Archive for April, 2012

22 April 2012

Presiden Indonesia Makin Tua, Presiden AS Makin Muda

by: Indra Sastrawat

Pilpres 2014 masih dua tahun lagi, tapi pertarungan menuju kursi RI-1 semakin panas. Salah satu hal yang banyak di soroti adalah adalah usia Capres 2014 nanti. Dari beberapa bursa capres yang beredar semuanya adalah tokoh tua. Tokoh muda banyak yang tidak muncul di permukaan sehingga regenerasi kepimpinan tidak berjalan.

Baru-baru ini ketua MPR, Taufik Kiemas menyinggung usia beberapa Capres 2014 yang terbilang tua. “Regenerasi harus terjadi mulai sekarang. Masak Presiden AS makin lama makin muda. PM Inggris makin lama makin muda. Sedang Presiden Indonesia makin lama makin tua dan berumur,” kata Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP. Pernyataan TK sebenarnya di tujukan untuk capres Golkar Aburizal Bakrie dan Megawati Soekarno Putri yang juga istrinya.

Apa benar sinyalemen bung TK ini, saya ingin memberika data perbandingan usia presiden Indonesia dan Presiden Amerika Serikat saat mereka menjabat, biar fairdata presiden AS saya ambil sejak tahun 1945 sama dengan presiden pertama Indonesia.

Presiden Indonesia

Soekarno Usia 44 tahun

Soehart  Usia 46 tahun

BJ. Habibie  Usia 62 tahun

Abdurrahman Wahid Usia 59 tahun

Megawati Soekarno Putri Usia 54 tahun

Susilo Bambang Yudhoyono Usia 55 tahun

Jadi rata-rata usia presiden Indonesia adalah 53,3 tahun

Presiden Amerika Serikat

Harry S. Truman Usia 61 tahun

Dwight D. Eisenhower Usia 63 tahun

John. F. Kennedy Usia 43 tahun

Lyndon B. Johnson Usia 55 tahun

Richard Nixon Usia 56 tahun

Gerald Ford Usia 61 tahun

Jimmy Carter Usia 53 tahun

Ronald Reagen Usia 70 tahun

George Bush Usia 65 tahun

Bill Clinton Usia 47 tahun

George W. Bush Usia 55 tahun

Barack Obama Usia 48 tahun

Jadi usia rata-rata presiden Amerika Serikat sejak tahun 1945 adalah: 56,41 tahun

1334574722499868111

Obama menjadi presiden AS di uisa 47 tahun

Sejak dekade 90an trend presiden AS memang relatif lebih muda, sedangkan Indonesia trendnya statis di usia kepala 5. Sekedar pembanding beberapa pemimpin dunia yang masih energik memimpin di usia tuanya seperti Silvio Berlusconi dari Italia dan Lee Kuan Yew dari Singapura dll

Usia Capres 2014

Lantas siapa saja capres RI yang diperkirakan akan meramaikan bursa capres 2014, nama-nama yang beredar seperti Aburizal Bakrie 67 saat Pilpres 2014, Megawati (67), Hatta Rajasa (61), Prabowo Subianto (63), Wiranto (67), Surya Paloh (63), Mahfud MD (57), Amien Rais (70), Jusuf Kalla (72). Dari usia diatas Jusuf Kalla yang paling tua.

Menanggapi pernyataan TK, Jusuf Kalla mengembalikkan ke mandat Undang-undang“Coba dibaca, Undang-undang Dasar tak menetapkan batas awal atau batas atas. Undang-Undangnya pun justru hanya menetapkan batas awal atau batas bawah yaitu umur 35 tahun. Tak ada batas atas. Kalau melarang yang sudah tua untuk mencalonkan diri, itu melanggar konstitusi itu,” tandas JK seperti dikutip Tempo, Selasa (10/4/2012).

Memang bukan saatnya bicara dikotomi Tua dan Muda tapi yang utama adalah pemimpin nanti lebih baik dan lebih berani. Yang sering dipersoalkan adalah kesehatan calon yang umurnya sudah uzur ini. Pilpres telah mempersyaratkan capres mesti sehat jasmani dan rohani, sebenarnya perdebatan Tua dan Muda lebih pada regenarsi kepimpinan saja.

Tokoh tua seperti JK atau Prabowo kelihatan lebih energik dari tokoh-tokoh muda. Lalu kemana tokoh muda kita, beberapa diantara mereka belum bisa menjual citra mereka sebagai pemimpin hebat, ada pula yang terbelenggu kasus korupsi dan yang lain sementara wait and see.

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id

Iklan
22 April 2012

Sabuk Dunia Sang Garuda

by: Indra Sastrawat

Boxing atau tinju merupakan salah satu olehraga populer di negeri ini. Kepopolerannya hanya kalah dari Sepakbola dan Bulutangkis.Sayangnya kepopulerannya tidak berbanding lurus dengan prestasinya.Di lingkup regional prestasi tinju profesional kita masih kalah sama Filipina dan Thailand, belum lagi di tingkat Asia kita jauh tertinggal dari Korea Selatan dan Jepang.

Dibalik sepinya prestasi petinju kita, nyatanya Indonesia pernah melahirkan 4 juara dunia. Bahkan salah satunya masih menggenggam sabuk dunia hingga kini. Thomas Americo merupakan petinju pertama yang mencoba menjadi juara dunia, sayangnya dia gagal. Kegagalan Thomas Americo kemudian di bayar lunas oleh Ellyas Pical beberapa tahun kemudian.

Lantas siapa saja petinju kita yang pernah mencatatkan namanya sebagai juara dunia. Menarik untuk mengulas kembali empat jawara tinju Indonesia yang pernah menjadi juara dunia. Berikut sekilas profil mereka:

13344884951859080681

Ellyas Pical, dari Istora hingga Diskotik

3 Mei 1985 menjadi tanggal bersejarah bagi bangsa Indonesia. Di saksikan puluhan juta pasang mata, Ellyas Pical anak Saparua berhasil meraih gelar juara dunia IBF kelas Bantam Yunior (52,1 kg) setelah mengalahkan Chun Ju Do dari Korsel. Bakat tinju Elly tercium sejak kecil, dimana Elly kecil gemar berkelahi. Mungkin karena itu dia tidak tamat SD. Ellyas Pical lahir di Saparua 24 Maret 1960.

Demi menuntaskan hasrat bertinjunya Elly merantau ke kota Ambon. Dari kota Ambon manise Elly mulai menapak karir tinju di amatir. Segudang prestasi mampu diraihnya dari juara Presiden Cup tahun 1981 dan 1983 hingga bertarung di Sea Games. Pada tahun 1982, Elly memutuskan meninggalkan tinju amatir dan beralih ke Profesional. Prestasi internasional pertamanya di mulai saat Elly menang angka atas petinju Korea Selatan, Hee Yun Chun, dan merebut gelar juara superbantam OPBF. Kemudian, Oktober 1984, Matsuo Watanabe dari Jepang dibuatnya tersungkur pada ronde keenam, sekaligus ia mempertahankan gelar. Puncaknya adalah merebut juara dunia Bantam Yunior dari Chun Ju Do.

1334488549250645696

Ellyas Pical

Sempat kehilangan gelarnya dari penantangnya dari Rep. Dominika Cesar Polanco pada Februari 1986, Elly merebut kembali sabuknya pada 5 Juli 1986. Sempat beberapa kali mempertahankan gelar juara dunianya, pada tahun 1987 Ellyas Pical harus menyerahkan sabuk juara dunianya ke tangan petinju asal Thailand Khaosai Galaxy lewat pertandingan dramatis, Ellyas kalah KO ronde 14. Ellyas Pical mampu bangkit dengan merebut kembali gelar juaranya dari petinju Korsel Tae-ill Chang. Yang berarti Elly mampu meraih tiga kali gelar juara dunia. Setelah 2 tahun mempertahankan gelarnya Ellyas Pical dikalahkan oleh Juan Polo Perez dari USA dengan angka.

Setelah pensiun, Elly masih terus bertarung tapi bukan di atas ring lagi. Kali ini Elly berjuang memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Elly yang tidak lulus SD hanya mampu bekerja sebagai Satpam di tempat hiburan malam. Sungguh tragis nasib Ellyas Pical dulu dia disanjung karena mengharumkan nama bangsa kini dia di lupakan oleh negaranya.

Nico Thomas, Juara Dunia Tanpa Sabuk

Setelah masa keemasan Ellyas Pical memudar muncul kembali nyong Ambon sebagai penerus tradisi juara dunia. Walau karirnya tidak segemerlap Ellyas Pical tapi Nico Thomas mampu mencatatkan dirinya sebagai salah satu juara dunia di kelas Terbang Yunior (47,6 kg). Nicholas Thomas lahir di Ambon, 10 Juni 1966 anak nomor 12 di antara 16 bersaudara keluarga pasangan Julianus Thomas dan Helena Thomas, pada usia 14 tahun sudah berani bertanding di atas ring.

Pada tanggal 17 Juni 1989, Nico Thomas mencatatkan dirinya sebagai petinju Garuda kedua yang mampu meraih sabuk juara dunia setelah menang angka mutlak dari juara bertahan Samuth Sithnaurepol (Thailand). Nico memperoleh gelar itu setelah melalui pertarungan ulang atas juara bertahan Samuth Sithnaurepol dari Thailand. Sebelumnya, pada pertarungan pertama (23 Maret 1989) di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Nico dinyatakan kalah angka. Sebuah kekalahan yang membuat Nico menangis tidak percaya.

Namun sayang, gelarnya tak bertahan lama karena Nico Thomas kemudian kalah KO di ronde 5 dari penantangnya Eric Chavez (Philipina), di Jakarta, 21 September 1989. Nico Thomas akhirnya harus melepas gelar juara dunia kelas terbang mini IBF yang sempat disandangnya selama 96 hari atau 13 minggu dan 5 hari. Ada cerita menarik ketika Nico meraih sabuk dunia, sabuk yang di berikan kepadanya ternyata sabuk Ellyas Pical yang dipinjamkan satu malam saja. Ini karena promotor lupa menyiapkan sabuk juara yang akan diperebutkan.

Muhammad Rachman, Tua-Tua Keladi

Tua-tua keladi mungkin ini ungkapan yang paling pas untuk sang jura dunia kelas Terbang Yunior, Muhammad Rachman. Tidak banyak yang mengenalnya sebagai juara dunia. Petinju kelahiran Papua 23 Desember 1971 bahkan Rachman 2 kali merebut gelar juara dunia. Karir tinjunya di mulai di usia 20 tahun dengan bergabung di sasana tinju Pirih di Surabaya.

13344885971190574162

M. Rachman

Setelah lebih dari 10 tahun berkecimpung di dunia tinju pro, Rachman berhasil merebut gelar juara dunia IBF kelas terbang mini, saat itu usianya tidak muda lagi, 33 tahun, dia berhasil menundukkan petinju lincah dari Kolombia, Daniel Reyes (14 September 2004). Sempat tiga kali mempertahankan sabuk dunianya, pada tanggal 7 Juli 2007 di depan publik Jakarta, Muhammad Rachman di kalahkan oleh petinju Filipina Florente Condes dengan kekalahan angka.

Usia tidak membuat Rachman mundur dari ring tinju, pada usia yang ke-38 tahun Rachman menantang juara dunia asal Thailand Oleydong Sithsamerchai di Phuket. Sayangnya usahanya gagal gara-gara pelipis mata Rachman robek hingga dia tidak maksimal, Rachman kalah angka. Dalam usia menjelang usia 40, Muhammad Rachman kembali mendapat tawaran untuk menantang juara dunia kelas terbang mini versi WBA Kwantai Sithmorseng. Pertarungan ini dilagsungkan di Bangkok Thailand pada tanggal 21 April 2011.

Di luar dugaan semua orang, Rachman mampu tampil sangat bagus, dan berhasil membuat lawanya mencium kanvas di ronde 9. Kemenangan yang membuat Rachman menjadi juara dunia tertua dari Indonesia. Rachman mempertahankan gelar WBA tersebut untuk kali pertama tanggal 30 Juli 2011 di Jakarta melawan penantang peringkat 11 asal Thailand Pornsawan Porpromok. Sayang, Rachman kalah angka, sehingga gelarnya melayang Semangat Rachman memang luar biasa, tekad dan semangat tinjunya pantas di jadikan contoh. Saat pensiun Rachman mengelola bisnis keluarga. Total rekornya 79 kali bertanding, menang 64 dimana 33 diantaranya KO, 11 kali kalah dan 5 draw.

1334488645510886799

Chris John

Chris John, Sang Naga tak Terkalahkan

Besar dari keluarga petinju membuat Chris John tidak asing dengan olahraga ekstrim ini. Memulai karir tinjuny di amatir saat tinggal di Banjarnegara. Bakat hebat pemuda kelahiran 14 September 1979 ditemukan oleh seorang pelatih hebat Sutan Rambing. Tahun 1998 merupakan debut awalnya di tinju pro.Mulai dikenal publik Indonesia setelah meraih gelar juara nasional kelas Bulu (57 kg) setelah mengalahkan Muhammad Alfaridzi.

Setelah beberapa kali bertanding dalam perebutan gelar nasional, Chris John berhasil menundukkan rekan senegaranya Soleh Sundava pada tahun 2001 untuk merebut gelar PABA kelas bulu. Kesempatan meraih gelar juara kelas Bulu tiba saat melawan Oscar Leon dari Kolombia pada 26 September 2003. Melalui perjuangan ketat, Chris John berhasil meraih title juara WBA interim (sementara). Gelar ini masih dianggap belum sepenuhnya sebagai juara dunia. Tak lama kemudian WBA menghadiahkan gelar juara WBA definitif kepada Chris John.

Partai akbar yang membuat Chris John pantas menyandang juara dunia kelas Bulu WBA adalah pada tanggal 22 April 2005 melawan Derrick Gainer dari USA, Gainer adalah mantan juara dunia kelas Bulu.Pertandingan tersebut dimenangkan oleh Chris John dengan angka mutlak. Partai akbar lainnya (24 Maret 2006) ketika Chris John bertemu Juan Manuel Marques dari Meksiko yang dianggap sebagai raja di kelas Bulu. Chris John tampil taktis dan menang angka. Keraguan publik atas Chris John akhirnya hilang.

Pada 19 September 2009, Chris John berhasil mengalahkna Rocky Juarez dari USA di Las Vegas setelah sebelumnya bermain draw. Kemenangan ini sangat berharga dan oleh WBA Chris John di labeli gelar Super Champions. Tercatat sebanayak 15 kali Chris John mempertahanklan gelarnya. Chris John memang fenomenal, sepanjang karir tinjunya di belum pernah kalah. Rekor pertandingannya mulus dengan hasil 48 naik ring, 46 menang, 22 KO dan 2 draw. Keberhasilan Chris di dunia tinju, membawanya ke profesi sampingan, antara lain sebagai bintang iklan untuk berbagai produk dan komentator tinju di televisi.

****

Tidak banyak petinju hebat yang lahir dari rahim nusantara, tapi dari sedikit itu mereka mampu menjadi motivator bagi generasi berikutnya. Ellyas Pical pantas dianggap sebagai legenda tinju nasional, Nico Thomas adalah juara dunia tersingkat, Muhammad Rachman adalah singa tua yang layak di jadikan contoh petinju muda kita, dan Chris John adalah bintang tinju Indonesia sepanjang masa, dia merupakan petinju terbaik di millenium ketiga dari Indonesia. Semoga sang Garuda kembali bisa melahirkan petinju kelima sebagai juara dunia.

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id

12 April 2012

Najwa Serang Tony, Marwan Dihajar Bobotoh!

by: Indra Sastrawat

Saya tidak sempat nonton Mata Najwa di Metro semalam, tapi saya dapat script wawancaranya di sini. Klimaks dari pertanyaan cerdas seorang Najwa Shihab yaitu :

Najwa : tapi nanti timnas yang akan anda buat ini nanti akan bertanding lawan siapa?

Tony : yang penting kita persiapkan dulu.

Najwa : Lho, dipersiapkan untuk bertanding melawan siapa kalau tidak diakui…

Tony : dipersiapkan untuk bertanding tentunya nanti untuk membela republik Indonesia.

Najwa : Iya. Melawan siapa? Bagaimana pertanggungjawaban anda kepada pemain, kepada tim, kepada suporter. Karena kalau memang kan tadi FIFA tidak mengakui timnas yang dibuat terus tanding melawan siapa?

Saya bisa maklumi  kalau jawaban bung Tony mutar-mutar kayak obat nyamuk, karena KPSI atau PSSI AncolNya tidak lain hanya organisasi tandingan yang penuh kepentingan politik. Mungkin juga kapasitas bung TA yang dokter tidak sehebat La Nyala yang bekas jago kampung.

*****

Saya masih ingat ketika tinggal di asrama dulu yang kebetulan penghuni kostnya dominan laki-laki. Hampir setiap sore kami main di petak kecil (setiap tim 4 pemain) di depan kost2an kami, dan kadang tiap pekan kami buat pertandingan ekshibis dengan asrama lain. Lalu bagaimana memilih pemainnya ??? pemain kami pilih dari liga kecil kami.

Bahkan menjelang kejuaraan “resmi” antar asrama (pondokan) persiapan kami lebih panjang dan lebih lama. Saya di tunjuk sebagai manajer team mempersiapkan pemain dan kebutuhan logistik pemain. Tim nasional mini yang kami bentuk dipersiapkan untuk laga tertentu.

Makanya saya heran dengan omongan Bung Tony yang ingin membentuk timnas dengan pelatih yang katanya hebat tapi tidak punya lawan tanding. Anda dan KPSI tidak lebih baik dari kami yang membentuk team dengan rencana yang sudah ada, bukan hanya dorongan emosional dan nafsu saja.

Main di Viva world cup saja. Mungkin itu solusi yang lebih baik buat timnas ala PSSI Ancol. Mereka tidak perlu main dengan lumba-lumba, kura-kura atau sejenisnya, di Viva world cup timnas KPSI bisa bertarung dengan negara-negara tertentu yang tidak di akui FIFA.

Persoalannya mau kah KPSI di terima menjadi anggota Viva World cup !!! ok, taruh lah mereka di terima, mereka bisa bermain dengan timnas Maluku Selatan atau Papua Barat, lumayankan punya lawan tanding dari timnas separatis.

Dari pada terus menerus merecoki sepakbola nasional dan menguras APBD sebaiknya berlapang hati untuk membubarkan diri. Wong di jaman orde baru dulu PKI yang katanya kejam masih mau membubarkan diri.

Oh ya semalam sebelum tragedi memalukan di studio Metro TV, sore harinya laga Persib vs Gresik United berjalan penuh drama lebih tepatnya lebih meriah. Kalau di Thailand di kenal olehraga  Thai Boxing yaitu perpaduang tinju dan tendangan maka di ISL lebih meriah lagi sepakbola di campur tinju, di tambah kungfu dan di lengkapi dengan judo.

Hasil pertandingan 1-0 buat Persib tidak seheboh dengan luka memar di kepala Marwan Sayedeh atau terjangan yang membuat kedua pemain ada yang terkapar di lapangan. Padahal pertandingan ini di beri lebel bigmatch oleh ANTV. Sebuah tontonan kelas satu buat pecinta ISL.

Satu kata yang pas: “Marwan Maafin Persib yah…”

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id

7 April 2012

Kebenaran atau Pembenaran (2)

by: Jemy V. Confido

Upaya untuk melakukan pembenaran mengalami stadium seperti halnya kanker. Pada stadium awal, pembenaran yang kita lakukan adalah melakukan blaming atau menyalahkan orang lain atau hal lain. Contoh blaming yang biasa dilakukan misalnya: ”Saya sudah berusaha melakukan yang terbaik tapi tidak ada yang mendukung saya.” Tentu saja kalimat tersebut bisa berarti orang yang mengucapkannya benar-benar sudah berusaha namun dalam konteks blaming, ia sebenarnya belum berusaha sebaik yang dia ucapkan namun menutupinya dengan menyalahkan pihak-pihak yang tidak mendukungnya. Pembenaran dalam bentuk blaming bisa diperbaiki dengan bertanya terlebih dahulu kepada diri sendiri seperti berikut: ”Benarkah saya sudah melakukan yang terbaik dan benarkah tidak ada satu pun orang yang mendukung saya?”
Pada stadium menengah, pembenaran mengambil bentuk exuse. Dalam hal ini si pelaku seolah-olah menerima bahwa dirinya belum berusaha namun memaklumi hal tersebut karena ia tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan usaha tersebut. Contoh exuse misalnya: ”Tentu saja saya belum bisa melakukan usaha terbaik karena saya tidak memiliki biaya, orang dan waktu yang cukup untuk itu.” Pembenaran dalam bentuk exuse bisa dikoreksi dengan pertanyaan: ”Bila saya memiliki biaya, orang dan waktu apakah saya akan melakukan usaha yang lebih baik daripada yang saya lakukan sekarang?”
Pada stadium akhir, pembenaran mengambil bentuk justify. Dalam hal ini si pelaku membenarkan sikap atau tindakan yang dilakukannya. Contoh justify misalnya: ”Saya tidak perlu melakukan usaha terbaik karena belum jelas hasil yang akan dicapai.” Pembenaran dalam bentuk justify lebih sulit diatasi karena si pelaku berlindung di balik argumen yang sepertinya cukup kuat. Namun demikian, upaya perbaikan bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan: ”Bila hasilnya sudah jelas, apakah saya bersedia melakukan usaha terbaik?”
Anda tentu bisa menyimpulkan, semakin parah pembenaran yang dilakukan seseorang, semakin halus bentuknya. Seolah-olah ia memang sudah melakukan hal yang benar. Itulah sebabnya kita menyebutnya sebagai pembenaran. Dengan memberikan dalih-dalih yang sepertinya benar, si pelaku berusaha mendapatkan pemakluman dari orang-orang di sekitarnya. Semakin tinggi stadium pembenaran yang dialami seseorang, semakin kuat dalih-dalih yang digunakannya.
Lalu bagaimana agar kita bisa terlepas dari pembenaran? Jawabannya terletak pada kisah si pemuda dengan mikroskopnya di atas. Sama seperti halnya si pemuda tadi, dalam hidup ini kita memiliki (atau menemukan) mikroskop. Ketika mikroskop tersebut digunakan untuk melihat fakta-fakta yang indah seperti kelopak bunga atau berlian, kita pun menerimanya sebagai kebenaran. Namun ketika mikroskop tersebut digunakan untuk melihat fakta-fakta yang tidak indah seperti cacing dalam sambal tadi, maka kita dihadapkan kepada dua pilihan. Pilihan pertama adalah membuang mikroskopnya seperti pemuda tadi atau pilihan yang lebih bijak adalah berhenti memakan sambal yang penuh dengan cacing sebelum kita sakit perut. Saya yakin Anda cukup bijak untuk mempertahankan mikroskop Anda walaupun untuk itu Anda harus berhenti menikmati sambal kesukaan Anda.

source: Lionmag edisi Oktober 2010

pb: mattula_ada@live.com