Collective Intelligence: Beyond Teamwork (2)

by: Jemy V. Confido

Selama ini kita selalu meyakini bahwa kerja sama atau teamwork adalah sesuatu yang baik dan sangat dibutuhkan untuk mencapai suatu keberhasilan. Memang betul kita tidak bisa mencapai semuanya seorang diri. Bahkan dibalik setiap individu yang berhasil pasti ada satu tim yang kuat mendukungnya. Jadi tidak ada yang salah dengan teamwork. Tapi ada yang kurang. Teamwork tidak memasukkan standar moral yang digunakan untuk menggerakkan suatu tim. Memang ada standar nilai yang dianut bersama oleh seluruh anggota tim, tetapi tidak ada standar moralnya. Karena itu, kita menemukan fenomena para pelaku kejahatan yang menggunakan teamwork dengan begitu cantiknya untuk mencapai tujuan mereka. Perampokan yang dilakukan oleh suatu komplotan menggunakan teamwork. Demikian pula praktek mafia menggunakan teamwork. Dan jangan lupa, korupsi pun butuh teamwork.
Sebaliknya, kecerdasan kolektif atau collective intelligence bahkan bisa ditemukan pada pihak-pihak yang sepertinya tidak bekerja sama atau bahkan saling berseteru. Marilah kita belajar ke negeri China untuk mengambil salah satu contoh yang sangat mencengangkan. Suatu ketika, China terpecah-pecah menjadi tujuh kerajaan yang masing-masing saling berseteru memperebutkan kekuasaan. Setelah pertikaian berlangsung cukup lama, maka salah satu kerajaan, yang dipimpin oleh Raja Qin, menjadi sangat kuat dan berhasil mendesak ke-enam kerajaan lainnya. Dalam situasi yang serba kacau tersebut timbulah bermacam-macam pemberontakan dengan berbagai dalih mulai dari harga diri hingga balas dendam. Di antara banyaknya para pemberontak tersebut, terdapat seorang pendekar yang kemudian berhasil menerobos ke istana dan tinggal berhadapan dengan sang raja. Kesempatan untuk menuntaskan pemberontakan sekaligus membalas dendam tinggal sejauh tusukan pedang. Namun ajaib, sang pendekar memilih untuk mengurungkan niatnya dan membiarkan raja hidup. Setelah perjalanan yang panjang sebagai pemberontak akhirnya sang pendekar menyadari bahwa membunuh sang raja tidak menyelesaikan masalah tetapi justru menambah masalah baru. Pastilah kesempatan tersebut akan digunakan oleh raja-raja lain untuk membangun kekuatan untuk membangkitkan perlawanan dan membawa rakyat ke dalam penderitaan yang lebih berat dan lebih lama lagi.

Maka sang pendekar memutuskan bahwa demi persatuan dan kemajuan seluruh China, dendamnya bukan dendam lagi dan kebenciannya bukan kebencian lagi. Sang raja sendiri tidak pernah menyangka bahwa orang yang paling memusuhinya ternyata adalah orang yang paling mengerti cita-citanya untuk menyatukan China dan memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat China. Sementara di dalam kerajaan sendiri para petinggi yang merupakan bawahannya, banyak yang menilai dirinya sebagai raja yang lalim. Singkat cerita, Raja Qin tetap berkuasa dan berhasil menaklukan ke-enam kerajaan lainnya pada tahun 221 Sebelum Masehi. Ia kemudian menghentikan peperangan dan memulai kembali pembangunan Tembok Besar China untuk menangkal serangan dari bangsa-bangsa di utara. Suatu karya agung yang baru bisa diselesaikan beratus-ratus tahun kemudian.

(Bersambung…)

source: Lionmag edisi Oktober 2007

pb: mattula_ada@live.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: