Archive for ‘Resensi Buku’

10 Juni 2012

21 Organisasi Perusak Dunia

by: Brillianto

Akhir pekan lalu, saya mampir ke toko buku. Sebetulnya tak ada niat membeli buku ‘serius’, karena di rak buku saya masih banyak buku ‘serius’ yang belum sempat saya baca. Namun seperti biasa, saya berkunjung ke rak buku politik dan sosial. Di deretan buku-buku itu, ada karya Michael Bradley berjudul Secret Societies.

Sebetulnya buku terbitan Octopus Publishing ini adalah buku lama. Tahun terbitnya saja 2005 dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia Juli 2008. Saya heran, kenapa saya baru melihat buku ini dan terlewat untuk membeli? Awalnya saya tergoda untuk tidak membeli, karena niat semula datang ke toko buku ini memang tidak mau membeli buku ‘serius’. Namun sungguh mati, buku Secret Sociaties ini luar biasa sekali. Apalagi kabarnya sejak awal terbit, buku ini ternyata mampu menyita perhatian banyak orang. Pada 2009, buku ini sudah mengalami cetak ulang yang keempat, sejak pertama kali terbit pada 2008.

Lalu organisasi-organisasi apa yang dianggap sebagai perusak dunia? Silahkan Anda lihat ke-21 organisasi di bawah ini:

1. The Assasin

2. The Bilderbergers

3. The Bohemian Club

4. The Club of Rome

5. Council on Foreign Relations

6. Essex Junto

7. Freemasonry

8. The Golden Dawn

9. The Iluminati

10. Knight Templer

11. Ku Klux Khan

12. Mafia

13. Majestik: 12 The Aviary and the Aquarium

14. Mensur

15. Opus Dei

16. The Order of Skull and Bones

17. Sionus Prioratus

18. The Rosicrucians

19. The Round Table

20. Triad

21. Trilateral Commission

Silahkan Anda cari di mesin pencari mengapa organisasi-organisasi ini dianggap sebagai perusak dunia. Namun yang pasti, dalam review buku Secret Society ini, situs http://www.goodreads.com menyebutkan, bahwa ke-21 organisasi ini adalah otak yang sengaja meletuskan perang dunia, perang etnis, premanisme, maupun terorisme. Mereka juga dalang perbudakan, perjudian, prostitusi, rusaknya perekonomian dan budaya negara, sampai penggundulan hutan.

Sayang seribu kali sayang, penerjemah buku Secret Society ini, Ety Triana, dianggap ngasal. Misal organisasi The Knight Templar diterjemahkan olehnya sebagai “Komplotan Jawara Templar.” Menurut Agung Prabowo, salah seorang penerjemah, kata ‘Knight’ tidak cocok sekali dialihbahasakan sebagai ‘Jawara’. Terlebih lagi Ety menerjemahkan kata ‘Knight’ sebagai ‘Jagoan’ di halaman lain, sehingga tidak ada konsistensi. Sebenarnya sudah ada istilah dalam bahasa Indonesia yang cukup popular untuk mengalihbahasakan kata ‘Knight’, yakni ‘Ksatria’. Begitu juga dengan organisasi The Order of Skull and Bones yang diterjemahkan sebagai ‘Komplotan Tengkorak dan Tulang-belulang’ dan kelompok The Round Table diterjemahkan menjadi ‘Komplotan Meja Bundar’.

Anyway, lewat buku karya Bradley layak dijadikan koleksi. Sebab, organisasi-organisasi yang tercatat di buku ini menjadi musuh kita bersama. Sebab,merekalah yang menyebabkan kerusakaan di dunia ini. Dan situs http://www.goodreads.com pun menulis di ujung resensi buku ini:

Sekarang, mereka duduk manis di kursi goyang, memegang remote control di depan TV, mengecap secangkir kopi, saksikan penduduk dunia chaos. Satu tujuan mereka : Seluruh bangsa menjadi budak dalam ‘Satu Pemerintahan Dunia’

Yang menarik lagi, di akhir halaman buku ini, Bradley menantang pembaca untuk mencari bukti jika buku ini dianggap tidak akurat. Dengan kata lain, penulis ini mengatakan, bahwa seluruh informasi dalam buku ini layak dipercaya. Harap maklum, buku ini ditulis dengan menggunakan riset dan penelitian yang matang.

pb: mattula_ada@live.com

Iklan
11 Maret 2012

Injil Yudas

by: Mattula’ada

Dalam film besutan National Geographic tentang Injil Yudas diceritakan tentang sejarah penemuan Injil Yudas yang sangat berliku dan rumit. Setelah manuskrip Injil Yudas dibawa ke Fakultas Fisika Universitas Arizona untuk diteliti keotentikannya, Dr. Jull mengatakan: “Radio carbon dating daun papyrus yang diambil dari Injil Yudas memastikan Injil tsb berasal dari abad ke-3 sampai ke-4. Informasi ini mendukung keotentikan Injil Yudas tsb.” Radio Carbon Dating untuk pertama kalinya membuktikan bahwa dokumen tsb dibuat tahun 280. Berarti Injil Yudas adalah tulisan otentik dari dunia kuno. Bukan dokumen palsu.

Inilah film besutan National Geographic tentang Injil Yudas

Tetapi sayang, setelah memastikan bahwa Injil Yudas yang ada ditangan mereka adalah dokumen asli, para ahli dalam film tsb tidak menjelaskan secara detail apa kandungan isi dari Injil Yudas tsb!.

Namun rasa penasaran saya tsb akhirnya terjawab dalam 2 buku terbitan Gramedia berjudul “The Gospel of Judas” dan “The Lost Gospel”. Pada sampul buku tsb dikatakan:

“Yudas Iskariot… sebuah nama yang kontroversial! Selama berabad-abad dia dibenci dan dicaci sebagai pengkhianat Yesus Kristus, sahabat dekat yang mengkhianati Sang Guru demi 30 keping perak. Seorang Bapa Gereja yang amat berpengaruh, St. Irenaeus dari Lyon mencap Injil Yudas sebagai bid’ah. Sejak itu, sebagai ajaran yang disingkirkan. Injil Yudas lenyap dari peredaran, sampai tahun 1970-an, ketika beberapa fellahin dari Mesir Tengah menemukan salinan Injil itu di Al Minya. Lebih dari 25 tahun naskah kuno itu beredar di pasar gelap barang antik sebagai barang dagangan dalam kondisi yang terus memburuk, sampai lembar-lembar papirusnya robek-robek dan rontok, sebagian menjadi fragmen kecil dalam ukuran milimeter. Baru pada tahun 2001 akhirnya naskah itu sampai di tangan tim ahli yang berhasil merestorasi dan mengartikan pesan yang terkandung di dalamnya.

Aslinya dalam bahasa Yunani, Injil Yudas sampai pada kita dalam terjemahan Kopt, dan kini sampai ke tangan Anda, dilengkapi dengan pengantar ahli, serta empat komentar dari ahli-ahli yang kompeten, yang menjelaskan sejarahnya yang amat memikat, dalam konteks Gereja Perdana.

Inilah Injil yang tak pernah terlihat lagi sejak awal masa kekeristenan, dan bahkan hanya sedikit ahli yang berpikir bahwa kitab itu benar-benar ada. Sungguh menggemparkan, karena naskah kuno ini berkisah dari perspektif Yudas Iskariot, yang selama ini dicap sebagai pengkhianat terbesar dalam sejarah.

Dalam interpretasi yang amat radikal ini, Yesus justru menyuruh Yudas untuk mengkhianati dirinya. Berlawanan dengan pemaparan yang terdapat dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, disini Yudas ditampilkan sebagai teladan murid Yesus. Dialah satu-satunya murid yang memahami jati diri Yesus sesungguhnya.”

Pada hal.  118 buku The Gospel of Judas mengatakan:

“Sebagaimana dikatakan Yesus, Jiwa setiap generasi manusia akan mati. Kendati demikian, bila orang-orang ini [maksudnya adalah mereka yang menjadi bagian dari alam keabadian diatas] telah menggenapi waktu kerajaan, dan roh mereka meninggalkan mereka, tubuh mereka akan mati, tetapi jiwa mereka akan hidup, dan mereka akan diangkat keatas.”

Diangkat keatas? Mungkinkah kalimat ini memiliki makna yang sama dengan ayat Qur’an berikut:

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat `Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. {QS. 4:158}

Hmm… wallahu ‘alam, hanya Allah yang tahu!

Lanjut ke hal. 120 buku tsb mengatakan:

Salah satu ciri yang paling mencolok dari Injil Yudas adalah pengulangan berkali-kali bahwa kedua belas murid Yesus tidak pernah memahami kebenaran, berada di luar lingkaran dari mereka yang diselamatkan, dan menganiaya Yudas. Mereka menganiaya Yudas, tanpa menyadari bahwa hanya Yudas yang mengenal siapa Yesus sebenarnya, dan mengetahui rahasia yang telah disingkapkan oleh Yesus. Sebagaimana telah kita lihat, itu terjadi karena mereka sama sekali tidak mengerti kebenaran itu, sehingga mereka merajam Yudas dalam suatu penglihatan. Yudas mereka singkirkan dan dengan demikian tidak termasuk “kelompok dua belas”, yang karenanya Yesus menyebut Yudas “yang ketiga belas”. Karena itu, tiga belas merupakan angka keberuntungan.”

Lebih jauh The Gospel of Judas mengatakan:

“Yesus mengatakan kepada mereka, Orang-orang yang telah kalian (kedua belas murid Yesus) saksikan sedang melakukan upacara di altar itu sesungguhnya adalah kalian sendiri. Itulah sesembahan kalian (saya sendiri [Yesus]), dan kalian adalah kedua belas pria yang telah kalian lihat itu. Hewan kurban yang telah kalian saksikan dibawa untuk dikurbankan itu adalah gerombolan orang banyak yang telah kalian sesatkan.”

Dalam kalimat Injil Yudas diatas nampak jelas bahwa Yesus murka terhadap tindakan kedua belas muridnya yang banyak menyesatkan orang karena telah mempertuhankan dirinya. Hal ini sebenarnya berkesesuaian dengan pernyataan dalam Injil Matius 7:21-23 dan Matius 23:9; dimana dalam ayat-ayat tsb Yesus menolak dirinya untuk dipertuhankan bahkan melaknat orang yang mempertuhankannya dengan mengatai orang tersebut sebagai pembuat kejahatan. Hal tsb juga sejalan dengan pernyataan dalam Qur’an Surah Al-Maaidah [5] : 116-117; Al-Maaidah [5] : 72-73; At-Taubah [9] : 30-31; dan Maryam [19] : 88-92.

Namun isi Injil Yudas yang paling menggugah bagi saya adalah apa yang dipandang oleh Bart Ehrman sebagai kata-kata kunci di seluruh Injil Yudas, yaitu ketika Yesus berkata:

“Tetapi engkau (Yudas) akan lebih besar daripada mereka semua; karena engkau akan mengorbankan wujud manusia yang meragai diriku.”

Mengorbankan wujud manusia yang meragai diriku? Apa maksudnya?

Saya pribadi menafsirkan bahwa maksud dari kalimat tsb adalah bahwa Yudas mengorbankan dirinya untuk dipaku di tiang salib! Jadi bukan Yesus yang disalib, tetapi Yudas!! Lho, bagaimana bisa? Bagaimana caranya? Khan wujud mereka berbeda?

Jawabannya: Berkat Kuasa Allah, Wujud Yudas Diserupakan Dengan Wujud Yesus!!!

Firman Allah:

“dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa”.” {QS. 4:157}

Sumber:

*)  Video The Gospel of Judas by National Geographic.

*) Injil Yudas dari Kodeks Tchacos, Edited by: Radolphe Kasser, Marvin Meyer, Gregor Wurst, Alih bahasa: Wandi S. Brata, 2006, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

*) The Lost Gospel by Herbert Krosney, Alih bahasa: Aris Prawira dan Wandi S. Brata, 2006, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Baca juga: “Menguak Kebenaran Injil Barnabas

wb: mattula_ada@live.com

10 Maret 2012

Ternyata Moyang Orang Maluku adalah Bangsa Yahudi!

by: Mattula’ada

Yup, itulah yang dikatakan Rabbi Resley dalam bukunya “Pintu Gerbang Emas Israel Yang Tertinggal di Indonesia”.

Terungkapnya keberadaan orang Israel di Maluku ini dimulai dari penelitian penulis mengenai asal-usul nenek moyang penulis sendiri, yaitu penduduk awal (mula-mula) Pulau S’rua yang adalah pulau ketiga dari Kepulauan Teon, Nila, S’rua (TNS). Namun ternyata penelitian ini meluas ke kebudayaan Maluku secara keseluruhan.

Menurut Resley, bila selama ini umat Kristiani Maluku menyebut diri mereka dengan sebutan Israel tanpa rasa takut, menggunakan simbol-simbol Israel, dan cenderung bertingkah laku seperti orang Israel, dan membela Israel mati-matian; hal tsb bukanlah sekedar fanatisme iman mereka semata, namun juga timbul karena dorongan dari dalam hati mereka. Hal ini disebabkan karena berdasarkan hasil penelitiannya cukup banyak ditemukan persamaan antara bahasa, adat-istiadat (kebudayaan), serta peninggalan orang Maluku yang memiliki kemiripan dengan suku bangsa Yahudi. Dengan kata lain, nenek moyang orang Maluku adalah bangsa Yahudi.

Resley mengatakan bahwa jauh hari sebelum bangsa Arab dan bangsa Eropa mengenal Maluku (Arab tiba pertengahan abad ke-14, Portugis tiba awal abad ke-15) telah ada bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengenal Maluku, termasuk bangsa China.

Orang Israel (Ibrani) masuk ke Maluku melalui India dan China. Karena pada tahun 605 SM dari Kerajaan Yehuda (Kerajaan Selatan) ditaklukkan dan diangkut ke pembuangan di daerah Media dan Persia (Iraq dan Iran). Saat Kerajaan Persia berkuasa, kekuasaannya meliputi Etiopia (Afrika) sampai ke India. Bahkan sejak tahun 722 SM, Kerajaan Israel (Kerajaan Utara) yang terdiri dari 10 suku telah lebih dahulu diangkut oleh bangsa Asyur, kemudian diserakkan di berbagai bangsa di daerah kekuasaan Asyur dan saat bangsa Romawi menjajah Palestina dan Asia Tengah sejak tahun 63 SM sampai munculnya agama Kristen pada abad 1 M, ketika itu jalan-jalan raya dibangun, sehingga memungkinkan bagi seseorang untuk mencapai seluruh bagian kerajaan ini dengan mudah. Orang Israel tersebar hampir di semua kota di dalam wilayah kekaisaran Romawi sebagai pedagang (Pengantar PB hal. 4-5) dan pada saat ini terjadi hubungan dagang yang sangat baik antara dunia barat (Kerajaan Roma) dengan dunia timur (Kerajaan China).

Pada saat menjadi bagian dari kekaisaran Roma inilah para pedagang bangsa Ibrani tiba di Maluku bersama mitra dagang kerajaan Roma yaitu para pedagang bangsa China. Salah satu bukti kuat bahwa pada abad ke-1 M rempah-rempah dari Maluku pernah dijual di Yerusalem, adalah karena pada tahun 33 M, beberapa orang wanita Yahudi yaitu: Maria Magdalena dan teman-temannya membeli rempah-rempah di pasar Yerusalem untuk mengawetkan jenazah Yesus (Markus 16:1).

Peluang lain orang Israel tiba di Maluku adalah pedagang-pedagang Israel datang sendiri ke Maluku setelah mengetahui jalan ke Maluku dari para pedagang bangsa China.

Dalam buku Sejarah Maluku hal. 19 dikatakan bahwa kata Maluku berasal dari kata “Maloko” yang merupakan sebutan gelar bagi Kalano (kepala daerah) . Nah, kata “Maloko” ini menurut Resley berasal dari bahasa Ibrani. Sebutan bagi raja dalam bahasa Ibrani adalah “Melek” atau “Melekh”. Bentuk yang lebih kuno adalah “Maliki” (EKAMK II hal. 292), sehingga dalam Tambo Dinasti Tang di China (618-906) “Maluku” tercatat sebagai “Miliku”, yaitu suatu daerah yang dipakai sebagai patokan penentuan arah ke kerajaan “Holing” (Kalingga) yang ada di sebelah barat.

Kata lain yang mirip dengan Maloko adalah “Molokh” yaitu ilah yang disembah bani Amon. Bentuk Ibrani nama ini ialah “Molek”. Dalam kitab suci Perjanjian Lama, Molek umumnya memiliki kata sandang (Imamat 18:21; 20:2-5, 2 Raja-raja 23:10, Yeremia 32:35). Kata “Molokh” pada ayat-ayat tsb menyiratkan bahwa kata itu mungkin merupakan kata umum bagi orang yang memerintah (EKAMK II hal. 93). Dengan demikian, maka gelar Maloko yang dikenakan bagi seorang Kalano adalah berasal dari budaya dan bahasa Ibrani. Dan kata Molekh (Moloch) dalam bahasa Ibrani artinya raja. Maloko kemudian disebut Maluku (Molokhus). Dan memang kepulauan Maluku artinya kepulauan raja-raja.

Selain itu menurut Resley, kata “Alifuru” yang merupakan sebutan bagi orang yang pertama kali mendiami Maluku bukan berasal dari bahasa Arab (Alif). Sebab jauh hari sebelum pengaruh Arab (Islam) masuk ke Maluku pada pertengahan abad ke XIV, sudah ada bangsa yang mendiami kepulauan Maluku yang penyebarannya dimulai dari Nusa Ina dan Halmahera yang mana disebut oleh antropolog AH. Keane, FJP. Sachese dan OD. Tauren dengan sebutan suku bangsa “Alfuros”.

Kata Alfuros ini sangatlah tidak mungkin diambil dari kata Alifuru, sekalipun kata ini menunjuk pada pengertian manusia mula-mula. Sebab bila kata Alifuru ini dikaitkan dengan kata Maloko, Baeleu, dan Seniri, serta budaya kepala suku, yaitu Alluf, maka sangatlah tidak cocok.

Kata Alif muncul setelah masuknya bangsa Arab ke Maluku. Tetapi sebelum itu, kata Alfuros ini menunjuk kepada nama suku bangsa yang telah ditemukan oleh para ahli, yaitu “ALUNE” yang ada baik di Nusa Ina (Seram) dan Halmahera yang memiliki budaya atau system pemerintahan “ALLUF” yaitu: kepemimpinan berada di tangan “kepala kaum/kepala suku”. Budaya ini mula-mula diterapkan oleh bangsa “Edom”: yaitu keturunan Esau, saudara Yakub (Israel) anak Ishak, di Maluku disebut mata rumah (kepala kaum), kepala Soa dan kepala suku.

Alluf dalam pengertian Ibrani adalah:

– Panglima, pemimpin (Kamus Singkat Ibrani-Indonesia hal. 11)

– Kepala-kepala kaum di Edom yang di kemudian hari disebut “Raja” (Kejadian 36:19, 31)

Pada bagian akhir dari bukunya, Resley mengatakan bahwa mayoritas orang Maluku adalah merupakan keturunan dari suku Gad, yaitu suku Israel yang telah disangka hilang dan tak dapat ditemukan lagi. Inilah satu-satunya suku yang tidak memiliki perwakilan di Israel saat ini. Terbukanya pintu gerbang emas (golden gate) serta terpenuhinya nubuat kedatangan Kristus yang kedua kalinya untuk memerintah dunia dari Yerusalem hanya terpenuhi jika kedua belas suku telah berkumpul di tanah Zion (Israel), yang mana termasuk di dalamnya adalah suku Gad, yang pada akhirnya diistilahkan Resley dengan sebutan Yahudi Alfuros.

Sumber:

Rabbi Resley, 2011, Pintu Gerbang Emas Israel Yang Tertinggal di Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Solomon.

wb: mattula_ada@live.com

10 Maret 2012

Tragedi Pembunuhan 3 Khalifah

by: Mattula’ada

Itulah judul buku karya Taufiq Djamidin terbitan Pinus Book Publisher, Yogyakarta.

Dalam buku tsb dikatakan bahwa apa yang dituduhkan oleh kaum Syiah bahwa 3 khalifah, yakni Abu Bakar, Umar bin Khatab, dan Usman bin Affan berkhianat terhadap Ali bin Abu Thalib sama sekali tidak benar adanya. Cukup banyak bukti yang diberikan oleh penulis mengenai hal tsb. Salah satunya adalah diangkatnya Ali sebagai penasihat oleh 3 khalifah sebelumnya, serta mati-matiannya Ali membela ke-3 khalifah tsb dari rongrongan fitnah! Ini sangat terlihat sewaktu Usman dikatai orang-orang Mesir yang termakan fitnah dengan mengatakan:

“Utsman telah membakar mushaf-mushaf, shalat tidak diqasar sewaktu di Mekkah, mengkhususkan sumber air untuk kepentingan dirinya sendiri, dan mengangkat pejabat dari kalangan generasi muda. Ia juga mengutamakan segala fasilitas untuk Bani Umayyah (golongannya) melebihi orang lain.”

Ali yang mendengar hal ini mengatakan:

“Itu hanya fitnah! Beliau tidak berlaku demikian! Mushaf-mushaf yang dibakar ialah yang mengandung perselisihan dan yang ada sekarang ini adalah yang disepakati bersama keabsahannya. Adapun shalat yang tidak diqasar sewaktu di Mekkah, adalah karena dia berkeluarga di Mekkah dan dia berniat tinggal disana. Oleh karena itu, shalatnya tidak diqasar. Adapun sumber air yang dikhususkan itu adalah untuk ternak sodaqoh sampai mereka besar, bukan untuk ternak unta dan domba miliknya sendiri. Umar juga pernah melakukan ini sebelumnya. Adapun mengangkat pejabat dari generasi muda, hal ini dilakukan semata-mata karena mereka memliki kemampuan di bidang-bidang tsb. Rasulullah juga pernah melakukan hal yang demikian ini. Adapun dia mengutamakan kaumnya, Bani Umayyah, karena Rasulullah sendiri mendahulukan Quraisy daripada bani lainnya. Demi Allah kalau kunci surga ditanganku, aku akan memasukkan Bani Umayyah ke surga.”

Apa yang dikatakan Ali r.a. diatas sebenarnya tidak sepenuhnya sesuai realita! Namun hal ini jelas menunjukkan bagaimana Ali mati-matian membela Usman r.a. dengan segenap jiwa dan raganya. Hal ini juga sekaligus menandakan bahwa Ali ra. sama sekali tidak merasa dikhianati seperti yang dituduhkan oleh golongan Syiah!

Dalam buku ini jelas tergambar bagaimana fitnah keji yang awalnya disuarakan oleh mantan pendeta Yahudi, Abdullah bin Saba merupakan penyebab utama runtuhnya era khulafaur rasyidin. Sehingga tidak mengherankan sama sekali rasanya jika Allah berfirman:

“Fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan” {QS. 2:191}

“Berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.” {QS. 2:217}

Namun terlepas dari itu semua, ada banyak hikmah yang dapat dipetik dari buku ini. Salah satunya adalah sikap-sikap dari para khulafaur rasyidin yang sangat patut diteladani. Mereka semua memiliki sikap yang rendah hati, pemberani, mau mendengar pendapat orang lain, berjiwa besar untuk memohon maaf bila merasa melakukan kesalahan, tidak kejam, tidak egois, memiliki sikap toleransi yang tinggi, dan tidak bernafsu untuk menjadi pemimpin, serta berusaha untuk mengembalikan permasalahan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Ungkapan terkenal Abu Bakar ra. (sewaktu menyampaikan wasiat kepada pasukan sebelum berangkat ke medan tempur) yang akhirnya juga menjadi pegangan 3 khalifah setelahnya adalah:

“Hendaklah kalian wahai kaum muslimin untuk tidak berkhianat, tidak menipu, tidak melampaui batas, tidak mencincang musuh, tidak membunuh anak-anak atau wanita atau orang lanjut usia, tidak memotong kambing atau unta kecuali untuk dimakan. Jika kalian melewati suatu kaum yang secara khusus melakukan ibadah di biara-biara, biarkanlah mereka dan apa yang mereka sembah.”

Terkhusus Umar bin Khatab, ia memiliki sikap yang sangat tegas dan tidak mudah termakan hasutan dan bujuk rayu, serta berusaha menyingkirkan orang yang membuat dan menyebar fitnah! Mungkin karena sikap inilah, sehingga pada masa beliau Islam mencapai puncak kejayaannya. Sehingga tidak mengherankan jika Nabi Muhammad saw pernah bersabda tentang Umar bin Khatab sebagaimana yang diriwayatkan Hudzaifah bin Al-Yaman. Beliau menyatakan bahwa antara umat dengan fitnah, ada satu pintu yang tertutup. Dan pintu itu adalah Umar bin Khatab.

Pernyataan tsb seperti sebuah peringatan bahwa pasca wafatnya Umar ra, umat Islam akan terpecah ke dalam banyak golongan. Lebih tragis lagi, khalifah pasca Umar, yakni Ustman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib mati dalam keadaan terbunuh di tempat semasa kepemimpinannya.

Sumber: Taufiq Djamidin, 2009, Tragedi Pembunuhan 3 Khalifah, Yogyakarta: Pinus Book Publisher.

wb: mattula_ada@live.com