Langkah Ekstrim Untuk Mengantisipasi Bencana Macet Jakarta

by: Anton Dewantoro

Bicara soal macet Jakarta seolah mengurai benang kusut yang tiada ujung. Benarkah? Saya rasa yang bilang begitu hanyalah orang-orang yang tidak mau berusaha saja. Bisanya cuman ngaku ahlinye tapi ternyata cuman ahli narsis pasang baliho. Bujug dah!

Manusia di Jakarta memang kelewat banyak tapi bukan banyaknya orang yang bikin kota ini macet bundhet ruwet. Kalau kita telusuri di kota ini masih banyak perumahan yang bisa ditinggali. Bahkan sampai tahun 2010 ini di beberapa bagian Jakarta Timur, Barat, dan Selatan masih ada saja pemukiman baru dibuka, masih di dalam DKI. Sebagai perbandingan, di beberapa kota besar di China dan Amerika Serikat hampir tidak mungkin membeli rumah menapak tanah dalam kota. Hanya apartemen satu-satunya pilihan.

Yang bikin macet Jakarta adalah terlalu besarnya volume kendaraan. Betapa tidak, setiap hari dealer di seluruh Jabotabek menjual sepuluh ribuan motor dan seribuan mobil baru sementara yang lama  tentu masih saja berkeliaran di jalan. Dengan demikian, sehebat apa pun percepatan pembangunan jalan tentu tidak akan mampu mengimbangi pertumbuhan kendaraan.

Macetnya Jakarta

Langkah ekstrim perlu dilakukan untuk melawan bencana macet ulah manusia ini. Kita tentu tidak ingin kejadian 25 Oktober 2010 jadi santapan sehari-hari kita dan pulang ke rumah jam 2 dini hari hanya akibat macet di jalan. Tindakan yang saya usulkan di sini mungkin bisa membikin shock banyak pihak termasuk negara Jepang sebagai pengekspor lisensi kendaraan (baca: kemacetan) terbesar di negara kita. Berikut ini beberapa usulan saya:

1. Moratorium Penjualan Kendaraan Pribadi

Dealer motor dan mobil baru di seluruh Jabodetabek harus ditutup selama setidaknya 5 tahun agar tidak ada pertambahan volume kendaraan lagi.Pemerintah pun tidak boleh melakukan pengadaan mobil dinas baru untuk semua instansi kecuali mungkin peralatan perang TNI. Jika memang perlu tambahan mobil dinas, ada banyak sekali rental mobil yang siap menjawab kebutuhan ini.

2. Menaikkan Pajak Kendaraan Bermotor Pelat Hitam.

Pajak mobil saat ini hanya sekitar 1,5 juta rupiah saja. Jika kita tingkatkan hingga 5 kali lipat pun tentu masih banyak sekali orang yang sanggup membayarnya. Sebagai insentif sekaligus kompensasi, pajak pelat kuning digratiskan dan biaya izin trayek dihapuskan. Volume kendaraan pribadi berkurang dan kas negara akan semakin tebal. Jika tidak dikorupsi maka dana tersebut bisa digunakan untuk menambah infrastruktur jalan.

3. Road Pricing

Di samping membayar biaya parkir saat keluar gedung, pemilik kendaraan pribadi wajib membayar harga jalan (road price) yang akan dilalui. Jika gedung itu berada di kawasan segitiga emas (Sudirman, Gatot Subroto, Rasuna Said) katakanlah dikenakan biaya Rp 50.000 per mobil tiap kali keluar dari sebuah lahan parkir. Berturut-turut makin ke pinggir makin murah sehingga mungkin untuk Jalan Raya Pulo Gebang cukup membayar Rp 1000 saja. Sebaiknya dana road pricing ini langsung bisa dianggarkan untuk pengadaan transportasi massal.

4. Mengelola 3 in 1

Betapa pun macetnya Gatot Subroto di pagi hari dari arah Cawang akan seketika menjadi lega begitu melewati perempatan Kuningan. Ya, 3 in 1 mulai berlaku dari titik ini. Jika 3 in 1 diberlakukan secara lebih meluas tentu jalanan akan makin lengang karena pemilik kendaraan akan berpikir dua kali sebelum menembus 3 in 1. Warung Buncit hingga Menteng sepanjang Jalan Rasuna Said adalah ruas yang perlu segera diterapkan 3 in 1.  Selanjutnya Cawang hingga Grogol juga sebaiknya menjadi full 3 in 1 sebagai kelanjutan aturan 3 in 1 yang sudah berlaku di Jalan Gatot Subroto.

Joki 3 in 1 harus dikelola dengan baik dan jangan asal diberantas. Yang boleh menjadi joki adalah mereka yang telah di daftar dan resmi memiliki tanda pengenal. Kalau bukan joki resmi boleh dipidanakan. Ditetapkan tarif resmi penggunaan joki yang sifatnya flat, jauh-dekat Rp 15.000 misalnya. Dengan demikian mungkin akan menciutkan niat pengendara mobil pribadi dan mereka akan beralih ke angkutan umum.

5. Pemblokiran Keluar Parkir Saat Macet Parah

Pada saat macet di salah satu ruas jalan sudah diatas ambang batas, Polda Metro Jaya membroadcast perintah untuk menutup pintu-pintu keluar parkir seluruh gedung yang menuju jalan tersebut. Toh apa gunanya kalau bisa keluar parkir dari gedung lalu pindah “parkir” di jalan raya.

6. Cawang – Pluit bukan Jalan Tol Lagi

Jalan tol dalam kota sesungguhnya adalah ide bodoh. Kendaraan yang hanya sekadar lewat (misal dari Bandung menuju Lampung) harus lewat Semanggi karena adanya tol dalam kota tadi. Tol dalam kota ruas Cawang – Pluit sebaiknya ditutup saja karena hanya akan menarik lebih banyak kendaraan dari luar kota masuk ke pusat kota. Namun demikian, kita harus konsekuen, ruas tol lingkar luar dari Serpong ke lingkar barat harus sudah tersambung.

7. Senin – Jumat Motor Dilarang Masuk Jalan Utama.

Bagaimana pun motor adalah kendaraan yang tidak aman dan amat berpotensi memperkeruh suasana macet Jakarta. China sudah secara tegas melarang adanya sepeda motor di kota-kota besar. Tidak ada salahnya Jakarta mencobanya juga setidaknya setiap hari kerja. Motor yang masih boleh beroperasi adalah ojek resmi dan pengantar paket serta delivery makanan. Jalur yang semula dikuasai motor pun kelak akan bisa diambil alih oleh sepeda kayuh yang sehat dan ramah lingkungan.

8. Ojek Resmi dengan Argometer

Taksi di Indonesia adalah salah satu yang layanannya terbaik di Dunia. Mengapa ojek tidak juga dibikin seperti itu? Dengan layanan yang resmi, terkoordinasi dan berargo-meter,  ojek akan semakin diminati pengguna jalan sehingga bisa menjadi alternatif naik mobil pribadi.

9. Mikrolet Jalur Sepi Dialihkan jadi Shuttle CBD

Kini banyak trayek mikrolet menjadi sepi terutama setelah adanya jalur busway. Trayek Senen- Kp.Melayu dan Tn.Abang-Kota misalnya, bisa kita lihat bahwa rata-rata mikrolet di sini kosong melompong dan hanya sibuk ngetem memenuhi badan jalan sehingga membikin macet.

Ada cara pemberdayaan mikrolet agar tetap bisa beroperasi yaitu dengan menjadikannya shuttle CBD antara SCBD-Mega Kuningan – Setiabudi – Plaza Semanggi  dan kembali lagi di SCBD.  Mereka hanya bisa berhenti di halte khusus di keempat tempat tersebut. Bagi yang ketahuan menaik-turunkan penumpang di luar halte khusus langsung dicabut izin trayeknya.

10. Pelebaran Trotoar dan Pemasangan Travelator

Agar orang Jakarta mau jalan kaki maka trotor pun harus dilebarkan. Pedagang asongan boleh berdagang asal membayar pajak minimal sepertiga dari keuntungan harian mereka itu pun dengan catatan tidak memakan lebih dari sepertiga badan trotoar.  Dana dari penarikan pajak itu bisa digunakan untuk memasang travelator di beberapa ruas jalan terutama Sudirman  – Thamrin.

11. Pengadaan Hari Tanpa Kendaraan Bermotor

Untuk mendidik masyarakat agar mengurangi ketergantungan memakai kendaraan bermotor (motor, mobil), maka perlu digalakkan seminggu sekali di kawasan tertentu dan sekali setahun di semua kawasan, satu hari tertentu tanpa kendaraan bermotor.

***

Langkah ini mungkin akan menyakitkan banyak pihak, tapi bagaikan imunisasi, badan panas sebentar namun bisa jadi akan membawa manfaat seumur hidup

pb: mattula_ada@live.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: