Mekanisme Kartu Kredit

by: Devino Rizki Arfan

Kartu kredit?
Gimana kesan lo kalo denger binatang yang satu ini,,,, :p
Takut kebablasan belanja?
Monster?

Well kartu kreditlayaknya pisau bermata dua, bisa jadi barang yang bermanfaat atau menjadi petaka finansial :p
it’s not the card, it’s ourself who made it scary,,,
Bank gencar sekali nerbitin kartu kredit dan juga merchant-merchant dengan siap siaga menyiapkan mesin gesek (EDC), tanya kenapa?Karena pelanggan cenderung lebih konsumtif saat berbelanja dengan kartu kredit karena mereka tidak mempunyai kontrol fisik atas uang. Apabila kita membawa uang tunai, maka kemampuan berbelanja kita hanya sebatas uang yang ada di dalam dompet. Namun apabila kita membawakartu kredit, kemampuan membayar kita adalah sebesar limit kartu kredit tersebut. Disinilah kesalahan yang sering dilakukan konsumen.Sebelum membahas lebih jauh nih guys, macam mana sih mekanisme pembayaran melaluikartu kredit ini?

jangan-jangan anda sering pake tapi belum mengetahui mekanismenya
nah dengan video tutorial dari Khan Academy di bawah ini semoga bisa membantu anda

merangkum video edukasi di atas, dalam mekanisme kartu kredit ada beberapa pihak

1. The Processor / The Network

Pihak yang berjasa untuk memelihara jaringan Bank yang ada dan menghubungkan mereka. Contoh disini adalah VISA, Mastercard, American Express, atau Discovery. Dua nama pertama sudah tidak asing bukan? Ada di setiap kartu anda baik kartu kredit maupun debit. Disini dia berperan sebagai pihak yang menyediakan servis jaringan, he’s got 0,1% from the transaction

2. Issuer

Bank yang menerbitkan kartu kredit anda. Yess,,, dengan nomor unik dan nama anda di dalamnya ;) . Disini dia berperan sebagai pihak yang menawarkan kredit, jadi dia mendapat bagian paling besar dari presentase. Ssstt,,, he’s got 1,7% from the transaction karena dia menanggung risiko paling besar, yaitu gagal bayar ;)

3. Acquirer

adalah bank yang menerbitkan alat gesek kartu kredit (EDC) biasanya bisa menerima kartu kredit mana saja dengan jaringan yang sama. Adalah pihak yang memotong 2% dari setiap transaksi yang terjadi di merchant. Angka 2% tidak tepat tapi untuk menggambarkan metode fee yang ada dalam mekanisme kartu kredit. oiya he’s got 0,2% from the transaction

4. Merchant

adalah toko yang menyediakan EDC dari Acquirer yang menerima kartu kredit tertentu. Dalam hal ini dia terkena discount sebesar 2%, dalam hal ini ada 2 tipe merchant. Ada yang membebankan extra charge kepada konsumennya 2% tambahan, namun ada juga yang menanggungnya sendiri

nah ini menjadi pertanyaan, kenapa merchant mau menanggung 2% diskon? kenapakah? ada teman yang bisa nambahin?

sebagai ilustrasi

Mr. A membeli LED TV 56″ seharga Rp. 10.000.000 di Toko Elektronik Cahaya dengan Kartu Kredit Bank Mrongos. Dengan Jaringan VISA/Mastercard dan Mesin Gesek EDC yang digunakan adalah Bank Bumil

Yang pertama adalah EDC melakukan otorisasi apakah limit dalam kartu cukup untuk memenuhi transaksi, setelah OK maka Bank Mrongos akan memberi dana talangan Rp. 10.000.000,- kepada TE Cahaya yang akan ditagih dalam tagihan Kartu Kredit Mr. A bulan selanjutnya. TE Cahaya akan menerima Rp 10.000.000,- dipotong diskon sebesar 2% untuk fee kepada Issuer, Acquirer, dan The Processors (2% bukan angka pasti tapi dibulatkan saja.) sehingga dia hanya menerima Rp. 9.800.000,-

pembagian untuk para pihak dalam transaksi ini adalah

Merchant                98%              Rp. 9.800.000,-

Bank Mrongos     1,7%              Rp.      170.000,-

Bank Bumil            0,2%             Rp         20.000,-

VISA                         0,1%             Rp          10.000,-

angka-angka di atas bukan angka tepat namun menggambarkan hal-hal yang terjadi dalam transaksi kartu kredit

untuk membahas kartu kredit dari sisi personal finance, tunggu posting selanjutnya ya,,, ;)

demikian dari devino, salam hangat dan sukses ;)

Tambahan dari rekan Budiyanto Salim dari milis SSR
“nah ini menjadi pertanyaan, kenapa merchant mau menanggung 2% diskon? kenapakah? ada teman yang bisa nambahin?”

Saya mau tambahin sedikit di statement tsb pak, kebetulan saya seorang merchant yang memakai EDC Bank BXX di coffee shops saya. Tapi mungkin yang saya tambahkan ini para rekan milis sekalian juga sudah tahu, sehingga ini sekedar pelengkap saja.

Biasanya merchant mau menanggung 2% apabila nilai pembelian si customer cukup besar, sehingga sekalipun cash received by merchant dikurangi 2% pun, return omzetnya masih cukup memadai, dan 2% itu dianggap saja sebagai beban discount tambahan. Karena itu sering kita lihat di merchant-merchant (umumnya restaurants), tulisan “pembayaran dengan kartu kredit minimal Rp 100.000″. Ya artinya untuk transaksi di bawah Rp 100.000, pengurangan 2% dari omzet sang merchant dirasakan signifikan, sehingga 2% tsb akan dibebankan ke customer atau sang merchant tidak bersedia menerima pembayaran dengan kartu kredit untuk pembelian di bawah Rp 100.000.

Ada juga yang tidak membebankan sama sekali 2% tersebut kepada customers, berapapun nilai pembayarannya dengan kartu kredit, karena turnover penjualannya merchant memang besar sekali (very very fast moving), sehingga 2% pun tidak akan signifikan terhadap omzet penjualannya. Contohnya: hypermarkets.

Namun, on the other side, ada yang tetap konsisten mengenakan 2% ke seluruh customers tanpa peduli seberapa besar nilai pembelian customers, contohnya: toko-toko pakaian, perlengkapan bayi etc di ITC. Jadi untuk kasus seperti ini, dari sudut personal finance, lebih OK bila menggunakan debit card saja :)

Berdasarkan pengalaman selama menggunakan mesin EDC tersebut, menurut saya tidak bisa ditarik korelasi langsung bahwa dengan adanya EDC maka penjualan akan meningkat. Semuanya terpulang lagi ke jenis usaha dari masing-masing merchant.

Apabila saya amati, customer akan cenderung menggunakan EDC apabila nilai pembeliannya cukup tinggi (biasanya Rp 50.000/Rp 100.000 ke atas),di bawah angka tersebut umumnya mereka lebih menyukai cashpayment.

Nah, jadi untuk merchant-merchant yang nilai penjualan per customer besar, EDC ini akan sangat membantu merchant, karena customer umumnya tidak membawa-bawa uang tunai di dompet sebanyak nilai transaksi pembelian mereka yang besar tsb. Contohnya: customer yang berbelanja dihypermarketrestaurant2 fine dining etc.

Namun untuk merchant yang rata-rata nilai penjualan per customer tidaklah besar, seperti coffee shops saya, ataupun fast food outlets di food court, kehadiran EDC tidaklah berpengaruh banyak terhadap penjualan. Yang lebih berpengaruh adalah produk yang dijual, promosi, value added untuk customers etc.
Pertanyaan berikut: lho kok mau pakai EDC kalau begitu apabila nilai penjualan per customer tidak besar? Mana dipotong 2% pula dari nilai transaksi :)
NB: Ini khusus credit card saja, apabila debit card, maka tidak ada potongan apapun dari bank.

Bagi saya, walaupun ada potongan 2%, namun dengan mesin EDC tersebut, saya menikmati 2 kemudahan:
1. Lebih aman, karena tidak melibatkan pertukaran cash secara fisik. Sebagaimana diketahui, sifat cash yang likuid membuatnya rawan terhadap tindakan kecurangan.

2. Lebih mudah, karena transaksi lewat EDC tersebut langsung masuk ke rekening bank saya keesokan harinya, sehingga tidak diperlukan tambahan effort lagi secara harian untuk mengumpulkan cash omzet dari mesin register, menghitungnya, mencocokkan dengan total nilai di register dan menyetorkannya ke bank terdekat.

Sekian penjelasannya, mudah-mudahan bermanfaat.

Terima Kasih banyak Pak Budiyanto Salim atas tambahannya, semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Beliau adalah pengusaha yang salah satu usahanya adalah Coffe Shop yang berlokasi di MRCCC Semanggi, Wisma Bisnis Indonesia, dan RS Puri Medika Tj Priok.

wb: devino.rizki@gmail.com

pb: mattula_ada@live.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: