Pewarta Warga: Pencarian Jati Diri (1)

by: Retty N. Hakim

Sebagai pewarta warga yang mengikuti dua situs jurnalisme warga, wikimu.com sebagai portal lokal dan OhmyNews International (OMNI) sebagai portal internasional, seringkali saya merasa berdiri di antara dua kutub.

Wikimu dengan slogan “bisa-bisanya kita” merupakan kutub dimana posisi sebagai warga terasa sangat besar, sementara OMNI merupakan kutub yang lain dengan porsi jurnalistik terasa lebih kuat.

Berada di antara kedua kutub ini membuat saya mengalami beberapa pergulatan pikiran karena sering terjadi tarik ulur di antara kedua kutub ini.

Warga atau Jurnalis?

Awal memulai perjalanan bersama OMNI saya mengalami banyak benturan. Tulisan yang saya masukkan tanpa konsultasi kepada senior editor, langsung masuk ke kotak tak layak tayang.

Kemudian saya juga harus menerima foto saya dianggap tidak layak tayang karena tidak meminta izin kepada obyek foto (penyalenggara acara) untuk penayangan foto tersebut di media. Beberapa aturan mengenai pemakaian foto dan izin pengambilan foto membuka mata saya terhadap aturan-aturan yang berlaku di dunia internasional.

Yang paling menjengkelkan bagi saya adalah masalah tenggat waktu. Liputan yang tidak segera dikirimkan pernah ditolak mentah-mentah dengan alasan berita sudah basi. Pernah juga saya diminta untuk menambah dari 500 kata menjadi paling sedikit 800 kata, atau kali lain malahan diminta menyingkat menjadi kurang lebih 800 kata. Kalau sudah tidak disetujui oleh editor, percuma saya kirimkan, pasti masuk kotak sampah lagi. Ada beberapa tulisan yang menurut saya sudah melalui pengecekan fakta yang akurat dan berisi hal yang penting dan benar, akhirnya saya masukkan saja ke blog saya Buah Pena. Ternyata ada juga tanggapan pembaca yang masuk.

Awalnya saya rajin menulis dengan menggunakan link dari berbagai media lokal. Tujuan saya supaya suara media lokal juga diperhatikan di luar negeri. Link yang saya ambil biasanya harian cetak yang saya anggap cukup bonafid. Tapi kemudian saya pernah membaca kritikan terhadap pewarta warga yang dianggap hanya sekedar menyadur dan menggabungkan berita darimainstream media. Hal ini kemudian membuat saya lebih fokus menulis berita yang saya liput sendiri.

Kesulitan muncul ketika saya merasa membutuhkan press release untuk mendapat info yang lebih obyektif dan akurat. Padahal tanpa kartu identitas pers, ada perasaan menjadi tamu tak diundang yang mengemis ingin minta undangan. Hal ini hampir sama dengan yang diungkapkan Yunus Bani Sadar dalam tulisan “Wartawan Warga, Bodrek, dan Identitas” (lihat http://www.wikimu.com/News/displaynews.aspx?id=12066)

Kebetulan mas Yunus mendengar percakapan saya dengan bung Enda Nasution dalam Pesta Blogger Nasional 2008 (PB 2008) seputar akses blogger yang berfungsi sebagai pewarta warga ke dalam acara jumpa pers ataupun untuk mendapatkan press release. Karena itu saya merasa mendapat pencerahan membaca tulisan ”Jurnalis Warga(2) Tak Kenal Dirjen? EGP…” dari Duto Sri Cahyono (lihat http://www.wikimu.com/News/displaynews.aspx?id=12071). Toh sebenarnya saya, mungkin sama dengan pewarta warga lain, tidak begitu menikmati acara Jumpa Pers. Tetapi tidak bisa saya pungkiri bahwa dalam acara “Jumpa Pers” banyak juga pertanyaan kritis dari wartawan yang tadinya tidak terpikirkan oleh saya sebagai warga. Hal itu membantu saya juga untuk lebih kritis dalam memandang suatu masalah. Di luar itu saya juga jadi bisa mengamati berapa besar atensi media terhadap sebuah kegiatan/ acara, berapa besar tempat yang tersedia di media cetak untuk hasil liputan mereka.

Memiliki Press Release bagi seorang warga juga bisa merugikan. Saya beruntung pihak Kompas mau memberikan saya kesempatan mengikuti salah satu acara jumpa pers untuk acara Indonesia Japan Expo 2008 dengan memperkenalkan diri sebagai pewarta warga dari OMNI. Kemudian, karena kekurangan waktu (setelah mendahulukan menurunkan tulisan bagi wikimu) saya tergesa menulis bagi OMNI, rupanya gaya bahasa saya sangat terpengaruh oleh press release yang saya pegang. Hal itu langsung terendus oleh senior editor, saya diminta mengganti paragraf pembuka yang menurutnya sangat mirip dengan gaya press release (dia belum tahu kalau saya memang memegang Press Release). Saya jadi tersadar betapa besar pengaruh tenggat waktu dan kepiawaian seorang jurnalis senior untuk mengolah artikelnya menjadi hidup dan dengan bahasa yang khas penulis itu sendiri. Seorang rekan jurnalis profesional yang berasal dari Jepang ketika saya minta membaca tulisan saya di OMNI malah merasa kehilangan sentuhan yang lebih “rakyat” dari tulisan tersebut. Kemungkinan gaya peliputan ini tidak akan ada bila saya menulis hanya berdasarkan catatan saya pribadi tanpa memperdulikan kehadiran Press Release.

