Collective Intelligence: Beyond Teamwork (1)

by: Jemy V. Confido

Suatu ketika, di sebuah desa, semua penduduk bergotong-royong membangun saluran untuk menyalurkan air dari sungai ke ladang. Semua penduduk bahu membahu untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut kecuali dua orang. Ya, dua orang pemuda tidak bergabung dengan penduduk lainnya untuk mengerjakan saluran tersebut. Mereka malah memilih untuk mengajak semua orang termasuk kepala desa untuk menghentikan usaha untuk membangun saluran tersebut. Apakah mereka dinilai tidak dapat bekerja sama dengan anggota penduduk (tim) lainnya? Jawabannya belum tentu, tergantung kepada alasan mengapa mereka melakukan tindakan tersebut. Inilah bedanya antara kerjasama (team work) dan kecerdasan kolektif (collective intelligence).
Berdasarkan definisi dari para peneliti dalam bidang collective intelligence seperti Peter Russell (1983), Tom Atlee (1993), dan Howard Bloom (1995), collective intelligence atau kecerdasan kolektif adalah suatu bentuk kecerdasan yang muncul dari kolaborasi dan kompetisi dari banyak individu (pihak), sebuah kecerdasan yang seolah-olah memiliki pikirannya sendiri. Pendapat lainnya dari salah seorang pelopor kecerdasan kolektif yaitu George Pór, mendefinisikan fenomena collective intelligence sebagai kapasitas dari komunitas manusia untuk berevolusi menuju tingkatan kompleksitas dan keselarasan (harmoni) yang lebih tinggi melalui suatu mekanisme inovasi seperti pemisahan dan penggabungan, persaingan dan kerjasama. Collective Intelligence sendiri muncul dalam berbagai bentuk consensus decision making (pengambilan keputusan bersama) yang diperlihatkan oleh berbagai makhluk hidup mulai dari bakteri, hewan, manusia dan juga diperlihatkan oleh komputer.
Kembali kepada kisah dua orang pemuda desa di atas, ternyata alasan mengapa mereka mengajak semua orang untuk menghentikan pembangunan saluran tersebut adalah karena sungai tersebut sudah terkena limbah beracun yang akan menyebabkan semua tanaman di ladang mati dan bahkan tanah yang tadinya subur berubah menjadi tandus. Apakah ke dua pemuda tersebut tidak bisa bekerja sama? Bila ukurannya adalah mayoritas maka jawabannya “Ya”. Tapi apakah yang dilakukan oleh kedua pemuda tersebut salah? Bukankah akan jauh lebih salah bila mereka membiarkan saluran tersebut jadi dan mengakibatkan lahan satu desa hancur semua?

source: Lionmag edisi Oktober 2007

pb: mattula_ada@live.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: