Archive for ‘Kemasyarakatan’

7 Agustus 2012

Setiap dibuka CPNS, Pejabat Main Lotre

Ada hal yang paling menarik dikala dibukanya Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Indonesia yaitu Pejabat berlomba-lomba mencari keuntungan yang banyak dalam kesempatan tersebut.

Jika kita menyinggung permasalahan Calo yang bermain dalam ranah penerimaan Pegawai Negeri Sipil, itu tidak diherankan lagi. Kebanyakan dari mereka selalu mencari mangsa sebanyak-banyaknya biar mendapat keuntungan, mereka tidak peduli apakah akan berdampak negatif bagi Pemerintahan atau tidak. Yang penting isi perut dan keinginan untuk memperkayakan diri akan segera tercapai dan kebanyakan mereka rata-rata selalu tercapai akan maksud tersebut.

Tarif yang ditawarkan oleh Calo bagi para Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) berbeda-beda setiap tahun. Bisa kita prediksikan untuk tahun ini tarif Sogok berkisar antara 50.ooo.000,-  s/d  70.000.000,- /orang. Tarif ini sering berlaku untuk tingkat provinsi dan kabupaten. Sedangkan untuk tingkat pusat berkisar antara 150.000.000,- s/d 300.000.000,-/orang.

Suasana tawar-menawar ini sudah menjadi tradisi di Negara Indonesia, bahkan pemerintah pun tidak sanggup mencegah akan sogok-menyegok tersebut. Rahasia umum ini berjalan dengan sangat sistematis, mereka tidak menggunakan rekening dalam menerima uang sogokan dari para Calon Pegawai Negeri Sipil, tapi langsung bertatap muka (empat mata) dan tempatnya telah diatur sedemikian rupa dan sangat rahasia. Sehingga keyakinan bagi para Calon pegawai bisa 100% akan kelulusannya, karena telah bertatap muka langsung dengan para Calo masing-masing. Setelah kedua pihak setuju, maka dihari yang lain mereka berjumpa lagi dan si Calon Pegawai pun membawa uang (sesuai dengan perjanjian) untuk diberikan kepada Calo-nya. Padahal Pengumumannya belum dikeluarkan, mereka dengan berani membayar uang sedemikian banyak kepada Calo-nya tanpa memikirkan resiko apapun.

Pejabat Main Lotre

Kalau para Calo bermain sebelum menang, itu sangat berjiwa berani dan tertantang dalam  dunia Per-Calo-an. Karena mereka dengan berani meyakinkan para Cliennya akan kelulusan mereka sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Lain halnya dengan para Pejabat-pejabat yang sok bersih, seolah-olah mereka tidak terlibat dalam hal memeras dan menipu para Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Mereka (para pejabat) bermain dengan sangat licik dan profesional, tidak pernah bisa diduga oleh para Calon Pegawai apakah mereka lulus dengan murni atau atas bantuan pejabat yang mereka kenal.

Pejabat dalam bermain di dunia Per -calo- an, mereka membuat perjanjian yang sangat profesional. salah satunya adalah “kamu bawakan uang segini (jumlah yang sudah disepakati), jika nama kamu nanti keluar di pengumuman tersebut. Biar kamu tidak rugi dan tidak ada penipuan di situ, kita bermain fair dan bersih.

Hati-hati bagi para Calon Pegawai yang ingin ikut test, karena banyak orang yang menggunakan trik itu untuk menipu anda semua. Sehingga anda harus mengeluarkan uang sedemikian banyak (sesuai dengan perjanjian), padahal anda lulus dengan sendirinya (lulus murni) tanpa diurus oleh orang lain.

Jika para pejabat mencari mangsanya sebanyak 50 orang, katakanlah 30 orang yang lulus murni (tanpa campur tangan mereka), berapakah uang yang didapatkan dari mereka? setiap orang membayar misalkan 50.000.000,- , kita kalikan saja 50.000.000,- x 30 = 1.500.000.000,-.

Hanya dengan menggoyang-goyangkan kaki di meja, mereka mendapatkan uang sebanyak itu. Sungguh merupakan suatu pembodohan bagi setiap Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Karena jika pun para calon pegawai tidak lulus, mereka pejabat tidak rugi dan tidak tercemar nama baik mereka. Mau kita tuntut pun juga tidak bisa, malah kita sendiri yang dimasukkan ke dalam penjara karena pencemaran nama baik, apalagi mau mencemarkan nama baik seorang pejabat.

Apakah kita sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) masih tidak sadar dan masih mau untuk melakukan transaksi sogok-menyegok supaya lulus nanti? Sungguh itu suatu perbuatan yang sangat tercela dan merugi.

Kapan akan hilang sistem ini jika kita selalu melakukan hal demikian, baik kita sebagai Calon Pegawai maupun sebagai Pejabat. Walaupun Pemerintah menyeru kepada setiap instansi untuk bermain bersih dalam perekrutan pegawai di kepemerintahan, tradisi sogok-menyegok tetap berjalan seperti biasa. Semua cara sesuai dengan keahlian masing-masing para Calo, kebanyakan para calon pegawai pun tetap mengikuti aturan main yang salah dan tercela.

Mudah-mudahan bagi kita semua bisa sadar untuk menghilangkan tradisi sogok-menyegok dalam setiap pembukaan lowongan kerja dimana pun. Demi terciptanya Pegawai yang bersih dan Profesional. demikian

tertanda,

Muksalmina Mta

(Penggiat Politik dan Hukum di Aceh)

pb: mattula_ada@live.com

Iklan
Tag: , ,
10 Juni 2012

Aksi FPI yang Tak Pernah Disiarkan TV

by: Brillianto K. Jaya

Jumat, 24 Desember 2011. Sore itu jemaat memadati seluruh gereja di kota Cilacap. Mereka hadir untuk mengikuti misa Natal. Jumlah jemaat yang banyak menyebabkan panitia Natal di gereja-gereja itu terpaksa memasang tenda dan layar lebar di luar gereja. Kondisi yang sama juga terjadi pada Sabtu pagi (25/12/2011).

Di antara aparat keamanan, Nampak sejumlah anggota Front Pembela Islam (FPI) berjaga. Ormas Islam yang dilebeli ormas anarkis ini sejak sore hingga malam hari itu ikut mengamankan jalannya misa Natal 2011 lalu. Sedikitnya FPI wilayah Cilacap ini telah mengerahkan 200 orang.

Kami sebagai elemen bangsa ikut membantu pengamanan, monitoring keliling mengawasi jika ada yang mencurigakan,” kata Ketua Majelis Tanfizi FPI DPW Cilacap, Haryanto.

Itulah salah satu bentuk solidaritas atau toleransi yang pernah dilakukan FPI. Jika dipikir-pikir, untuk apa juga menjaga gereja, bukankah FPI itu pembela Islam? Namun, nyatanya FPI tidak sepicik itu.

Menjaga gereja cuma satu dari banyak aktivitas yang tidak pernah disiarkan TV atau ditulis oleh media-media cetak. Sebagaimana tagline media: good news is bad news. Aktivitas sosial atau fakta toleransi dalam bentuk solidaritas yang dilakukan FPI bukanlah good news. Biasanya aksi seperti itu baru akan dijadikan berita jika media mendapatkan benefit (baca: nilai uang), sebagai bentuk pencitraan corporate atau personal.

Tentu saja FPI tidak pernah lelah melakukan aksi-aksi seperti itu, meski tidak pernah diliput media. FPI pun pasti tidak pernah protes dengan ketidakseimbangan media, sehingga FPI mendatangi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) atau Komisi Penyiaran Indonesia (PWI). Padahal fakta menunjukkan, pada Maret 2003 FPI pasang body membela wartawan yang diintimidasi “orang-orang” Tommy Winata.

Jadi, saya setuju sekali dengan status Ustaz Arifin Ilham di akun Facebook: “Biarlah Arifin Menanam Padi dan FPI Menjaga Tikusnya”. Selama masih banyak tikus di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai ini, #IndonesiaButuhFPI. Tanpa perlu publikasi media atau puja-puji, #IndonesiaButuhFPI.

pb: mattula_ada@live.com

 

 

 

 

17 Mei 2012

Setujukah Denda 50 Juta untuk Mahasiswa yang Merokok di Kampus?

by: Yori Pusparani Olye

Bagi mahasiswa, merokok bukanlah hal yang tabu di lingkungan sehari-hari. Kebiasaan buruk ini kerapkali terjadi justru ketika berada di lingkungan kampus. Di Kampus Yayasan Administrasi Indonesia yang berlokasi di Jl Salemba, Jakarta Pusat, kebiasaan merokok ini tidak hanya dilakukan para mahasiswa yang notabene masih meminta uang dari orangtuanya, tetapi juga beberapa dosen. Tidak hanya mahasiswa, beberapa mahasiswi pun kerap kali kepergok sedang merokok di saat selesai mengikuti perkuliahan atau sedang kongkow-kongkow dengan teman-temannya.

Menyikapi hal ini, Pudek I Fakultas Ilmu Komunikasi Dr Tisna Kuswara Rustama M Hum menyatakan bahwa pihak rektorat akan mengeluarkan peraturan melarang merokok di lingkungan kampus. ”sebentar lagi kita akan mengeluarkan peraturan di kampus. Supaya mahasiswa yang merokok akan dikenakan denda Rp 50 juta, ” katanya saat perkuliahan perancangan komunikasi visual II, beberapa waktu lalu.

Sejumlah mahasiswa pun mendukung upaya kampus bebas rokok tersebut. Apalagi dikaitkan dengan peraturan daerah DKI No 2/2005 tentang Pengendalian Polusi Udara Perkotaan dan Pergub No 75/2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok.

Nah, apakah rekan-rekan mahasiswa YAI setuju denda 50 juta tersebut, supaya kampus tercinta ini bebas dari asap rokok?

source: republika.co.id

pb: mattula_ada@live.com

9 Maret 2012

Gawat, Mahasiswi Rela Jadi Pengemis!

by: Indra Sastrawat

Adzan Magrib baru saja lewat, lampu penerangan jalan remang-remang memantul di jalanan. Angin sepoi-sepoi seperti mengirim isyarat kesejukan. Sekelompok anak muda dengan wajah ceria baru saja mendatangi sebuah mobil sambil melantunkan sebait lagu. Suaranya benar-benar fals tapi semangatnya luar biasa. Sekilas tiada yang luar biasa dari persitiwa yang baru saja saya alami, kecuali bahwa yang barusan mengamen itu ada sekelompok mahasiswa dengan memakai jas almameter.

Melihatnya rasa kecewa berkecamuk dalam dada saya. Saya tidak menyangka anak-anak muda dengan jas almamaternya tidak lebih baik dari para gempel di lampu merah. Jas almamater seharusnya balutan kehormatan seorang intelektual muda.

Sebuah kardus sebagai penggangti kotak sumbangan di pegang manis oleh seorang mahasiswi. Dengan senyum lembutnya dia mendatangi satu persatu pengendara jalan berharap ada yang membuang selembar rupiah atau sebuah koin eceran. Di kardus sumbangan tertulis kalimat singkat “sumbangan bakti sosial”. Entah apa yang di dalam benak para mahasiswa dan mahasiswi yang jumlahnya sekitar 5-6 orang. Sesulit itukah mendalang dana untuk kegiatan mahasiswa sampai mereka menjual harga diri sebagai pengamen di jalanan.

Setahu saya, sepuluh tahun silam ketika mahasiswa dana kemahasiswaan juga sangat terbatas tapi maaf kami tidak pernah berpikir untuk lari ke jalanan sebagai pengemis atau pengamen. Jalanan bagi kami adalah mimbar untuk rakyat bukan mimbar peminta.

Kejadian malam itu bukan yang pertama saya alami di Makassar. Pernah, ketika sedang mengisi bensin di SPBU di depan pintu Satu Unhas, seorang mahasiswi mendatangi saya untuk menawarkan sebuah coklat yang harganya tidak lebih dari 2000 rupiah. Di jualnya coklat itu seharga Rp. 5000 (lima ribu rupiah), katanya untuk kegiatan kemahasiswaan.

Seorang pengendara didekat saya, tertarik untuk menanyakan almamater para mahasiswi ini, jawabnya singkat saya dari politeknik, jas hitam sebenarnya sudah menjawab pertanyaan tadi. Si penanya langsung merespon dengan jawaban singkat pula “itu kampus saya dulu” sambil memberikan duit 10.000 (sepuluh ribu). Mereka sebenarnya bukan sedang jualan coklat tapi sedang mengemis,bahkan di mall sekalipun harga sebuah coklat itu tidak lebih dari 2000 rupiah.

Pengalaman ketiga juga satu temui di lampu merah depan pintu satu Unhas, lagi-lagi mahasiswi manis sedang menebar senyum sambil menenteng kardus sumbangan. Yang membuat dada saya sesak adalah mereka mengenakan jas merah, jas kehormatan bagi warga Makassar, jasi ini pernah di kenakan oleh Jusuf Kalla, Tenri Abeng hingga Arifin Tumpa.

Yang membuat dada saya sesak karena mereka mengaku dari Fakultas Ekonomi dan bisnis. Dari nama fakultas saja bisa di ketahui bahwa anak-anak muda ini harusnya telah mengerti tentang kewirahusaan, minimal paham sedikit tentang ekonomi fiskal, dan jika takdir mengizinkan mereka nanti itu otak kebijakan ekonomi nasional kita.

Sebuah fakta yang memalukan. Apakah ini buah dari yang namanya privatisasi Universitas ataukah ini buah dari kurangnya perhatian rektorat terhadap kegiatan kemahasiswaan. Sekali lagi tiga kejadian diatas hanya contoh kecil, dibalik itu saya masih yakin ada anak muda negeri ini yang berpikir kreatif.

Beberapa saat lalu, sebuah proposal elegan datang di kantor kami. Sebuah kegiatan  seminar internasional tentang ekonomi syariah akan di lakukan di kampus Unhas, pelaksana kegiatannya membuat saya bangga adalah adik-adik junior saya. Toh mereka mampu, lalu kenapa harus tersesat di jalanan menjadi pengemis dan pengamen. Tinggal bagaimana mahasiswa ini bisa mengemas kegiatan mereka dengan elegan dan cantik, dengan membuat proposal yang layak untuk dijual.

Salam

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id