Mengejar Cinta ke Ibu Kota Negara

by: Muh. Takdir

Pertama sekali simpatik terhadap gadis itu ketika menjadi Chief Even Organizer pada salah satu kegiatan yang pernah dilakukan di sekolahnya. Kebetulan pada saat itu sekolah kami ada undangan untuk menghadiri acaranya. Saya dan beberapa teman lainnya sebagai utusan dari sekolah kami. Mengenal dia dari salah satu teman. Selama masa-masa Madrasah Aliyah (setingkat SMA) kami beberapa kali ketemu dalam beberapa kegiatan-kegiatan tertentu. Hanya saja pada saat itu saya tidak ada kemauan untuk mengungkapkan rasa ini. Yaa berusaha melaksanakan amanah orang tua. “Nak, kamu jangan sekali-sekali dulu berfikir mau pacaran, fokus lah dulu sama sekolah kamu. Suatu saat kamu akan dapat sendiri gadis pujaan kamu dan Allah SWT pasti memberikan yang terbaik buat kamu. Belajar saja dengan rajin dan tekun nak.! “ kata orang tua kepada saya sebelum meninggalkan kampung halaman untuk pergi sekolah di Ibu Kota Kabupaten dimana saya tinggal pada saat itu.

Setelah menyelesaikan sekolah di Madrasah Aliyah beliau sudah tidak ada kabar, entah kemana dirinya melancong. Beberapa kali mencari kabar tentang dia, namum tidak ada hasil. Yaa terkadang pesimis itu sudah mulai menghantui akan dirinya kalau saya tidak akan ketemu lagi dengan dia. Meskipun selama kuliah sempat jalan dengan gadis-gadis lain, tapi perasaan itu hanya sebatas teman, sahabat bahkan diantaranya seakan-akan saudara sendiri. Kuliah S1 selesai belum ada juga kabar tentang dia.Beberapa kali searching tentang dia melalu jejaring sosial, sebutlah Facebook, twitter, friendster, dan lain-lain belum juga ada hasil.

Menjelang tujuh tahun kemudian setelah tamat di Mad. Aliyah. Salah satu junior saya di Mad. Aliyah datang di Makassar dari Jakarta yang kebetulan pada saat itu saya yang menjemputnya di Bandara Hasanuddin Makassar. Berbincang-bincang tentang almamater, ternyata banyak teman-teman yang kuliah di Jakarta. Secara tidak langsung menyebut nama gadis yang selama ini saya cari-cari. Kebetulan dia yangarrange-kan tiket. Bekerja di salah satu Travel di Jakarta sambil melanjutkan S2 di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Itulah profesinya saat ini. Terenyuh dan terkesimah mendengar informasinya, ternyata masih seperti dulu selalu aktif dalam hal apapun yang sifatnya education dan karir.

Terima kasih buat junior saya, karena beliau data tentangnya sudah saya dapat termasuk Contact Person dan akun Facebooknya, itu sudah melebihi dari cukup. Keesokan harinya membuka facebook dan searching akunnya. Alhamdulillah, dapat dan meminta pertemanan. Dikonfirmasi dan memulai chating. Hampir tiap hari kamichat. Yaa tentu diawal-awal chat kami saling bercanda gurau meskipun sebenarnya dia tidak tau saya secara dekat, apalagi semasa Mad. Aliyah aku dikenal hanya sebatas nama meskipun beberapa kali ketemu.

Kurang lebih dua minggu berjalan sejak mulai akrab lewat dunia maya (Facebook) bahkan tidak jarang kami SMS-an dan bicara lewat Handphone. Dan pada saat itu aku mengungkapkan perasaan kepada dia. Dalam hati seraya berdoa semoga saja beliau belum ada yang memiliki. Hehehe. Awalnya sih dia mengira kalau saya hanya bercanda. Namun aku tetap berusaha meyakinkan bahwa saya betul-betul ada rasa pada dirinya. Akhirnya beliau menjawab dengan mengawali kalimatnya permohonan maaf kepada saya. Ternyata beliau sudah dipersunting oleh seorang laki-laki dari seberang pulau. Jawaban itu tidak membuat saya pesimis malah saya berjanji sama dia kalaupun kita bukan jodoh, kita akan tetap menjalin komunikasi tapi paling itu sebatas teman melainkan bukan lagi orang spesial.

