Sabuk Dunia Sang Garuda

by: Indra Sastrawat

Boxing atau tinju merupakan salah satu olehraga populer di negeri ini. Kepopolerannya hanya kalah dari Sepakbola dan Bulutangkis.Sayangnya kepopulerannya tidak berbanding lurus dengan prestasinya.Di lingkup regional prestasi tinju profesional kita masih kalah sama Filipina dan Thailand, belum lagi di tingkat Asia kita jauh tertinggal dari Korea Selatan dan Jepang.

Dibalik sepinya prestasi petinju kita, nyatanya Indonesia pernah melahirkan 4 juara dunia. Bahkan salah satunya masih menggenggam sabuk dunia hingga kini. Thomas Americo merupakan petinju pertama yang mencoba menjadi juara dunia, sayangnya dia gagal. Kegagalan Thomas Americo kemudian di bayar lunas oleh Ellyas Pical beberapa tahun kemudian.

Lantas siapa saja petinju kita yang pernah mencatatkan namanya sebagai juara dunia. Menarik untuk mengulas kembali empat jawara tinju Indonesia yang pernah menjadi juara dunia. Berikut sekilas profil mereka:

13344884951859080681

Ellyas Pical, dari Istora hingga Diskotik

3 Mei 1985 menjadi tanggal bersejarah bagi bangsa Indonesia. Di saksikan puluhan juta pasang mata, Ellyas Pical anak Saparua berhasil meraih gelar juara dunia IBF kelas Bantam Yunior (52,1 kg) setelah mengalahkan Chun Ju Do dari Korsel. Bakat tinju Elly tercium sejak kecil, dimana Elly kecil gemar berkelahi. Mungkin karena itu dia tidak tamat SD. Ellyas Pical lahir di Saparua 24 Maret 1960.

Demi menuntaskan hasrat bertinjunya Elly merantau ke kota Ambon. Dari kota Ambon manise Elly mulai menapak karir tinju di amatir. Segudang prestasi mampu diraihnya dari juara Presiden Cup tahun 1981 dan 1983 hingga bertarung di Sea Games. Pada tahun 1982, Elly memutuskan meninggalkan tinju amatir dan beralih ke Profesional. Prestasi internasional pertamanya di mulai saat Elly menang angka atas petinju Korea Selatan, Hee Yun Chun, dan merebut gelar juara superbantam OPBF. Kemudian, Oktober 1984, Matsuo Watanabe dari Jepang dibuatnya tersungkur pada ronde keenam, sekaligus ia mempertahankan gelar. Puncaknya adalah merebut juara dunia Bantam Yunior dari Chun Ju Do.

1334488549250645696

Ellyas Pical

Sempat kehilangan gelarnya dari penantangnya dari Rep. Dominika Cesar Polanco pada Februari 1986, Elly merebut kembali sabuknya pada 5 Juli 1986. Sempat beberapa kali mempertahankan gelar juara dunianya, pada tahun 1987 Ellyas Pical harus menyerahkan sabuk juara dunianya ke tangan petinju asal Thailand Khaosai Galaxy lewat pertandingan dramatis, Ellyas kalah KO ronde 14. Ellyas Pical mampu bangkit dengan merebut kembali gelar juaranya dari petinju Korsel Tae-ill Chang. Yang berarti Elly mampu meraih tiga kali gelar juara dunia. Setelah 2 tahun mempertahankan gelarnya Ellyas Pical dikalahkan oleh Juan Polo Perez dari USA dengan angka.

Setelah pensiun, Elly masih terus bertarung tapi bukan di atas ring lagi. Kali ini Elly berjuang memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Elly yang tidak lulus SD hanya mampu bekerja sebagai Satpam di tempat hiburan malam. Sungguh tragis nasib Ellyas Pical dulu dia disanjung karena mengharumkan nama bangsa kini dia di lupakan oleh negaranya.

Nico Thomas, Juara Dunia Tanpa Sabuk

Setelah masa keemasan Ellyas Pical memudar muncul kembali nyong Ambon sebagai penerus tradisi juara dunia. Walau karirnya tidak segemerlap Ellyas Pical tapi Nico Thomas mampu mencatatkan dirinya sebagai salah satu juara dunia di kelas Terbang Yunior (47,6 kg). Nicholas Thomas lahir di Ambon, 10 Juni 1966 anak nomor 12 di antara 16 bersaudara keluarga pasangan Julianus Thomas dan Helena Thomas, pada usia 14 tahun sudah berani bertanding di atas ring.

Pada tanggal 17 Juni 1989, Nico Thomas mencatatkan dirinya sebagai petinju Garuda kedua yang mampu meraih sabuk juara dunia setelah menang angka mutlak dari juara bertahan Samuth Sithnaurepol (Thailand). Nico memperoleh gelar itu setelah melalui pertarungan ulang atas juara bertahan Samuth Sithnaurepol dari Thailand. Sebelumnya, pada pertarungan pertama (23 Maret 1989) di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Nico dinyatakan kalah angka. Sebuah kekalahan yang membuat Nico menangis tidak percaya.

Namun sayang, gelarnya tak bertahan lama karena Nico Thomas kemudian kalah KO di ronde 5 dari penantangnya Eric Chavez (Philipina), di Jakarta, 21 September 1989. Nico Thomas akhirnya harus melepas gelar juara dunia kelas terbang mini IBF yang sempat disandangnya selama 96 hari atau 13 minggu dan 5 hari. Ada cerita menarik ketika Nico meraih sabuk dunia, sabuk yang di berikan kepadanya ternyata sabuk Ellyas Pical yang dipinjamkan satu malam saja. Ini karena promotor lupa menyiapkan sabuk juara yang akan diperebutkan.

Muhammad Rachman, Tua-Tua Keladi

Tua-tua keladi mungkin ini ungkapan yang paling pas untuk sang jura dunia kelas Terbang Yunior, Muhammad Rachman. Tidak banyak yang mengenalnya sebagai juara dunia. Petinju kelahiran Papua 23 Desember 1971 bahkan Rachman 2 kali merebut gelar juara dunia. Karir tinjunya di mulai di usia 20 tahun dengan bergabung di sasana tinju Pirih di Surabaya.

13344885971190574162

M. Rachman

Setelah lebih dari 10 tahun berkecimpung di dunia tinju pro, Rachman berhasil merebut gelar juara dunia IBF kelas terbang mini, saat itu usianya tidak muda lagi, 33 tahun, dia berhasil menundukkan petinju lincah dari Kolombia, Daniel Reyes (14 September 2004). Sempat tiga kali mempertahankan sabuk dunianya, pada tanggal 7 Juli 2007 di depan publik Jakarta, Muhammad Rachman di kalahkan oleh petinju Filipina Florente Condes dengan kekalahan angka.

Usia tidak membuat Rachman mundur dari ring tinju, pada usia yang ke-38 tahun Rachman menantang juara dunia asal Thailand Oleydong Sithsamerchai di Phuket. Sayangnya usahanya gagal gara-gara pelipis mata Rachman robek hingga dia tidak maksimal, Rachman kalah angka. Dalam usia menjelang usia 40, Muhammad Rachman kembali mendapat tawaran untuk menantang juara dunia kelas terbang mini versi WBA Kwantai Sithmorseng. Pertarungan ini dilagsungkan di Bangkok Thailand pada tanggal 21 April 2011.

Di luar dugaan semua orang, Rachman mampu tampil sangat bagus, dan berhasil membuat lawanya mencium kanvas di ronde 9. Kemenangan yang membuat Rachman menjadi juara dunia tertua dari Indonesia. Rachman mempertahankan gelar WBA tersebut untuk kali pertama tanggal 30 Juli 2011 di Jakarta melawan penantang peringkat 11 asal Thailand Pornsawan Porpromok. Sayang, Rachman kalah angka, sehingga gelarnya melayang Semangat Rachman memang luar biasa, tekad dan semangat tinjunya pantas di jadikan contoh. Saat pensiun Rachman mengelola bisnis keluarga. Total rekornya 79 kali bertanding, menang 64 dimana 33 diantaranya KO, 11 kali kalah dan 5 draw.

1334488645510886799

Chris John

Chris John, Sang Naga tak Terkalahkan

Besar dari keluarga petinju membuat Chris John tidak asing dengan olahraga ekstrim ini. Memulai karir tinjuny di amatir saat tinggal di Banjarnegara. Bakat hebat pemuda kelahiran 14 September 1979 ditemukan oleh seorang pelatih hebat Sutan Rambing. Tahun 1998 merupakan debut awalnya di tinju pro.Mulai dikenal publik Indonesia setelah meraih gelar juara nasional kelas Bulu (57 kg) setelah mengalahkan Muhammad Alfaridzi.

Setelah beberapa kali bertanding dalam perebutan gelar nasional, Chris John berhasil menundukkan rekan senegaranya Soleh Sundava pada tahun 2001 untuk merebut gelar PABA kelas bulu. Kesempatan meraih gelar juara kelas Bulu tiba saat melawan Oscar Leon dari Kolombia pada 26 September 2003. Melalui perjuangan ketat, Chris John berhasil meraih title juara WBA interim (sementara). Gelar ini masih dianggap belum sepenuhnya sebagai juara dunia. Tak lama kemudian WBA menghadiahkan gelar juara WBA definitif kepada Chris John.

Partai akbar yang membuat Chris John pantas menyandang juara dunia kelas Bulu WBA adalah pada tanggal 22 April 2005 melawan Derrick Gainer dari USA, Gainer adalah mantan juara dunia kelas Bulu.Pertandingan tersebut dimenangkan oleh Chris John dengan angka mutlak. Partai akbar lainnya (24 Maret 2006) ketika Chris John bertemu Juan Manuel Marques dari Meksiko yang dianggap sebagai raja di kelas Bulu. Chris John tampil taktis dan menang angka. Keraguan publik atas Chris John akhirnya hilang.

Pada 19 September 2009, Chris John berhasil mengalahkna Rocky Juarez dari USA di Las Vegas setelah sebelumnya bermain draw. Kemenangan ini sangat berharga dan oleh WBA Chris John di labeli gelar Super Champions. Tercatat sebanayak 15 kali Chris John mempertahanklan gelarnya. Chris John memang fenomenal, sepanjang karir tinjunya di belum pernah kalah. Rekor pertandingannya mulus dengan hasil 48 naik ring, 46 menang, 22 KO dan 2 draw. Keberhasilan Chris di dunia tinju, membawanya ke profesi sampingan, antara lain sebagai bintang iklan untuk berbagai produk dan komentator tinju di televisi.

****

Tidak banyak petinju hebat yang lahir dari rahim nusantara, tapi dari sedikit itu mereka mampu menjadi motivator bagi generasi berikutnya. Ellyas Pical pantas dianggap sebagai legenda tinju nasional, Nico Thomas adalah juara dunia tersingkat, Muhammad Rachman adalah singa tua yang layak di jadikan contoh petinju muda kita, dan Chris John adalah bintang tinju Indonesia sepanjang masa, dia merupakan petinju terbaik di millenium ketiga dari Indonesia. Semoga sang Garuda kembali bisa melahirkan petinju kelima sebagai juara dunia.

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id

Iklan

2 Komentar to “Sabuk Dunia Sang Garuda”

  1. mantap infonya,jd tau tinju indo.he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: