Perwakilan UNHCR: Hukum Islam dan Internasional Memiliki Kesamaan!

Perwakilan UNHCR di Indonesia, Manuel Juardo, percaya pada kesamaan antara hukum Islam dan hukum internasional, khususnya tentang hak-hak pengungsi. Dia mengatakan bahwa dalam buku, “Hak Suaka antara Syariah Islam dan Hukum internasional” yang ditulis oleh Prof Ahmed Abou El-Wafa, di Jakarta, Rabu.

Juardo menekankan pada pasal enam dari buku tsb, yang berisi kesamaan antara hukum Islam dan hukum internasional. “Ini menunjukkan bagaimana kita dapat bekerja sama,” katanya. Salah satu kesamaan adalah prinsip non-refoulement. Prinsip ini, pertama yang diakui oleh Islam, melarang rendering dari pengungsi ke negara mereka.

Selanjutnya, Juardo menyebutkan bahwa penyebab perpindahan adalah kekerasan, kemiskinan, lintas pelanggaran hak asasi manusia, penganiayaan, dan lingkungan. “UNHCR tidak hanya membantu para pengungsi, tetapi juga membantu pengungsi internal (Internally Displaced Person [IDP]),” kata Joardo.

Tidak seperti pengungsi, IDP tidak menyeberangi perbatasan internasional. Dia menambahkan bahwa sehari-hari 200 juta orang  menggantikan 26 juta dari mereka di negara mereka sendiri.

Anak Afganistan berdiri di dekat tempat penampungan pengungsi mereka di sebuah kamp pengungsi di Kabul, 9 Mei 2012.

Mencakup masalah yang luas

Hukum Islam mencakup isu-isu yang sangat luas, sebagaimana dibuktikan oleh buku. Didanai oleh Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi, buku ini membandingkan hukum Islam dan internasional yang terkait dengan perlindungan para pengungsi.

“Buku ini sangat objektif. “Ini menerangi hak-hak pengungsi”, kata Dekan Fakultas Syariah dan Hukum di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Muhammad Amin Suma.

“Buku tsb komparatif, karena memberikan informasi dari respon hukum Islam dan hukum internasional terhadap para pengungsi. Namun, itu tidak menjelaskan setiap catatan khusus tentang perbedaan antara masing-masing. Jika kita memahami hanya satu dari mereka, hasilnya adalah ketidakseimbangan”, tambahnya.

Awalnya ditulis dalam bahasa Arab dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, buku ini menunjukkan bahwa hukum internasional memiliki banyak kesamaan dengan hukum Islam. Buku ini juga menunjukkan bahwa hukum Islam kaya akan nilai-nilai dan memberikan kontribusi terhadap hukum internasional. “Melalui buku ini, dunia internasional dapat melihat kekayaan intelektual syariah,” kata Suma.

Dia juga berharap perlakuan terhadap pengungsi tidak terbatas pada rumah sakit jiwa, tetapi juga untuk penyebab dan dampaknya. Setelah penyebab diselesaikan, jumlah pengungsi akan menurun.

Indonesia adalah salah satu negara yang menghormati prinsip non-refoulement. “Para pengungsi yang meninggalkan negara mereka karena mereka takut terhadap penganiayaan di negara mereka, tidak akan diserahkan kepada negara mereka,” kata Kepala Sub Divisi Hak Asasi Manusia di Departemen Luar Negeri, Masni Eriza,. Namun, prinsipnya adalah tidak berlaku jika klaim mereka tidak terbukti. Dengan demikian, repatriasi sukarela akan diterapkan kepada para pengungsi.

source: republika.co.id

pb: mattula_ada@live.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: