Archive for ‘Edukasi’

28 Mei 2012

Gaga dan Logika Gagap

by: Dina Sulaeman

Syukurlah, akhirnya Lady Gaga tidak jadi konser di Indonesia setelah manajemen Gaga sendiri yang membatalkan konser tersebut. Bisa jadi, ada beberapa pihak yang menghembuskan nafas lega karena tidak perlu memutuskan apa-apa. Apalagi, Dubes AS sampai turun tangan menemui DPR dan Polri, mendorong agar izin konser diberikan. Sudah bisa dibayangkan, bagaimana sulitnya posisi para pengambil keputusan itu. Diizinkan, banyak yang akan marah. Tidak diizinkan, Bos Besar sudah turun tangan.

Namun tidak berarti masyarakat Indonesia yang peduli pada keselamatan anak-anak dan keluarga bisa bernafas lega. PR besar masih menanti karena sejatinya, bukan keseronokan Lady Gaga saja yang menjadi sumber keprihatinan kita semua, melainkan skenario besar di balik ini semua. Pornografi dan homoseksualitas yang dipropagandakan, bukanlah letupan ekspresi seni orang per orang, namun sudah menjadi sebuah jejaring serangan budaya terhadap bangsa kita, apapun agamanya. Tetapi betapa banyak dari kita yang abai dan tertipu oleh logika-logika yang salah kaprah.

Lady Gaga

Saya mencatat beberapa logika yang dikemukakan orang-orang di internet seputar kontroversi Gaga. Memang Gaga tidak jadi datang. Tapi, kesalahan logika ini bisa dipastikan akan kembali terulang untuk kasus-kasus lainnya. Karena itu, saya merasa perlu menulis kritik terhadap logika gagap ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

Di antara logika gagap yang disampaikan terkait Gaga:
1. Mengapa sih polisi dan ulama heboh mengurusi Lady Gaga? Urusin hal lain sajalah! Masih banyak hal lain yang lebih penting diurusi!
2. Dangdut koplo merajalela, yang nonton lebih banyak daripada yang mampu datang ke konser Lady Gaga. Mengapa polisi dan ormas-ormas tidak mengurusi itu semua dan cuma meributkan Gaga? Toh yang nonton Gaga cuma sedikit!
3. Gara-gara protes keras ormas-ormas radikal, Gaga malah semakin ngetop. Orang-orang yang tadinya tidak kenal Gaga akhirnya jadi tahu dan malah semakin banyak yang mengakses you tube-nya. Ini justru jadi promosi gratis buat Gaga. Sebaiknya gunakan cara-cara ilmiah, damai, dan simpatik!

Sebelum saya menjawab argumen di atas, saya mau membawakan analogi dulu. Begini, polisi menangkap si A yang korupsi 1 M. Si A marah dan berkata, “Pak Polisi! Saya ini cuma korupsi 1 M, kenapa ditangkap?! Itu si B, si C, si D, korupsinya jauh lebih besar daripada saya! Lepaskan saya, tangkap dulu mereka itu, baru Anda berhak menangkap saya!”

Menurut Anda, logiskah pembelaan yang dilakukan si A? Tidak kan?

Bila Anda mengakui bahwa Gaga memang membawa misi-misi amoral (pornografi, anti-Tuhan, pro-homoseksualitas), Anda tentu setuju bila polisi dan ulama memang harus menghalangi konser Gaga di Indonesia. Perkara mengapa polisi dan ulama tidak mengurusi dangdut koplo, itu masalah lain. Seharusnya polisi dan ulama juga mengurusi dangdut koplo. Lalu mengapa mereka diam saja atas dangdut koplo? Ya tanya saja sama para polisi dan ulama itu. Tapi, yang jelas kita tidak bisa menggunakan logika ‘Anda tidak berhak menangkap si A yang korupsi 1 M karena Anda belum menangkap si B yang korupsi 2 M”.

Masalahnya berbeda jika secara esensi, Anda memang tidak mengakui amoralitas Gaga dan tidak peduli, “mau dia siapa, mau lagunya tentang apa, mau bajunya bagaimana, ya urusan dialah!” Nah, kalau Anda permisif begitu, case closed. Kita tidak akan sampai pada kesepakatan karena titik tolaknya sudah beda: saya menolak amoralitas, Anda permisif. Tapi kalau Anda permisif, Anda ‘kalah’ dengan seorang anak SMP. Anak ini, anak seorang teman saya, berkata menanggapi Gaga, “Mereka itu kan cuma suka lagu dan penampilannya, Bu. Mereka tidak tahu siapa Gaga dan apa isi lagunya.”

Bayangkan, anak SMP saja sudah memahami bahwa ada masalah besar di balik ‘sekedar konser musik biasa’.

Yang jelas, banyak pihak yang sepakat bahwa seni yang diusung oleh Gaga ataupun dangdut koplo sama-sama merusak. Ini sebenarnya aksiomatis. KPAI, komunitas parenting, psikolog, kaum agamawan, bahkan para pecinta budaya tradisional, sangat geram dengan segala macam tampilan seni yang berbau pornografis/pornoaksi. Ini karena dampaknya sudah sangat jelas dirasakan. Indonesia adalah pangakses situs porno terbanyak ke-2 di dunia. Survey KPA menemukan data bahwa 62,7% siswi SMP/SMA sudah tidak lagi perawan. Perkosaan terjadi di mana-mana. Ini semua masalah besar yang mengancam bangsa ini.

Banyak pihak yang sudah berteriak-teriak minta perhatian pemerintah, agar masalah ini diselesaikan secara mendasar. Mereka mengadakan seminar-seminar, pelatihan-pelatihan parenting, dll. Tapi, gaungnya sangat kecil. Seperti kata bu Elly Risman dalam wawancara dengan Elshinta, “Kami ini sudah berusaha, tapi kami ibarat cacing yang cuma bisa menggemburkan tanah di sekitar. Perlu air hujan yang menyirami tanah secara keseluruhan. Dan air hujan itu adalah pemerintah.”

Menanggapi argumen, “sebaiknya gunakan cara-cara ilmiah, damai, dan simpatik,” saya ingin bertanya. Apakah bila protes atas kehadiran Gaga dilakukan dengan diskusi-diskusi terbatas, atau tulisan di koran, gaungnya akan sebesar sekarang? Seperti saya ceritakan di atas, sudah banyak ‘pejuang’ (misalnya bu Elly Risman bersama Yayasan Kita dan Buah Hati dan Bunda Rani Noeman) yang berusaha meminta perhatian pemerintah dan publik atas bahaya pornografi dan propaganda homoseksualitas, tapi toh gaungnya hanya dirasakan oleh kalangan terbatas.

Saya tidak sepakat dengan ancaman kekerasan yang dilakukan oleh ormas tertentu. Tapi, aksi-aksi demo beberapa ormas menurut saya bukanlah aksi kekerasan. Justru karena aksi-aksi demo itulah, kontroversi Gaga semakin mengemuka, dan itulah yang membuat kepala-kepala saling menoleh dan tersentak. Apa ini? Siapa Gaga? Apa yang membuat dia harus dilarang?

Lady Gaga

Kalaupun dikatakan aksi-aksi protes dan ancaman ormas terhadap Gaga menjadi promosi gratis bagi Gaga, sebenarnya, ini bagai pedang bermata dua. Oke, bisa saja, orang yang tidak kenal Gaga akhirnya jadi penasaran dan ingin mencari tahu. Tapi, tanpa kontroversi pun, orang yang tadinya tidak tahu Gaga juga akan tahu karena pastilah televisi juga akan menyiarkannya sebagaimana TV juga menyiarkan berita (bahkan siaran ulang) konser-konser artis lainnya. Jika tidak ada aksi-aksi protes, mereka akan tahu juga, tapi tahu tanpa wawasan. Mereka mungkin akan menerima Gaga begitu saja, tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang dipropagandakan Gaga.

Justru dengan adanya kontroversi ini, peluang untuk kembali mengangkat wacana soal moralitas, penguatan pondasi keluarga, dan diskusi anti homoseksualitas menjadi semakin terbuka. Orang-orang yang semula tidak ngeh pada kenyataan bahwa propaganda homoseksualitas sedemikian gencarnya dilakukan oleh banyak pihak, kini menjadi tersadarkan. Para orang tua yang tadinya tidak tahu dan merasa aman-aman saja mendengar nama Lady Gaga, akhirnya tahu bahwa ternyata lirik-lirik lagunya berbahaya dan bisa meracuni otak anak-anak mereka.

Di sini, saya melihat, gonjang-ganjing Gaga, meskipun di satu sisi boleh dikatakan promosi gratis bagi si Gaga, tapi di sisi lain malah membantu upaya para pendekar parenting, pemerhati budaya, kaum agamawan, dll yang selama ini dicuekin itu, untuk membangkitkan kesadaran banyak orang mengenai bahaya yang sedang mengancam generasi muda kita. Mudah-mudahan, kontroversi ini menyadarkan pemerintah juga, agar lebih aktif lagi, tidak sekedar mengomentari Gaga, tetapi juga mengambil langkah nyata, termasuk melarang pementasan artis lokal yang mengandung pornografi dan pornoaksi.

Menurut kamus, Gaga berarti ‘gila, pikun, loyo, atau berotak kosong’. Mudah-mudahan, diskusi masalah Gaga ini membuat kita terhindar dari kegilaan dan kebodohan; dan mampu mengkritisi beberapa logika gagap yang dikemukakan banyak pihak atas nama kebebasan bicara dan ekspresi.

pb: mattula_ada@live.com

23 Mei 2012

Relevansi Sarjana dan Menjadi Pengusaha

by: Gilang Prayoga

Dalam beberapa kesempatan, banyak kalangan akademisi, motivator, bahkan pejabat Negara Republik Indonesia ini yang menyarankan, menghimbau, mendorong agar para lulusan sarjana dapat menjadi entrepreneurship muda yang sukses. Ya minimal tidak menambah beban Negara dan orang tua. Karena sungguh sangat menyesakkan menjadi seorang pengangguran. Sudahlah di biayai dari kecil sampai dewasa, eh malah sudah dewasa masih saja menyusahkan orang lain. Dan saya yakin tidak ada orangpun di dunia ini yang mau bernasib seperti itu. Hanya terkadang peluang kesempatan, latar belakang pendidikan, etos kerja serta keadaan lain yang belum berpihak sehingga ujungnya adalah nasib jelek yang di persalahkan.

Dengan semakin sempitnya kesempatan kerja yang tersedia, salah satu upaya pemerintah untuk mengejar ketertinggalan ekonomi dengan Negara-negara yang lain adalah memacu masyarakatnya untuk giat menjadi pengusaha. Melakukan usaha mandiri apa saja yang penting tidak tergantung kepada kuota lowongan pekerjaan yang di tawarkan perusahaan-perusahaan. Data menunjukkan bahwa jumlah pengusaha yang ada di Negara ini tidak lebih dari 10% jumlah penduduknya. Bila di lihat dari kekayaan sumber daya alam Indonesia yang dapat di olah, sungguh sangat ironis dan menimbulkan pertanyaan. Dari rumput, pohon, daun, batu, pasir, tanah, enceng gondok saja dapat di tingkatkan nilai ekonomisnya dan di jadikan usaha, kok yang mampu menjadi pengusaha sangat sedikit sekali.

Secara harfiah, pengusaha secara sederhana dapat di katakan sebagai orang yang berusaha. Tentunya yang spesifik dalam usaha ekonomi. Saya tidak mengetahui apakah mbok-mbok bakul yang berjualan dagangannya di pasar-pasar, ibu-ibu yang membuka warung di pinggir jalan, bapak-bapak penderes aren atau apapun saja profesi yang menggerakkan sector ekonomi mikro juga di sebut sebagai pengusaha. Indikator pengusaha itu apa. Waallahualam. Itu masih menjadi misteri di kepala saya. Karena bila di katakan yang di katakan pengusaha itu yang harus punya NPWP, punya ijin usaha, memiliki badan usaha PT, CV, Persero atau apapun, sesungguhnya telah mengkhianati makna kata pengusaha itu sendiri.

Tapi itu bukan menjadi bahasan tema kali ini. Yang ingin kita ceritakan adalah hubungan kausalitas gelar kesarjanaan dengan menjadi seorang pengusaha. Bagaimana peran intelektual muda ini dalam membangun kemandirian bangsa.

Kemandirian bangsa yang salah satu faktornya adalah kemandirian ekonomi haruslah di mulai terlebih dahulu dari kemandirian masyarakatnya. Bila anda masih mengharapkan pekerjaan dari orang lain dan hanya puas menerima gaji setiap bulan, anda belum termasuk orang yang di idam-idamkan negara ini. Memang itu juga lebih baik daripada menggelandang, namun ekonomi negara ini tidak bisa memiliki keunggulan komparatif di bandingkan negara lain. Dan budaya birokrasi negara indonesia, dari awal sedikit banyak memang ikut menciptakan iklim yang belum menumbuh suburkan gairah wirausaha. Negara ini, lebih banyak menyelesaikan problem pengangguran dengan cara-cara yang instan dengan mengimpor pabrik sebanyak-banyaknya. Sehingga tidak heran bila prestasi kita hanyalah mencetak pemuda-pemudi untuk menjadi mesin industri.

Fenomena ini sudah berlangsung lama dan telah menjadi budaya nasional. Tidak aneh, bila dengan isu globalisasi maka negara ini menjadi kebakaran jenggot dan panik. Pra-globalisasi menandakan peran negara melindungi raknyatnya dengan kebijakan-kebijakan perdagangan. Membatasi ruang lingkup, investor asing yang hanya menjalankan usahanya dengan batas-batas tertentu. Namun ketika era globalisasi di buka, Negara sudah tidak akan mampu melindunginya. Karena yang mampu melindunginya adalah keunggulan mutu produk mereka masing-masing. Karena pelanggan adalah raja yang berhak menentukan dia membeli produk apa, barang model apa dengan perspektif kualitas seperti apa, pelayanan yang bagaimana, serta packing produknya bermodel seperti apa. Pembeli tidak perduli apakah itu produk dari Arab, Cina, Korea, Zimbabwe, Sudan, Eropa, Amerika atau Negara lain. Yang penting kita sebagai pelanggan dapat membeli barang yang bagus dengan harga yang serendah-rendahnya sehingga mencapai kepuasan pelanggan (customer satisfied). Dan sepanjang pengetahuan kita belum ada teori yang mempengaruhi keputusan pelanggan dari dasar nasionalisme. Dan bila anda mendengar tentang “cintailah Produk Dalam Negeri”,”Belilah Produk Indonesia” di dalam iklan-iklan di tivi, di spanduk, baliho, papan reklame dan ruang-ruang advertise yang lain, itu hanya merupakan takhayul dari kegugupan kita untuk melawan gelombang kapitalisasi yang semakin hari tidak mampu kita bendung.

Dan celakanya, mohon maaf produk-produk yang di hasilkan oleh rakyat ini, mayoritas secara kualitatif jauh tidak lebih baik daripada barang dagangan asing. Produk kita di nilai belum dapat bersaing di pasar internasional. Pasar internasionalah yang kemungkinan akan memenangkan kompetisi dengan memanfaatkan keunggulan teknologi, teknik marketing modern, differensiasi produk, sehingga semakin membuat barang dagangan kita sendiri tersisihkan. Kita lihat saja, berapa banyak Alfamart, Indomaret serta toko-toko modern lain telah merambah ke pelosok-pelosok dan hampir menjadi raja dengan menginjak pasar-pasar tradisional. Dengan kualitas yang lebih bagus, di kemas dengan bungkus yang menarik, di labeli dengan harga yang lebih terjangkau dan terkadang lebih murah, membuat produk tradisional dari mbok-mbok bakulan menjadi megap-megap. Meskipun tidak bisa di generalisasi dan hanya sebuah kasuistis saja.

Di satu sisi, melihat muramnya perkembangan usaha-usaha mikro, tantangan-tantangan yang di hadapi, kesulitan yang sudah membayang di depan mata kala akan membuat usaha, membuat sebagian kalangan intelektual muda menjadi paranoid, tidak berani mengikuti jejak pendahulunya untuk menjadi pengusaha. Meskipun para motivator sering bilang, bahwa menjadi pengusaha modalnya adalah nekad dan berani mengambil keputusan. Kita juga di ajari jangan terlalu banyak menggunakan analisis yang malah membuat kita tidak jadi mengambil kesempatan usaha. Banyak yang terbukti sukses, namun juga tidak sedikit yang berantakan. Sehingga ada fenomena kejadian dari imbas kegagalan usaha yang menimpa banyak teman, keluarga, saudara kita yang menjadi depresi, frustasi karena memulai usaha tanpa perencanaan yang matang.

Lebih jauh lagi, bisa kita telusuri. Beberapa faktor analisis yang menghambat kita memulai usaha dengan menggunakan modal yang cukup besar. Kalau kita yang hanya berasal dari golongan standart, kesulitan modal awal juga menjadi pertimbangan memulai usaha. Meskipun pemerintah mendorong kredit lunak dari program-program perbankan, namun siapa yang menjadi jaminan kita dapat sukses dan berkembang di tengah iklim yang sekarang. Kata seorang teman, jika engkau ingin menjadi pengusaha sukses, siapkan tiga kali lipat modal, karena kemungkinan sukses di awal usaha amatlah susah. Karena di awal usaha kita masih membangun brand dari produk kita dan ongkos produksinya dalam menarik pelanggan menjadi sangat tinggi. Kalau struktur modal kita lemah, bisa di prediksi bahwa usaha kita susah juga untuk menjadi berkembang. Modal memang menjadi senjata ampuh bagi pengusaha untuk memacu kesuksesan usaha. Meskipun itu juga harus di bangun dengan utang yang menggunung.

Sehingga di perlukan proses penyadaran, perubahan budaya, iklim investasi yang sehat dan sumber daya manusia yang memadai untuk menjawab tantangan tersebut. Dan yang menjadi harapan tumpuan, penggerak serta katalisatornya to be entrepreneurship, yang memulai dijadikan usaha mengolah kreativitas adalah dimulai dari para mahasiswa dan penyandang gelar sarjana serta title mentereng yang lain. Performance indikatornya jelas. Intelek, dinamis, energik, visioner, mempunyai jaringan koneksi yang luas dan memiliki akses-akses sumber daya yang potensial. Sehingga seringkali pada saat seminar, symposium, diskusi ilmiah tema-tema tentang menjadi seorang pengusaha selalu di hembuskan. Bahkan materi kewirausahaan menjadi mata kuliah pokok yang harus di tempuh mahasiswa ekonomi untuk merengkuh gelar sarjana.

Semakin sempitnya peluang mendapatkan kerja, mau tidak mau harus menjadi cambuk pelecut agar kita para mahasiswa tetap survive dan tidak malah di jadikan olok-olokan masyarakat. Karena terkadang, keadaan yang terpepet (mendesak) barulah manusia memikirkan jalan untuk bisa bertahan. Meskipun kesadaran bisa tumbuh dari internal diri, namun dia juga terkadang harus meminta bantuan dari factor eksternal diri. Nah, apakah mahasiswa sekarang sudah terpepet belum secara ekonomi, social dan budayanya.

Kalau mahasiswa masih menjadi ikon budaya kita dengan mejeng di mall, lebih menampilkan sosok yang konsumtif daripada intelektual, terlalu menggatungkan dengan koneksi atau orang tua, lebih sibuk pacaran daripada menyelami masalah-masalah bangsa, itu artinya ada yang salah dari struktur mental teman-teman mahasiswa dan juga dari model pendidikan yang di terima.

Lantas apakah tidak ada mahasiswa yang bener, yang ikut demo menentang kenaikan BBM atau kebijakan apapun dari pemerintah yang di rasa mengsensarakan rakyat? Tentu ada banyak, namun juga harus kita tanyakan kembali motivasinya, di uji kembali ketangguhan mentalnya. Kalau tidak, sangat rawan teman-teman mahasiswa di tuduh hanya mencari eksistensi untuk membuka peluang akses ekonomi di masa depannya.

Untuk itu jangan sampai para mahasiswa lebih banyak jadi pengangguran terselubung daripada memberikan kontribusi yang signifikan kepada masyarakat. Jangan sampailah para penyandang gelar terhormat itu lebih sibuk membawa map-map yang berisi CV, foto, ijasah, sertifikat serta dokumen lain untuk di tawarkan kepada para cukong kapitalis daripada membuka usaha sendiri.

Namun sesungguhnya para mahasiswa jangan jadi sasaran kesalahan karena memang kesalahan utamanya adalah dari sistem pendidikan, politik, sosiologi budaya yang kita bangun dan selenggarakan bersama-sama ini. Saya akan sedikit menjabarkannya dengan sedikit melingkar.

Degradasi Nilai Pendidikan

Nilai pendidikan yang di jabarkan dalam kurikulum pendidikan kita, sedikit banyak juga mempengaruhi hasil anak didik kita selama ini. Jangan-jangan kegagalan kita bernegara ini yang di tunjukkan oleh perilaku pejabat kita merupakan hasil dari pendidikan kita yang salah arah.

Namun apakah benar, nilai pendidikan kita tidak pernah mendidik kita untuk menjadi anak yang baik, yang berbakti kepada orang tua, atau minimal sesuai dengan prinsip-prinsip pramuka? Sesungguhnya, pendidikan kita telah mengajarkan kita untuk menjadi orang baik, mengajari norma, etika dan segala perilaku terpuji lainnya. Namun tidak pernah diposisikan secara primer. Pendidikan kita hanya concern kepada teori-teori yang njlimet yang terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan pelajar dan dunia kerja.

Yang kita terapkan adalah menjejalkan segala macam informasi, dan mahasiwa hanya membuka mulut saja. Budaya mempertanyakan dalam kampus sangat rendah sekali, karena awal pembelajaran kita di hegemoni oleh para pembuat kurikulum yang seolah-olah mengetahui segala kebutuhan. Intinya bagaimana mendapatkan nilai bagus dalam pelajaran, yang menjadi syarat untuk di tawarkan di dunia usaha.

Kuliah kewirausahaan memang di ajarkan namun tidak pernah di singkronkan dengan relevansi dunia kerja. Kewirausahaan tidak pernah bisa di tumbuhkan sendiri tanpa ada faktor lingkungan yang mendukungnya. Bila membuat usaha, tidak di sediakan iklim yang sehat, keahlian dalam praktek, kebersihan birokrasi negara, keamanan menjalankan usaha, seringkali para usahawan muda terbentur. Bila hanya untuk mendapatkan gelar saja harus menghabiskan ratusan juta, ladang sawah habis terjual sehingga tidak menyisakan modal memulai usaha. Akan kemanakah arah pemuda-pemuda harapan bangsa ini kalau tidak menjadi pegawai negeri sipil atau pegawai kantoran yang berdasi.

Meskipun tidak semuanya, namun yang sukses hanyalah orang-orang pilihan yang terkadang malah nilai akademisnya tidak menggembirakan. Mark Zuckeberg, Bill Gates, Bob Hasan, malah pernah menyarankan anda untuk berhenti kuliah agar anda bisa menjadi orang sukses dalam menjalankan usaha. Karena bagi mereka, dunia kampus ternyata sangat berbeda sekali dengan dunia kampus.

Mungkin arahnya sederhana saja, jikalau dunia kampus ini bisa sejalan dengan dunia kerja maka mungkin pengangguran tidak perlu ada. Bila dunia kerja juga bekerja sama dengan birokrasi kepemerintahan untuk menjamin iklim usaha yang kondusif bagi pengusaha pemula, menjamin gerak usaha mikro dan tidak menghancurkannya dengan kapitalisme global sebelum semuanya siap maka usaha-usaha ke arah wiraswasta dapat di rintis.

Karena kita bukan manusia super dengan tangan kita sendiri dapat memperbaiki keadaan. Tidak mungkin kita di ajari untuk berwirausaha namun di sisi lain kita di hancurkan dengan jerat-jerat budaya politik kita sendiri.

pb: mattula_ada@live.com

21 Mei 2012

Lima Tips Mencari Penerbit

by: Johan Wahyudi

Jika mau bersikap jujur, semua penulis pasti berkeinginan agar tulisan-tulisannya dapat dibukukan. Jika sekadar berbentuk lembaran naskah, tentu kebermanfaatannya kurang. Setidaknya perawatannya menjadi lebih sulit. Naskah itu mudah hilang atau kotor atau terkena virus. Jika naskah itu kurang bernilai, tentu penulis tidak merasa begitu kehilangan. Namun, penulis akan menyesali keteledorannya yang teramat sangat jika naskah itu begitu pentingnya.

Bagi penulis buku pemula, tentu dirinya akan merasa canggung atau malu. Penulis merasa bahwa naskahnya kurang bagus. Anggapan itu tentu akan berdampak pada rasa percaya diri. Penulis menjadi enggan untuk mencoba menggali informasi penerbit. Dan jika rasa itu terus dipelihara, penulis itu sudah menciptakan kegagalan baginya. Maka, seorang calon penulis harus mempunyai keyakinan dan keteguhan hati bahwa naskahnya adalah naskah terbaik.

Rasa kebanggaan itu akan berdampak positif ketika naskah itu ditawarkan kepada penerbit. Setiap penerbit pasti mewawancarai atau menanyakan kelebihan naskah penulis. Penerbit akan menyukai tulisan-tulisan inspiratif, berisi, dan sarat manfaat. Bukan sekadar tulisan yang berisi keluh kesah atau rasa diri.

Berkenaan dengan kondisi demikian, saya akan berbagi tips tentang strategi atau teknik menawarkan naskah kepada penerbit. Teramat kebetulan, dua jenis tulisanku di kompasiana dilirik penerbit untuk dijadikan buku. Dua jenis itu adalah opiniku tentang dunia pendidikan dan artikel tentang teknik penulisan buku. Ada lima tips yang perlu diperhatikan para penulis untuk menawarkan tulisannya, yaitu:

1. Perhatikan jenis produk buku yang dihasilkan penerbit. Setiap penerbit sudah mempunyai ciri khusus tentang produknya. Apakah penerbit itu menerbitkan buku sekolah, buku bahan ajar, buku life skill, atau buku-buku motivasi? Ketepatan pemilihan penerbit akan menjadi awal kesuksesan penulis.

2. Susunlah tulisan dalam bentuk mind set yang apik dan unik. Maksudnya, buatlah kerangka buku yang berbentuk daftar isi. Kerangka alur pengembangan dan materi akan menjadi daya tarik pihak editor ketika membaca tulisan kita. Editor penerbit belum perlu membaca keseluruhan isi. Biasanya editor cukup memperhatikan kemahiran penulis dengan membaca kerangka buku yang disusunnya.

3. Berikanlah gambaran atau deskripsi kelebihan buku secara komprehensif. Yakinkanlah bahwa naskah kita adalah naskah terbaik. Jarang ada naskah buku sebagaimana tulisan kita. Penulis harus meyakini naskahnya dan meyakinkan penerbit disertai dengan data-data. Maka, akan lebih baik jika penulis menggunakan beberapa contoh buku lain sebagai pembanding.

4. Berikanlah hard copy atau cetakan. Hendaknya penulis berhati-hati. Sebaiknya penulis memberikan naskah cetakan dan bukan soft copy. Mengapa? Karena ada juga beberapa penerbit nakal. Karena keteledoran penulis dengan memberikan soft copy, penerbit kadang mengubah nama penulis tanpa pemberitahuan. Oleh karena itu, mintalah bukti penerimaan naskah yang diberi stempel perusahaan atau penerbit. Bukti penerimaan itu dapat digunakan untuk menjadi barang bukti jika terjadi masalah di kemudian hari (mudah-mudahan tidak, ya)

5. Rajin-rajinlah bersilaturahmi dengan penulis senior. Gemarlah berdiskusi dengannya. Mintalah saran dan nasihatnya atas kualitas tulisan kita. Terimalah kritikan atau sarannya dengan senang hati. Hendaknya calon penulis buku menjauhi sikap resisten atau kebal kritik. Dari perhatian penulis senior itulah, penulis pemula akan mulai mendapatkan angin segar menuju penulis profesional.

Sebenarnya saya telah menuliskan cukup banyak tips yang berhubungan dengan penerbit. Namun, ternyata masih banyak rekan-rekan menanyakannya melalui email atau inbox. Oleh karena itu, mudah-mudahan tulisan ini dapat menjadi jawaban karena saya tidak mungkin membalas pesan-pesan satu persatu. Semoga sekadar tulisan ini bermanfaat. Amin. Terima kasih.

pb: mattula_ada@live.com

21 Mei 2012

Trend e-book: Mampukah 100% Menggantikan Buku Cetak?

by: Deasy

Kemajuan teknologi modern sangat besar kontribusinya pada kehidupan masa kini yang berpedoman semakin cepat, semakin ringan dan semakin murah. Bayangkan saja, dalam sekali klik, banyak informasi didapat, dalam sekali kirim pesan, seluruh keluarga besar dan kerabat atau para sahabat yang tersebar di berbagai daerah bahkan negara bisa disapa atau diucapkan selamat ulang tahun atau salam apa saja. Menjadikan hidup semakin praktis dan efisien.

Dalam tujuannya menunjang pesatnya teknologi, banyak produk berlomba-lomba diciptakan. Salah satu diantaranya adalah e-book, yaitu produk yang merupakan sebuah software yang berkonsep buku dengan menyajikan format dan isi layaknya buku tulis konvensional yang berupa kumpulan kertas berisi tulisan dan gambar, namun dikemas dalam tampilan elektronik. e-book sendiri menyajikan teks dan gambar tersebut dalam informasi digital baik dalam format teks polos, *pdf, *jpeg, *lit dan *html.

Menurut jenisnya, e-book yang paling sederhana adalah yang sekedar memindahkan buku konvensional menjadi bentuk elektronik dan ditayangkan oleh komputer. Dengan teknologi ini, ratusan buku dapat disimpan dalam satu keping CD, DVD maupun flashdisk. Untuk bentuk yang lebih kompleks misalnya pada Microsoft Encarta dan Encyclopedia Britannica yang merupakan ensiklopedi dalam format multimedia, dimana penyajiannya tidak hanya berupa informasi tertulis saja, tetapi juga suara, gambar, movie dan unsur multimedia lainnya.

Perkembangan e-book sangat luar biasa pesatnya. Kelebihan e-book dibandingkan dengan buku konvensional, secara sederhana memang tidak terlalu mencolok mengingat konsepnya juga sama-sama buku yang menyediakan informasi berupa tulisan untuk dibaca. Namun, jika dianalisa lebih dalam, akan ditemukan beberapa keunggulan e-book yang tidak kita temukan pada buku cetak konvensional.

    • Dengan format digitalnya, e-book dapat disimpan dalam penyimpan data (harddisk, CD-ROM, DVD ataupun flash disk). Sekeping CD atau DVD bisa menyimpan puluhan bahkan ratusan buku. Bandingkan dengan buku cetak konvensional yang akan memakan tempat yang lumayan luas untuk 1 seri buku.
    • Dalam bentuk CD, DVD maupun flashdisk, e-book dapat dibawa dengan mudah, sementara membawa buku dalam format cetak sangat berat.
    • Format digital e-book dapat bertahan sepanjang masa, tidak lapuk dimakan usia, dengan kualitas yang relatif tidak berubah.
    • Isi dari e-book dapat dilacak, di-search dengan mudah dan cepat. Ini tentunya sangat bermanfaat bagi mereka yang sedang melakukan studi literatur.
    • Adanya program yang dapat membacakan isi dari e-book memungkinkan orang buta atau buta huruf menggunakan e-book. Keunggulan ini tidak ditemukan pada buku konvensional.
    • Selain itu proses pembuatan e-book pun sangat mudah dan murah, sementara untuk mencetak ribuan buku membutuhkan biaya yang sangat mahal dengan proses yang tidak sederhana.
  • Dengan menggunakan media elektronik seperti internet, pendistribusian e-book menjadi sangat mudah dan tidak memerlukan waktu yang lama. Dalam hitungan jam bahkan menit, sebuah e-book langsung dapat dibaca. Sedangkan pengiriman buku konvensional membutuhkan waktu yang lama (harian hingga mingguan) serta mahal. Belum lagi apabila ada masalah dalam pendistribusiannya. Proses distribusi secara elektronik ini memungkinkan adanya perpustakaan elektronik dimana seseorang dapat meminjam buku melalui internet dan buku akan dikembalikan setelah masa peminjaman berlalu. Perusahaan Adobe tengah melakukan percobaan ini.

Meski belum semapan buku konvensional, kehadiran e-book mulai digemari, terlebih karena isi dan tampilannya yang cukup interaktif. Banyak kalangan tertarik menggunakan e-book ini, disamping karena harganya yang relatif lebih murah, juga praktis, dan menyenangkan untuk dibaca. Para penerbit dan pengusaha di bidang ini pun mulai melirik e-book, yang meski tidak dapat dipungkiri bahwa kehadirannya juga menjadi dilema. Di satu sisi, e-book hadir sebagai produk masa kini yang menjadi salah satu solusi pengurangan penebangan hutan yang semena-mena.

Di Indonesia sendiri, meski belum terlalu banyak, namun Departemen Pendidikan Nasional telah merilis beberapa e-book legal. Depdiknas pun mengeluarkan kebijakan dengan membeli hak cipta buku-buku teks pelajaran SD/Madrasah Ibtidaiyah, SMP/Madrasah Tsanawiyah, SMA/ Madrasah Aliyah dan SMK. Buku-buku itu meliputi pelajaran matematika, Bahasa Indonesia, IPA, Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Juga Bahasa Inggris, mata pelajaran adaptif, mata pelajaran produktif dan mata pelajaran normatif untuk jenjang SMK.

Ada satu manfaat lain dari e-book. Dewasa ini anak-anak lebih menyukai bermain game atau menonton video di komputer. Pengenalan pada e-book bisa menjadi transisi untuk mengalihkan kegiatan anak dari bermain game ke membaca buku. Ini tentu lebih bermanfaat bagi mereka. Anak-anak akan sangat menyukainya, sebab ketika kita mengenalkan anak tentang e-book, mereka tetap mengunakan mouse di tangan mereka seperti halnya ketika mereka bermain game.

Keberadaan e-book yang semakin populer penggunaannya serta mudah diunduh oleh siapa saja, seakan membuat keberadaan buku cetak konvensional terancam. Namun ternyata masih ada yang tetap membutuhkannya. Mereka ini adalah para anak kecil atau balita. Banyak orangtua di Amerika Serikat merasa anak-anak mereka pada masa awal pertumbuhannya masih perlu dibacakan dan membaca buku, buku cetak dan bukan elektronik.

Seorang profesor dari National Louis University di Chicago, Junko Yokota,  mengatakan bahwa: ukuran dan bentuk buku cetak menjadi bagian pengalaman emosional dan intelektual anak, ada banyak hal yang tak bisa dirasakan dari buku elektronik.

Pada kenyataannya, memang lebih mudah bagi anak belajar membaca dari buku cetak. Ada banyak pengalaman emosional tak tergantikan saat mereka membuka-buka halaman buku tersebut, dimana sentuhan beberapa indra bekerja menguatkan daya intelektual anak.

pb: mattula_ada@live.com