Hal yang membuat saya semakin optimis karena sebagian keluarganya kurang setuju dengan laki-laki tersebut. Pada umumnya keluarganya menyayangkan kalau dia menikah dengan laki-laki itu. Dari sisi materi dan semangat hidup itulah yang dimiliki laki-laki tersebut, tapi dari sisi pendidikan dia agak ketinggalan dalam hal itu. Sementara gadis itu, sejak SD sampai tamat di Mad. Aliyah tidak pernah melepaskan peringkat tiga besar, apalagi sekarang lagi on progress penyelesaian S2. “Kami bukan tidak menghargai dia. Kami tau kalau dia juga punya kelebihan yang belum tentu dimiliki oleh sebagian orang yang berpendidikan. Tapi alangkah lebih bagusnya kalau kamu mempunyai pendamping hidup yang sepadan dengan pendidikan kamu, paling tidak seorang laki-laki yang selesai S1.” Kalimat ini yang sering muncul dari keluarga gadis tersebut.

Suatu ketika gadis tersebut menceritakan kepada keluarganya mengenai niat suci saya. Beliau menjelaskan tentang saya, mulai dari latar belakang pendidikan, keluarga, dan cukup uniknya kalau saya dan dia pernah sekolah di satu Yayasan Pendidikan yang sama yaitu Pondok Pesantren As’ Adiyah. Hanya saja mulai dari MTs (setingkat SMP) sampai Mad. Aliyah siswa laki-laki dan perempuan dipisahkan. Sehingga perempuan dan laki-laki masing-masing punya sekolah tersendiri. Pada prinsipnya kalau kurang lebih orang tuanya mendukung saya.

Suatu hari saya pun nekat ke Jakarta ingin bertemu dengan dia. Awalnya sih dia tidak setuju kalau saya ke Jakarta dengan tujuan hanya karena dia. Karena dia lagi terikat dengan laki-laki yang sudah mempersuntingnya. Selama tidak ada janur kuning, kemungkinan-kemungkinan yang tidak disangka masih bisa terjadi. Gadis tersebut sangat khawatir kalau saya ke Jakarta yang akhirnya aku kecewa. Meskipun kalimat-kalimat itu sering disampaikan kepada saya, nekat untuk pergi tetap akan aku lakukan. Dan akhirnya aku pun berangkat ke Jakarta dan bertemu dengan beliau. Alhamdulillah, kedatangan saya ke rumahnya mendapat respon positif dari keluarganya. Saya pun semakin optimis. Kembali ke Makassar dengan rasa senang. Tinggal menunggu informasi selanjutnya tentang dia. Karena sesuatu hal yang dilakukan oleh pihak laki-laki yang mempersuntingnya yang secara tidak langsung membuat orang tuanya kecewa. Sesuatu hal itu menyangkut harga diri. Akhirnya orang tuanya memutuskan untuk tidak melanjutkan.

Sembari menunggu suasana tenang itu di keluarganya saya pun menyampaikan ke orang tua mengenai niat saya menikahi gadis tersebut. Pada dasarnya orang tua pun sangat setuju dengan gadis itu, meskipun gadis itu hanya dikenalnya lewat poto dan komunikasi lewat telpon. Itulah salah satu kelebihan yang dimiliki orang tua yang harus dipelajari bagi generasi muda bahwa meskipun hanya lewat telpon dan poto sudah bisa menebak karakter seseorang.

Apakah dia akan menjadi jodoh saya atau tidak. Semuanya diserahkan kepada Allah SWT. Usaha maksimal untuk memilikinya sudah dilakukan. Mengakhiri tulisan ini dengan mengutip pribahasa dalam versi bugis oleh salah seorang senior, kakanda, dan advisor kami sebagai berikut :

GALIGO HARI INI (SERI 98 )
Menjawab pertanyaan Ifa HR dan Takdir

Mauluttu Massuajang (8)
Oki SiputanraE (7)
Teppa Rewe’mua (6)

Arti Bugis Umum
Mauni lao tega laona, narekko siputotoi, tette’i siruntu

Arti Indonesia
Dimanapun keberadaannya, kalau sudah jodoh, takkan kemana.

Penjelasan
Galigo ini tidak termasuk dalam kategori sulit, tidak memiliki pelapisan makna, tidak juga memiliki kata kunci sebagai pembuka keseluruhan maknanya. Galigo ini mudah dicerna, meski kata yang dipakai bukan lagi kata dalam kosa kata Bugis yang jamak ditemui saat ini. (Sumber : http://www.facebook.com/suryadin.laoddang)

 wb: mh_takdir@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: