Archive for ‘Tinju’

22 April 2012

Sabuk Dunia Sang Garuda

by: Indra Sastrawat

Boxing atau tinju merupakan salah satu olehraga populer di negeri ini. Kepopolerannya hanya kalah dari Sepakbola dan Bulutangkis.Sayangnya kepopulerannya tidak berbanding lurus dengan prestasinya.Di lingkup regional prestasi tinju profesional kita masih kalah sama Filipina dan Thailand, belum lagi di tingkat Asia kita jauh tertinggal dari Korea Selatan dan Jepang.

Dibalik sepinya prestasi petinju kita, nyatanya Indonesia pernah melahirkan 4 juara dunia. Bahkan salah satunya masih menggenggam sabuk dunia hingga kini. Thomas Americo merupakan petinju pertama yang mencoba menjadi juara dunia, sayangnya dia gagal. Kegagalan Thomas Americo kemudian di bayar lunas oleh Ellyas Pical beberapa tahun kemudian.

Lantas siapa saja petinju kita yang pernah mencatatkan namanya sebagai juara dunia. Menarik untuk mengulas kembali empat jawara tinju Indonesia yang pernah menjadi juara dunia. Berikut sekilas profil mereka:

13344884951859080681

Ellyas Pical, dari Istora hingga Diskotik

3 Mei 1985 menjadi tanggal bersejarah bagi bangsa Indonesia. Di saksikan puluhan juta pasang mata, Ellyas Pical anak Saparua berhasil meraih gelar juara dunia IBF kelas Bantam Yunior (52,1 kg) setelah mengalahkan Chun Ju Do dari Korsel. Bakat tinju Elly tercium sejak kecil, dimana Elly kecil gemar berkelahi. Mungkin karena itu dia tidak tamat SD. Ellyas Pical lahir di Saparua 24 Maret 1960.

Demi menuntaskan hasrat bertinjunya Elly merantau ke kota Ambon. Dari kota Ambon manise Elly mulai menapak karir tinju di amatir. Segudang prestasi mampu diraihnya dari juara Presiden Cup tahun 1981 dan 1983 hingga bertarung di Sea Games. Pada tahun 1982, Elly memutuskan meninggalkan tinju amatir dan beralih ke Profesional. Prestasi internasional pertamanya di mulai saat Elly menang angka atas petinju Korea Selatan, Hee Yun Chun, dan merebut gelar juara superbantam OPBF. Kemudian, Oktober 1984, Matsuo Watanabe dari Jepang dibuatnya tersungkur pada ronde keenam, sekaligus ia mempertahankan gelar. Puncaknya adalah merebut juara dunia Bantam Yunior dari Chun Ju Do.

1334488549250645696

Ellyas Pical

Sempat kehilangan gelarnya dari penantangnya dari Rep. Dominika Cesar Polanco pada Februari 1986, Elly merebut kembali sabuknya pada 5 Juli 1986. Sempat beberapa kali mempertahankan gelar juara dunianya, pada tahun 1987 Ellyas Pical harus menyerahkan sabuk juara dunianya ke tangan petinju asal Thailand Khaosai Galaxy lewat pertandingan dramatis, Ellyas kalah KO ronde 14. Ellyas Pical mampu bangkit dengan merebut kembali gelar juaranya dari petinju Korsel Tae-ill Chang. Yang berarti Elly mampu meraih tiga kali gelar juara dunia. Setelah 2 tahun mempertahankan gelarnya Ellyas Pical dikalahkan oleh Juan Polo Perez dari USA dengan angka.

Setelah pensiun, Elly masih terus bertarung tapi bukan di atas ring lagi. Kali ini Elly berjuang memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Elly yang tidak lulus SD hanya mampu bekerja sebagai Satpam di tempat hiburan malam. Sungguh tragis nasib Ellyas Pical dulu dia disanjung karena mengharumkan nama bangsa kini dia di lupakan oleh negaranya.

Nico Thomas, Juara Dunia Tanpa Sabuk

Setelah masa keemasan Ellyas Pical memudar muncul kembali nyong Ambon sebagai penerus tradisi juara dunia. Walau karirnya tidak segemerlap Ellyas Pical tapi Nico Thomas mampu mencatatkan dirinya sebagai salah satu juara dunia di kelas Terbang Yunior (47,6 kg). Nicholas Thomas lahir di Ambon, 10 Juni 1966 anak nomor 12 di antara 16 bersaudara keluarga pasangan Julianus Thomas dan Helena Thomas, pada usia 14 tahun sudah berani bertanding di atas ring.

Pada tanggal 17 Juni 1989, Nico Thomas mencatatkan dirinya sebagai petinju Garuda kedua yang mampu meraih sabuk juara dunia setelah menang angka mutlak dari juara bertahan Samuth Sithnaurepol (Thailand). Nico memperoleh gelar itu setelah melalui pertarungan ulang atas juara bertahan Samuth Sithnaurepol dari Thailand. Sebelumnya, pada pertarungan pertama (23 Maret 1989) di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Nico dinyatakan kalah angka. Sebuah kekalahan yang membuat Nico menangis tidak percaya.

Namun sayang, gelarnya tak bertahan lama karena Nico Thomas kemudian kalah KO di ronde 5 dari penantangnya Eric Chavez (Philipina), di Jakarta, 21 September 1989. Nico Thomas akhirnya harus melepas gelar juara dunia kelas terbang mini IBF yang sempat disandangnya selama 96 hari atau 13 minggu dan 5 hari. Ada cerita menarik ketika Nico meraih sabuk dunia, sabuk yang di berikan kepadanya ternyata sabuk Ellyas Pical yang dipinjamkan satu malam saja. Ini karena promotor lupa menyiapkan sabuk juara yang akan diperebutkan.

Muhammad Rachman, Tua-Tua Keladi

Tua-tua keladi mungkin ini ungkapan yang paling pas untuk sang jura dunia kelas Terbang Yunior, Muhammad Rachman. Tidak banyak yang mengenalnya sebagai juara dunia. Petinju kelahiran Papua 23 Desember 1971 bahkan Rachman 2 kali merebut gelar juara dunia. Karir tinjunya di mulai di usia 20 tahun dengan bergabung di sasana tinju Pirih di Surabaya.

13344885971190574162

M. Rachman

Setelah lebih dari 10 tahun berkecimpung di dunia tinju pro, Rachman berhasil merebut gelar juara dunia IBF kelas terbang mini, saat itu usianya tidak muda lagi, 33 tahun, dia berhasil menundukkan petinju lincah dari Kolombia, Daniel Reyes (14 September 2004). Sempat tiga kali mempertahankan sabuk dunianya, pada tanggal 7 Juli 2007 di depan publik Jakarta, Muhammad Rachman di kalahkan oleh petinju Filipina Florente Condes dengan kekalahan angka.

Usia tidak membuat Rachman mundur dari ring tinju, pada usia yang ke-38 tahun Rachman menantang juara dunia asal Thailand Oleydong Sithsamerchai di Phuket. Sayangnya usahanya gagal gara-gara pelipis mata Rachman robek hingga dia tidak maksimal, Rachman kalah angka. Dalam usia menjelang usia 40, Muhammad Rachman kembali mendapat tawaran untuk menantang juara dunia kelas terbang mini versi WBA Kwantai Sithmorseng. Pertarungan ini dilagsungkan di Bangkok Thailand pada tanggal 21 April 2011.

Di luar dugaan semua orang, Rachman mampu tampil sangat bagus, dan berhasil membuat lawanya mencium kanvas di ronde 9. Kemenangan yang membuat Rachman menjadi juara dunia tertua dari Indonesia. Rachman mempertahankan gelar WBA tersebut untuk kali pertama tanggal 30 Juli 2011 di Jakarta melawan penantang peringkat 11 asal Thailand Pornsawan Porpromok. Sayang, Rachman kalah angka, sehingga gelarnya melayang Semangat Rachman memang luar biasa, tekad dan semangat tinjunya pantas di jadikan contoh. Saat pensiun Rachman mengelola bisnis keluarga. Total rekornya 79 kali bertanding, menang 64 dimana 33 diantaranya KO, 11 kali kalah dan 5 draw.

1334488645510886799

Chris John

Chris John, Sang Naga tak Terkalahkan

Besar dari keluarga petinju membuat Chris John tidak asing dengan olahraga ekstrim ini. Memulai karir tinjuny di amatir saat tinggal di Banjarnegara. Bakat hebat pemuda kelahiran 14 September 1979 ditemukan oleh seorang pelatih hebat Sutan Rambing. Tahun 1998 merupakan debut awalnya di tinju pro.Mulai dikenal publik Indonesia setelah meraih gelar juara nasional kelas Bulu (57 kg) setelah mengalahkan Muhammad Alfaridzi.

Setelah beberapa kali bertanding dalam perebutan gelar nasional, Chris John berhasil menundukkan rekan senegaranya Soleh Sundava pada tahun 2001 untuk merebut gelar PABA kelas bulu. Kesempatan meraih gelar juara kelas Bulu tiba saat melawan Oscar Leon dari Kolombia pada 26 September 2003. Melalui perjuangan ketat, Chris John berhasil meraih title juara WBA interim (sementara). Gelar ini masih dianggap belum sepenuhnya sebagai juara dunia. Tak lama kemudian WBA menghadiahkan gelar juara WBA definitif kepada Chris John.

Partai akbar yang membuat Chris John pantas menyandang juara dunia kelas Bulu WBA adalah pada tanggal 22 April 2005 melawan Derrick Gainer dari USA, Gainer adalah mantan juara dunia kelas Bulu.Pertandingan tersebut dimenangkan oleh Chris John dengan angka mutlak. Partai akbar lainnya (24 Maret 2006) ketika Chris John bertemu Juan Manuel Marques dari Meksiko yang dianggap sebagai raja di kelas Bulu. Chris John tampil taktis dan menang angka. Keraguan publik atas Chris John akhirnya hilang.

Pada 19 September 2009, Chris John berhasil mengalahkna Rocky Juarez dari USA di Las Vegas setelah sebelumnya bermain draw. Kemenangan ini sangat berharga dan oleh WBA Chris John di labeli gelar Super Champions. Tercatat sebanayak 15 kali Chris John mempertahanklan gelarnya. Chris John memang fenomenal, sepanjang karir tinjunya di belum pernah kalah. Rekor pertandingannya mulus dengan hasil 48 naik ring, 46 menang, 22 KO dan 2 draw. Keberhasilan Chris di dunia tinju, membawanya ke profesi sampingan, antara lain sebagai bintang iklan untuk berbagai produk dan komentator tinju di televisi.

****

Tidak banyak petinju hebat yang lahir dari rahim nusantara, tapi dari sedikit itu mereka mampu menjadi motivator bagi generasi berikutnya. Ellyas Pical pantas dianggap sebagai legenda tinju nasional, Nico Thomas adalah juara dunia tersingkat, Muhammad Rachman adalah singa tua yang layak di jadikan contoh petinju muda kita, dan Chris John adalah bintang tinju Indonesia sepanjang masa, dia merupakan petinju terbaik di millenium ketiga dari Indonesia. Semoga sang Garuda kembali bisa melahirkan petinju kelima sebagai juara dunia.

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id

23 Maret 2012

Mengenang 70 Tahun Muhammad “The Greatest” Ali

by: Indra Sastrawat

“Saya tidak ada masalah dengan orang-orang Vietcong, dan tidak ada satupun orang Vietcong yang memanggilku dengan sebutan Nigger!”

1326775741557224971

Ali vs Foreman dalam Rumble in the Jungle

Ucapan diatas merupakan ucapan terkenal dari seorang petinju yang masyhur bernama Muhammad Ali. Muhammad Ali merupakan salah satu legenda tinju dunia, sebagai petinju keturunan Afro-Amerika, Ali juga sering terlibat pergolakan rasial di benua Amerika. Ali lahir di negeri “ayam goreng” Kentucky pada 17 Januari 1942 dengan nama Cassius Marcellus Clay, Jr. Dalam usianya 70 tahun Ali terus berjuang menghadapi penyakit Parkinson.

Ali mengenal tinju secara tidak sengaja, ketika itu Ali kecil mendatangi kantor polisi untuk melaporkan kehilangan sepeda BMXnya, beruntung Ali bertemu dengan polisi yang juga pelatih tinju bernama Joe Martin. Lewat Martin, Ali diperkenalkan dengan tinju. Dari sekedar berlatih tinju untuk menghajar si pencuri sepeda membawa Ali menjadi juara tinju dunia kelas berat. Seperti kebanyakan juara tinju dunia, karir tinju Ali dimulai dari amatir. Ali sukses meraih emas pada olimpiade 1960 Roma, Italia.

Bakat tinju Ali kemudian dilanjutkan ke pro. Pertandingan pertamanya dilalui dengan kemenangan angka atas Tunny Hunsaker. Untuk memotivasi dirinya menjadi petinju besar, Ali tidak malu-malu untuk mengetuk pintu tetangganya sambil berujar Aku lah sang juara dunia, dan para tetangga mengangap Ali sudah gila. Beberapa tahun kemudian Ali si gila mampu membuat para tetangganya percaya. Setelah melewati 19 partai profesionalnya, Pada 25 Februari 1964, Ali berkesempatan melawan juara dunia Sonny Liston. Pertandingan melawan Liston penuh dengan tensi yang tinggi. Sebelum masuk ring, di media keduanya sudah perang mulut, karena komentar besarnya Ali sering dijuluki si mulut besar.

13267758092043496231

Ali menghajar Liston dan menjadi juara dunia kelas berat

Kepercayaan dirinya memang sangat luar biasa. Melawan Liston, Ali seperti seoarang juara sesungguhnya, tidak ada rasa takut menghadapi sang juara. Hingga pada ronde ke-7  kombinasi pukulan Ali membuat Liston tersungkur, Ali menang TKO ronde ke-7 dan menjadi juara dunia, sesumbarnya di hadapa para tetangga dan media dunia menjadi kenyataan. Setelah juara dunia Ali mengumumkan agama barunya, dan mengganti namanya menjadi Muhammad Ali.

Masa-masa sulit dilaluinya dari tahun 1967 sampai 1970 ketika Ali menolak untuk ikut program wajib militer Amerika Serikat. Ucapannya yang populer saat itu adalah“Saya tidak ada masalah dengan orang-orang Vietcong, dan tidak ada satupun orang Vietcong yang memanggilku dengan sebutan Nigger!” Tidak hanya itu medali emasnya di Olimpiade Roma dibuangnya ke dalam sungai sebagai wujud idealismenya melawan kebijakan perang Vietnam. Berpuluh tahun kemudian pemerintah AS membuatkan replika medali emas untuk Ali.

Dalam karir profesionalnya Muhammad “The Greatest” Ali mencatatkan rekor 61 pertandingan dengan 56 kemenangan (37 KO dan 19 Menang angka) serta 5 kekalahan. Ali pernah kehilangan 3 kali gelar juara dunia tinjunya. Pertandingan Ali melawan George Foreman dan tajuk Rumble in the Jungle dikenang sebagai salah satu partai tinju terbesar dalam sejarah.

13267752252142869278

Ali versus Fraizer jilid III

Beberapa partai akbar yang pernah dilakoni sang legenda diantaranya:

8 Maret 1971 di New York City, Ali kehilangan sabuk juara dunia kelas berat dikalahkan Joe Frazier dengan kekalahan angka. Pertarungan dengan Joe Frazier terjadi sebanyak 3 kali, Ali menang 2 kali dan kalah sekali ketika dia kehilangan mahkota juara dunia.

28 Januari 1974 di New York City, Ali revans dan mengalahkan Joe Frazier lewat pertarungan 12 ronde. Ketika itu Ali sudah berumur 32 tahun.

30 Oktober 1974 di Kinshasa-Zaire, Dalam tajuk Rumble in the Jungle, seperti namanya pertarungan ini terjadi di pedalaman Afrika Tengah. Ali menantang petinju muda George Foreman. Di ronde-ronde awal Foreman mendominasi, Ali hanya sesekali melepaskan tinjunya. Sengatan kupu-kupu khas Ali baru terjadi di ronde 8 ketika Ali menghempaskan Foreman dengan KO. Ali sukses mempertahankan sabuk juara dunianya.

1 Oktober 1975 di Manila, Partai ketiganya Ali menghadapi penantang serius Joe Fraizer. Partai yang dikenal dengan sebutan The Thrilla in Manila Ali memukul KO Fraizer di ronde ke-14. Begitu sengitnya pertandingan ini sampai-sampai Ali sendiri pingsan setelah dinyatakan menang KO.

15 Februari 1978 di Las Vegas, Ali yang sudah uzur 36 tahun melawan petinju yang lebih muda Leon Spinks. Pertandingan ini dimenangkan oleh Spinks dengan kemenangan angka.Ali kehilangan gelar juaranya. Tujuh bulan kemudian Ali revans dan membalas kekalahannya, sabuk juara dunianya kembali melingkar di pinggangnya.

2 Oktober 1980, di Las Vegas, Ali yang renta tidak mampu menghadapi petinju muda, Larry Holmes dengan kemenangan angka. Sebenarnya Holmes bisa menghajar Ali dengan kemenagan KO, tapi Holmes sepertinya kasihan melihat Ali tua.Sabuk juara jadi milik Holmes, petinju yang kemudian hari dihajar oleh Mike Tyson.

11 Desember 1981 di Nassau-Bahamas, Akhir karir sang legenda berakhir di sebuah Negara pulau bernama Bahama. Melawan Trevor Berbick dalam tajuk Drama in Bahamas, Ali kalah angka ronde 10.

Setelah Drama in Bahamas Ali benar-benar mundur dari ring professional. Hidupnya dibaktikan di dunia sosial dengan berkeliling dunia. Setelah pensiun Ali pernah berkunjung ke Indonesia pada 23 Oktober 1996. Perjalanan panjang the legendMuhammad Ali membuatnya pantas dijuluki salah satu petinju terbaik di kelas berat sepanjang masa.

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id