Menuju Teknologi Informasi Hijau

Pada tanggal 31 Maret lalu Pemerintah di beberapa daerah di Indonesia, turut merayakan Earth Hour sebagai bagian dari warga dunia yang peduli terhadap lingkungan dan pemanasan global.  Gedung-gedung pemerintah serentak memadamkan lampu untuk beberapa saat. Demikian pula tempat strategis seperti KBN Marunda dan lampu-lampu di beberapa jalan protokol turut dimatikan. Hal ini dilakukan guna mengingatkan  betapa besar ketergantungan kita akan energi yang kian hari kian langka.

Usaha-besar besaran untuk memanfaatkan energi yang terbarukan memang sudah mulai muncul ke permukaan. Energi yang berasal dari angin, sel surya, dan biofuel sudah banyak dikenal di masyarakat. Namun demikian ketergantungan kita akan energi yang berasal dari pembakaran fosil masih demikian tingginya sehingga memberikan beban yang besar secara ekonomi maupun ekologi.

Pertama-tama tentu kita akan dengan mudah menunjuk sektor transportasi dan industri manufaktur sebagai penyumbang terbesar emisi karbon ke atmosfer kita. Sebaliknya bidang teknologi informasi mungkin bisa merasa jumawa karena merasa telah mengurangi lalu-lintas orang dan dokumen secara fisik untuk menggunakan kendaraan karena sudah dilewatkan protokol internet. Namun pada kenyataannya emisi karbon dari sektor transportasi tidaklah berkurang sedikitpun tiap tahunnya. Justru sektor teknologi informasilah yang kini turut menyumbang emisi karbon hingga 15% dari total emisi karbon secara global. Jumlah itu setara dengan 8 milyar ton kabon per tahun.

Kotak prosesor dan monitor, termasuk laptop dan server, merupakan penyumbang emisi karbon terbesar dari seluruh perangkat teknologi informasi hingga mencapai 63%. Berikutnya, dengan kontribusi 24%, adalah printer dan mesin fotokopi yang banyak menggunakan gerak mekanis dalam pengoperasiannya. Sisa 13% emisi karbon disumbang dari perangkat lainnya seperti router, hub, dan UPS.

Berdasarkan survey, sebuah kantor yang bergerak di bidang teknologi informasi dan memiliki sekitar seribu orang pegawai akan mengkonsumsi sekitar  2 juta kilowatt per tahun. Jika kita kenakan tarif industri dari PLN sebesar Rp 800 per kwh maka perusahaan itu harus merogoh kocek sebesar Rp 1,6 milyar hanya untuk membayar listrik. Jika pengeluaran tersebut dapat dipangkas sebesar 20 persen saja tentu akan menghasilkan penghematan sebesar Rp 320 juta. Dana tersebut tentu dapat diinvestasikan untuk membeli perangkat IT baru yang lebih canggih dan efisien untuk menggantikan perangkat keluaran lama yang umumnya lebih boros daya.

Jika anda adalah karyawan mungkin anda tidak perlu ambil pusing dengan konsumsi daya yang digunakan oleh kantor karena toh kantorlah yang akan membayarnya. Terlebih lagi penghematan listrik belum tentu akan berdampak langsung terhadap perbaikan gaji. Namun demikian, secara etika kita berutang banyak kepada lingkungan hidup yang kita tinggali. Tidak perlu kiranya kita ikut berteriak di jalanan seperti para aktivis lingkungan. Dengan mematikan laptop dan peralatan elektronik lainnya  sebelum pulang kantor kita sudah turut membantu mereduksi emisi karbon.

Secara lebih lanjut, audit daya perlu dilakukan secara cermat untuk mendeteksi kebocoran uang perusahaan dari sisi penggunaan listrik terutama di bagian teknologi informasi yang makin hari makin mengemuka. Untuk kantor yang masih banyak memanfaatkan komputer tipe lama dengan layar komputer tabung perlu serius memikirkan investasi perangkat baru guna mencapai efisiensi daya yang maksimal. Sisitem server sebisa mungkin dirampingkan dan apabila tidak menyangkut informasi sangat rahasia kiranya bisa dialihkan ke server publik dengan komputasi awan.

Komputasi awan menawarkan cara baru dalam menyediakan dan mengatur kebutuhan teknologi informasi. Saat sebuah organisasi bisnis besar bergeser ke komputasi awan, jejak karbon per user dapat dikurangi hingga 30 persen. Untuk perusahaan kecil dan menengah hasilnya bisa lebih dramatis lagi, pemanfaatan komputasi awan oleh UKM bisa mengurangi emisi karbon hingga 80 persen.

Dengan mengamati pertumbuhan yang pesat di bidang teknologi informasi, sebuah lembaga bernama Smart 2020 memberikan laporan riset mengenai emisi karbon dari sektor teknologi komunikasi dan informasi (ICT). Dari tahun 2002 hingga tahun 2020 pertumbuhan pusat data akan berlipat tiga. Komputasi awan dapat menekan laju pertumbuhan tersebut sehingga secara keseluruhan emisi karbon akan berkurang sekaligus sistem yang efisien akan dicapai.

source:

~ http://antondewantoro.wordpress.com/

~ http://www.kaskus.us/showthread.php?t=13276900

pb: mattula_ada@live.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: