Geothermal: Solusi Terbaik Tenaga Listrik Masa Depan

by: Mattula’ada

Berdasarkan data yang ada, Indonesia termasuk salah satu penghasil minyak bumi terbesar di dunia. Namun beberapa tahun terakhir ini cadangan minyak bumi mulai berkurang akibat pemakaian yang terus meningkat. Sehingga meskipun Indonesia penghasil minyak bumi terbesar namun ternyata kita tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Akibatnya, Indonesia harus mengimpor dari luar. Sebenarnya hal ini juga dirasakan di negara-negara lain, bahwa dalam beberapa waktu ke depan cadangan minyak bumi akan habis. Karena itulah semua pihak berusaha mencari alternatif lain yang bisa menggantikan peran minyak bumi dalam memenuhi berbagai kebutuhan. Salah satu kebutuhan tsb adalah tersedianya jaringan listrik.

Diantara pilihan yang muncul untuk memenuhi kebutuhan listrik tsb, yang paling menjanjikan adalah energi panas bumi (geothermal energy). Hasil penelitian membuktikan bahwa energi terbarukan ini memiliki sifat yang lebih menguntungkan dibandingkan minyak bumi serta energi alternatif lain; karena ramah lingkungan, tidak akan habis terpakai (renewable), dan potensinya di dalam bumi sangat besar.

Menurut data Departemen ESDM, gas bumi di Indonesia di perkirakan hanya mencukupi untuk 61 tahun ke depan, cadangan batubara diperkirakan habis dalam waktu 147 tahun lagi, sedangkan cadangan minyak bumi hanya cukup untuk 18 tahun ke depan.

Oleh sebab itu, Amerika saat ini sedang sibuk dengan riset besar mereka di bidang geothermal dengan nama Enhanced Geothermal Systems (EGS). EGS diprakarsai oleh US Department of Energy (DOE) dan bekerja sama dengan beberapa universitas seperti MIT, Southern Methodist University, dan University of Utah. Proyek ini merupakan program jangka panjang dimana pada 2050, geothermal diharapkan dapat menjadi sumber utama tenaga listrik Amerika Serikat.

Lantas apa itu energi panas bumi? Energi Panas Bumi adalah energi yang diekstraksi dari panas yang tersimpan di dalam Bumi. Energi Panas Bumi ini berasal dari aktivitas tektonik di dalam Bumi yang terjadi sejak planet ini diciptakan. Panas ini juga berasal dari panas matahari yang diserap oleh permukaan Bumi.

Energi panas ini tepatnya dihasilkan di dalam inti bumi, yaitu kira-kira pada kedalaman 6.400 km dari permukaan bumi. Panas bumi tersebut ditimbulkan oleh peristiwa peluruhan partikel-partikel radioaktif di dalam batuan.

Inti bumi terdiri dari dua lapisan, yaitu inti dalam dan inti luar. Inti luar terbentuk dari batuan cair yang sangat panas, disebut magma. Dari magma inilah panas bumi berasal. Panas tersebut akan mengalir menembus berbagai lapisan batuan di bawah tanah. Bila panas tersebut mencapai reservoir air bawah tanah, maka akan terbentuk air panas bertekanan tinggi. Bila air panas tadi bisa keluar ke permukaan bumi karena ada celah atau terjadi retakan di kulit bumi, maka timbul sumber air panas yang biasa disebut dengan hot spring. Air panas alam (hot spring) ini biasa dimanfaatkan sebagai kolam air panas, dan banyak pula yang sekaligus menjadi tempat wisata. Di Indonesia banyak juga air panas alami yang dimanfaatkan sebagai sarana pemandian dan tempat wisata seperti Ciater, Cipanas-Garut, Le’ja’  di Soppeng (Sul-Sel), Lau Debuk-Debuk di Tanah Karo, serta Sipoholon dan Desa Hutabarat di Tarutung, serta beberapa tempat lainnya di penjuru tanah air.

Kadang-kadang air panas alami tersebut keluar sebagai geyser. Di Amerika sekitar 10.000 tahun yang lalu suku Indian menggunakan air panas alam (hot spring) untuk memasak, di mana daerah sekitar mata air tersebut adalah daerah bebas (netral). Beberapa sumber air panas dan geyser malah dikeramatkan suku Indian pada masa lalu seperti California Hot Springs dan Geyser di daerah wisata Napa, California. Saat ini panas alam bahkan digunakan sebagai pemanas ruangan di kala musim dingin seperti yang terdapat di San Bernardino, California Selatan. Hal yang sama juga dapat kita temui di Islandia (country of Iceland) dimana gedung-gedung dan kolam renang dipanaskan dengan air panas alam (hot spring) yang kadang kala disebut dengan geothermal hot water.

Sumber air panas telah digunakan untuk mandi setidaknya sejak Zaman Paleolitik.  Spa tertua adalah kolam batu di Gunung Lisan, Cina yang dibangun pada Zaman Dinasti Qin di abad ke-3 SM, di lokasi yang sama di mana Istana Huaqing Chi kemudian dibangun. Pada abad pertama Masehi, Romawi menaklukkan Sulis Aquae , sekarang Bath, Somerset , Inggris, dan menggunakan sumber air panas di sana untuk memberi suplai ke pemandian umum dan pemanas di bawah lantai . Biaya masuk untuk pemandian tersebut mungkin mewakili penggunaan komersial pertama dari tenaga panas bumi. Sementara penggunaan secara luas sistem pemanas panas bumi untuk pertama kalinya terjadi di Chaudes-Aigues , Perancis, yang telah beroperasi sejak abad ke-14. Sedangkan eksploitasi industri paling awal dimulai pada tahun 1827 dengan menggunakan uap air mancur panas untuk mengekstrak asam borat dari lumpur vulkanik di Larderello , Italia.

Kolam tertua dari sumber air panas, dibangun pada zaman Dinasti Qin di abad ke-3 SM

Hal ini kemudian berlanjut pada tahun 1892,di Boise, Idaho, AS yang sistem pemanasnya didukung langsung oleh energi panas bumi, yang kemudian disusul di Klamath Falls, Oregon pada tahun 1900. Sebuah sumur panas bumi yang mendalam digunakan untuk memanaskan rumah kaca di Boise pada tahun 1926, dan geyser digunakan untuk memanaskan rumah kaca di Islandia dan Tuscany pada waktu yang sama. Charlie Lieb mengembangkan untuk pertama kalinya  penukar panas downhole pada tahun 1930 untuk memanaskan rumahnya. Uap dan air panas dari geyser mulai digunakan sebagai pemanas rumah di Islandia mulai tahun 1943.

Selain sebagai pemanas, panas bumi ternyata dapat juga menghasilkan tenaga listrik. Air panas alam bila bercampur dengan udara karena terjadi retakan atau fraktur, maka selain air panas, akan keluar juga uap panas (steam). Air panas dan uap panas inilah yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit tenaga listrik.

Pada abad ke-20, kebutuhan listrik menyebabkan pertimbangan tenaga panas bumi sebagai sumber listrik. Pangeran Piero Ginori Conti menguji pembangkit listrik tenaga panas bumi pertama pada tanggal 4 Juli 1904 di Lardarello, Italia. Hal ini berhasil menyalakan empat lampu.  Kemudian, pada tahun 1911, pembangkit listrik panas bumi komersial pertama di dunia dibangun di sana.

Untuk memanfaatkan tenaga panas bumi, diperlukan pompa. Lord Kelvin menemukan pompa panas tahun 1852, dan Heinrich Zoelly telah berhasil mematenkan ide menggunakannya untuk menarik panas dari tanah pada tahun 1912.  Tidak sampai akhir 1940-an, pompa panas panas bumi telah berhasil diimplementasikan. Yang paling awal adalah mungkin buatan Robert C. Webber. J. Donald Kroeker merancang pompa panas bumi komersial pertama untuk memanaskan Gedung Commonwealth (Portland, Oregon) dan menunjukkan itu pada tahun 1946. Profesor Carl Nielsen dari Ohio State University berhasil menggunakannya dalam skala perumahan di rumahnya pada tahun 1948 . Teknologi ini menjadi populer di Swedia sebagai akibat dari krisis minyak tahun 1973, dan telah tumbuh lambat dalam penerimaan di seluruh dunia sejak saat itu. Perkembangan 1979 dari pipa polibutilena sangat menambah kelayakan ekonomi pompa panas itu.

Dalam industri panas bumi, dapat memanfaatkan suhu rendah . Suhu rendah sumber daya panas bumi biasanya digunakan dalam aplikasi pengguna langsung, seperti pemanasan distrik, rumah kaca, perikanan, pemulihan mineral, dan pemanasan proses industri.

Sedangkan untuk jaringan pembangkit listrik, diperlukan suhu tinggi dari energi panas bumi tsb. Walau demikian, beberapa suhu rendah dapat menghasilkan sumber listrik dengan menggunakan siklus biner teknologi pembangkit listrik.  Siklus biner pembangkit listrik pertama kali ditunjukkan pada tahun 1967 di Uni Soviet dan kemudian diperkenalkan ke Amerika Serikat pada tahun 1981. Pada tahun 2006, sebuah pabrik siklus biner di Chena Hot Springs, Alaska , berhasil memproduksi listrik dengan suhu temperatur fluida yang sangat rendah [57 ° C (135 ° F)].

Dari sejarah pemanfaatan tenaga panas bumi diatas, dapat diketahui bahwa selain dalam bentuk air panas, panas bumi juga bisa keluar menuju permukaan bumi dalam bentuk geyser, gunung berapi dan fumarol. Sumber panas bumi sering ditemukan di sepanjang lempengan tempat terjadinya gempa bumi dan gunung berapi. Hampir semua aktivitas panas bumi atau geothermal di dunia terjadi di area yang disebut dengan ring of fire. Pada tahun 1960, Pacific Gas and Electric mulai mengoperasikan pembangkit listrik panas bumi pertama yang berhasil mensuplai listrik di Amerika Serikat lewat geyser di California. Dengan masih menggunakan turbin jadul, hal ini dapat berlangsung selama lebih dari 30 tahun dan menghasilkan 11 MW listrik bersih.

Gambar: Stasiun tenaga panas bumi di Filipina. Data tahun 2010 mencatat Filipina sebagai produsen tertinggi kedua dalam produksi listrik panas bumi setelah AS, dengan kapasitas 1.904 MW. Sekitar 18% pembangkit listrik di negara ini menggunakan geothermal energy.

Sekitar 70 negara memanfaatkan langsung 270 petajoules (PJ) dari pemanasan panas bumi pada tahun 2004. Lebih dari setengah disuplai untuk pemanas ruangan, dan sepertiga lainnya untuk kolam air panas. Sisanya menopang aplikasi industri dan pertanian.

Saat ini, lebih dari 72 negara telah melaporkan penggunaan langsung dari energi panas bumi. Islandia menjadi pemimpin dunia. 93% rumah yang dipanaskan dengan energi panas bumi, membuat Islandia menghemat lebih dari $ 100 juta per tahun dan membuat negara tsb semakin mengurangi impor minyak bumi. ReykjavíkIslandia memiliki sistem distrik pemanas terbesar di dunia. Dahulu wilayah ini pernah dikenal sebagai kota paling tercemar di dunia, sekarang merupakan salah satu daerah paling bersih akibat penggunaan energi panas bumi.

Menurut Hanaa Fitari dalam artikelnya berjudul “Geothermal Adalah Alternatif Terbaik Pengganti Nuklir” mengatakan bahwa “Krisis nuklir di Jepang tidak perlu terjadi jika pemerintah Jepang mau melihat potensi energi geothermal, begitu juga negara-negara lain yang mendorong pengembangan nuklir  sebagai sumber energi utama. Jepang memiliki sekurangnya 23.5 Giga Watt potensi geothermal. Berada di atas cincin api Pasifik, Jepang merupakan salah satu dari beberapa negara Asia yang mempunyai potensi geothermal terbesar di dunia.”

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Indonesia sendiri menyimpan 40% potensi energi geothermal, dan hanya kurang dari 4% yang telah dikembangkan. Salah satu sumber geothermal kita yang berpotensi besar tetapi belum dieksploitasi adalah yang ada di Sarulla, dekat Tarutung, Sumut. Sumber panas bumi Sarulla bahkan dikabarkan memiliki cadangan terbesar di dunia. Adalah Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro yang mengatakan hal itu ketika berkunjung ke lokasi panas bumi tersebut, seperti dimuat oleh koran lokal Medan beberapa tahun lalu.

Lantas mengapa energi panas bumi belum banyak digunakan?

Ada beberapa hal yang melatarbelakangi geothermal kurang menarik minat investor. Salah satunya adalah biaya investasi yang sangat besar. Geothermal tidak ubahnya seperti minyak bumi, ada beberapa tahap yang harus dilalui sebelum potensi tersebut bisa dimanfaatkan sepenuhnya.

Tahapan survey potensi untuk pembangkit listrik geothermal 20 MW sendiri diperkirakan menghabiskan 7 juta US dolar, sedangkan untuk pengeboran membutuhkan 20 – 40 juta US dolar. Artinya, 1 MW energi geothermal membutuhkan investasi 3,5 juta US dolar, sedangkan energi batubara hanya perlu 1,2 juta US dolar. Resiko investasi masih tetap tinggi, sebelum sumber yang ada terbukti menghasilkan potensi yang diharapkan.

Berbeda dengan potensi energi terbarukan lainnya seperti surya dan angin yang bisa langsung berproduksi setelah 12 – 18 bulan, geothermal masih harus menunggu 5 – 7 tahun dari ditemukannya potensi hingga produksi. Waktu yang lama ini juga mengakibatkan bertambahnya biaya.

Selain itu, bila perhitungannya kurang cermat, pembangunan pabrik dapat mempengaruhi stabilitas tanah. Subsidence telah terjadi di Lapangan Wairakei di Selandia Baru dan di Staufen im Breisgau , Jerman. Peningkatan sistem panas bumi dapat memicu gempa bumi sebagai bagian dari rekah hidrolik . Proyek di Basel , Swiss diskors karena lebih dari 10.000 kejadian gempa berukuran sampai 3,4 pada Skala Richter terjadi selama 6 hari pertama injeksi air. Ini mungkin disebabkan karena lokasi geothermal tsb merupakan daerah resapan air yang berfungsi mengairi daerah sekitarnya. Sehingga kemungkinan yang terjadi yaitu pengurangan debit air maupun kualitas sumber mata air tanah dan sungai-sungai di sekitar area pembangunan yang akan menyebabkan gangguan pada kehidupan biota perairan dan menurunkan kemampuan tanah untuk menahan air. Maka dari itu, kebijakan mengenai tata kelola air dan keseimbangan ekosistem perlu diperhatikan dengan baik untuk masalah ini. Apalagi di Indonesia yang potensi geothermalnya banyak berada pada daerah Hutan Lindung dan Cagar Alam.

Walaupun industri geothermal termasuk big investment dan big risk, namun penggunaan dan pengembangan dari energi ini tetap harus menjadi perhatian utama, sebab:

*) Energi panas bumi adalah energi yang ramah lingkungan bila dibandingkan dengan energi minyak bumi dan energi nuklir. Dengan perhitungan yang matang, berdirinya pembangkit panas bumi tidak akan mempengaruhi persediaan air tanah di daerah tersebut karena sisa buangan air disuntikkan ke bumi dengan kedalaman yang jauh dari lapisan aliran air tanah. Limbah yang dihasilkan juga hanya berupa air sehingga tidak mengotori udara dan merusak atmosfer. Kebersihan lingkungan sekitar pembangkit pun tetap terjaga karena pengoperasiannya tidak memerlukan bahan bakar, tidak seperti pembangkit listrik tenaga lain yang memiliki gas buangan berbahaya akibat pembakaran.

*) Energi panas bumi adalah energi terbarukan yang tidak akan habis terpakai (renewable).

*) Dibandingkan dengan energi surya dan angin, energi panas bumi dapat digunakan setiap waktu, serta mempunyai daya yang jauh lebih besar.

*) Dibandingkan dengan tenaga air, geothermal tidak memiliki masalah kekeringan jika musim kemarau panjang.

*) Jika dibandingkan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), pembangkit listrik geothermal jelas tidak memerlukan penjagaan khusus untuk mengantisipasi pencurian bahan bakar dan sabotase, tidak perlu lagi ada pengolahan dan penampungan limbah, dan yang paling penting tidak perlu ada resiko kanker, mutasi DNA, kerusakan lingkungan, deadzone area yang mencapai ratusan bahkan ribuan kilometer persegi, bayi lahir cacat dan sebagainya sebagai akibat kecelakaan PLTN yang melepaskan radiasi hingga ribuan tahun kemudian, yang sama saja artinya ada biaya yang sangat besar tersembunyi di balik PLTN.

*) Jika dibandingkan dengan energi dari laut, pemanfaatan panas bumi lebih murah. Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi dan Energi, Unggul Priyanto mengatakan “Untuk pembangunan pembangkit panas bumi dengan kapasitas satu kilo watt, hanya dibutuhkan biaya USD 2.000. Jumlah itu jauh lebih kecil dibanding pembangkit listrik kelautan, yang memanfaatkan perbedaan suhu (OTEC) yang mencapai USD 30 juta”.

*) Sekali potensi energinya terbukti bisa dieksplorasi, maka selanjutnya pembangkit listrik tenaga panas bumi tersebut tidak memerlukan biaya operasional yang tinggi, karena tidak ada lagi pembelian bahan bakar dan penanganan limbah yang berlebihan.

*) Biaya untuk listrik dari fasilitas panas bumi juga menurun. Di AS, beberapa fasilitas panas bumi telah menyadari pengurangan sedikitnya 50 persen dalam harga listrik sejak tahun 1980. Sebagian besar sumber daya panas bumi potensial akan menghasilkan listrik sedikitnya 8 sen per kilowatt-jam (termasuk kredit pajak produksi).

*) Di sektor ekonomi, pengembangan energi panas bumi dapat meningkatkan devisa negara. Penggunaannya dapat meminimalkan pemakaian bahan bakar yang berasal dari fosil (minyak bumi, gas, dan batu bara) di dalam negeri, sehingga mereka dapat diekspor dan menjadikan pemasukan bagi negara. Hal ini mengingat sifat energi panas bumi yang sukar diangkut jauh dari sumbernya. Selain itu, energi panas bumi dapat digunakan sebagai sumber pemanas untuk rumah dan usaha di setiap lokasi.

Maka dari itu, disini dituntut keseriusan pemerintah, karena dengar kabar bahwa Lapindo gak kelar-kelar karena ada pihak-pihak yang ingin berinvestasi menjadikan sebagai sumber energi penghasil listrik, tapi elit negeri ini sibuk berebut bagian berapa persen saham dan komisinya.

Alhamdulillah pengembangan panas bumi hingga saat ini didominasi oleh perusahaan nasional, yaitu PT Pertamina Geothermal Energy (PT PGE).    Pada saat ini    PT PGE merupakan    perusahaan panas bumi yang memiliki hak pengelolaan Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Panas Bumi paling banyak di Indonesia, yaitu 15 (lima belas) WKP. Dari 15 (lima belas WKP), ada 3 (tiga) WKP dikerjasamakan oleh PT PGE dengan mitra asing. Disamping oleh PT PGE, ada beberapa WKP Panas Bumi  yang hak pengelolaannya ada pada PT PLN. Peningkatan produksi dan capacity building melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguasaan teknologi harus terus dilakukan agar kemandirian di bidang panas bumi dapat diwujudkan. Untuk mencapai target 2014, Pemerintah telah/akan melelang 18 (delapan belas) WKP baru. Untuk mencapai target 2025 masih banyak WKP lain yang akan dilelang  karena hasil eksplorasi pendahuluan mengindikasikan adanya 255 geothermal area di Indonesia yang sangat potensial untuk pembangkit listrik.

Mengingat potensi panas bumi dunia yang terbesar terdapat di Indonesia dan sifat sistem panas bumi yang sangat site specific, sudah semestinya pengembangan lapangan panas bumi Indonesia dikembangkan oleh perusahaan nasional dengan menggunakan tenaga ahli Indonesia yang diakui kepakarannya tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di dunia internasional.

Sumber: Berbagai Sumber

wb: mattula_ada@live.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: