Archive for April 7th, 2012

7 April 2012

Kebenaran atau Pembenaran (2)

by: Jemy V. Confido

Upaya untuk melakukan pembenaran mengalami stadium seperti halnya kanker. Pada stadium awal, pembenaran yang kita lakukan adalah melakukan blaming atau menyalahkan orang lain atau hal lain. Contoh blaming yang biasa dilakukan misalnya: ”Saya sudah berusaha melakukan yang terbaik tapi tidak ada yang mendukung saya.” Tentu saja kalimat tersebut bisa berarti orang yang mengucapkannya benar-benar sudah berusaha namun dalam konteks blaming, ia sebenarnya belum berusaha sebaik yang dia ucapkan namun menutupinya dengan menyalahkan pihak-pihak yang tidak mendukungnya. Pembenaran dalam bentuk blaming bisa diperbaiki dengan bertanya terlebih dahulu kepada diri sendiri seperti berikut: ”Benarkah saya sudah melakukan yang terbaik dan benarkah tidak ada satu pun orang yang mendukung saya?”
Pada stadium menengah, pembenaran mengambil bentuk exuse. Dalam hal ini si pelaku seolah-olah menerima bahwa dirinya belum berusaha namun memaklumi hal tersebut karena ia tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan usaha tersebut. Contoh exuse misalnya: ”Tentu saja saya belum bisa melakukan usaha terbaik karena saya tidak memiliki biaya, orang dan waktu yang cukup untuk itu.” Pembenaran dalam bentuk exuse bisa dikoreksi dengan pertanyaan: ”Bila saya memiliki biaya, orang dan waktu apakah saya akan melakukan usaha yang lebih baik daripada yang saya lakukan sekarang?”
Pada stadium akhir, pembenaran mengambil bentuk justify. Dalam hal ini si pelaku membenarkan sikap atau tindakan yang dilakukannya. Contoh justify misalnya: ”Saya tidak perlu melakukan usaha terbaik karena belum jelas hasil yang akan dicapai.” Pembenaran dalam bentuk justify lebih sulit diatasi karena si pelaku berlindung di balik argumen yang sepertinya cukup kuat. Namun demikian, upaya perbaikan bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan: ”Bila hasilnya sudah jelas, apakah saya bersedia melakukan usaha terbaik?”
Anda tentu bisa menyimpulkan, semakin parah pembenaran yang dilakukan seseorang, semakin halus bentuknya. Seolah-olah ia memang sudah melakukan hal yang benar. Itulah sebabnya kita menyebutnya sebagai pembenaran. Dengan memberikan dalih-dalih yang sepertinya benar, si pelaku berusaha mendapatkan pemakluman dari orang-orang di sekitarnya. Semakin tinggi stadium pembenaran yang dialami seseorang, semakin kuat dalih-dalih yang digunakannya.
Lalu bagaimana agar kita bisa terlepas dari pembenaran? Jawabannya terletak pada kisah si pemuda dengan mikroskopnya di atas. Sama seperti halnya si pemuda tadi, dalam hidup ini kita memiliki (atau menemukan) mikroskop. Ketika mikroskop tersebut digunakan untuk melihat fakta-fakta yang indah seperti kelopak bunga atau berlian, kita pun menerimanya sebagai kebenaran. Namun ketika mikroskop tersebut digunakan untuk melihat fakta-fakta yang tidak indah seperti cacing dalam sambal tadi, maka kita dihadapkan kepada dua pilihan. Pilihan pertama adalah membuang mikroskopnya seperti pemuda tadi atau pilihan yang lebih bijak adalah berhenti memakan sambal yang penuh dengan cacing sebelum kita sakit perut. Saya yakin Anda cukup bijak untuk mempertahankan mikroskop Anda walaupun untuk itu Anda harus berhenti menikmati sambal kesukaan Anda.

source: Lionmag edisi Oktober 2010

pb: mattula_ada@live.com

Iklan
7 April 2012

Kebenaran atau Pembenaran (1)

by: Jemy V. Confido

Seorang pemuda dari desa berjalan-jalan di kota. Setelah melihat banyak keramaian dan hiruk pikuk di kota, sang pemuda tertarik dengan kerumunan orang banyak di salah satu sudut kota. Dengan berdesak-desakan, si pemuda akhirnya bisa berdiri di jajaran paling depan dari kerumunan tersebut. Ia menyaksikan seoarang laki-laki berdiri di tengah-tengah panggung dengan suara lantang, ”Ini adalah alat paling ajaib yang pernah ada.” Kata laki-laki tersebut sambil menunjuk kepada sebuah mikroskop yang diletakkannya di atas sebuah meja.
Penasaran dengan perkataan laki-laki tersebut, si pemuda menyimak dengan perhatian penuh. Tiba-tiba ia mendengar suara laki-laki itu memanggilnya, ”Hei, kamu!”
Si pemuda menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan siapa yang dimaksud oleh si laki-laki itu.
”Iya kamu!” Lanjut si laki-laki. ”Ayo naik!”
Dalam kebingungannya, si pemuda melangkah ragu-ragu naik ke atas panggung.
”Lihat!” Si laki-laki memerintah si pemuda seraya menunjuk ke arah lubang mikroskop.
Si pemuda pun membungkukkan badannya perlahan-lahan dan mengintip ke dalam lubang tersebut. ”Astaga!” Seru si pemuda, hampir tidak percaya dengan penglihatannya. Rupanya si laki-laki meletakkan sehelai kelopak bunga di bawah mikroskop tersebut. Si pemuda bisa melihat serat-serta kelopak bunga yang indah.
Lalu si laki-laki mengganti kelopak bunga tersebut dengan sebutir berlian. ”Nah, sekarang lihat lagi!” Perintah si laki-laki.
Kali ini, dengan penasaran si pemuda segera mengintip kembali lubang mikroskop tersebut. ”Waawww!!!!” Si pemuda bersorak kegirangan. Dengan wajah berseri-seri ia pun tertawa gembira ke arah penonton seraya mengacungkan kedua jempol tangannya. Melalui mikroskop ini ia bisa melihat pantulan sinar-sinar berlian dengan sangat jelas dan indah.
Ketika si laki-laki penjual menawarkan mikroskop tersebut, ia pun segera membayarnya tanpa menawar-nawar lagi.
Setibanya di kampung, si pemuda memanggil semua warga kampung. Lalu setelah seluruh penduduk kampung berkumpul ia pun menjelaskan mikroskop yang baru dibelinya. Lalu ia pun memperagakan mikroskop tersebut seperti si laki-laki penjual tadi. Dengan rasa penasaran yang tinggi, ia pun mencoba berbagai benda untuk ditaruh di bawah lensa mikroskop tersebut.
Setelah puas bermain-main dengan mikroskop barunya, si pemuda pun merasa lapar dan bersiap-siap untuk menyantap hidangan makan. Sesaat sebelum melahap makanannya, si pemuda tiba-tiba tertarik dengan sambal kesukaannya. ”Saya sudah makan sambal ini bertahun-tahun. Penasaran, apa sih isinya.” Demikian gumam si pemuda.
Ia pun lalu mengambil sedikit sambal kesukaannya itu dan meletakkannya di bawah lensa mikroskop. Dengan perasaan berdebar-debar, ia pun mengintip lubang mikroskop tersebut. ”Astaga…????” Si pemuda kaget luar biasa.
Dengan jelas ia melihat cacing-cacing yang sangat kecil menari-nari di dalam sambal tersebut. Setengah tak percaya, si pemuda bersandar di dinding dengan penuh kebingungan. ”Apa yang harus aku lakukan?”
Setelah melihat kenyataan yang mengejutkan itu, si pemuda bimbang apakah ia harus menghentikan memakan sambal kesukaannya itu? Cukup lama ia berdiam diri tidak bergerak. Jampai akhirnya si pemuda berusaha bangun dengan kekuatan tenaga yang tersisa. Ia pun melangkah gontai dan akhirnya mengambil mikroskop tersebut. Dengan perlahan ia melangkahkan kakinya ke halaman rumahnya. Sesaat ia berhenti melangkah, menarik nafas dalam-dalam dan menengadah ke atas. Lalu dengan berteriak nyaring, si pemuda membanting mikroskop tersebut sampai rusak dan melemparnya di antara semak belukar.
Seperti cerita di atas, dalam hidup ini kita seringkali mencari kebenaran. Namun anehnya, ketika kita mendapatkan kebenaran yang kita cari, tidak jarang pula kita mengubahnya menjadi pembenaran. Bahayanya lagi, perbedaan di antara keduanya sangatlah tipis. Perbedaan tipis ini disebabkan karena keduanya berasal dari satu sumber fakta yang sama hanya saja bila kita bisa menerima fakta tersebut apa adanya maka kita menjadikan fakta tersebut sebagai sebuah kebenaran sementara bila kita menerima fakta tersebut sesuai keinginan kita maka kita melakukan pembenaran terhadap fakta tersebut.

source: Lionmag edisi Oktober 2010

pb: mattula_ada@live.com

7 April 2012

Collective Intelligence: Beyond Teamwork (Tamat)

by: Jemy V. Confido

Teamwork memang dibutuhkan. Tapi teamwork saja tidak cukup. Dalam banyak situasi, termasuk kejadian yang kita alami sehari-hari, kita tidak sempat membentuk sebuah tim. Namun demikian, tetap kita dituntut untuk menjadi cerdas secara kolektif. Bayangkan bila Anda mengalami atau menyaksikan situasi-situasi seperti di bawah ini. Bagaimana perasaan Anda dan tindakan apa yang akan Anda lakukan?
• Orang-orang yang hendak menggunakan lift berdesak-desakan untuk masuk ke lift sementara orang-orang yang di dalam lift tidak bisa keluar karena terhalang oleh orang-orang yang akan masuk tersebut (anehnya, orang-orang yang tadi berada di dalam lift tersebut akan juga melakukan hal yang sama pada saat mereka akan masuk ke dalam lift).
• Mobil besar yang dengan tenangnya melaju dengan lambat di antara dua lajur sementara kendaraan-kendaraan dibelakangnya bersusah payah menyalip kendaraan tersebut karena menghambat dua lajur sekaligus (selanjutnya pengemudi kendaraan besar tersebut akan marah-marah karena merasa diperlakukan dengan tidak sopan).
• Rapat dimulai jam 9.00 pagi tetapi belum ada satu pun yang datang meskipun sudah jam 9.30 (sehingga akhirnya rapat tersebut hanya menentukan kapan rapat berikutnya akan dilakukan).
• Sepeda motor yang meluncur cepat di sebelah kiri jalan lalu tiba-tiba memotong dan berbelok ke kanan di perempatan (entah berapa yang tertabrak tapi hanya sedikit yang kapok rupanya).
• Suporter sebuah kesebelasan yang melakukan keributan sebelum, saat dan setelah pertandingan (kejadian ini pasti mendapat sangsi dari Komisi Disiplin namun sepertinya tidak banyak yang jera).
• Kendaraan umum yang berhenti tiba-tiba karena menaikkan atau menurunkan penumpang di tempat yang tidak semestinya (kejadian ini biasanya segera diikuti dengan bunyi klakson yang riuh rendah).
• Penumpang pesawat yang asyik berkomunikasi dengan handphone pada saat hendak take off (Uups, jangan-jangan termasuk Anda yang sedang membaca tulisan saya ini).
• Sayangnya, kita masih bisa menambah daftar ini sampai sedemikian panjangnya.
Mungkin kita merasa geli, jengkel atau marah dengan ulah orang-orang di sekitar kita atau bahkan ulah kita sendiri yang mencerminkan bahwa kita belum memiliki kecerdasan kolektif yang memadai. Tentu saja kita akan mencapai keadaan yang lebih baik seandainya kejadian-kejadian seperti di atas tidak lagi menghantui keseharian kita. Bukankah kita mendambakan bahwa suatu saat kota-kota di negeri ini memiliki ketertiban, keindahan, kenyamanan dan keamanan seperti Singapura misalnya? Untuk alasan itulah, mungkin sebaiknya kita tidak perlu berpuas diri setelah Malaysia meminta maaf atas perlakuan aparatnya yang kelewat batas terhadap warga kita. Yang lebih penting adalah bagaimana menyalip kinerja mereka sehingga suatu saat mereka bisa angkat topi dan mau belajar dari keberhasilan kita seperti jaman dulu itu lho. Negara tetangga kita yang satu ini memang acap kali menjengkelkan kita dengan ulahnya yang seolah meremehkan kita. Tapi jauh lebih menjengkelkan lagi karena setiap kali mereka berulah, tidak banyak yang bisa kita lakukan selain melakukan protes dan menuntut permohonan maaf. Lambat laun, seperti kata para ahli pemasaran, kata maaf tersebut menjadi komoditas dan tidak lagi memberikan makna yang menggetarkan hati.

Sementara itu, kita tetap tidak juga belajar dan menjadi lebih cerdas secara kolektif. Kesemrawutan, ketidakpedulian, kecemasan, ketamakan, dan keangkuhan terus berlangsung dan mengakibatkan ketertinggalan kita dari negara tetangga tersebut tetap terjadi dan bahkan semakin jauh. Semoga kita bisa segera menyadarinya dan menjadi bangsa yang lebih cerdas secara kolektif!

(Tamat)

source: Lionmag edisi Oktober 2007

pb: mattula_ada@live.com

7 April 2012

Collective Intelligence: Beyond Teamwork (2)

by: Jemy V. Confido

Selama ini kita selalu meyakini bahwa kerja sama atau teamwork adalah sesuatu yang baik dan sangat dibutuhkan untuk mencapai suatu keberhasilan. Memang betul kita tidak bisa mencapai semuanya seorang diri. Bahkan dibalik setiap individu yang berhasil pasti ada satu tim yang kuat mendukungnya. Jadi tidak ada yang salah dengan teamwork. Tapi ada yang kurang. Teamwork tidak memasukkan standar moral yang digunakan untuk menggerakkan suatu tim. Memang ada standar nilai yang dianut bersama oleh seluruh anggota tim, tetapi tidak ada standar moralnya. Karena itu, kita menemukan fenomena para pelaku kejahatan yang menggunakan teamwork dengan begitu cantiknya untuk mencapai tujuan mereka. Perampokan yang dilakukan oleh suatu komplotan menggunakan teamwork. Demikian pula praktek mafia menggunakan teamwork. Dan jangan lupa, korupsi pun butuh teamwork.
Sebaliknya, kecerdasan kolektif atau collective intelligence bahkan bisa ditemukan pada pihak-pihak yang sepertinya tidak bekerja sama atau bahkan saling berseteru. Marilah kita belajar ke negeri China untuk mengambil salah satu contoh yang sangat mencengangkan. Suatu ketika, China terpecah-pecah menjadi tujuh kerajaan yang masing-masing saling berseteru memperebutkan kekuasaan. Setelah pertikaian berlangsung cukup lama, maka salah satu kerajaan, yang dipimpin oleh Raja Qin, menjadi sangat kuat dan berhasil mendesak ke-enam kerajaan lainnya. Dalam situasi yang serba kacau tersebut timbulah bermacam-macam pemberontakan dengan berbagai dalih mulai dari harga diri hingga balas dendam. Di antara banyaknya para pemberontak tersebut, terdapat seorang pendekar yang kemudian berhasil menerobos ke istana dan tinggal berhadapan dengan sang raja. Kesempatan untuk menuntaskan pemberontakan sekaligus membalas dendam tinggal sejauh tusukan pedang. Namun ajaib, sang pendekar memilih untuk mengurungkan niatnya dan membiarkan raja hidup. Setelah perjalanan yang panjang sebagai pemberontak akhirnya sang pendekar menyadari bahwa membunuh sang raja tidak menyelesaikan masalah tetapi justru menambah masalah baru. Pastilah kesempatan tersebut akan digunakan oleh raja-raja lain untuk membangun kekuatan untuk membangkitkan perlawanan dan membawa rakyat ke dalam penderitaan yang lebih berat dan lebih lama lagi.

Maka sang pendekar memutuskan bahwa demi persatuan dan kemajuan seluruh China, dendamnya bukan dendam lagi dan kebenciannya bukan kebencian lagi. Sang raja sendiri tidak pernah menyangka bahwa orang yang paling memusuhinya ternyata adalah orang yang paling mengerti cita-citanya untuk menyatukan China dan memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat China. Sementara di dalam kerajaan sendiri para petinggi yang merupakan bawahannya, banyak yang menilai dirinya sebagai raja yang lalim. Singkat cerita, Raja Qin tetap berkuasa dan berhasil menaklukan ke-enam kerajaan lainnya pada tahun 221 Sebelum Masehi. Ia kemudian menghentikan peperangan dan memulai kembali pembangunan Tembok Besar China untuk menangkal serangan dari bangsa-bangsa di utara. Suatu karya agung yang baru bisa diselesaikan beratus-ratus tahun kemudian.

(Bersambung…)

source: Lionmag edisi Oktober 2007

pb: mattula_ada@live.com