Archive for ‘Filsafat’

24 Maret 2012

Sekumpulan Domba di Antara Genghis Khan dan SBY

by: Indra Sastrawat

Apa jadinya jika bangsa Mongol tidak pernah melahirkan seorang Genghis Khan ??? sejarah dan peradaban bangsa ini hanya dikenal sebagai bangsa nomaden yang hidup dari satu kemah ke kemah yang lain. Bangsa ini pasti disejajarkan dengan bangsa-bangsa lain yang gagal mengguncang dunia, bangsa yang hadir sebagai budak bangsa lain. Keberanian dari mata elang Genghis Khan lah yang mampu membawa suatu bangsa terserak dimuka bumi menjadi suatu bangsa yang pernah energi, yang ditakuti di seantero jagat ini.

Jiwa kepimpinan seorang Genghis Khan mampu menghidupkan benih-benih keberanian seorang Mongol untuk menjejakkan kakinya di negeri jauh di lembah Tigris hingga menusuk masuk di sungai Volga bagian Eropa.

1326359748799434739

Ilustrasi

Mutiara kata  Arab berkata “Sekumpulan domba yang dipimpin singa mampu mengalahkan sekumpulan singa yang dipimpin domba”. Bangsa Mongol merupakan sekumpulan domba yang minim pengalaman perang namun beruntung memiliki seorang berhati Singa yaitu Genghis Khan. Sangat berbeda dengan keadaan di negeri kita sekarang, negeri yang besar dengan sumberdaya alam yang melimpah ibarat singa yang ganas namun celakanya memiliki pemimpin bermental domba, penakut dan tak memiliki energi untuk membawa bangsa ini menjadi singa di Asia.

Kita pernah di juluki salah satu macan di Asia, namun macan ini sekarang telah ompong, taringnya tidak mampu mengunyah lawannya. Kita bahkan tertinggal oleh bangsa Hindustan yang sering kali diejek hanya mampu menari dan menyanyi.

Mental sang pemimpin merupakan kunci yang utama. Seorang Genghis Khan dan pasukan Mongolnya boleh dianggap seorang yang paling pede dalam sejarah, dengan hanya menunggang kuda dengan senjata sederhananya dia berani melawan sebuah imperium besar, kalau saja Kekhalifaan Mameluk di Mesir tidak mengalahkan mereka di Ain Jalut saya yakin bangsa Mongol akan sampai menguasai Afrika, menginjakan kakinya di Tanjung Harapan di ujung selatan benua hitam.

Genghis Khan bahkan mampu mewarisi keberanian kepada anak dan cucunya, kepada Ogedai Khan dan Hulagu Khan. Yang seperti moyangnya juga menjadi penakluk hebat.

Sangat disayangkan jika bangsa besar seperti Indonesia tidak ubahnya seperti sebongkah kayu yang diombang-ambing dalam kegelapan lautan. Bangsa ini telah mengkhianti nikmat TuhanNya, kekayaan alam yang dianugrahkannya justru di berikannya ke bangsa asing.

Alangkah lucunya negeri ini dimana sekumpulan singa yang dipimpin domba mesti bersusah payah berjuang keluar dari garis kemiskinan. Susilo Bambang Yudhoyono mesti membuka literatur sejarah Mongol, resapi keberanian si mata elang Genghis Khan, lalu terbangkan bangsa ini menjadi superpower dunia yang disegani. Kuncinya adalah bangsa besar memiliki seorang pemimpin besar.

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id

7 Februari 2012

Anggota DPR dan Anak TK

by: Indra Sastrawat

Ada benarnya ungkapan Gus Dur alias Abdurrahman Wahid yang menyebut anggota DPR seperti anak TK yang suka ribut  dan suka berantem. Saya tambahkan satu lagi yaitu suka menangis

Beberapa hari lalu kami diundangan persentasi di salah satu Taman Kanak-Kanak (TK) di Makassar, ketika waktu persentasi tiba suara anak-anak TK memang sangat ribut. Beberapa kali guru berusaha mendiamkan tapi tetap saja ribut, tidak hanya ribut kadang ditengah persentasi ada anak TK yang menangis dan berantem, saya lantas teringat dengan pernyataan Gus Dur dulu ketika menyinggung prilaku anggota DPR, yang katanya anggota DPR seperti anak TK.

Prilaku anggota DPR yang suka ribut bisa dilihat disidang-sidang paripurna DPR atau sidang di komisi, prilaku anggota DPR tidak jauh beda dengan prilaku anak TK. Atas nama kepentingan negara mereka berusaha saling menyerang opini, bahkan tidak jarang kata-kata umpatan sering meluncur dari mulut anggota dewan terhormat. Anehnya prilaku barbar semacam ini dianggap biasa oleh anggota DPR.

Bahkan kegemaran bikin ribut tidak hanya terjadi di ruang-ruang sidang, tidak jarang keributan itu muncul diacara Talk Show di televisi. Terakhir dalam kasus renovasi ruang Banggar yang super mewah, tiba-tiba kegaduhan muncul dari anggota DPR yang menolak, lucunya kegaduhan justru terjadi disaat ruangan ini sudah selesai di renovasi. Seolah-olah ini hanyalah scenario, atau lelucon khas Senayan.

Prilaku barbar anggota DPR lainnya yaitu suka berantem. Layaknya anak TK, berantem merupakan budaya baru anggota DPR kita. Tidak peduli dengan nasib rakyat, semua keputusan partai akan dipertahankan mati-matian hingga mereka saling berantem seperti para gladiator yang haus darah, bedanya para anggota DPR ini haus kekuasaan.

Walau berantemnya anggota DPR tidak secara fisik, tapi model berantem anggota DPR jauh lebih parah dari anak TK. Buktinya ketika muncul kasus Century Gate ini masing-masing kelompok yang pro dan kontra saling lempar, saling hujat dan saling serang. Tidak peduli program pemerintah baik, yang namanya oposisi sengaja memancing emosi partai pendukung untuk kemudian berantem opini.

Prilaku anggota DPR yang terakhir menurut saya adalah suka menangis, mungkin ada yang bertanya kenapa anggota DPR dibilang suka menangis !!

Coba lihat ketika menjabat sebagai anggota DPR, anggota DPR mengumbar senyuman dan kebanggannya diumbar di tengah rakyat, namun begitu ditangkap karena terjerat kasus korupsi senyuman tadi berubah menjadi tangisan. Di depan hakim dan jaksa para anggota DPR ini tidak malu-malu mengumbar tangisannya seperti anak TK. Entah tangisan ini bertanda rasa penyesalan atau hanya kamuflase saja, berharap mendapatkan rasa kasihan dari hakim.

Lalu masih pantaskah kita berharap banyak dengan anggota DPR yang tingkahnya mirip anak TK. Sebuah plesetan singkatan DPR ini bisa mewakili rasa jengkel rakyat terhadap anggota DPR. DPR adalah Dewan Perampok Rupiah.

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id