. Riwayat lain dari Abdullah bin Umar menganjurkan agar menyegerakan pembayaran upah para pembantu. Disebutkan, permisalan jangka pembayarannya ialah sebelum keringat pekerja yang bersangkutan mengering.

Ketiga, tidak memberikan beban pekerjaan yang melampaui batas kemampuan mereka. Jangan sampai hal ini disepelekan. Membebani pembantu dengan tugas yang berat bisa menyakiti mereka. Perlakukan mereka seperti bagian dari keluarga sendiri. Rasulullah mewanti-wanti hal itu terjadi.

Dalam hadis riwayat Bukhari dijelaskan bahwa barang siapa yang saudaranya berada di bawah perintahnya (bekerja untuknya), maka berikan makanan yang sama dengan yang ia makan, pakaian yang ia kenakan, dan hendaknya tidak memberikan tugas di luar batas kewajaran yang lantas dapat menyebabkan sakit.

Keempat, tidak berlaku kasar terhadap pembantu. Apalagi menganiaya mereka dengan pukulan, tamparan, ataupun bentuk penganiayaan lainnya. Termasuk, menyakiti mereka dengan perkataan-perkataan hina yang merendahkan dan mencibir kehormatan mereka.

Diriwayatkan dari Abu Mas’ud Al-Badari RA, ia berkisah suatu saat ia pernah mencambuk pembantunya. Ia mendengar seseorang berbicara dan menegurnya dari belakang.

Awalnya, ia tak mengerti apa yang dimaksud lelaki tersebut. Betapa kagetnya bahwa sosok tersebut ialah Rasulullah yang lantas bersabda, “Ketahuilah Abu Mas’ud, Allah mencatat segala tindakanmu atas pembantu ini.” Sejak peristiwa itu, Abu Mas’ud tidak pernah sekali pun memukul pembantunya.

source: republika.co.id

pb: mattula_ada@live.com

Iklan
20 Mei 2012

Belajar Menjadi Orangtua Sesuai Alquran

Tak sedikit generasi muda saat ini yang mengalami masalah-masalah dalam kehidupan. Mulai dari masalah tingkah laku, pergaulan, sampai masalah dari sisi keimanan. Penyebabnya bisa jadi karena Alquran dan tuntunan Rasulullah SAW tak lagi menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan.

Keprihatinan itu menjadi salah satu topik bahasan dalam forum silaturahim bulanan Ummahatul Mukminin Indonesia (UMI) bertema ‘’Quranic Parenting’’. Ustaz Budi Ashari dari Ar-Rahman Quranic Lear ning Center (AQL) yang menjadi salah satu pembicara dalam forum tersebut mengatakan, orangtua harus mau belajar menjadi orangtua sebelum ia benar-benar menjadi orangtua. Jika orangtua belum memahami fungsinya sebagai orangtua, akan sulit mendidik anak sesuai yang diamanatkan Alquran.

Buku Bacalah Alquran! Agar Keluarga Selalu Dilindungi Allah

“Sangat sulit jika orang tua belajar menjadi orang tua sambil jalan. Seharusnya, ia memahaminya sebelum menikah dan berketurunan,’’ ujar Ustaz Budi. Bagaimana jika perbaikan dimulai dari si anak? Menurut dia, hal itu akan sangat sulit, seperti membalikkan aliran air dari laut ke gunung.

Alquran, lanjut dia, sudah mengajarkan semuanya, mulai dari cara membentuk keluarga hingga cara yang tepat bagi orang tua untuk mendidik anak-anaknya. Alquran juga mengajarkan bagaimana pola hubungan yang baik antara orangtua dan anak.

‘’Jangan menjadikan Alquran hanya sebagai stiker yang jika bosan lalu dibuang. Tapi, galilah kan dungan yang ada di dalam nya. Quranic Parenting berusaha mengkaji ayat demi ayat dalam Alquran, yaitu ayat-ayat yang membahas pendidikan sebagai orang tua dan bagaimana pendidikan orang tua pada anaknya,’’ katanya.

Orangtua bijaksana
Sementara itu, Pimpinan Ar-Rahman Quranic Learning Ustaz Bachtiar Nasir membahas tentang cara menjadi orangtua bijaksana. Menurut dia, orang tua harus mengikuti perkembangan anak-anaknya. Jika tidak, akan tercipta jurang yang sangat dalam antara anak dan orangtua.

Jika ingin menjadi orang tua yang bijaksana, menurut Bachtiar, salah satunya harus pandai bersyukur kepada Allah. Orang tua harus memandang anak adalah hikmah dan menjadi orang tua adalah anugerah. ‘’Namun, tak setiap orang tua saat ini siap dan ber syukur pada Allah atas hik mah anak yang mereka dapat.’’

Panduan menjadi orangtua bijaksana ini terdapat dalam surah Luqman ayat 12-19. Ayat-ayat tersebut di antaranya menyebutkan apa saja ajaran-ajaran orang tua pada anaknya. Dikatakan bahwa syirik adalah bencana besar dalam keluarga. Karenanya, jauhkan anak-anak dari pendidikan dan lingkungan yang syirik. Jika diaplikasikan, Ustaz Bachtiar mengakui, memang tidak mu dah, tapi bisa dimulai dengan memilih lingkungan rumah yang baik. ‘’Jadi, jika ingin membeli rumah, lihat dulu tetangganya,’’ tutur dia.

Ia mengatakan pula, orangtua wajib mendidik anak-anaknya untuk berbuat baik pada orang tuanya agar si anak tidak dilaknat oleh Allah SWT. Untuk ini, ada dua fondasi yang harus dibangun pada anak. Pertama, selalu bersyukur kepada Allah. Kedua, selalu menghargai pengorbanan kedua orangtuanya.

source: republika.co.id

pb: mattula_ada@live.com

13 Februari 2012

Insya Allah…

by: Mattula’ada

Dalam Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 23-24 dikatakan:

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini.”

Menurut riwayat, ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. tentang roh, kisah ashhabul kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain lalu beliau menjawab, datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan. Dan beliau tidak mengucapkan Insya Allah (artinya jika Allah menghendaki). Tapi kiranya sampai besok harinya wahyu terlambat datang untuk menceritakan hal-hal tersebut dan Nabi tidak dapat menjawabnya. Maka turunlah ayat QS. 18:23-24 di atas, sebagai pelajaran kepada Nabi; Allah mengingatkan pula bilamana Nabi lupa menyebut Insya Allah haruslah segera menyebutkannya kemudian.

Ayat diatas juga memberi pelajaran kepada kita, bahwa kepastian itu datangnya hanya dari Allah semata. Maka jika kita misalnya berjanji pada seseorang, maka janganlah lupa untuk mengucapkan “Insya Allah”, karena bisa saja janji tersebut tidak kita tepati karena suatu hal, misal karena disebabkan kita tiba-tiba jatuh sakit atau bisa jadi malaikat maut sudah keburu mencabut nyawa kita.

Maka dari itu sekali lagi, janganlah lupa untuk mengucapkan “INSYA ALLAH”, yang artinya “Jika Allah menghendaki”.

wb: mattula_ada@live.com

13 Februari 2012

Kuasa Tuhan Lewat Sidat Listrik

by: Mattula’ada

Sungai Amazon yang membentang sepanjang Amerika Selatan merupakan tempat berbagai macam ikan sungai yang paling luar biasa yang pernah hidup di muka bumi. Di sungai ini hidup ikan pirarucu dan madulelang sebagai ikan air tawar paling besar. Kemudian ada ikan candiru sebagai ikan paling licik dan membahayakan, ikan piranha yang terkenal sebagai ikan paling ganas serta pemegang rekor ikan paling menakjubkan yang dikenal di Indonesia dengan sebutan belut atau sidat listrik.

Sidat listrik (Electrophorus electricus), merupakan penghuni sungai Amazon dan sungai Orinoko yang memiliki kekuatan listrik mencapai 650 volt yang digunakannya untuk berburu mangsa dan membela diri. Kejutan listrik yang dihasilkan oleh ikan ini cukup untuk membunuh seekor kuda dari jarak 2 meter. Cara kerja penghasil listrik pada ikan ini dapat digunakan sangat cepat mencapai dua hingga tiga perseribu detik. Ketika gelisah, ia mampu menghasilkan guncangan listrik selama setidaknya satu jam tanpa tanda-tanda melelahkan.Ia bisa tumbuh hingga panjang 2,5 m dan berat 20 kg, walaupun biasanya ukuran rata-ratanya adalah 1 meter.

Gambar: Sidat Listrik

Spesies ini telah direklasifikasi beberapa kali. Awalnya ia dimasukkan dalam marga Electrophoridae tersendiri, namun kemudian ditempatkan dalam genus Gymnotidae bersama Gymnotus. Meskipun namanya adalah belut listrik, namun ia tidak terkait erat dengan belut sejati (Anguilliformes) tetapi adalah anggota dari knifefishes Neotropical (Gymnotiformes), lebih erat terkait dengan ikan lele.

Spesies ini telah menarik perhatian beberapa peneliti, yang berusaha memanfaatkan enzim acetylcholinesterase dan ATP yang terkandung dalam Sidat Listrik.

Para peneliti di Universitas Yale dan National Institute of Standards and Technology (NIST), berpendapat bahwa sel buatan bisa dibangun yang tidak hanya meniru perilaku listrik dari sel belut listrik tetapi faktanya bahkan dapat memperbaiki mereka. Versi tiruan pembangkit listrik dari sel sidat listrik dapat dikembangkan sebagai sumber daya untuk implan medis dan perangkat kecil lainnya.

Beberapa waktu yang lalu, sebuah taman laut di Jepang (Taman Laut Enoshima), mengejutkan pengunjungnya dengan suasana natal yang hemat listrik. Mereka menggunakan tenaga listrik dari sidat listrik yang bergerak, yang disalurkan lewat dua panel aluminium untuk lampu warna-warni pohon. Sang pembuat, Kazuhiko Minawa mengatakan: “Pertama-tama kami putuskan memakai belut listrik untuk menyalakan pohon natal dan hiasannya. Belut menggunakan ototnya untuk menghasilkan energi, jadi kami pikir, orang juga baiknya menggunakan ototnya untuk menerangi pohon dan menggerakkan Santa”.

Luar Biasa!! Selama ini manusia mungkin sangat angkuh dengan mengklaim diri sebagai penemu listrik, namun Allah Yang Maha Perkasa menunjukkan bahwa Dia sudah dapat membuat listrik dengan sistem yang sangat rumit lewat hewan ciptaan-Nya jauh sebelum manusia pernah memikirkannya!! Lantas, masihkah kita tidak malu untuk menyombongkan diri???

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. {QS. 31:18}

Sumber: Berbagai Sumber.

wb: mattula_ada@live.com