Refleksi Seorang Pewarta Warga di Penghujung 2008

by: Retty N. Hakim

Tahun 2008 lalu saya sudah melakukan renungan sebagai seorang blogger. Terus terang menjadi blogger lebih menarik dan terasa lebih mudah buat saya, apalagi menurut Vincent Maher menjadi blogger itu pasti lebih menguntungkan daripada menjadi pewarta warga (citizen reporter). Tahun ini, menjelang dua tahun menjadi pewarta warga, saya ingin merefleksikan kembali perjalanan saya sebagai pewarta warga.

Memang setelah saya amati, kegiatan blogging akan lebih menguntungkan kalau kita memiliki profesi tertentu dan membuat blog yang sesuai dengan profesi tersebut. Atau sekalian membuat blog pribadi dengan kisah sehari-hari yang menarik perhatian pembaca. Tetapi saya terlanjur masuk ke dunia blogger melalui gerbang netizen (internet citizen: warga internet), sehingga sulit bagi saya untuk fokus hanya pada satu topik tertentu, sementara untuk membuat buku harian pribadi saya dalam bentuk daring masih belum sesuai dengan kata hati saya.

Dalam buku harian pribadi saya bisa seenaknya menulis, tidak perlu penjelasan latar belakang dan detail pemikiran karena pembacanya hanya saya seorang. Kalau hari ini saya ngomel panjang lebar soal suami dan anak, maka besok lusa bisa jadi saya menulis kecintaan dan kekaguman saya pada mereka. Kalau saya mengkritik suatu kebijaksanaan atau teori maka detailnya mungkin hanya ada di otak saya. Di akhir tahun saya hanya bisa tersipu-sipu membaca betapa emosionalnya saya, bahkan bisa menertawakan diri yang menulis tanpa tata bahasa yang benar.

Berangkat dari Profesi yang Termajinalisasi

Menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan pribadi yang berangkat dari pemikiran mengenai pendidikan anak dan kualitas waktu bersama dalam keluarga. Konsekuensi yang harus dipikul bukan hanya dari segi pemasukan keluarga yang tentunya lebih kecil daripada dari dua sumber penghasilan, serta  tidak teraturnya waktu penerimaan pemasukan (karena pilihan pekerjaan suami), tetapi seringkali juga dari segi emosional karena seringkali dianggap sebagai orang yang tidak memberikan kontribusi apa-apa.

Pernah dalam satu masa, KTP saya memiliki status TIDAK BEKERJA. Saya tidak begitu ingat bagaimana awalnya status ini bertengger selama bertahun-tahun di KTP saya. Hanya seingat saya, waktu itu saya ditanya pekerjaan dan menjawab bahwa saya ibu rumah tangga. Setelah pindah rumah, pihak kelurahan di tempat yang baru mau menerima status pekerjaan Ibu Rumah Tangga untuk dicantumkan di dalam KTP.

Pernah juga, dalam satu acara reuni unit kegiatan mahasiswa seorang rekan senior ketika diundang memberikan kata sambutan menyatakan kekecewaannya kepada mantan aktivis-aktivis perempuan yang dikenalnya  karena lebih banyak yang memilih tinggal di rumah daripada berkarier. Terus terang, beberapa rekan (termasuk saya he…he…he…) agak tersinggung, karena sebenarnya profesi satu ini kami pilih bukan tanpa pengorbanan pribadi.

Adalah hak seorang perempuan untuk memilih antara karier di luar rumah, atau memilih menjadi ibu rumah tangga. Walaupun menjadi ibu rumah tangga tidak memiliki jenjang karier, tapi sebenarnya pekerjaan adalah sebuah pilihan profesi juga. Tentunya pilihan menjadi ibu rumah tangga tidak seharusnya memasung perempuan dalam mengembangkan eksitensi dirinya.

Tapi seringkali nada keheranan terdengar kalau saya mendaftar seminar dan memerlukan mengisi kolom  pekerjaan. Padahal tanpa memperkaya pengetahuan pribadi maka ilmu yang dahulu diperoleh di bangku sekolah maupun kuliah akan menjadi tertinggal, sehingga pada saat dibutuhkan mungkin sudah tidak kompetitif lagi. Dari sudut pandang berbeda, maka pengeluaran untuk kegiatan ekstra di luar urusan rumah tangga menjadi beban finansial yang akan membebani pengeluaran rumah tangga. Maka bisa jadi seorang ibu secara otomatis mengurangi pengeluaran ini untuk biaya anak-anaknya.

Beberapa tulisan saya yang masuk dalam tulisan opini harian cetak sebelum saya mengenal situs jurnalisme warga, saya kirim dengan status sebagai ibu rumah tangga. Seingat saya hanya satu yang menuliskan profesi saya sebagai ibu rumah tangga dalam keterangan pengantar mengenai penulis, tapi itupun dengan mencantumkan tambahan profesi freelance, dan organisasi.

Menjadi Pewarta Warga

Benar juga pendapat sebagian orang yang menganggap jurnalisme warga sebagai jurnalisme akar rumput (grassroots journalism), karena suara ibu rumah tangga yang mungkin sulit mendapatkan ruang di halaman cetak tetap bisa terdengar melalui jurnalisme warga.

Hampir setiap orang yang saya temui, mempertanyakan alasan yang membuat orang mau menjadi pewarta warga tanpa imbalan materi untuk waktu dan biaya yang dikeluarkan. Bagi saya pribadi, menjadi pewarta warga adalah sebuah jalan untuk berbagi sesuai dengan kemampuan saya, sambil menghidupkan api gairah menulis secara konsisten. Secara idealistis mungkin saya ingin juga menyumbangkan sesuatu bagi negara dalam kapasitas saya sebagai ibu rumah tangga, berbagi suara untuk kepentingan perdamaian dan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak bangsa.

Tahun ini anak kembar saya masuk ke Sekolah Dasar sementara mereka belum bisa membaca, sebuah masalah untuk masuk sekolah dasar di Indonesia.  Sejak bulan Februari 2008 saya sibuk berkutat dengan permasalahan mereka, tentunya waktu yang bisa saya bagikan untuk kegiatan jurnalisme warga menjadi berkurang. Hal ini terasa sekali dalam kontribusi saya ke OhmyNews.com. Kalau tahun lalu saya menulis sebanyak 23 artikel, maka tahun ini menciut menjadi 6 artikel. Sementara di wikimu.com, tulisan saya tahun ini berjumlah 82 tulisan (tidak termasuk tulisan ini bila tertayang sebelum 2009). Dari daftar anggota saya lihat total tulisan saya ada 180, berarti tahun lalu saya lebih produktif dengan 98 tulisan. Sementara untuk harian cetak saya hanya menghasilkan satu tulisan, itupun karena mendapat undangan menulis mengenai citizen journalism dari Harian Merdeka untuk terbitan simulasi mereka pada tanggal 10 Oktober 2008 lalu. Kehadiran situs jurnalisme warga membuat gairah saya mengirim artikel ke harian cetak memang berkurang, terutama karena di portal jurnalisme warga artikel yang dimasukkan lebih cepat dan lebih pasti tertayang.

Turun drastisnya tulisan saya untuk OhmyNews bukan karena perubahan sistem apresiasi tulisan yang berupa cybercash, tapi lebih karena kebutuhan waktu dan konsentrasi dalam menulis bagi portal internasional ini  jauh lebih tinggi. Sebenarnya ada beberapa undangan dari portal jurnalisme warga internasional yang menawarkan insentif tunai (walaupun tidak besar), tetapi belum saya terima karena faktor waktu dan “kendala pribadi”, lagipula tahun ini saya banyak menulis hal-hal yang sangat lokal.

“Kendala pribadi” saya beri tanda kutip, karena selain bermacam alasan pribadi, sebenarnya saya sendiri sedang bingung dengan status sebagai pewarta warga. Saya bingung memilih antara menjadi blogger saja, atau tetap berada di jalur pewarta warga. Kenapa? Karena dengan menjadi blogger saja, saya mungkin bisa fokus pada satu topik yang akan menguntungkan saya pada akhirnya. Sementara menjadi pewarta warga berarti tetap mempertahankan blog Buah Pena sebagai buku harian seorang pewarta warga yang berfungsi sebagai media sosial.

Beberapa teman dari Ohmynews yang memiliki latar belakang jurnalistik menjauhi kehadiran blog karena menurut mereka kehadiran blog menghabiskan waktu mereka, entah apabila ada alasan lain di baliknya. Tetapi toh orang-orang seperti Dan Gillmor, Steve Outing, dan Vincent Maher juga mempunyai blog mereka masing-masing. Sekarang para jurnalis professional Indonesia juga secara terang-terangan membuka blog mereka, termasuk juga harian konvensional yang membuka pintu untuk kehadiran blog.

Menjadi blogger juga membuat saya harus memilih, tetap sebagai bridge blogger yang mengunakan bahasa asing di blognya, atau lebih fokus ke dalam negeri dengan memakai bahasa Indonesia. Menjadi bridge blogger membuat saya harus memilih topik-topik yang mungkin bisa bergaung di luar negeri. Dan terkadang karena bukan berasal dari dunia jurnalistik, sering terasa sulit meramu sebuah berita lokal masuk ke dalam perspektif internasional.

Terkadang status blogger ini juga membuat saya ragu untuk mewawancara orang dalam upaya mencari berita yang lebih mendalam dan akurat. Atau timbul perasaan bersalah bila tidak berhasil menuangkan hasil wawancara ke dalam bentuk tulisan. Hal ini seringkali terjadi  pada artikel untuk portal OhmyNews yang sangat memperhatikan tenggat waktu untuk berita yang meliput peristiwa.  Wikimu lebih baik hati dalam banyak hal, termasuk dalam membantu penempatan foto-foto yang seringkali saya terima beres. Di OhmyNews semua itu harus saya kerjakan sendiri, kecuali dalam beberapa kasus dimana editor berbaik hati membantu tapi dengan syarat hanya satu atau dua foto saja.

Dalam refleksi tahun ini saya bersyukur bahwa saya memiliki kesempatan mengenal dunia pewarta warga. Setidaknya tahun ini saya menghasilkan 88 artikel bagi portal jurnalisme warga, dan juga tambahan tulisan untuk blog yang tidak sempat saya hitung. Blog mengenai koleksi perangko dan kartu pos masih terbengkalai, mungkin akan menjadi perhatian saya tahun depan. Keseimbangan dalam membagi waktu dan perhatian tampaknya juga akan menjadi prioritas utama, terutama dengan adanya krisis keuangan dunia yang mungkin mau tidak mau akan mempengaruhi kinerja sebagai pewarta warga di tahun mendatang, terutama bila koneksi internet yang murah tapi lancar sulit diperoleh.

source: http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=12447

pb: mattula_ada@live.com

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=12447

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: