Archive for ‘Ekonomi & Bisnis’

22 Mei 2012

Indonesia Tidak Berdaulat Lagi!

by: Annobapakeadil

Bangun tidur Anda minum apa? Aqua? (74% sahamnya milik Danone, Perancis) atau Teh Sariwangi (100% milik Unilever, Inggris) atau minum susu SGM (82% sahamnya dikuasai Numico, Belanda).

Lalu, mandi pakai Lux dan Pepsodent (Unilever, Inggris).

Sarapan, berasnya impor dari Thailand.

Santai habis makan, rokoknya Sampoerna (97% sahamnya milik Philip Morris, USA).

Keluar rumah naik motor/mobil buatan Jepang, Cina, India, Eropa, tinggal pilih.

Sampai kantor, pakai komputer, telepon seluler (operator semuanya milik asing).

Masih bangga jadi orang Indonesia?

Cuma koruptornya saja yang asli Indonesia.

Sedih kan?

*******

Petikan di atas saya ambil dari tulisan pada harian terkemuka di Jawa Barat, PIKIRAN RAKYAT, edisi hari ini yang berjudul Indonesia Sudah Tidak Berdaulat oleh H Mangarahon.

Sangat sedih dan miris membacanya.

Ketika saya buka lagi literatur dan arsip-arsip sejarah, saya berkesimpulan bahwa Bung Karno tentu akan marah besar melihat Ketidakberdaulatan Indonesia seperti yang terlihat sekarang ini. Bung Karno yang terkenal anti Penanaman Modal Asing (PMA) justru sangat getol menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing.

Ketidakberdaulatan Indonesia ternyata dimulai sejak awal rezim Orde Baru berkuasa, yaitu saat disahkannya UU No.1/1967 tentang PMA. Sejak saat itu, satu per satu perusahaan asing ditandatangani kontraknya oleh penguasa untuk mengeksplorasi kekayaan alam nusantara.

Kini tepat 14 tahun setelah rezim Orde Baru tumbang, ketidakberdaulatan Indonesia masih terjadi, malah semakin tidak berdaulat.

Kenyataan yang sangat memprihatinkan.

*******

+ Indonesia, aku masih bersamamu

pb: mattula_ada@live.com

11 Mei 2012

Perbandingan Produk Investasi Seturut Perjalanan Waktu

by: Yustinus Eko Soelistio

Sekarang ini banyak sekali produk investasi yang ditawarkan.  Beberapa menawarkan bunga yang sangat menggiurkan tapi disertai dengan resiko yang besar.  Beberapa lagi menawarkan bunga yang kecil tapi didukung dengan tingkat return yang stabil dan jaminan.  Sekarang pertanyaan bagi kita tentu saja, “Produk mana yang cocok untuk saya?”.  Tidak semua produk yang memberikan bunga tinggi bisa cocok untuk semua orang, dan demikian juga sebaliknya produk yang memberikan bunga yang stabil belum tentu cocok untuk kita semua.  Jadi berikut ini adalah tabel perbandingan secara garis besar imbal hasil beberapa produk investasi umum seperti deposito, reksadana, emas, dan ORI.  Dengan informasi ini kita bisa lebih jelas melihat karakteristik masing-masing produk dan bisa menentukan pilihan dengan lebih bijak. Berikut adalah tabel range pertumbuhan per-tahun dilihat dari jangka waktu:

Produk/Waktu
Deposito (Rp)
Emas (USD)
Reksadana
ORI
1 – 3 tahun
5% s/d 6% 27% s/d 34% 4% s/d 100% 7% s/d 12%
3 – 5 tahun
5% s/d 10% 14% s/d 34% -50% s/d 100% 7% s/d 12%
5 – 10 tahun
4% s/d 10% 5% s/d 34% -50% s/d 100% 7% s/d 12%
10 – 20 tahun
4% s/d 40% -42% s/d 34%

Tabel diatas adalah kisaran pertumbuhan (atau kerugian) investasi. Perhitungannya hanyalah perhitungan kasar tapi cukup bisa menggambarkan bagaimana perbandingan antara return vs resiko masing-masing produk. Kalau kita lihat perbandingannya, maka produk yang memberikan hasil paling stabil adalah ORI dengan kisaran return antara 7% sampai 12 % per-tahun. Kemudian disusul dengan deposito dan emas. Deposito pernah memberikan hasil yang luar biasa yaitu sekitar 40% per-tahun pada waktu krisis sekitar tahun 1997 – 1999. Tapi pada saat ekonomi stabil, deposito memberikan bunga sekitar 4% sampai 10% per-tahun. Emas secara rata-rata memberikan hasil yang lumayan sekitar 14% sampai 34% per tahun. Tapi untuk jangka panjang antara 10 – 20 tahun, emas pernah mengalami penurunan sampai sekitar -42% per-tahun. Ini terjadi sekitar tahun 1980 – 2000. Pada tahun 1980an emas pernah menyentuh USD 800, dan turun sampai akhirnya sekitar tahun 2006 bisa kembali lagi di USD 800. Hasil investasi emas juga sangat dipengaruhi oleh nilai mata uang rupiah. Bila emas naik dan rupiah menguat, maka bisa jadi nilai emas di Indonesia tidak berubah atau bahkan mungkin berkurang. Sebaliknya bila emas turun dan rupiah melemah, bisa jadi malah nilai emas di Indonesia meningkat. Jadi pertumbuhan investasi emas lebih terpengaruh oleh kondisi ekonomi dunia dibanding dengan deposito dan ORI.

Untuk investasi di reksadana sendiri sangat bervariasi antara (rugi) 50% sampai (untung) 100% per-tahun. Tergantung dari jenis reksadana yang diambil, variasi bunga juga berbeda. Untuk reksadana pasar uang biasanya tidak jauh berbeda dengan deposito. Sedangkan untuk reksadana saham bisa sangat bervariasi. Reksadana saham bisa menghasilkan return yang sangat tinggi meninggalkan emas, deposito dan ORI. Reksadana jenis ini pernah mencatatkan return lebih dari 100% pada saat pemulihan dari krisis ekonomi tahun 2008. Tapi bila dilihat secara jangka panjang maka secara rata-rata reksadana saham memberikan hasil antara 20% sampai 30% per-tahunnya.

Nah, jadi produk mana yang cocok untuk masing-masing kita? Jawabannya sangat tergantung dari profil dan tujuan kita. Kalau kita mencari stabilitas dan keamanan mungkin lebih cocok bila mengambil ORI dan deposito. Kalau yang dituju adalah pertumbuhan yang tinggi mungkin sebaiknya mengambil emas dan reksadana saham/pendapatan tetap. Tapi apapun pilihan kita, sebaiknya kita selalu ingat bahwa tidak ada satupun yang kekal di dunia ini. Investasi apapun yang kita ambil, harus selalu kita monitor dan evaluasi apakah masih sesuai dengan kebutuhan kita atau tidak. Portofolio yang baik adalah portofolio yang bisa bertahan di saat sulit dan tumbuh di saat maju. Pesan untuk “Don’t put all your eggs in one basket” hampir selalu berlaku untuk semua portofolio. Karena itu investasilah dengan bijak dan sesuai dengan kebutuhan.

source: http://www.perencanakeuangan.com/

pb: mattula_ada@live.com
10 Mei 2012

Cara Bijak dan Aman Menggunakan Kartu Kredit

by: Selly

Sedikit Tips dari saya cara bijak menggunakan kartu kredit :
# Berapa Pendapatan Anda: ini sangat penting bagi anda yang baru mau proses kartu kredit berapa dulu penghasilan anda,bisa syarat-syarat punya kartu kredit rata2 2jt perbulan ,bila anda blum mencapai syarat dasar tersebut jangan pernah di paksakan punya kartu kredit pasti natinya anda akan terbelit hutang ( realitas sekarang masyarat gaji 1,5jt/1jt dipaksakan buat kartu kredit dengan cara menaikan slip gaji biar dapat kartu saya garansi 1thn aman tapi menginjak tahun 2 atau ketiga saya garansi anda akan terbelit hutang kalau syarat dasar anda tidak terpenuhi ).
# Batasi pemakain kartu kredit anda maksimal 25% dari aset anda baik tabungan atau deposito anda , kenapa demikian kalau terjadi sesuatu anda masih sanggup untuk melunasinya.
# Pilih Bank yang memberi penawaran bunga yang paling rendah ( walaupun rata-rata bunga kartu kredit sama tapi tiap perbankkan memberi penawaran bunga yang berbeda-beda contohnya bank mandiri walapun bungan belanja sama dengan yang lain tetapi memberikan program powercash, dana tunai dengan bunga hanya 1% ).
# Bayarlah tagihan anda secara ful payment ( bayar penuh semua tagihan ) setiap bulan agar anda tidak terkena bunga kartu kredit 3,5%.
# Bayarlah tepat waktu sebelum jatuh tempo agar anda tidak terkena late cash,( untuk bank asing mohon 3 hari sebelum jatuh tempo ).
# Jangan pernah menggunakan Cash Advace diatm kalau tidak terpaksa banget.
# Ambil Bank Penerbit kartu dengan Iuran tahunan atau bulanan yang tidak memberatkan.
# Miliki maksimal 2 kartu kredit untuk pengguna konvensional ,Gunakan sebanyak -banyaknya bila anda berbisnis dengan dana dari kartu kredit.
# Jangan menganggap kartu kredit itu sebagai tambahan penghasilan, banyak fenomena akhir2 ini karena krisis global berdampak ke kita dengan gaji yang tidak naik tapi kebutuhan serba naik terus maka banyak yang berlomba-lomba mencari kartu kredit sebanyak-banyaknya , pakai sebanyak-banyaknya,bayar semampunya, saya garansi anda akan terjebak dalam hutang yang berkepanjangan.

Tips aman dengan Kartu Kredit anda !!

1. Pada saat pengajuan aplikasi baru
– Usahakan jangan pernah mengajukan pembuatan kartu kredit melalui agen
(Seperti yang banyak di mal mal, restaurant dan supermarket) walaupun mereka pakai
fasilitas bank tertentu, tetap saja mereka bukan pegawai bank tetapi pegawai
perusahaan agen yang bekerja sama dengan bank tertentu tersebut.
– Kalau mau buat kartu kredit diusahakan agar datang langsung ke Bank/Lembaga
Keuangan penerbit kartu kredit ke divisi card center nya (Kartu Kredit) atau minimal ke
cabang bank tersebut.
– Jangan hanya melihat iuran tahunan yang gratis saja untuk tahun pertama, sehingga
tahun berikutnya tutup kartu dan mencari lagi yang gratis iuran tahunan lagi.
Disini sangat rawan data anda bocor ke orang lain.Karena kita tidak tahu oknum
dari suatu institusi yang nakal.
– Kredit limit diusahakan adalah maksimal 1/2 dari Take Home Pay kita (Yg ideal
pinjaman adalah 1/3 penghasilan kita), bila terlalu tinggi minta turun limit saja, daripada
susah bayarnya.
2. Pada saat sudah memiliki Kartu Kredit
– Usahakan selalu untuk membayar lunas keseluruhan tagihan sebelum jatuh tempo,
sehingga anda terhindar dari biaya dan bunga yang cukup tinggi
– Rate bunga kartu credit selalu diatas bunga pinjaman lainnya karena kartu kredit
adalah pinjaman tanpa agunan, biasanya persentase rate adalah perbulan, sehingga
anda harus mengalikan dengan 12 untuk mengetahui rate setahunnya.
– Perhitungan bunga kartu kredit adalah sejak dari kita transaksi atau pengambilan tunai
sudah berjalan bunganya, namun kalau kita bayar lunas (Full Payment) sebelum jatuh
tempo maka kita dibebaskan bunga.
– Jangan pernah menginformasikan data yang ada di kartu kredit kita kepada orang lain,
termasuk saudara dekat, baik nomer kartu, masa berlaku, nama yang tercetak di kartu,
dan lain sebagainya. Waspada terhadap marketing via phone (Tele marketing) yang
mengatakan seolah olah dari Bank penerbit kartu dan ada kerjasama dengan mereka
baik asuransi, hotel, club, dsbnya ingat itu cuman trik mereka, dan jangan pernah kasih
tahu nomer kartu anda ke mereka !!! serta data data lainnya termasuk Bank penerbit
kartunya.
– Diusahakan pada saat menggesek kartu kedit, kasir menggesek di depan kita, biasa
terjadi khususnya di restaurant kartu kita dibawa dulu ke kasir baru mereka yang gesek
tanpa kehadiran kita, nah hal ini sebisa mungkin di hindari. Selalu gesek di hadapan
kita.
– Jangan pernah memesan barang via internet dengan menyebutkan kartu kredit kita,
Hindari cara pembelanjaan model begini terlebih lagi bila transaksi diWarnet dan di
perusahaan yang tidak dapat dipercayai (Tidak Bonafid)
– Periksa selalu kartu kredit anda, bila hilang segera lapor ke Bank Penerbit kartu untuk
menghindari penyalah gunaan.
– Jangan berprilaku konsumtif, merasa punya kartu kredit bisa di cicil dan ingat tagihan
tetap harus anda bayar, jangan memberatkan anda sendiri
– Punya kartu kredit jaman sekarang bukan suatu kemewahan dan prestise, jadi ngak
perlu punya kartu kredit berderet, saran saya cukup 1 dari Visa dan 1 lagi dari Master
Card dengan dua penerbit yang berbeda, yang memberikan benefit yang paling banyak
dan bagus. Misalnya diskon di supermarket sekian persen, diskon makan sekian
persen, dsbnya
Semoga beberapa tips ini dapat berguna, dan yang lain dapat menambahkan lagi bila dirasa msih ada yang kurang.

source:

http://forumnova.tabloidnova.com

http://www.panduankartukredit.com/ 

http://www.sumbercara.co.cc/2012/04/melunasi-tagihan-cara-pintar-gunakan.html

http://masalahdansolusinya.blogspot.com/2012/01/cara-menghindari-bunga-tinggi-kartu.html

pb: mattula_ada@live.com

10 Mei 2012

Tiga Langkah Jitu Lunasi Kartu Kredit

by: Safir Senduk

Pada saat ini, kartu kredit sudah menjadi alat pembayaran yang cukup sering digunakan di masyarakat. Namun demikian, banyak diantara pengguna kartu kredit yang terjebak dalam pemakaiannya. Sebetulnya, tak ada masalah dengan kartu kredit itu sendiri. Yang jadi masalah disini adalah kalau pemakaian kartu kredit itu tidak sesuai dengan apa yang sudah disarankan, bahkan oleh penerbit kartu kredit itu sendiri.

Sekarang, apakah Anda adalah satu dari sekian orang yang punya masalah dengan pemakaian kartu kredit? Untuk mengetahuinya, lihat apakah salah satu kondisi dibawah ini mirip dengan keadaan Anda sekarang:

  • Saldo hutang kartu kredit Anda sudah mendekati batas.
  • Anda selalu membayar tagihan kartu kredit Anda dari uang yang seharusnya digunakan untuk tujuan lain.
  • Anda suka terlambat membayar tagihan.
  • Anda ditelepon oleh bank penerbit untuk segera membayar tagihan, atau Anda didatangi oleh seorang yang ramah yang berprofesi sebagai debt collector.
  • Anda menunda kunjungan ke dokter, menunda pembelian pulsa isi ulang, menunda ini dan itu, semua hanya karena anggaran keuangan Anda sangat ketat.
  • Bila Anda di-PHK atau kehilangan penghasilan, maka Anda tidak akan bisa melunasi tagihan kartu kredit Anda. Jika salah satu dari kondisi diatas mirip dengan apa yang Anda alami sekarang, maka bisa jadi keuangan Anda sedang mengalami masalah yang sangat serius. Karena itu, saya akan memberikan tiga langkah agar Anda bisa keluar dari hutang-hutang kartu kredit itu.

    LANGKAH 1 : BAYAR, BAYAR, BAYARSuatu hari di bulan Januari lalu, seorang ibu muda bernama Tuti, 29 tahun, datang ke tempat saya dengan membawa persoalannya. Sebagian besar yang ingin ia bicarakan adalah masalah pengelolaan anggarannya, yaitu bagaimana mengatur pemasukan dan pengeluarannya (ibu muda ini punya penghasilan tidak sampai Rp 2 juta). Setelah itu, pembicaraan kami juga menyinggung mengenai masalah kartu kreditnya. Ia punya tiga kartu kredit, yang masing-masing memiliki saldo hutangnya sendiri-sendiri. Setiap bulan, ia biasa membayar minimum untuk masing-masing tagihannya. Pada saat ini saldo hutangnya sebesar hampir Rp 1,5 juta.

    “Apakah pada saat ini Anda punya uang untuk membayar semua itu?”

    “Maksud Anda, bayar lunas, begitu?” tanyanya.

    “Betul, bayar lunas.”

    Tuti ragu sebentar. “Yah, ada, sih.”, katanya.

    “Tapi?” tanya saya.

    “Tapi itu.”

    “Tapi apa?” tanya saya.

    “Tapi nggak seberapa.”

    “Oh, ya?” kata saya sambil melihat lagi ke jumlah tagihannya. “Berapa uang tunai yang Anda miliki sekarang?”

    “Sekitar Rp 1 juta. Itu juga untuk persediaan dana cadangan.”

    Saya berpikir, kalau dia membayar tagihan kartu kreditnya dengan uang yang ada sekarang, maka ia tidak akan punya sisa untuk persediaan dana cadangannya. Dana cadangan sebesar Rp 1 juta saja tidak cukup besar, apalagi kalau uang itu masih dipakai untuk membayar tagihan kartu kredit.

    “Begini saja” kata saya. Saya lalu mengambil sebuah kertas, dan membuat empat kolom. Pada kolom pertama, saya memintanya menulis nama dari masing-masing bank penerbit kartu kreditnya. Pada kolom kedua, saya minta ia untuk menulis jumlah yang masih menjadi hutangnya pada setiap kartu. Pada kolom ketiga, saya minta ia menulis berapa suku bunga yang dibebankan oleh masing-masing bank penerbit. Di kolom keempat, saya memintanya menulis berapa pembayaran minimal yang harus ia bayar pada setiap tagihan. Dibawah ini adalah hasilnya:

    Bank Penerbit — Saldo Hutang — Suku Bunga — Jumlah Pembayaran Minimal
    Bank A ————— 529.100 ————— 2,75% ————— 52.910
    Bank B ————— 717.513 ————— 2,50% ————— 71.752
    Bank C ————— 203.000 ————— 3,10% ————— 50.000
    Jumlah ———— 1.449.613 ————————————– 174.662

    Pertama-tama, Anda bilang bahwa Anda tidak punya cukup uang untuk membayar tagihan ini secara lunas. Betul?”

    “Betul.”

    “Kalau begitu, kita akan mencicil saja,” kata saya. “Berapa penghasilan Anda setiap bulan?”

    “Rp 1,8 juta per bulan.”

    “Oke. Apa yang harus Anda lakukan sekarang adalah dengan menyisihkan jumlah uang tertentu setiap bulan, untuk digunakan membayar Tagihan Kartu Anda. Tentunya, jumlah itu harus lebih besar daripada jumlah yang harus Anda bayar untuk pembayaran minimum Anda.”

    “Minimum saya Rp 175 ribu.”

    “Kalau begitu, Anda harus menyisihkan jumlah yang lebih besar dari pembayaran minimum Anda. Ini supaya hutang Anda bisa cepat habis, sehingga Anda tidak akan terus menerus terkena bunga. Bukan begitu?”

    Tuti mengangguk. Disini ia setuju dengan saya.

    “Berapa yang harus saya sisihkan setiap bulan?” tanyanya.

    “Terserah Anda,” kata saya. “Dua ratus, tiga ratus, makin besar makin baik. Tapi saran saya, coba saja Anda sisihkan sebesar 30 persen dari penghasilan Anda.”

    Tuti berpikir sebentar. “Penghasilan saya sekitar Rp 1,8 juta sebulan.”

    Saya menghitung di kalkulator. “Tigapuluh persennya berarti Rp 540 ribu per bulan”

    “Hah!!???” Tuti melongo.

    “Besar sekali. Masak sebesar itu yang harus saya sisihkan untuk membayar hutang?”

    “Anda mau cepat habis tidak hutangnya? Kalau hutang itu tidak cepat habis, Anda akan terus kena bunga. Kuncinya disini adalah bahwa hutang Anda harus dibuat makin kecil dan makin kecil.”

    Tuti berpikir sebentar. “Okelah”

    “Terus bagaimana pembagiannya?” kata Tuti lagi. “Apa saya harus bagi uang Rp 540 ribu untuk membayar semua kartu secara sama besar?”

    “Tidak, Bu Tuti. Begini. ” kata saya. “Pertama-tama, bayar semua kartu Anda secara minimal.”

    Tuti melihat lagi ke kertasnya. “Itu berarti, total adalah Rp 174.662.”

    “Betul. Sekarang berapa sisanya? Rp 540.000 dikurang 174.662?”

    Tuti menghitung di kalkulatornya. “Rp 365.338”

    “Oke gunakan sisa uang Rp 365.338 itu untuk digunakan membayar kartu yang suku bunganya paling besar.”

    “Lho bukan yang saldo hutangnya paling besar?”

    “Bukan, Bu Tuti. Yang suku bunganya paling besar.”

    Tuti menoleh ke kertasnya. Kartu yang suku bunganya paling besar adalah yang di Bank C. Bunganya 3,10 persen per bulan.

    “Kebanyakan orang mengira bahwa prioritas pertama harus ditujukan ke kartu yang saldo hutangnya paling besar. Sebetulnya tidak, prioritas pertama harus ditujukan ke kartu yang men-charge suku bunga yang paling besar. Ini karena suku bunga adalah biaya yang harus Anda bayar. Jadi, wajar kalau Anda membayar kartu yang suku bunganya paling besar terlebih dahulu.” Kata saya.

    Tuti berpikir sebentar.

    “Tapi kartu saya yang C ini saldo hutangnya adalah Rp 203.000. Padahal jatah sisa uangnya tadi Rp 365 ribu”

    “Masih ada sisa berarti,” kata saya.

    “Dikemanain, nih, sisanya?” tanyanya.

    “Untuk membayar kartu yang membebankan suku bunga besar berikutnya,” kata saya.

    Demikian pembaca. Tuti akhirnya bisa menghabiskan hutang kartu kreditnya dalam waktu empat bulan. Sebagai alternatif, bila Tuti ingin membayar kartu kreditnya secara penuh, ia juga bisa mencari aset lain yang ia miliki untuk bisa dijual, dan uangnya bisa digunakan untuk membayar hutang-hutangnya.

    Jadi pembaca, bayar tagihan kartu Anda secara lunas. Kalau Anda tidak punya uang, cari aset apa yang bisa Anda jual untuk membayar tagihan itu. Ini karena tagihan Anda akan berbunga, dan bunga itu akan berbunga lagi. Begitu seterusnya. Semua aset yang Anda miliki harus digunakan untuk meringankan – bahkan menghapus – hutang Anda. Bila Anda tidak bisa membayar tagihan Anda secara lunas, maka anggarkan sekitar 30 persen dari penghasilan Anda setiap bulan, dan gunakan itu untuk membayar tagihan kartu kredit Anda secara minimal, dan gunakan sisanya untuk membayar kartu yang suku bunganya paling besar.

    LANGKAH 2 : GALI LUBANG TUTUP LUBANG

    Bayar tagihan Anda dengan mengambil hutang baru. Ini populer dengan sebutan “gali lubang tutup lubang.” “Wah, Pak Safir nggak bener nih,” begitu mungkin pikir Anda. “Masak saya harus nutup utang dengan berhutang lagi pada yang lain,” begitu pikir Anda lagi.

    Saya ingatkan disini bahwa tujuan strategi “gali lubang tutup lubang” adalah untuk meringankan beban hutang Anda. Strategi ini tidak akan membuat saldo hutang Anda berkurang, tapi meringankan beban bunga yang harus Anda bayar. Jadi, strategi ini bisa digunakan tidak hanya dalam membayar hutang kartu kredit, tetapi juga dalam hutang-hutang Anda yang lain. Strategi “gali lubang tutup lubang” akan efektif asalkan ada dua syarat yang terpenuhi:

    1. Jumlah pinjaman Anda yang baru TIDAK LEBIH dari saldo pinjaman Anda yang lama.
    2. Suku bunga dari pinjaman Anda yang baru HARUS LEBIH KECIL daripada suku bunga pinjaman yang saat ini sedang Anda bayar.

    Lihat, gali lubang tutup lubang tidak selalu jelek, kan? Dengan memenuhi kedua syarat tersebut diatas, maka Anda bisa meringankan beban hutang Anda. Begitu juga dalam pemakaian kartu kredit.Bagaimana prakteknya dalam pembayaran kartu kredit Anda? Kalau Anda punya saldo hutang kartu kredit, maka pada saat ini ada beberapa bank yang menawarkan jasa pemindahan saldo hutang dengan suku bunga yang lebih kecil. Dimana disini Anda bisa memindahkan saldo hutang kartu kredit Anda kepada bank tersebut, dan untuk selanjutnya Anda cukup membayar tagihan itu dengan suku bunga yang lebih rendah dibanding suku bunga pada kartu kredit Anda. Jadi, keuntungannya disini Anda akan mendapatkan ‘pemotongan’ suku bunga. Lumayan, kan?

    Tapi harus diingat bahwa strategi ini adalah cuma solusi sementara, dimana tujuan Anda adalah untuk meringankan beban hutang kartu Anda. Biar bagaimanapun, Anda tetap perlu membayar tagihan hutang Anda. Dan perlu diperhatikan juga, supaya jangan langsung percaya dengan suku bunga rendah yang ditawarkan oleh bank-bank tersebut. Perhatikan dan baca baik-baik penawaran yang diberikan oleh bank tersebut, sebelum Anda mengambil keputusan untuk memindahkan saldo hutang kartu kredit Anda.

    LANGKAH 3 : BAYAR SETIAP TAGIHAN DENGAN LUNAS, DAN ATUR PEMAKAIAN ANDA

    Disiplinkan diri Anda. Pada saat tagihan datang, dan Anda memang memiliki uangnya, bayar saja tagihan Anda secara lunas. Jangan biasakan tidak membayar tagihan Anda secara lunas. Bila Anda tidak membayar tagihan kartu Anda secara lunas, maka bunganya bisa ‘membunuh’ Anda pelan-pelan.

    Ingat, kartu kredit cuma sebuah cara untuk meminjam uang bank selama sekitar 25-30 hari. Setelah itu Anda tetap harus membayar secara tunai. Bila Anda bisa membayar tagihannya secara lunas, bagus. Tapi bila tidak, maka akan lebih baik bila Anda menghentikan dulu pemakaian kartu Anda.

    Tambahan lagi, kalau memang tidak kepepet sekali, jangan gunting kartu Anda. Ingat, ada suatu saat dalam kehidupan Anda dimana Anda berada dalam keadaan darurat, dan tidak punya uang tunai untuk membayar suatu transaksi. Mungkin malam-malam Anda perlu pergi ke ruang Gawat Darurat di RS. Disini kartu kredit Anda bisa berguna kalau Anda tidak membawa cukup uang tunai. 



    pb: mattula_ada@live.com