Pewarta Warga: Pencarian Jati Diri (2)

by: Retty N. Hakim

Problema utama saya sebagai pewarta warga adalah waktu. Bagaimana menyediakan waktu untuk menulis dengan berimbang dan obyektif sekaligus pencarian informasi secara langsung adalah kendala terbesar bagi saya. Karena itu menulis dengan tenggat waktu merupakan kesulitan yang nyata terasakan selama dua tahun bergelut dalam dunia jurnalisme warga ini.

Dahulu, seorang teman yang mantan wartawan profesional pernah menasehati agar saya lebih mengasah kemampuan menulis feature, karena tulisan seperti itu yang lebih awet dan lebih mudah “dijual”. Saya yang cenderung menyukai menulis opini memang harus banyak belajar berkisah dengan memandang sebuah peristiwa dalam bingkai feature. Terbiasa belajar menulis opini dan feature membuat saya harus menyesuaikan diri lagi dengan tuntutan piramida terbalik yang biasa digunakan dalam sebuah penulisan berita (news). Hal ini yang seringkali menjadi sorotan editor dari OMNI (OhmyNews International) ketika membaca tulisan saya. Walaupun tidak secara langsung menyentil struktur berita yang saya buat, biasanya saya diingatkan untuk meletakkan paragraf pembuka (lead) yang menarik di bagian atas.

Saya juga sering mendengar bahwa jurnalisme warga lebih cenderung ke arah feature dan opinidaripada hard news. Tapi, sebagai pembaca saya seringkali menemukan bacaan menarik justru di halaman-halaman opini dan feature . Karena itu lebih mudah bagi saya untuk tidak mengindahkan masalah gaya penulisan. Buat saya menulis bagaikan aliran air sungai yang mengarah ke laut, terkadang mungkin sedikit berbelok tapi akhirnya ke laut juga. Gaya penulisan seperti ini yang membuat pembaca tulisan saya mengatakan bahwa saya terlalu mengikuti emosi. Dan kejelekannya, mungkin seringkali saya jadi kehilangan fokus dalam berkisah.

Masalah fokus dan sampainya isi berita akan lebih mudah terbaca bila ada yang mengomentari tulisan yang diturunkan. Di Wikimu, fungsi editorial ini dilakukan langsung oleh pembaca lewat kolom komentar. Sebenarnya saya pernah bereksperimen juga meminta bung administrator Wikimu yang baik hati untuk mengomentari dua tulisan saya; satu tulisan yang memang disiapkan untuk Wikimu, dan satu lagi tulisan dalam bahasa Inggris yang saya siapkan untuk OMNI. Ternyata masukan dari administrator Wikimu cukup memperlihatkan kejeliannya menangkap “lompatan-lompatan” dalam otak yang membelokkan alur cerita di beberapa tempat, atau dimana ada alur yang seharusnya digali lebih dalam.

Buat saya adanya kritikan memang menjadi bahan pembelajaran, tapi ada kemungkinan juga bagi orang lain bisa menjadi pematah semangat. Sama seperti ketika semangat menulis saya untuk OMNI melorot karena tuntutan yang tinggi sementara waktu konsentrasi saya kurang. Karena itu buat saya bentuk “bisa-bisanya kita…” dari Wikimu tetap menarik untuk melihat proses pembelajaran yang terjadi. Pembelajaran yang terutama adalah bagaimana tanggapan pembaca terhadap tulisan yang dimuat, karena hal itu akan membantu penulis mengetahui apakah misi tulisannya tercapai.

Jurnalisme warga semakin berkembang

Saat ini jurnalisme warga sudah semakin berkembang, harian cetak juga berlomba-lomba memberikan tempat bagi suara warga. Begitu pula dengan kehadiran media interaktif di internet yang membukakan pintu suara bagi warga dalam komunikasi dengan pewarta profesional.

Sebenarnya beberapa media cetak konvensional di Indonesia dari dahulu memang memberikan tempat bagi suara warga dalam rubrik opini, maupun kontribusi tulisan feature. Perkembangan situs jurnalisme warga tampaknya juga membantu membukakan pintu untuk berkembangnya kontribusi suara warga di dalam lembaran harian cetak. Harian Kompas misalnya semakin memperkuat barisan “Muda”nya. The Jakarta Post tampak memperbesar porsi suara pembacanya. Beberapa harian cetak lain mengatakan membuka pintu bagi jurnalisme warga di hariannya. Salah satu harian lama yang baru bangun lagi yakni Harian Merdeka, juga berangkat dengan slogan akan menjadi pintu interaktif bagi citizen journalism, hal itu yang membuat saya diundang menulis pada edisi simulasi mereka. Perkembangan ini merupakan sinergi yang baik bagi harian cetak dengan jurnalisme warga, yang tentunya akan lebih menguntungkan harian cetak bila dikelola dengan serius dengan sentuhan editorial pada artikel warga yang ditampilkan.

Koneksi internet lancar masih termasuk mahal bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal ini terkadang mengganggu kelancaran memasukkan berita maupun foto. Terkadang editor dari OMNI merasa heran karena tidak ada masalah dalam sistem mereka, tetapi artikel dan foto saya tidak berhasil masuk kesana. Kesulitan koneksi menjadi kendala bagi kecepatan memasukkan tulisan, belum lagi waktu yang terbuang untuk mengirimkannya.

Kehadiran media cetak konvensional menjadi warna lain bagi jurnalisme warga. Seorang pedagang kaki lima juga bisa mengirimkan tulisannya ke sebuah buletin hanya berbekal kertas bekas bungkus nasi. Hal ini bukan fiksi, melainkan terjadi di Media Suara Warga Jakarta terbitan LSM Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), seperti yang tercatat di situs Satu Dunia.

Mengembangkan kemampuan mengeluarkan pendapat melalui tulisan, bukan melulu melalui demo dan tindakan anarkis akan semakin mengembangkan makna demokrasi di Indonesia. Tentu saja diharapkan bahwa pihak yang membaca dan berkepentingan dengan masalah yang disuarakan warga tidak sekedar ikut berkomentar lagi, melainkan menjadi masukan untuk mencari solusi masalah yang lebih tepat.

Harian Kompas mengangkat topik bagaimana mengaktifkan jurnalisme warga dalam kevakuman penulisan kritik seni yang berbobot. Hal ini menurut penulisnya, Ade Tanesia, juga akan mendorong terjadinya demokratisasi dalam seni rupa.

Sinergi para penyumbang suara

Satu keuntungan bagi jurnalis profesional dalam memperoleh akses berita adalah karena mereka memang bekerja di bidang tersebut. Hal ini juga yang menurut Ade Tanesia menjadikan tidak semua wartawan bisa menuliskan kritik seni dengan mudah, karena bidang kerja mereka yang berbeda. Berarti keuntungan seorang pengamat seni, seorang dokter, ataupun seorang analis saham dalam menghasilkan tulisan berbobot dalam bidangnya bisa jadi akan lebih besar dari seorang jurnalis profesional.

Kemungkinan terbesar kendala yang dimiliki warga non jurnalis adalah sempitnya waktu, bahkan mungkin juga kemampuan menulis yang tidak terasah. Portal jurnalisme warga di internet adalah akses tanpa batas bagi pembaca daring yang memungkinkan interaksi atau komunikasi yang akan menghasilkan pemikiran yang lebih tajam dan obyektif. Semakin banyak dan beragam warga yang menyumbangkan suara mereka tentunya akan semakin berbobot hasil akhir yang bisa diperoleh.

Para jurnalis profesional juga memerlukan waktu untuk meramu semua informasi yang mereka miliki sebelum menyajikan yang terbaik kepada pembaca. Tuntutan agar menerima berita terkini tetap memerlukan pula kepiawaian dalam meramu tulisan itu. Setidaknya seorang profesional akan lebih dimampukan untuk itu karena memang membuat alokasi waktu dan biaya untuk itu.

Undangan atau aksestabilitas untuk pewarta warga dalam suatu acara/jumpa pers mungkin akan terjadi seiring dengan meningkatnya kepercayaan kepada blogger. Hal ini sebenarnya juga bisa mengurangi kehadiran wartawan amplop. Bila warga berhak untuk ikut mendengar apa yang disampaikan kepada pers, secara otomatis penyalenggara acara akan kerepotan bila masih mau menyediakan amplop. Tentu saja sekali lagi kredibilitas sebagai blogger sangat dibutuhkan.

Keinginan untuk berbagi dan bertumbuh bersama sangat penting dalam membentuk sinergi antara pewarta warga dengan media konvensional agar sama-sama mendapatkan sesuatu yang berarti dari kegiatan jurnalisme. Pada dasarnya tujuan akhir dari kegiatan jurnalisme ini adalah pelayanan masyarakat, sama-sama mengusahakan perbaikan dalam kehidupan bermasyarakat, serta bertumbuhnya pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam menjalani kehidupannya.

source: http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=12738

pb: mattula_ada@live.com

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=pewarta%20warga%3A%20pencarian%20jati%20diri%20(1)&source=web&cd=2&ved=0CCUQFjAB&url=http%3A%2F%2Fwww.wikimu.com%2FNews%2FDisplayNews.aspx%3Fid%3D12738&ei=kPhuT525OomsrAflqb2hDg&usg=AFQjCNFGz65oB8_yrOeZneTM2vEkB_Neyg&cad=rja

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: