Archive for ‘Lain-Lain’

15 Mei 2012

DVI Indonesia: Ujung Tombak Identifikasi Korban Sukhoi

Proses evakuasi korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 yang menewaskan 45 orang di Gunung Salak terus berlangsung. Selain tim SAR, tugas berat kini berada di tangan tim Disaster Victim Identification (DVI) yang akan mengidentifikasi para korban. Harapan para keluarga korban berada di tangan tim ini.

Korban Sukhoi

Setiap kali ada bencana alam, kecelakaan moda transportasi yang menimbulkan banyak korban, hingga penggerebekan teroris, masyarakat kini sudah terbiasa melihat petugas berseragam biru tua dengan logo DVI. Para petugas inilah yang kemudian melakukan identifikasi para korban.

Disaster Victim Identification (DVI) adalah suatu prosedur untuk mengidentifikasi korban mati akibat bencana  yang dapat dipertanggungjawabkan secara sah oleh hukum dan ilmiah serta mengacu pada Interpol DVI Guideline. Kehadiran DVI diperlukan untuk menegakkan hak asasi manusia, sebagai bagian dari proses penyidikan, terutama jika identifikasi visual diragukan, dan sebagai penunjang kepentingan hukum (asuransi, warisan, status perkawinan).

Di Indonesia, keberadaan DVI belum terlalu lama. Publik sebelumnya lebih mengenal Laboratorium Forensik (Labfor) Kepolisian yang berada di bawah Kedokteran Kepolisian (Dokpol) yang pertama kali dibentuk pada 1977 dan kemudian diresmikan sebagai bagian dari kepolisian pada tahun 1984.

DVI Indonesia pembentukannya dipelopori pertama kali dalam The 1st Interpol DVI Pacific Rim Meeting tanggal 25–27 Januari 2001 di Makassar. Setelah melalui berbagai pertemuan dan pelatihan, pada tanggal 29 September 2004 dilakukan MoU yang kedua antara Departemen Kesehatan dan Polri tentang Pedoman Penatalaksanaan Identifikasi Korban Mati pada Bancana Massal yang juga disepakati terbentuknya Tim DVI Indonesia Nasional serta pembagian wilayah Regional DVI di Indonesia. MoU inilah yang menjadi tanda berdirinya DVI Indonesia.

Dalam sebuah kejadian, prosedur DVI diterapkan jika terjadi bencana yang menyebabkan korban massal, seperti kecelakaan bus dan pesawat, gedung yang runtuh atau terbakar, kecelakaan kapal laut dan aksi terorisme. Dapat juga diterapkan terhadap bencana dengan jumlah korban dan skala kecil serta dapat pula diterapkan terhadap insiden lainnya dalam pencarian korban.

Saat Sukhoi Superjet 100 diketahui jatuh di Gunung Salak, tim DVI Indonesia langsung bergerak dengan membentuk posko di Bandara Halim Perdanakusuma. Keluarga korban diminta untuk menyerahkan data-data pembanding atau yang disebut antemortem (data penumpang sebelum kecelakaan). Data yang lazim digunakan untuk mengidentifikasi korban adalah sidik jari, rekam medik dokter gigi, rekam medik jika yang bersangkutan pernah dioperasi, foto rontgen, hingga sampel DNA dari keluarga. Data antemortem juga bisa berupa properti korban.

Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Mabes Polri Komisaris Besar Anton Castilani saat menemui keluarga korban di RS Polri Kramatjati, Sabtu (12/5) lalu menjelaskan, proses identifikasi korban diperkirakan akan berlangsung lama, sebelum para korban dikembalikan kepada pihak keluarga.

Selain menunggu kelarnya proses evakuasi, jenazah yang diterima tim DVI sudah tidak dalam keaadaan utuh. Tahapan proses identifikasi dimulai dengan tes DNA yang bisa memakan waktu 2 pekan. Kemudian potongan tubuh akan dicocokkan per bagian. Jika kemudian lengkap, maka tugas selanjutnya adalah menyatukan potongan tubuh itu atau direkonstruksi. “Tentu keluarga tidak ingin menerima jenazah yang bukan keluarganya,” kata Anton.

Posko DVI Korban Sukhoi

Tak bisa dipungkiri peran petugas identifikasi korban bencana atau Disaster Victim Identification (DVI) amat penting untuk mengenali korban bencana atau kecelakaan yang kondisi jasadnya sudah tak utuh lagi.

DVI adalah sebuah prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi korban kecelakaan yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Sebab, DVI mengacu pada standar baku interpol.

Penelusuran merdeka.com, petugas DVI menjalankan lima tahap dalam penyelidikannya. Setiap tahap memiliki kaitan satu sama lain, yaitu: The Scene, The Mortuary, Ante Mortem Information Retrieval, Reconciliation dan Debriefing.

Dalam menjalankan tugasnya, petugas DVI mempunyai bermacam metode dan teknik untuk mengidentifikasi korban. Pihak Interpol telah menentukan identifikasi primer (utama) yang meliputi sidik jari, catatan kesehatan gigi dan DNA. Selain identifikasi utama, ada juga identifikasi sekunder (pendukung) yang meliputi catatan medik, properti dan photographi.

Cara kerja dari proses identifikasi ini adalah dengan membandingkan Ante Mortem dan Post Mortem. Semakin banyak kecocokan di antara keduanya maka akan semakin mudah petugas DVI mengenali korban.

Ante Mortem adalah ciri-ciri khas yang dimiliki seseorang di tubuhnya seperti bentuk gigi, sidik jari, tanda lahir dan pakaian yang digunakan sebelum kematian. Data Ante Mortem ini didapat dari keterangan keluarga atau kerabat korban. Sementara, Post Mortem adalah ciri-ciri fisik kematian.

Saat ini metode yang paling muktahir untuk digunakan adalah DNA Profiling (tes DNA). Metode ini memiliki banyak keunggulan, tapi metode ini memerlukan pengetahuan dan sarana yang canggih, serta biaya yang mahal.

DNA atau Deoxyribo Nucleic Acid adalah asam nukleat yang menyimpan semua informasi tentang genetika. DNA ini yang menentukan jenis rambut, warna kulit dan sifat-sifat khusus dari manusia. Dalam identifikasi DNA, metode yang digunakan adalah dengan mengidentifikasi fragmen-fragmen dari DNA itu sendiri. Atau secara sederhana, metode untuk mengidentifikasi, menghimpun dan menginventarisir data-data khas karakter tubuh.

Hampir semua bagian tubuh dapat digunakan sebagai sampel tes DNA. Yang paling sering digunakan adalah darah, rambut dan kuku. Akurasi kebenaran tes DNA hampir 100 persen akurat. Namun, kesalahan bisa saja terjadi, tapi kemungkinannya sangat kecil, yakni satu diantara sejuta.

source: merdeka.com, harianjogja.com, vivanews.com

pb: mattula_ada@live.com

7 Mei 2012

Menangkap Supermoon di Kapuas via Kamera Saku

by: Achmad Siddik

Usai shalat maghrib saya keluar dari Mess Manggala Agni sejenak. Udara begitu panas senja ini. Saya tengadahkan kepala ke atas. Tak sengaja saya melihat pecahan kaca yang menempel di atas tembok belakang mess berkilau indah. Ada apa gerangan. Saya mundurkan sedikit tempat berdiri dan…

Subhanallah…Maha Indah, DIA…

Supermoon via Kamera Saku pkl. 18.55 di Kapuas Kalteng (dok. pribadi-6/5/2012)

Begitu terangnya bulan malam ini. Saya pun teringat tentang tulisan beberapa kompasianer tentang Supermoon. Saya browsing di Blackberry tentang Supermoon. Setahu saya Supermoon sudah lewat  kemarin malam bertepatan Chelsea meraih Piala FA. Akhirnya benar, saya temukan artikel di Kompas.com yang berjudul :

Supermoon akan Datang Lagi .

Ya, Supermoon memang datang lagi, waktunya malam ini. Seperti penjelasan di Kompas.com berikut :

“Supermoon kali ini bisa disaksikan pada Minggu, sesaat setelah Matahari tenggelam hingga sesaat sebelum fajar menyingsing esok harinya. Tentu saja, kondisi langit cerah tanpa awan dan hujan adalah syarat mutlak menyaksikan fenomena ini.”

Lebh lanjut dalam berita di artikel Kompas.com, Mutoha Arkanuddin dari Jogja Astro Club (JAC) menyatakan bahwa saat Supermoon terjadi nanti, Bulan hanya akan berjarak 356.955 kilometer dari Bumi. Jarak Bulan kali ini 10 persen lebih dekat dari jarak Bulan biasanya. Karena jaraknya lebih dekat, Bulan akan tampak lebih besar. Pada Supermoon tahun ini, Bulan akan tampak 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang.

Saya menengok kebun jagung dan jeruk di depan mess sangat terang seperti waktu sore. Kolam yang ada disamping mess juga terlihat lebih terang dan memendarkan cahaya bulan. Saya abadikan momen ini dengan kamera saku saya yang tidak canggih. Meski harus garuk-garuk kaki dan tangan karena banyak nyamuk akhirnya dua foto terbaik saya pilih untuk ditempel di tulisan ini.

1336309561728123845

Malam lebih cerah dan terang saat Supermoon malam ini (18.55) di Kapuas Kalteng

Semoga yang melihat foto saya tidak kecewa berhubung ketrampilan dan kamera saya sangat minim dalam menangkap obyek malam hari. Saya memakai kamera saku S122 Sanyo dengan Scene Night Portrait dan besar resolusi 12 MP.

Selamat menikmati keindahan Supermoon di langit Negeri Kahatulistiwa.

Cat: Foto-foto supermoon yang lebih jelas dan terang dapat dilihat di artikel saudara Joko Wenampati berjudul “Foto Penampakan Supermoon“.

pb: mattula_ada@live.com

7 Mei 2012

Semesta Bertasbih di Langit Makassar

by: Indra Sastrawat

Sayup-sayup terdengar merdunya alunanan Zikir dari corong gedung lantai 11 Wisma Kalla, pertanda bagi kami untuk bersiap-siap melaksanakan shalat Jumat. Saya menatap disebelah barat tempat saya duduk nampak dengan kokoh berdiri Menara Bosowa, sebuah gedung pencakar langit tertinggi di Makassar. Gedung ini punya kharisma tersendiri di kota Makassar, dibangun oleh kelihaian saudagar Bugis simbol dari cerita sukses para passompe masa silam.

13361875571610748000

Menara Bosowa

Jeda sejenak saya memandang sedikit ke utara, kelihatan gemerlapnya gedung Graha Pena milik Saudagar Alwi Hamu. Graha Pena merupakan pusat bisnis koran Fajar, sebuah koran terbesar di Indonesia Timur.Di kedua gedung ini saya bisa merasakan lantunan zikir sama seperti di wisma Kalla, bagi orang Bugis nilai-nilai spritual tidak bisa dipisahkan dari nafas bisnis para saudagar ini.

Tidak lama aluanan Takbir memanggil kami untuk segera berkumpul di lantai 4 untuk segera menunaikan kewajiban Shalat Jumat. Sambil wudhu saya pandangi langit Makassar yang mulai bergeliat dengan gedung-gedung pencakar langitnya.

1336187787404128747

Menara Phinisi Milik UNM

Sebuah gedung dengan artistik lokal-modern sedang di genjot pembangunannya, diberi nama sesuai dengan semangat orang Bugis Makassar yaitu Menara Phinisi. Gedung yang tingginya 96 Meter menjadi cikal bakal pusat administrasi dan rektorat Universitas Negeri Makassar. Tidak jauh dari Menara Phinisi sedang dibangun Menara Universitas Muhammadiyah berlantai 15.

Tidak ingin kalah dari UNM dan Unismuh, pihak Universitas Muslim Indonesia (UMI) sedang merintis pembangunan gedung tinggi bernama Grand Syariah UMI, gedung ini lebih tinggi dari menara Phinisi. Dan jika tidak ada halangan Grand Syariah ini makin mengukuhkan jatidiri orang Bugis Makkasar nafas islami. Sejak lama Sulsel dan Makassar disebut sebagai serambi Madinah.

13361876291526498117

Masjid Terapung di Makassar

Dalam lima tahun terakhir semakin banyak gedung pencakar langit yang dibangun di kota anging mammiri. Sebagian besar di bangun untk kepentingan ekonomi dan bisnis disamping untuk sarana pendidikan. Proyek Monumental lain yang sedang di bangun adalah pembangunan Masjid Terapung pas didepan pantai Losari bernama Masjid 99 Al-Makassary yang merupakan masjid pertama yang dibangun di atas laut. Dan tidak lama lagi dari laut Makassar akan terdengar lantunan tasbih, tahmid dan takbir.

13361879001626078931

Wisma Kalla

Rasa lapar sehabis Shalat mengerakkan kami ke kantin, saya menatap gedung hijau tempat saya makan.Gedung hijau ini tiada lain adalah Wisma Kalla. Dari namanya semua sudah tahu bahwa pemilik gedung ini adalah saudagar Bugis Makassar yang paling sukses, dia adalah Jusuf Kalla. Belum genap sebulan saya berkantor di gedung hijau ini, tiap masuk waktu shalat lantunan zikir selalu mengawali waktu shalat. Kerja dan ibadah merupakan dua pilar sukses yang selalu bersama.

Dan bisa dipastikan di setiap waktu shalat terutama jelang shalat Jumat dari gedung-gedung pencakar langit dan menara masjid yang menjulang tinggi akan terdengar lafaz zikir kemudian menyusul lantunan takbir. Dan semesta bertasbih di langit Makassar.

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id