Lima Tips Mencari Penerbit

by: Johan Wahyudi

Jika mau bersikap jujur, semua penulis pasti berkeinginan agar tulisan-tulisannya dapat dibukukan. Jika sekadar berbentuk lembaran naskah, tentu kebermanfaatannya kurang. Setidaknya perawatannya menjadi lebih sulit. Naskah itu mudah hilang atau kotor atau terkena virus. Jika naskah itu kurang bernilai, tentu penulis tidak merasa begitu kehilangan. Namun, penulis akan menyesali keteledorannya yang teramat sangat jika naskah itu begitu pentingnya.

Bagi penulis buku pemula, tentu dirinya akan merasa canggung atau malu. Penulis merasa bahwa naskahnya kurang bagus. Anggapan itu tentu akan berdampak pada rasa percaya diri. Penulis menjadi enggan untuk mencoba menggali informasi penerbit. Dan jika rasa itu terus dipelihara, penulis itu sudah menciptakan kegagalan baginya. Maka, seorang calon penulis harus mempunyai keyakinan dan keteguhan hati bahwa naskahnya adalah naskah terbaik.

Rasa kebanggaan itu akan berdampak positif ketika naskah itu ditawarkan kepada penerbit. Setiap penerbit pasti mewawancarai atau menanyakan kelebihan naskah penulis. Penerbit akan menyukai tulisan-tulisan inspiratif, berisi, dan sarat manfaat. Bukan sekadar tulisan yang berisi keluh kesah atau rasa diri.

Berkenaan dengan kondisi demikian, saya akan berbagi tips tentang strategi atau teknik menawarkan naskah kepada penerbit. Teramat kebetulan, dua jenis tulisanku di kompasiana dilirik penerbit untuk dijadikan buku. Dua jenis itu adalah opiniku tentang dunia pendidikan dan artikel tentang teknik penulisan buku. Ada lima tips yang perlu diperhatikan para penulis untuk menawarkan tulisannya, yaitu:

1. Perhatikan jenis produk buku yang dihasilkan penerbit. Setiap penerbit sudah mempunyai ciri khusus tentang produknya. Apakah penerbit itu menerbitkan buku sekolah, buku bahan ajar, buku life skill, atau buku-buku motivasi? Ketepatan pemilihan penerbit akan menjadi awal kesuksesan penulis.

2. Susunlah tulisan dalam bentuk mind set yang apik dan unik. Maksudnya, buatlah kerangka buku yang berbentuk daftar isi. Kerangka alur pengembangan dan materi akan menjadi daya tarik pihak editor ketika membaca tulisan kita. Editor penerbit belum perlu membaca keseluruhan isi. Biasanya editor cukup memperhatikan kemahiran penulis dengan membaca kerangka buku yang disusunnya.

3. Berikanlah gambaran atau deskripsi kelebihan buku secara komprehensif. Yakinkanlah bahwa naskah kita adalah naskah terbaik. Jarang ada naskah buku sebagaimana tulisan kita. Penulis harus meyakini naskahnya dan meyakinkan penerbit disertai dengan data-data. Maka, akan lebih baik jika penulis menggunakan beberapa contoh buku lain sebagai pembanding.

4. Berikanlah hard copy atau cetakan. Hendaknya penulis berhati-hati. Sebaiknya penulis memberikan naskah cetakan dan bukan soft copy. Mengapa? Karena ada juga beberapa penerbit nakal. Karena keteledoran penulis dengan memberikan soft copy, penerbit kadang mengubah nama penulis tanpa pemberitahuan. Oleh karena itu, mintalah bukti penerimaan naskah yang diberi stempel perusahaan atau penerbit. Bukti penerimaan itu dapat digunakan untuk menjadi barang bukti jika terjadi masalah di kemudian hari (mudah-mudahan tidak, ya)

5. Rajin-rajinlah bersilaturahmi dengan penulis senior. Gemarlah berdiskusi dengannya. Mintalah saran dan nasihatnya atas kualitas tulisan kita. Terimalah kritikan atau sarannya dengan senang hati. Hendaknya calon penulis buku menjauhi sikap resisten atau kebal kritik. Dari perhatian penulis senior itulah, penulis pemula akan mulai mendapatkan angin segar menuju penulis profesional.

Sebenarnya saya telah menuliskan cukup banyak tips yang berhubungan dengan penerbit. Namun, ternyata masih banyak rekan-rekan menanyakannya melalui email atau inbox. Oleh karena itu, mudah-mudahan tulisan ini dapat menjadi jawaban karena saya tidak mungkin membalas pesan-pesan satu persatu. Semoga sekadar tulisan ini bermanfaat. Amin. Terima kasih.

pb: mattula_ada@live.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: