DVI Indonesia: Ujung Tombak Identifikasi Korban Sukhoi

Proses evakuasi korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 yang menewaskan 45 orang di Gunung Salak terus berlangsung. Selain tim SAR, tugas berat kini berada di tangan tim Disaster Victim Identification (DVI) yang akan mengidentifikasi para korban. Harapan para keluarga korban berada di tangan tim ini.

Korban Sukhoi

Setiap kali ada bencana alam, kecelakaan moda transportasi yang menimbulkan banyak korban, hingga penggerebekan teroris, masyarakat kini sudah terbiasa melihat petugas berseragam biru tua dengan logo DVI. Para petugas inilah yang kemudian melakukan identifikasi para korban.

Disaster Victim Identification (DVI) adalah suatu prosedur untuk mengidentifikasi korban mati akibat bencana  yang dapat dipertanggungjawabkan secara sah oleh hukum dan ilmiah serta mengacu pada Interpol DVI Guideline. Kehadiran DVI diperlukan untuk menegakkan hak asasi manusia, sebagai bagian dari proses penyidikan, terutama jika identifikasi visual diragukan, dan sebagai penunjang kepentingan hukum (asuransi, warisan, status perkawinan).

Di Indonesia, keberadaan DVI belum terlalu lama. Publik sebelumnya lebih mengenal Laboratorium Forensik (Labfor) Kepolisian yang berada di bawah Kedokteran Kepolisian (Dokpol) yang pertama kali dibentuk pada 1977 dan kemudian diresmikan sebagai bagian dari kepolisian pada tahun 1984.

DVI Indonesia pembentukannya dipelopori pertama kali dalam The 1st Interpol DVI Pacific Rim Meeting tanggal 25–27 Januari 2001 di Makassar. Setelah melalui berbagai pertemuan dan pelatihan, pada tanggal 29 September 2004 dilakukan MoU yang kedua antara Departemen Kesehatan dan Polri tentang Pedoman Penatalaksanaan Identifikasi Korban Mati pada Bancana Massal yang juga disepakati terbentuknya Tim DVI Indonesia Nasional serta pembagian wilayah Regional DVI di Indonesia. MoU inilah yang menjadi tanda berdirinya DVI Indonesia.

Dalam sebuah kejadian, prosedur DVI diterapkan jika terjadi bencana yang menyebabkan korban massal, seperti kecelakaan bus dan pesawat, gedung yang runtuh atau terbakar, kecelakaan kapal laut dan aksi terorisme. Dapat juga diterapkan terhadap bencana dengan jumlah korban dan skala kecil serta dapat pula diterapkan terhadap insiden lainnya dalam pencarian korban.

Saat Sukhoi Superjet 100 diketahui jatuh di Gunung Salak, tim DVI Indonesia langsung bergerak dengan membentuk posko di Bandara Halim Perdanakusuma. Keluarga korban diminta untuk menyerahkan data-data pembanding atau yang disebut antemortem (data penumpang sebelum kecelakaan). Data yang lazim digunakan untuk mengidentifikasi korban adalah sidik jari, rekam medik dokter gigi, rekam medik jika yang bersangkutan pernah dioperasi, foto rontgen, hingga sampel DNA dari keluarga. Data antemortem juga bisa berupa properti korban.

Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Mabes Polri Komisaris Besar Anton Castilani saat menemui keluarga korban di RS Polri Kramatjati, Sabtu (12/5) lalu menjelaskan, proses identifikasi korban diperkirakan akan berlangsung lama, sebelum para korban dikembalikan kepada pihak keluarga.

Selain menunggu kelarnya proses evakuasi, jenazah yang diterima tim DVI sudah tidak dalam keaadaan utuh. Tahapan proses identifikasi dimulai dengan tes DNA yang bisa memakan waktu 2 pekan. Kemudian potongan tubuh akan dicocokkan per bagian. Jika kemudian lengkap, maka tugas selanjutnya adalah menyatukan potongan tubuh itu atau direkonstruksi. “Tentu keluarga tidak ingin menerima jenazah yang bukan keluarganya,” kata Anton.

Posko DVI Korban Sukhoi

Tak bisa dipungkiri peran petugas identifikasi korban bencana atau Disaster Victim Identification (DVI) amat penting untuk mengenali korban bencana atau kecelakaan yang kondisi jasadnya sudah tak utuh lagi.

DVI adalah sebuah prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi korban kecelakaan yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Sebab, DVI mengacu pada standar baku interpol.

Penelusuran merdeka.com, petugas DVI menjalankan lima tahap dalam penyelidikannya. Setiap tahap memiliki kaitan satu sama lain, yaitu: The Scene, The Mortuary, Ante Mortem Information Retrieval, Reconciliation dan Debriefing.

Dalam menjalankan tugasnya, petugas DVI mempunyai bermacam metode dan teknik untuk mengidentifikasi korban. Pihak Interpol telah menentukan identifikasi primer (utama) yang meliputi sidik jari, catatan kesehatan gigi dan DNA. Selain identifikasi utama, ada juga identifikasi sekunder (pendukung) yang meliputi catatan medik, properti dan photographi.

Cara kerja dari proses identifikasi ini adalah dengan membandingkan Ante Mortem dan Post Mortem. Semakin banyak kecocokan di antara keduanya maka akan semakin mudah petugas DVI mengenali korban.

Ante Mortem adalah ciri-ciri khas yang dimiliki seseorang di tubuhnya seperti bentuk gigi, sidik jari, tanda lahir dan pakaian yang digunakan sebelum kematian. Data Ante Mortem ini didapat dari keterangan keluarga atau kerabat korban. Sementara, Post Mortem adalah ciri-ciri fisik kematian.

Saat ini metode yang paling muktahir untuk digunakan adalah DNA Profiling (tes DNA). Metode ini memiliki banyak keunggulan, tapi metode ini memerlukan pengetahuan dan sarana yang canggih, serta biaya yang mahal.

DNA atau Deoxyribo Nucleic Acid adalah asam nukleat yang menyimpan semua informasi tentang genetika. DNA ini yang menentukan jenis rambut, warna kulit dan sifat-sifat khusus dari manusia. Dalam identifikasi DNA, metode yang digunakan adalah dengan mengidentifikasi fragmen-fragmen dari DNA itu sendiri. Atau secara sederhana, metode untuk mengidentifikasi, menghimpun dan menginventarisir data-data khas karakter tubuh.

Hampir semua bagian tubuh dapat digunakan sebagai sampel tes DNA. Yang paling sering digunakan adalah darah, rambut dan kuku. Akurasi kebenaran tes DNA hampir 100 persen akurat. Namun, kesalahan bisa saja terjadi, tapi kemungkinannya sangat kecil, yakni satu diantara sejuta.

source: merdeka.com, harianjogja.com, vivanews.com

pb: mattula_ada@live.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: