Archive for Juni, 2012

17 Juni 2012

Indonesia Diinflitrasi Agen Intelijen Malaysia?

by: Jack Soetopo

Pertanyaan ini sangat menarik bagi para pengamat dan para pembaca yang jeli dalam menanggapi apa yang terjadi di Indonesia selama pemerintahan SBY selama ini.

Mengapa?

Karena apa yang terjadi dengan kasus Korupsi dan pelarian dari MN dan istrinya N, salah satu pejabat tinggi partai Demokrat menunjukan tendensi apa yang selama ini.

Sejak Reformasi Indonesia, beberapa agen intelegen dari beberapa negara tetangg khususnya, Malaysia mengambil langkah-langkah yang sangat signifikan dalam perikrutan aset mereka di Indonesia.

Ini sangat berbeda dengan jaman orde baru, dimana pemerintah Indonesia selama kontra intelegen dengan negara-negara kecil seperti Malaysia sangat minim sekali redundansi yang sangat sangat rumit. Bahkan intelegen Indonesia dapat mempenetrasi beberapa pihak dari petinggi Malaysia dan secara tidak langsung ikut membantu para pro Indonesia untuk menjadi petinggi di pemerintahan Malaysia.

Tulisan ini adalah pengamatan yang berdasarkan laporan-laporan intelegen yang tersedia, tetapi tidak dapat di lucurkan kepada pihak publik, karena tidak ingin memberikan kepanikan terhadap apa yang terjadi selama ini.

Alasan lainnya tulisan ini sebagai mengingatkan berapa jauh dari apa tujuan dan fokus intelegen Indonesia yang kini semakin bergeser jauh dari tujuan yang utama. Entah karena tidak efektivenya kontra intelegen, atau lemahnya pelindungan aset yang ada, ataupun aset yang menjadi independen atau disebut rouge agen/aset.

Analisa ini didasarkan atas percakapan rahasia yang di kumpulkan dari para tukang becak, terhadap beberapa anggota petinggi Indonesia, baik didalam pemerintahan SBY, maupun mereka yang bekerja /PNS yang bekerja di beberapa instansi pemerintah. Seperti Kedutaan besar Indonesia, dan konsulat Indonesia di Singapore, Thaliand, Malaysia, dan Washington DC. Juga beberapa pejabat imigrasi atau beberapa pegawai imigrasi di Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Sumatera Utara.

Bagaimana caranya untuk mengetahui bahwa agen rahasia dari Malaysia merekrut mereka?

Seperti istri MN terlihat beberapa dari pejabat tinggi ini memiliki beberapa pasport Indonesia, dan selalu membuat pertemuan rahasia dengan handler mereka dari pihak agen rahasia Malaysia.

Kali ini saya hanya menulis agen rahasia Malaysia, dalam tulisan yang kan datang akan saya tulisa beberapa negara yang ikut merikrut para pejabat Indonesia.

Modusnya, dengan memiliki paspor berbeda dengan jati diri yang asli, beberapa dari mereka, dan komplotannya, dapat dengan bebas keluar masuk Indonesia, terutama ke Penang, Kuala Lumpur, atau Ginting Island, Singapore,dan Bangkok.

Dulunya mereka menggunakan Jakarta, dan Bali tetapi sejak para tukang becak memenuhi daerah itu dengan surveillance equipment, mereka terpaksa menggunakan dana leebih besar dengan keluar negeri. Ini terlihat dari pelarian MN dan istrinya dibantu oleh beberapa petinggi dari pihak intelegen Malaysia.

Sungguh sangat disayangkan bahwa pihak intelegen Indonesia dan media massa terlihat menutup-nutupi kejadian Breach of Security within Indonesia Top Officials. Tidak ada satupun dari para penulis dan pengamat yang katanya piawai mengenai intelegen, menuliskan. Alasan nya, saya tidak mengetahui dengan jelas. Biarpun saya tahu tidak lah menjadi perhatian saya, karena tugas saya selama ini sebagai tukang becak sudah selesai.

Hanya saya sangat menyangkan bahwa beberapa top editor dari beberapa media massa terkenal di Indonesia, juga telah direkrut oleh pihak intelegen dari beberapa negara, khususnya dari pihak Malaysia dan Singapore.

Oleh sebab itu tidaklah heran ratifikasi mengenai buronan most wanted dari Indonesia,mendapatkan safe haven di negara2 tetangga kita ini.

Dari chatter dan aliran uang yang mengalir bebas di Indonesia, sangat memprihatinkan bahwa tanpa sadar atau tidak Indonesia telah menjadi ladang yang sangat menggiurkan dan mudah didistabilkan oleh pengaruh dari pihak yang seharusnya tidak memiliki kekuatan.

Jika dibandingkan dengan besarnya negara dan penduduknya, Malaysia dan Singapore adalah negara yang sangat kecil sekali. Tetapi kenyataan nya Indonesia terus menerus memberikan kesempatan dirinya di bullies oleh negara2 kecil ini.

Memang dalam kontra intelegen, pihak Malaysia kena BURN, karena mereka tidak memiliki kemampuan yang sangat canggih dalam hal memelihara asetnya di Indonesia.

Sebagai contoh dari konversasi yang direkam para tukang becak dan jalur uang yang bergulir begitu banyak, sangat membuat pihak tukang becak tersenyum, karena melihat begitu amatiran dan tidak siapnya mengelola aset yang ada.

Beberapa pelarian koruptor atau alleged koruptor Indonesia, mereka telah menghabiskan ratusan ribu USD. Bukannya mencegah dan membantu mereka untuk slow down, tidak menghabiskan semua resource baik itu politikal dan uang, justru dengan Berani nya membantu didepan para pengamat intelegen seperti para tukang becak.

Di Indonesia, saya telah berhasil mengindentifikasi beberapa top ofisial Indonesia yang telah di rikrut oleh pihak agen rahasia Malaysia.

Nama-nama mereka telah dimasukin kedalam file sebagai suspected foreign agent assets . Tetapi saya kan memberikan reducted dan clues informasi ini kepada para pembaca di Kompasiana.

Beberapa pejabat di dalam DPR, kementrian Luar negeri, kementrian kehutanan, imigrasi, partai politik, dosen dari beberapa perguruan tinggi, beberapa pejabat tinggi di beberapa provinsi Indonesia dan tentunya beberapa dari pengusaha Indonesia.

Jadi dari kejadian MN dan istrinya justru membuat pemerintah Indonesia harus melakukan tindakan yang drastis. Karena beberapa dari foreign asets ini mencoba memasuki daerah dan sektor perekonomian Indonesia. Dan kini mendominasi anti pemerintah Indonesia dengan menggunakan kepercayaan dan manuver politik mulai dari daerah,sampai ke pemerintah pusat. Di bagian media massa,mereka mendominasi berita apa yang harus di beritakan, gosip apa yang harus di dengung2kan.

Oleh sebab itu sejak kejadian istri MN bisa seperti Gosht,like many claim. Saya sudah memonitor beliau dan suaminya sejak lama. Dan beberapa komplotannya sudah terindentifikasi. Baik pasport palsunya dan pasport aslinya.

Beberapa dari mereka melakukan kesalahan yang fatal, mencoba mendapatkan visa ke AS, sehingga pihak AS mendapatkan sidik jari dan DNA mereka. Serta menggunakan software recognition yang tercanggih di miliki AS, dapat mudah sekali di identifikasikan.

Ada satu alat yng tercanggih yang digunakan sekarang ini adalah RFID(Radio-Frequency Identification) tags. Little baby ini sangat kecil sehingga sangat mudah sekali di planted. Sangat kecil dan dapat dimonitor langsung dari sateliteyang terbaru milik Indonesia, atau AS.

Contohnya, jika target ingin mengambil atau mengkopi surat2 rahasia negara, biasanya disimpan di asrip khusus yang dilengkapi oleh blower ventilation dari gedung yang sederhana saja. Tetapi di blower AC itu secara automotis, blowed RFID tags sangat kecil ini sehinga menempel di baju dan di surat2 yang diambil. Setelah pencuri rahasia negara ini keluar dari ruangan/gedung arsip. RFID tags langsung aktive, dan memberikan signal ke monitor di Cibinong, atau di Kalibata kemana dokumen atau orang ini pergi. Dan dapat bertahan lebih dari 3 bulan. Tanpa oknum ini mengetahuinya.

Tidak perlu dengan banyak penjagaan ketat seperti dulu lagi. Dan kontra intelegen dapat di lakukan siapa yang menerima paket dan siapa yang bertemu dan membagikan informasi tersebut.

Tambah lagi dengan menggunakan BB, sangat mudah sekali karena servernya hanya 4, salah satunya dekat tetapi di luar Indonesia. Sehingga mudah sekali di monitor trafik voice dan SMS nya.

Sebagai penutup, saya berharap pihak pemerintah Indonesia mencoba menutupi kebocoran dan kebolongan yang ada, mencoba menjaga kerahasian dengan lebih baik. Untuk pihak intelegen Malaysia, nice try…….. learn from the best how to maintain aset yang ada.

Untuk pihak intelegen Malaysia, see you again…. and remmeber, kami tukang becak selalu mengawasi sepak terjang, dan karena cara rekrutmen dan sistem pemeliharaan aset sudah melanggar atau breach the agreement untuk menjaga kestabilitas di daerah sekitar selat Malaka. Dengan mencoba mendistabilitas pemerintahan Indonesia, justru pihak intelejen Malaysia sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal.

Untuk pihak intelegen dan pemerintahan SBY, clean your house. Anybody,who wants to destabilize security need to go to jail for a very a long time.

Is word, treason mean anything to you?

Sudah waktunya membangkitkan rasa Nasionalisme yang tinggi lagi di Indonesia. Indonesia bukan toy atau ladang dimana para agen rahasia dengan Bold nya merikrut di depan mata masyarakat yang awam.

Desclaimer:
Tulisan ini adalah hasil laporan para tukang becak yang terkini. Dan ini adalah opini pribadi dari penulis, dan penulis bertanggung jawab atas tulisan ini. Tulisan ini tidak mewakili badan hukum manapun, termasuk Kompas dan Gramedia grup. Penulis adalah pensiunan tukang becak, yang kini melanjutakan penyidikan dan pengecheckan dilapangan di Indonesia.

source: kompasiana.com

pb: mattula_ada@live.com

Iklan
17 Juni 2012

‘Tangan Gaib’ Amerika di Balik Pelarian Nazaruddin

by: Black Horse

Pada 1983, perwira menengah Susilo Bambang Yudhoyono masih segar keluar dari barak sekolah militer Fort Benning, Amerika Serikat, saat Jakarta meminta dia melanjutkan jungle warfare school, sekolah seni perang hutan, di sebuah fasilitas pendidikan militer milik Amerika Serikat yang lain di Panama. Dua dekade lebih setelahnya, lepas dia menjadi orang nomer satu di Indonesia, seseorang yang menjadi bendahara di partai yang mendudukkan dia ke kursi presiden, jadi buron kakap dan kabur ke luar negeri dengan mengambil destinasi berbeda dari koruptor yang sudah-sudah. Muhammad Nazaruddin bersembunyi di negara tetangga tempat presiden dulunya belajar seni perang hutan: Kolumbia.

Bagaimana ceritanya hingga Nazaruddin bisa sampai ke Kolumbia, yang jaraknya hampir 20.000 kilometer dari Singapura, tempat dia kabur kali pertama pada pekan terakhir Mei 2011?

Nazaruddin

Ada dua ‘versi resmi’ yang saling ‘membunuh’ sejauh ini:

Versi pertama adalah keterangan perwira senior polisi Indonesia dan ini sempat tercantum di situs interpol Indonesia. Kata mereka, Nazaruddin sempat bersembunyi di Singapura, Vietnam, lalu sebuah negara di Eropa, sebelum akhirnya masuk Kolumbia.

Versi kedua adalah versi bos besar polisi Kolombia, Jenderal Carlos Mena, seperti dilansir The Associated Press. Saat mempertontonkan Nazaruddin ke kalangan wartawan di Bogota dalam sebuah konferensi pers pada 9 Agustus, Mena bilang kalau sang buron tertangkap pada “Sabtu malam (6 Agustus) saat mendarat di Cartegena dengan sebuah pesawat carter yang terbang langsung dari Washington DC, Amerika Serikat”.

Mena juga bilang kalau imigrasi Cartagena jadi curiga sebab Nazaruddin membawa paspor yang fotonya berbeda. Foto yang dilansir sebuah teve swasta Jakarta belakangan menunjukkan kalau Nazaruddin, kala tertangkap, membawa paspor atas nama Muhammad Syarifuddin. Yang terakhir adalah keluarga dekatnya di Medan. Wajah mereka sekilas memang bermiripan.

Imigrasi Cartegana jelas telah melakukan tugas dengan baik. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah ada apa dengan imigrasi negara lainnya – jika penjelasan versi polisi dan Interpol Indonesia harus dipercaya? Kenapa imigrasi Singapura atau Vietnam misalnya, seperti ‘kompak’ gagal mendeteksi kejanggalan dalam paspor yang digunakan Nazaruddin? Kenapa pula, jika kita membeli keterangan polisi Kolumbia, Amerika memberi ruang gerak yang leluasa pada Nazaruddin? Tidakkah dia buron Komisi Pemberatasan Korupsi, lembaga super pemberatasan korupsi yang dalam beberapa tahun terakhir mendapat banjir dukungan dan komitmen dari Kedutaan Amerika di Jakarta?

Wartawan di Bogota mungkin tak tahu dengan hubungan mesra Amerika dan KPK dan, tentu saja, dengan hampir seluruh institusi penegak hukum negara. Tapi di media Jakarta, anehnya, ‘sisi Amerika’ dalam pelarian Nazaruddin,  yang notabene terang benderang dalam penjelasan Jenderal Mena, belakangan seperti seperti kena senggol jin dan masuk ‘lumpur hidup probabilitas’.

Ini utamanya setelah seorang diplomat Amerika di Jakarta menyiramkan aki keraguan atas pertanyaan  sebuah situs ternama ihwal ‘koneksi Washington’ dalam pelarian Nazaruddin, seperti keterangan Jenderal Mena.

Kami tidak bisa mengatakan apa-apa soal siapa yang dapat atau tidak dapat visa, karena aturan-aturan soal hak privasi,” kata juru bicara Kedutaan Amerika, Troy Pederson, seperti dikutip Detik.com, Rabu. Sebuah jawaban yang praktis mendaur-ulang ucapan Duta Besar Amerika Serikat, Scot Alan Marciel, saat kalangan jurnalis Jakarta bertanya soal benarnya tidaknya John Gerome Greece – buron dalam skandal pembuatan paspor palsu Gayus Tambunan – adalah seorang agen Dinas Intelejen Amerika, CIA, seperti yang diklaim Gayus, beberapa bulan yang lewat.

Cerita versi Jenderal Mena kemudian kian terpojok lepas muncul pernyataan Duta Besar Indonesia di Washington, Dino Patti Jalal, juga di Detik.com, yang bilang: “Kami sampai saat ini masih terus koordinasi dengan KBRI Bogota untuk cek paspor atas nama Syarifuddin, apakah ada US visanya dan apakah ada cap imigrasi AS.

Sepintas, Duta Besar Dino serius dalam mencari tahu kebenaran. Tapi apa pasal sampai dia meragukan pernyataan Jenderal Mena? Adakah dia termasuk kalangan yang percaya kalau di paspor orang-orang Indonesia yang diam-diam keluar masuk Tel Aviv belakangan ini ada tertera cap imigrasi Israel?

Wallahualam. Tapi apapun yang terungkap nantinya, kisah pelarian Nazaruddin telah memunculkan kesan kalau dia berhasil mengadopsi semboyan serdadu elit yang telah menamatkan pendidikan seni perang hutan di Panama: “No Obstacles Too Difficult”. Tak ada pintu imigrasi, dari Singapura hingga Kolombia, yang terlalu susah untuk tidak bisa ditembus, baik seorang diri apalagi dengan bantu ‘tangan-tangan gaib’.

source: kompasiana.com

pb: mattula_ada@live.com

17 Juni 2012

Jenderal, Laut Kita Bukan Jumbleng Kapal Asing!

Apa sebenarnya urusan tiga kapal perang jenis destroyer Amerika: US Coast Guard Cutter Waesche, US Navy USS Vandegrift FFG-48, dan USS GPN LSD 42 merapat di Pelabuhan Tanjung Perak pada akhir Mei s/d awal Juni lalu?

Dua kapal perang milik Amerika Serikat, USS Vandergrift (kanan) dan USGC Waesche (kiri) ketika bersandar di Dermaga Jamrud Utara, Surabaya, Selasa (29/5).

Berita-berita nasional bilang, mereka akan melakukan serangkaian kegiatan diantaranya adalah latihan perang dengan TNI Angkatan Laut yang akan digelar di Pantai Banongan, Kabupaten Situbondo dengan tajuk ‘Cooperation of Afloat Readiness and Training‘ (CARAT),  hingga membawa pesan hangat ‘persahabatan’ dan kemesraan seorang ‘mitra alami’ dan  bakti sosial di Madura selama tiga hari pada 5-7 Juni 2012. Namun, keberadaan katinting-katinting raksasa di pelabuhan umum Tanjung Perak tersebut ditentang para pengusaha. Karena dianggap merugikan.

Namun, Gubernur Jatim Soekarwo pernah mengatakan bahwa bersandarnya kapal perang AS di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya tidak menjadi soal. Dia bahkan meminta kepada para pengusaha yang menolak mau bernegosiasi. “Kalau bisa dirundingkan dulu, daripada berteriak-teriak menolak. Sebab, kalau bersikeras menolak itu tidak bisa, soalnya Tanjung Perak bukan hanya untuk kapal niaga, tetapi juga bisa untuk angkatan perang,” katanya, lapor Vivanews, Minggu, 27 Mei 2012.

Tapi, jangankan para pengusaha, para jenderal pun “mungkin” tak akan bisa menolak keberadaan-keberadaan kapal-kapal perang AS ini.  Sebab cerita itu bermula dari sini.

Pada 7 November 2007, dua tahun menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana Slamet Soebijantomendadak kehilangan jabatannya. Mabes TNI kala itu bilang pencopotan disebabkan Soebijanto ‘memasuki masa pensiun’. Aneh bin ajaib. Masa pensiun Soebijanto baru bakal dua tahun lagi. Usianya masih 56 tahun kala itu. Toh, penggantinya justru lebih tua. Laksamana Madya Sumardjono kelahiran 21 Juni 1951, alias 15 hari lebih tua dari Slamet yang kelahiran 4 Juni 1951.

Dan, ini yang belum pernah dilaporkan media nasional di hari-hari itu: Dua hari lepas Soebijanto kehilangan jabatannya, pada 9 November, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta mengawatkan sebuahtelegram bermarka CONFIDENTIAL ke Washington. Isinya mengisyaratkan kalau Amerika patut berbesar hati dengan terpentalnya Soebijanto. Kata telegram:  “Perubahan ini bisa membuka peluang perbaikan hubungan kerjasama Amerika dengan TNI AL. Berkebalikan dengan TNI AU dan TNI AD, Soebijanto bersikap dingin dalam membangun hubungan Amerika Serikat, tak begitu tertarik membeli piranti perang dari Amerika dan rese dalam beberapa aspek penting yang diusulkan Amerika dalam skema bantuan Section 1206 dari NDAA untuk tahun anggaran 2007 dan 2008, termasuk pemasangan radar di pesisir. Dia juga menyatakan cemas pada Amerika sebagai suplier senjata, berkeras bahwa Amerika ‘bukan mitra yang handal”, sebab aneka kesulitan TNI AL dalam mendapatkan sparepart dari Amerika. … Pendepakan Soebijanto bisa menciptakan peluang tak terduga guna mengembalikan rencana bantuan ini ke rencana semula dan juga maju di bidang lainnya.”

Gulungan kawat emas diplomatik Amerika Serikat yang bocor tanpa sensor di WikiLeaks (www.cablegatesearch.net) menunjukkan Soebijantoadalah batu karang terakhir yang mengganjal rencana besar Amerika mengukuhkan cengkraman pengaruh dan bisnis militer dengan TNI, lepas menjatuhkan sanksi embargo selama satu dekade lebih hingga 2005.

Sebuah telegram tertanda 14 Juni 2007, merekam pertemuan antara seorang utusan Menteri Luar Negeri Amerika dengan sejumlah pejabat keamanan negara di Jakarta, termasuk Soebijanto. Salah satu yang menjadi bahasan sang utusan kala itu adalah soal Status of Forces Agreement (SOFA), perjanjian penempatan pasukan Amerika di Indonesia. Telegram bilang Soebijanto cemas dengan ide itu, utamanya karena berpotensi merusak kedaulatan negara. (Kejelasan soal jadi tidaknya pernajian ini belum pernah dipublikasikan hingga kini). Telegram jugabilang kalau Soebijanto mengungkap ketaknyamanan pada desakan Amerika agar Indonesia ikut meratifikasiProliferation Security Initiative (PSI), traktak yang memungkinan Amerika mencegah kapal asing manapun yang mereka anggap berbahaya di wilayah laut Indonesia.

Laksamana Soebijanto bilang Indonesia tak ingin negara asing mencegat kapal-kapal di perairan Indonesia,” kata telegram. “Kendati, dia tak keberatan dengan gagasan pertukaran informasi dan bilang kalau TNI AL siap menangkap penyelundup jika Amerika bersedia membagi informasi.

Empat bulan kemudian, persoalan baru mencuat antara Amerika dan Soebijanto. Dalam sebuah telegram tertanggal 12 Oktober, Amerika menyebutkan kalau diplomat mereka mendapat bocoran dari Hashim Jalal, bekas diplomat, ahli hukum laut yang sekaligus penasihat Soebijanto. Jalal, ayah Duta Besar Indonesia untuk Amerika, Dino Pati Jalal, intinya membisikkan penolakan Soebijanto pada rencana penempatan delapan radar Amerika di pesisir Sulawesi. Ada empat alasan utamanya, katanya: (1)daya jangkau radar darat itu terbilang pendek, hanya 25 nautical miles; (2) total radar yang akan dihibahkan hanya delapan unit dan ini tak kuasa memonitor 400 mil laut pesisir pantau Sulawesi; (3) kemungkinan Amerika menggunakan radar itu untuk memata-matai Indonesia; (4) Amerika bukan mitra yang handal mengingat adanya pembatasan Kongres AS atas bantuan militer ke Indonesia. Soal yang terakhir, Soebijanto pernah mengungkap langsung alasan detilnya ke seorang atase militer Amerika di Jakarta. Dia bilang, akibat embargo Amerika, TNI AL kesulitan mencari sparepart kapal selam yang dibeli dari Jerman serta kapal kelas Corvette dari Belanda. Kedua kapal itu menggunakan sistem navigasi Amerika Serikat.

Dalam telegram yang sama, Kedutaan Amerika mengambarkan TNI AL sebagai cabang kemiliteran di Indonesi ayang paling sulit dijamah dan diajak berkoordinasi karena besarnya kecurigaan pada pihak Barat, utamanya Amerika Serikat, ketimbang sikap kebanyakan perwira Angkatan Udara. Masih di telegram yang sama, Kedutaan Amerika meminta U.S. Chief of Naval Operations, Laksamana Roughead, untuk ‘membriefing’Soebijantodi sela-sela International Sea Power Symposium pada 15-19 Oktober di Newport, Rhode Island.

Pada 25 Oktober, setelah Soebijanto kembali dari Amerika, sebuah telegram kembali terkirim. Kali ini, isinya menyebutkan adanya ‘ganjalan’ di kalangan perwira militer TNI atas rencana transaksi besar alat-alat Amerika, termasuk penjualan pesawat jet F-16 ke TNI AU. Nama Soebijanto, juga Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono serta sejumlah anggota dewan, disebutkan sebagai hambatan dalam sukesnya transaksi. Telegram menggambarkan mereka masih mengidap skeptisisme pada kehandalan Amerika serta menyimpan keresahan yang mendalam atas sanksi embargo di era sebelumnya. Di bagian lain, telegram menyebutkan hambatan utama pemasangan radar di Selat Makassar adalah “kecurigaan pribadi Soebijanto atau versi lembaga dari kecurigaan pada rencana itu”.

Pada 21 April 2009, dua tahun lepas Slamet terpental dari Angkatan Laut, Kedutaan Amerika di Jakarta mengirim telegram suka cita yang lain. “Dalam dua tahunterakhir, kepemimpinan TNI AL jauh lebih terbuka. Mereka lebih mau mendengar dan mendiskusikan persoalan-persoalan kompleks. Perubahan kunci terjadi pada November 2007 dengan terpentalnya Laksamana Slamet Soebijanto yang pemberang dan nasionalistik dari jabatan Kepala Staf TNI Angkatan Laut. Laksamana Madya Sumardjono, yang menggantikannya hanya untuk setengah tahun berikutnya, memberi lampu hijau untuk pemasangan jejaringan radar dalam skema bantuan Section 1206 … Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno, yang menggantikannya pada Juli 2008, telah mengizinkan program itu berlanjut dan mengalokasikan anggaran dan personen untuk menjaga dan mengopreasikan stasioun radar begitu terpasang.”

source: http://islamtimes.orghttp://nasional.vivanews.comhttp://www.antaranews.comhttp://www.republika.co.id.  

pb: mattula_ada@live.com

10 Juni 2012

Aksi FPI yang Tak Pernah Disiarkan TV

by: Brillianto K. Jaya

Jumat, 24 Desember 2011. Sore itu jemaat memadati seluruh gereja di kota Cilacap. Mereka hadir untuk mengikuti misa Natal. Jumlah jemaat yang banyak menyebabkan panitia Natal di gereja-gereja itu terpaksa memasang tenda dan layar lebar di luar gereja. Kondisi yang sama juga terjadi pada Sabtu pagi (25/12/2011).

Di antara aparat keamanan, Nampak sejumlah anggota Front Pembela Islam (FPI) berjaga. Ormas Islam yang dilebeli ormas anarkis ini sejak sore hingga malam hari itu ikut mengamankan jalannya misa Natal 2011 lalu. Sedikitnya FPI wilayah Cilacap ini telah mengerahkan 200 orang.

Kami sebagai elemen bangsa ikut membantu pengamanan, monitoring keliling mengawasi jika ada yang mencurigakan,” kata Ketua Majelis Tanfizi FPI DPW Cilacap, Haryanto.

Itulah salah satu bentuk solidaritas atau toleransi yang pernah dilakukan FPI. Jika dipikir-pikir, untuk apa juga menjaga gereja, bukankah FPI itu pembela Islam? Namun, nyatanya FPI tidak sepicik itu.

Menjaga gereja cuma satu dari banyak aktivitas yang tidak pernah disiarkan TV atau ditulis oleh media-media cetak. Sebagaimana tagline media: good news is bad news. Aktivitas sosial atau fakta toleransi dalam bentuk solidaritas yang dilakukan FPI bukanlah good news. Biasanya aksi seperti itu baru akan dijadikan berita jika media mendapatkan benefit (baca: nilai uang), sebagai bentuk pencitraan corporate atau personal.

Tentu saja FPI tidak pernah lelah melakukan aksi-aksi seperti itu, meski tidak pernah diliput media. FPI pun pasti tidak pernah protes dengan ketidakseimbangan media, sehingga FPI mendatangi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) atau Komisi Penyiaran Indonesia (PWI). Padahal fakta menunjukkan, pada Maret 2003 FPI pasang body membela wartawan yang diintimidasi “orang-orang” Tommy Winata.

Jadi, saya setuju sekali dengan status Ustaz Arifin Ilham di akun Facebook: “Biarlah Arifin Menanam Padi dan FPI Menjaga Tikusnya”. Selama masih banyak tikus di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai ini, #IndonesiaButuhFPI. Tanpa perlu publikasi media atau puja-puji, #IndonesiaButuhFPI.

pb: mattula_ada@live.com