Posts tagged ‘Al-Qur’an’

7 Agustus 2012

Benarkah Pemerintah Adalah Ulil Amri Yang Harus Ditaati?

by: Mattula’ada

Diantara kita masih banyak yang berpandangan bahwa dalam menentukan 1 Ramadhan dan 1 Syawal  kita harus mengikuti Pemerintah karena Pemerintah adalah Ulil Amri Minkum. Benarkah demikian?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu apakah sebenarnya yang dimaksud dengan ulil amri minkum?

Menurut Abu al-’Ala’ al-Mubarakfuri dalam Tuhfadzu al-Ahwadzi: Syarah Sunan at-Tirmidzi(Dar al-Fikr, Beirut, III/207) bahwa secara harfiah, frasa ulil amri (uli al-amr) dan wali al-amr mempunyai konotasi yang sama, yaitu al-hakim (penguasa). Jika wali adalah bentuk mufrad(tunggal) maka uli adalah jamak (plural). Namun demikian, kata uli bukan jamak dari kata wali. Al-Quran menggunakan frasa ulil amri dengan konotasi dzawi al-amr, yaitu orang-orang yang mempunyai (memegang) urusan, sebagaimana juga dikatakan Imam al-Bukhari dan Abu Ubaidah. Ini berbeda dengan frasa wali al-amr, yang hanya mempunyai satu makna harfiah, yaitu al-hakim (penguasa). Karena itu, frasa ulil amri bisa disebut  musytarak (mempunyai banyak konotasi). Sedangkan kata minkum berarti diantara kamu. Maka dari itu tidak mengherankan kalau Syeikh Rasyid Ridha mengatakan: Ulil-amri adalah Ahlul hilli wal-Aqdi yaitu orang-orang yang mendapat kepercayaan ummat. Mereka itu bisa terdiri dari tokoh masyarakat, ulama, panglima perang, dan para pemimpin kemaslatan umum seperti pemimpin perdagangan, perindustrian, pertanian. Termasuk juga para pemimpin buruh, partai, para pemimpin redaksi surat kabar dan para pelopor kemerdekaan.

Hal ini jelas tergambar pada saat Umar bin Khattab yang merupakan salah satu tokoh masyarakat terpercaya pada saat itu yang kata-katanya sangat bisa dijadikan pegangan tsb mengatakan, “Tatkala Nabi saw. mengucilkan para istrinya, aku masuk ke dalam mesjid, tiba-tiba kulihat orang-orang (para sahabat) melempar-lempar batu kerikil ke tanah seraya mengatakan Rasulullah telah menalak istri-istrinya, lalu aku berdiri tegak di pintu mesjid dan kuserukan dengan sekuat suaraku bahwa Nabi tidak menalak istri-istrinya, kemudian turunlah ayat ini, ‘Dan jika datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan dan ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Padahal seandainya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka tentulah orang-orang yang ingin menyelidiki duduk perkaranya akan dapat mengetahuinya dari mereka.’ Maka saya termasuk diantara orang-orang yang menyelidiki duduk perkaranya itu.”

Apa yang dikatakan Umar (ra) diatas berkenaan dengan turunnya QS. An-Nisaa’ (4) ayat 83 berikut:

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).

Selain itu, di dalam Al-Qur’an terdapat sebuah ayat yang sangat sering dikutip oleh para politisi Partai Islam terutama di musim kampanye menjelang Pemilu. Namun yang kita sayangkan ialah umumnya mereka mengutip ayat tersebut secara tidak lengkap alias sepotong saja. Lengkapnya ayat tersebut berbunyi sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”(QS. An-Nisa [4] : 59)

Mengapa ayat ini begitu populer dikumandangkan para jurkam di musim kampanye? Karena di dalamnya terkandung perintah Allah agar ummat taat kepada Ulil Amri Minkum. Sedangkan para politisi partai tadi meyakini jika diri mereka terpilih menjadi wakil rakyat atau pemimpin sosial berarti mereka dengan segera akan diperlakukan sebagai bagian dari Ulil Amri Minkum. Dan hal itu akan menyebabkan mereka memiliki keistimewaan untuk ditaati oleh para konstituen. Mana ada manusia yang tidak suka dirinya mendapatkan ketaatan ummat? Itulah sebabnya ayat ini sering dikutip di musim kampanye. Namun sayang, mereka umumnya hanya mengutip sebagian saja yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُم

”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa [4] : 59)

Mereka biasanya hanya membacakan ayat tersebut hingga kata-kata Ulil Amri Minkum. Bagian sesudahnya jarang dikutip. Padahal justru bagian selanjutnya yang sangat penting. Mengapa? Karena justru bagian itulah yang menjelaskan ciri-ciri utama Ulil Amri Minkum yang baik. Bagian itulah yang menjadikan kita memahami siapa yang sebenarnya pantas dijadikan Ulil Amri Minkum dan siapa yang bukan. Bagian itulah yang akan menentukan apakah fulan-fulan yang berkampanye tersebut pantas atau tidak memperoleh ketaatan ummat.

Dalam bagian selanjutnya Allah berfirman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

 ”Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa [4] : 59)

Allah menjelaskan bahwa ciri-ciri utama Ulil Amri Minkum yang baik ialah komitmen untuk selalu mengembalikan segenap urusan yang diperselisihkan kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya). Para pemimpin sejati di antara orang-orang beriman tidak mungkin akan rela menyelesaikan berbagai urusan kepada selain Al-Qur’an dan Sunnah Ar-Rasul. Sebab mereka sangat faham dan meyakini pesan Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al-Hujurat [49] : 1)

Sehingga kita jumpai dalam catatan sejarah bagaimana seorang Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu di masa paceklik mengeluarkan sebuah kebijakan ijtihadi berupa larangan bagi kaum wanita beriman untuk meminta mahar yang memberatkan kaum pria beriman yang mau menikah. Tiba-tiba seorang wanita beriman mengangkat suaranya mengkritik kebijakan Khalifah seraya mengutip firman Allah yang mengizinkan kaum mu’minat untuk menentukan mahar sesuka hati mereka. Maka Amirul Mu’minin langsung ber-istighfar dan berkata: ”Wanita itu benar dan Umar salah. Maka dengan ini kebijakan tersebut saya cabut kembali…!” Subhanallah, demikianlah komitmen para pendahulu kita dalam hal mentaati Allah dan RasulNya dalam segenap perkara yang diperselisihkan.

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak asbabun nuzul dari QS. An-Nisaa’ (4) ayat 59 berikut:

Bukhari dan lain-lain meriwayatkan dari Ibnu Abbas, katanya, “Diturunkan ayat ini pada Abdullah bin Hudzafah bin Qais, yakni ketika ia dikirim oleh Nabi saw. dalam suatu ekspedisi. Berita itu diceritakannya secara ringkas. Dan kata Daud, ini berarti mengada-ada terhadap Ibnu Abbas, karena disebutkan bahwa Abdullah bin Huzafah tampil di hadapan tentaranya dalam keadaan marah, maka dinyalakannya api lalu disuruhnya mereka menceburkan diri ke dalam api itu. Sebagian mereka menolak, sedangkan sebagian lagi bermaksud hendak menceburkan dirinya.” Katanya, “Sekiranya ayat itu turun sebelum peristiwa, maka kenapa kepatuhan itu hanya khusus terhadap Abdullah bin Hudzafah dan tidak kepada yang lain-lainnya? Dan jika itu turun sesudahnya, maka yang dapat diucapkan pada mereka ialah, ‘Taat itu hanyalah pada barang yang ma’ruf. Dalam pada itu Hafizh Ibnu Hajar menjawab bahwa yang dimaksud di dalam kisahnya dengan, “Jika kamu berselisih pendapat dalam sesuatu hal,” bahwa mereka memang berselisih dalam menghadapi perintah itu dengan kepatuhan, atau menolaknya karena takut pada api. Maka wajarlah bila waktu itu diturunkan pedoman yang dapat memberi petunjuk bagi mereka apa yang harus diperbuat ketika berselisih pendapat itu yaitu mengembalikannya kepada Allah dan Rasul. Dan Ibnu Jarir mengetengahkan bahwa ayat tersebut diturunkan mengenai kisah yang terjadi di antara Ammar bin Yasir dengan Khalid bin Walid yang ketika itu menjadi amir atau panglima tentara. Tanpa setahu Khalid, Ammar melindungi seorang laki-laki hingga mereka pun bertengkar.

Kisah diatas memberi penerangan kepada kita, bagaimana seharusnya seorang amir (pemimpin) dan yang dipimpinnya bersikap dalam keadaan berbeda pendapat; yang intinya adalah bahwa kita harus mengacu kepada apa yang difirmankan Allah lewat Al-Qur’an dan apa yang dikatakan Rasulullah Muhammad saw.

Adapun dalam kehidupan kita dewasa ini segenap sistem dan semangat hidup yang diberlakukan di negara kita (Indonesia) ialah mengembalikan segenap urusan yang diperselisihkan kepada selain Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya).

Sebagai contoh, dalam sidang isbat kemarin (19 Juli 2012), perwakilan dari 2 ormas Islam (Front Pembela Islam dan An-Najat Al-Islamiyah) menyatakan bahwa rekan mereka telah melihat hilal di Cakung, namun kesaksiannya ditolak karena dianggap mengada-ada, dengan alasan tidak mungkin ada orang yang bisa melihat hilal dengan ketinggian dibawah 2 derajat diatas ufuk! Kata ulama NU dan para ahli astronomi: MUSTAHIL!!!

Sebenarnya apa yang dikatakan ulama NU tsb telah menelan ludah mereka sendiri. Mengapa? Karena metode imkanur ru’yat ala MABIMS yang mereka usung adalah metode NGAWUR! Mengapa saya katakan ngawur? Karena metode ini mengatakan bahwa awal bulan (kalender) Hijriyah terjadi jika pada saat matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°. Dua derajat?

Perlu rekan-rekan ketahui bahwa tak ada satupun ahli astronomi, termasuk Prof. Thomas Djamaluddin yang mengatakan bahwa ketinggian 2 derajat adalah ketinggian dimana mata manusia dapat melihat hilal, walaupun dengan alat bantu seperti teleskop sekalipun. Mereka mengatakannya dengan kata: MUSTAHIL!!.

Saya pribadi juga masih tidak percaya jika orang di Cakung tsb dapat melihat hilal. Ini karena menurut berita yang saya dapat, mereka melihatnya sebelum maghrib, sekitar pukul 17.53 WIB. Tapi tidak sepantasnya kita langsung menolak kesaksian mereka tanpa mencari tahu lebih jauh apa yang mereka lakukan. Sebab jangan sampai misalnya jam yang mereka setel salah. Mengenai dua derajat, secara teori memang mustahil mata manusia dapat melihat hilal dengan ketinggian tsb. Tapi lupakah kita, bahwa bagi Allah, TIDAK ADA YANG MUSTAHIL!!.

Firman Allah:

Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah!“, lalu jadilah dia.” {QS. 3:47}

Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah!“, maka jadilah ia. {QS. 40:68}

Memvonis hilal dua derajat dibawah ufuk tidak bisa dilihat, adalah suatu penghinaan besar pada Kemampuan Allah untuk memberikan ilmuNya secara khusus berupa hidayah kepada yang Allah menginginkannya dengan menghapus segala hambatan, baik hambatan keterbatasan pandangan mata, hambatan bias sinar matahari, maupun hambatan atmosfir lainnya.

Jadi seharusnya Menteri Agama, paling tidak menelpon para saksi tsb untuk mencari tahu bagaimana proses mereka melihat hilal! Nabi Muhammad saja, pernah mendengar langsung kesaksian seorang badui sebelum memutuskan apakah telah masuk waktu Ramadhan atau tidak.

Berikut hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas:
جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الْهِلَالَ قَالَ أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ يَا بِلَالُ أَذِّنْ فِي النَّاسِ أَنْ يَصُومُوا غَدًا

Telah datang seorang Arab Badui kepada Nabi Muhammad saw kemudian berkata, “Sungguh saya telah melihat hilal. Rasulullah bertanya, “Apakah anda bersaksi bahwa tidak ada illah selain Allah dan bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah?” Orang tersebut menjawab, “Ya”. Lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Bilal, umumkan kepada manusia (khalayak) agar mereka berpuasa besok.” (HR Imam yang lima, disahihkan oleh Khuzaimah & Ibnu Hiban).

Lalu bagaimana dengan nasehat agar kaum Muslimin lebih mengutamakan PERSATUAN daripada kesaksian Rukyatul Hilal? Seperti yang dikatakan ustadz Abu Muhammad Waskito (yang lebih dikenal dengan panggilan Abi Syakir) bahwa Bantahannya sebagai berikut: (a). Dalam Surat Ali Imran dikatakan, “Wa’tashimu bi hablillahi jami’an, wa laa tafarraquu.” Dalam ayat ini berpegang teguh kepada kebenaran DIDAHULUKAN daripada persatuan. Hikmahnya, apa artinya bersatu kalau ingkar terhadap Syariat Islam?; (b). Ibnu Mas’ud menjelaskan pengertian Al Jamaah, “Ittifaqu bil haqqi walau kunta wahid” (sepakat dengan kebenaran walau engkau hanya seorang diri). Kita harus berpegang dengan kebenaran, meskipun seorang diri; (c). Dalam Sunnah disebutkan sabda Nabi Saw, “Innamat tha’atu fil ma’ruf” (bahwa ketaatan itu hanya dalam hal yang ma’ruf saja). Mengingkari kesaksian melihat hilal tanpa dasar yang benar dan jelas adalah maksiyat serius, harus ditolak, kita tak boleh mematuhinya; (d). Persatuan yang dikehendaki oleh Islam adalah persatuan yang Syar’i, bukan persatuan yang membuang kaidah Sunnah Rasululullah Saw; (e). Bersatu di atas kebathilan justru sangat dilarang dalam Islam, seperti disebut dalam Surat Al Maa’idah, “Wa laa ta’awanuu ‘alal itsmi wal ‘udwan”(jangan kalian bekerjasama di atas dosa dan permusuhan).

Bila demikian keadaannya, berarti Pemerintah dan sebagian ulama tidak layak disebut sebagai Ulil Amri Minkum yang sebenarnya. Mereka lebih pantas dijuluki sebagai Mulkan Jabbriyyan sebagaimana Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sebutkan dalam hadits beliau. Mulkan Jabbriyyan artinya para penguasa yang memaksakan kehendaknya seraya tentunya mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya. Mereka biasanya memiliki rasa ego serta sifat iri dan dengki yang luar biasa, sehingga enggan untuk mengakui kebenaran yang sebenarnya telah terpampang jelas dihadapannya. Adapun masyarakat luas yang mentaati mereka berarti telah menjadikan para pemimpin tersebut sebagai para Thoghut, yaitu fihak selain Allah yang memiliki sedikit otoritas namun berlaku melampaui batas sehingga menuntut ketaatan ummat sebagaimana layaknya mentaati Allah. Na’udzubillahi min dzaalika.

Keadaan ini mengingatkan kita akan peringatan Allah mengenai kaum munafik yang mengaku beriman namun tidak kunjung meninggalkan ketaatan kepada Thoghut. Padahal Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk meninggalkan para Thoghut bila benar imannya.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آَمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا

”Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa [4] : 60)

Sungguh dalam kelak nanti di neraka penyesalan mereka yang telah mentaati para pembesar dan pemimpin yang tidak menjadikan Allah dan RasulNya sebagai tempat kembali dalam menyelesaikan segenap perkara kehidupan.

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا رَبَّنَا آَتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

”Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami ta`at kepada Allah dan ta`at (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta`ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (QS. Al-Ahzab [33] : 66-68)

 

Sumber:

~ Al-Qur’an (beserta asbabun nuzulnya)

~ http://aboutagama.blogspot.com/2012/07/cara-tepat-menetapkan-1-syawal-idul-adha.html

~ http://politik.kompasiana.com/2012/07/19/sidang-itsbat-tanggal-19-juli-2012-kembali-merujuk-pada-%E2%80%9C-taghut-%E2%80%9C-teori-imkan-ru%E2%80%99yah-itu-sebenarnya-sebuah-taghut/

~ http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2011/09/21/dasar-dasar-penetapan-awal-dan-akhir-ramadhan-menurut-al-qur%E2%80%99an-dan-hadits-jawaban-terhadap-imkan-ru%E2%80%99yah-profdrt-djamaluddin/

~ www.eramuslim.com

~ http://hizbut-tahrir.or.id

~ http://tafsirtematis.wordpress.com

~ http://abisyakir.wordpress.com

 

wb: mattula_ada@live.com 

1 Juni 2012

Jauhi Azab dengan Cara Menolak Maksiat!

by: Abdullah al-Mustofa

SEORANG aktivis Islam Liberal (JIL),  menulis di sebuah akun Twitter mempertanyakan azab Allah Subhanahu Wata’ala kepada kaum Luth. “Kalau memang benar Kaum Luth diazab, kenapa Allah tidak menurunkan azab yang sama di zaman ini?”

Dengan kata lain, ia secara ragu mempertanyakan janji Allah Subhanahu Wata’ala yang tertulis dalam al-Quran Surat Huud tersebut. Sesungguhnya, jika dia memang benar-benar telah bersaksi sebagai seorang, Muslim tentu ia wajib mengimani dan meyakini kebenaran al-Qur’an. Sebab di antara Rukun Islam yang lima, nomor satu adalah; mengucap dua kalimat syahadat yang inti nya menerima bahwa Allah itu tunggal dan Nabi Muhammad itu rasul Allah. Menerima Allah berarti menerima sebua janji Allah yang telah disampaikan melalui al-Quran, di mana yang jelas-jelas menyatakan kaum Luth benar-benar diazab.

فَلَمَّا جَاء أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,” (QS. Huud [11]:82)

وَقَوْمَ نُوحٍ مِّن قَبْلُ إِنَّهُمْ كَانُوا هُمْ أَظْلَمَ وَأَطْغَى
وَالْمُؤْتَفِكَةَ أَهْوَى

“Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling durhaka. Dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah.” (QS. an-Najm [53]:52-53)

إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِباً إِلَّا آلَ لُوطٍ نَّجَّيْنَاهُم بِسَحَرٍ

“Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu, kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing,” (QS. al-Qomar [54]:34).

Pertanyaan tokoh JIL di atas paling tidak mengindikasikan dua hal, pertama dia tidak yakin kaum Luth diazab Allah, dan yang kedua —ini adalah tujuan dari pertanyaan tersebut—  dia menjustifikasi dan mempromosikan perbuatan menyimpang homoseksual. Sekali lagi jika dia memang benar-benar Muslim tentu selain meyakini adanya azab terhadap kaum Luth juga berusaha mencegah azab Allah tidak turun bagi dirinya sendiri dan orang lain/orang banyak baik di dunia maupun di akhirat dengan cara tidak menjustifikasi dan mempromosikan perbuatan-perbuatan maksiat.

Gambar rekayasa komputer tentang letusan Vesuvius, dari Pompeii di Discovery Channel

Memelihara Keluarga

Tak seorangpun mengharapkan azab menimpa diri, keluarga, masyarakat dan bangsanya, untuk itu logis jika menjadi kewajiban setiap diri berusaha menolak dan tidak mendukung dan mempromosikan maksiat agar jauh dari azab karena siksaan Allah tidak hanya menimpa orang-orang yang berbuat maksiat tapi juga orang-orang lain yang baik-baik yang tidak berbuat maksiat.

Karena itulah Allah memerintahkan pada kita menjaga diri agar tidak tergelincir. Perintah ini disampaikan kepada semua pihak, baik yang imannya lemah atau yang mengaku imannya kuat sekalipun.

وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. al-Anfaal [8]:25)

Bukannya justru mendukung maksiat seperti memperkuat statement bahkan mendukung kemaksiatan dengan cara menjaga keamanan dalam acara-acara maksiat yang sedang berlangsung.

Sebagai seorang Mukmin, kita harus punya keyakinan, bahwa azab yang ditimpakan Allah kepada manusia tidaklah terbatas berupa bencana-bencana alam seperti banjir, gempa dan angin kencang, tapi azab Allah juga berupa penghidupan sempit berupa bencana-bencana dalam bidang ekonomi, sosial dan politik seperti yang hingga kini masih melilit diri kita bangsa Indonesia.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat  dalam keadaan buta”.” (QS. Thaahaa [20]:124)

Azab Allah juga berupa musibah-musibah dalam bentuk lain seperti kecelakaan kereta api, jatuhnya pesawat, banjir, gempa dll.

Sepatutnya kepedulian untuk menolak maksiat dan kemunkaran guna menjauhi azab kita jadikan kebiasaan hidup dan menjadi bagian dari gaya hidup kita.  Usaha-usaha kita dalam menolak maksiat dan kemungkaran dengan segala cara dan media menunjukan kualitas keimanan kita. Tidak peduli dan mendiamkannya dengan diiringi perasaan benci saja berarti iman yang kita miliki adalah selemah-lemahnya iman, apatah lagi tidak peduli dan mendiamkannya tanpa diiringi perasaan benci (biasa-biasa saja) atau malah menyukainya, bisa-bisa di dalam hati kita sama sekali tidak ada iman sama sekali. Na’udzubillah min dzalik.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

Allah menginformasikan mereka yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah orang-orang yang beruntung. Sebaliknya mereka yang tidak peduli dan tidak melakukan apa-apa adalah orang-orang yang tidak beruntung.

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Hendaklah di antara kalian ada segolongan umat yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemunkaran. Dan merekalah termasuk orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran [3]:104)

Semoga diri dan keluarga kita terhindar dari kemaksiatan dan fitnah zaman ini. Serta dijauhkan dari siksa dan azab Allah.*

source: hidayatullah.com

pb: mattula_ada@live.com

20 Mei 2012

Belajar Menjadi Orangtua Sesuai Alquran

Tak sedikit generasi muda saat ini yang mengalami masalah-masalah dalam kehidupan. Mulai dari masalah tingkah laku, pergaulan, sampai masalah dari sisi keimanan. Penyebabnya bisa jadi karena Alquran dan tuntunan Rasulullah SAW tak lagi menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan.

Keprihatinan itu menjadi salah satu topik bahasan dalam forum silaturahim bulanan Ummahatul Mukminin Indonesia (UMI) bertema ‘’Quranic Parenting’’. Ustaz Budi Ashari dari Ar-Rahman Quranic Lear ning Center (AQL) yang menjadi salah satu pembicara dalam forum tersebut mengatakan, orangtua harus mau belajar menjadi orangtua sebelum ia benar-benar menjadi orangtua. Jika orangtua belum memahami fungsinya sebagai orangtua, akan sulit mendidik anak sesuai yang diamanatkan Alquran.

Buku Bacalah Alquran! Agar Keluarga Selalu Dilindungi Allah

“Sangat sulit jika orang tua belajar menjadi orang tua sambil jalan. Seharusnya, ia memahaminya sebelum menikah dan berketurunan,’’ ujar Ustaz Budi. Bagaimana jika perbaikan dimulai dari si anak? Menurut dia, hal itu akan sangat sulit, seperti membalikkan aliran air dari laut ke gunung.

Alquran, lanjut dia, sudah mengajarkan semuanya, mulai dari cara membentuk keluarga hingga cara yang tepat bagi orang tua untuk mendidik anak-anaknya. Alquran juga mengajarkan bagaimana pola hubungan yang baik antara orangtua dan anak.

‘’Jangan menjadikan Alquran hanya sebagai stiker yang jika bosan lalu dibuang. Tapi, galilah kan dungan yang ada di dalam nya. Quranic Parenting berusaha mengkaji ayat demi ayat dalam Alquran, yaitu ayat-ayat yang membahas pendidikan sebagai orang tua dan bagaimana pendidikan orang tua pada anaknya,’’ katanya.

Orangtua bijaksana
Sementara itu, Pimpinan Ar-Rahman Quranic Learning Ustaz Bachtiar Nasir membahas tentang cara menjadi orangtua bijaksana. Menurut dia, orang tua harus mengikuti perkembangan anak-anaknya. Jika tidak, akan tercipta jurang yang sangat dalam antara anak dan orangtua.

Jika ingin menjadi orang tua yang bijaksana, menurut Bachtiar, salah satunya harus pandai bersyukur kepada Allah. Orang tua harus memandang anak adalah hikmah dan menjadi orang tua adalah anugerah. ‘’Namun, tak setiap orang tua saat ini siap dan ber syukur pada Allah atas hik mah anak yang mereka dapat.’’

Panduan menjadi orangtua bijaksana ini terdapat dalam surah Luqman ayat 12-19. Ayat-ayat tersebut di antaranya menyebutkan apa saja ajaran-ajaran orang tua pada anaknya. Dikatakan bahwa syirik adalah bencana besar dalam keluarga. Karenanya, jauhkan anak-anak dari pendidikan dan lingkungan yang syirik. Jika diaplikasikan, Ustaz Bachtiar mengakui, memang tidak mu dah, tapi bisa dimulai dengan memilih lingkungan rumah yang baik. ‘’Jadi, jika ingin membeli rumah, lihat dulu tetangganya,’’ tutur dia.

Ia mengatakan pula, orangtua wajib mendidik anak-anaknya untuk berbuat baik pada orang tuanya agar si anak tidak dilaknat oleh Allah SWT. Untuk ini, ada dua fondasi yang harus dibangun pada anak. Pertama, selalu bersyukur kepada Allah. Kedua, selalu menghargai pengorbanan kedua orangtuanya.

source: republika.co.id

pb: mattula_ada@live.com

23 Maret 2012

Eh, Ternyata Al-Quran Itu Berasal dari China

by: Indra Sastrawat

Ada anekdot, “Kalau Tuhan itu membuat segalanya, kemungkinan dia berasal dari China”. Bangsa China merupakan satu kelompok dalam ras Mongoloid, sebenarnya yang di maksud China dalam konteks modern terdiri dari ratusan suku yang sebagian besar mendiami suatu kawasan di Asia. China dikenal sebagai bangsa yang mampu memproduksi barang bahkan tidak jarang mereka mampu meniru barang-barang mahal dari Jepang dan Eropa. Dalam buku Agustinus Wibowo yang berjudul Garis Batas, diceritakan bagaimana barang-barang milik China mampu menembus senyapnya Asia Tengah.

Dan beberapa bulan yang lalu, tepatnya Ramadhan tahun lalu saya menyempatkan ke Toko Buku Gramedia di kawasan Mall Panakukang Makassar. Toko Buku ini merupakan favorit saya sejak dulu. Saya pergi tidak sendiri ditemani istri. Dia paling suka ke TB Gramedia, apalagi kalau bukan membeli buku-buku marketing yang bagi saya membaca judulnya saja saya seperti kehilangan selera makan. Buku dengan tema 10 jalan sukses atau menjual asuransi itu mudah bukan tipe saya. Sangat berbeda dengan saya yang walau gelar kesarjanaan ekonomi tapi lebih senang bermain-main di kelompok buku sejarah dan agama.

1327242034353996758

Quran Digital

Tapi hari itu ada yang berbeda, lantunan ayat-ayat suci Quran terdengar dengan syahdunya. Tertarik dengan suaru itu, saya kemudian mendatangi. Dan ternayata suara tadi merupakan bagian dari promosi metode membaca Quran dengan baik lengkap dengan tajwidnya. Sebenarnya produk ini bukan barang baru dikenal dengan nama buku berbicara (talking book) dan Quran digital salah satu produk andalannya. Sebuah produk inovatif dimana dengan memakai pen (modelnya mirip pulpen) yang diarahkan ke huruf di Al Quran maka akan keluar suara (audio) seperti yang ditunjuk. Dalam hati saya ini pas untuk orang seperti saya yang belum fasih membaca Quran, dan bagusnya lagi untuk bulan ramadhan barang itu mendapatkan diskon. Dalam hati saya, ramadhan memang bulan berkah. Setelah konsultasi sebentar dengan istri kami sepakat membeli Al Quran digital itu.

Saya sungguh penasaran dengan produk Quran digital ini, bayangkan dengan sebuah pen yang diarahkan ke tulisan Quran akan keluar suara orang yang mengaji dengan syahdunya, juga ada terjemahan dari setiap ayatnya. Begitu t iba di rumah saya mulai mencoba produk ajaib ini, dan sungguh ini sangat bagus. Penasaran lagi saya mencari tahu asal dari produk ini, dan ketika saya melihatnya ternyata bukan buatan Indonesia. Eh ternyata Quran itu berasal dari China, suatu negeri yang dulu Nabi Muhammad menyuruh para sahabatnya untuk berguru kesana. Di Bagian dalam dengan jelas disebutkan nama kota Guangdong sebagai tempat produksinya.

Ide kreatif melintas kultur dan agama telah membawa bangsa China ini untuk terus berkompetisi dan berani mencoba melakukan inovasi. Saya bayangkan dahulu bagaimana takjubnya Nabi Muhammad degan produk keramik dan herbal dari China sehingga meminta sahabatnya untuk menuntut ilmu ke negeri Tiongkok. Dan kini bangsa yang dulu menjadi sasaran empuk bangsa-bangsa lain telah bangkit menjadi bangsa terdepan dalam segala bidang, mereka kuasai bidang olahraga, Ekonomi, Manufaktur, Pariwisata, pendidikan dll. Seolah tidak ada sejengkal tanah di bumi ini yang belum di singgahi bangsa China, kalau bukan manusianya maka barang-barang Made in Chinatelah datang mendahului manusianya.

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id