Korea Selatan, asal OMNI, mungkin juga mengenal wartawan “bodrex” atau bahkan wartawan profesional yang menyalahgunakan kartu identitas pers mereka. Karena itu, OMNI tidak mengenal kartu identitas bagi pewarta warganya. Ketika saya diundang ke Seoul tahun 2007 ternyata banyak pewarta warga lokal yang membuat sendiri kartu nama mereka dengan logo OhmyNews.com (kartu nama bukan kartu pers), tapi tampaknya pewarta warga internasional tidak ada yang melakukan hal ini.

Dengan tuntutan jurnalistik yang terasa tinggi tanpa bekal kartu identitas memang terasa berat, sampai pernah saya berpikir: “Apakah OMNI hanya menginginkan netizen yang jurnalis dan mantan jurnalis profesional? Atau sungguh menginginkan juga kontribusi warga?” Saat ini saya sendiri dalam proses mengenali bagaimana menjadi blogger sekaligus pewarta warga.

Bung Enda Nasution dalam perbincangan singkat kami di PB 2008 mengatakan setidaknya tingkat kesadaran jurnalistik seorang “pewarta warga” diharapkan lebih tinggi daripada blogger lainnya. Kata pewarta warga saya tulis dalam tanda kutip karena pada dasarnya semua blogger adalah pewarta warga, seperti kata Oh Yeon Ho, “every citizen is a reporter”, tapi “pewarta warga” yang masuk dari komunitas pewarta warga seharusnya lebih menyadari fungsinya sebagai pewarta.

Pengalaman di OMNI membuat saya termasuk rajin protes (secara pribadi) kepada pengelola wikimu.com. Bahkan, karena tahu bahwa tiga orang pendirinya adalah jurnalis profesional, saya sempat berburuk sangka; “Apakah mereka sengaja membiarkan supaya terlihat kepada khalayak bahwa kemampuan pewarta warga memang hanya seperti ini?” Tapi penjelasan dari Bayu Wardhana, editor dan administrator wikimu.com, membuat saya mengetahui bahwa tujuan utama wikimu.com adalah pembelajaran bagi anggota komunitas untuk berani mengeluarkan pendapat dan belajar saling menghargai pendapat orang lain. Dengan gaya wikimu yang sekarang ini, saya memang melihat beberapa orang yang semula tidak “PD” (percaya diri) menulis, akhirnya memberanikan diri untuk menulis, sampai menjadi terbiasa menulis. Biasanya yang lebih terasah adalah kepekaan untuk melihat dan merekam pengalaman hariannya atau kejadian yang kebetulan disaksikannya.

Mungkin seperti yang saya katakan kepada Tristram Perry, Pejabat Atase Pers dari Kedutaan Amerika, di Pesta Blogger Nasional 2007: “Kalau saya menulis, saya ingin orang tahu bahwa yang menulis adalah seorang ibu rumah tangga. Kalau saya menulis yang bersinggungan dengan politik, bisa jadi itu adalah cara pandang seorang ibu rumah tangga terhadap masalah tersebut yang terbentuk dari berbagai sumber berita yang masuk kepada saya. Saya bukan politikus ataupun pengamat politik, saya hanya seorang ibu rumah tangga.” Jadi setiap pewarta warga dengan latar belakang berbeda akan memberikan warna yang berbeda kepada portal jurnalisme warga. Karena itu pula pengaruh ‘blogging’ menjadi kuat di dalam jurnalisme warga, walaupun mencoba meliput dengan obyektif tetap saja subyektivitas kemungkinan akan ada di dalamnya. Banyak pembaca yang memang mencari portal jurnalisme warga karena mencari subyektivitas ini, mencari pandangan warga terhadap suatu kejadian, acara, ataupun produk. Pembaca yang mencari suara berbeda dari suara di media konvensional.

Karena itu pesan Pepih Nugraha (wartawan) dan Budi Putra (mantan wartawan yang menjadi ‘full time blogger’) dalam sesi bahasan jurnalisme warga di Pesta Blogger 2008 adalah agar pewarta warga menjadi diri sendiri, menulis hal yang memang mereka kuasai, serta tetap cek dan recek dalam menuliskan beritanya. Dengan begitu mungkin suara baru ini akan semakin berarti kehadirannya. Hal lain yang terungkap dari sesi ini adalah sikap akan saling mendukung bagi pewarta warga yang tersangkut kasus hukum selama dalam penulisan berita pewarta warga tersebut sudah mengikuti kode etik jurnalistik, karena itu perlu juga bagi pewarta warga untuk mengetahui kode etik jurnalistik.

Jadi, ingin jadi pewarta warga atau jurnalis profesional? Andalah yang memilih! Jurnalis professional juga warga dan berhak bersuara sebagai warga. Sementara untuk menjadi jurnalis profesional tentunya pendidikan lapangan serta jam terbang mereka akan menunjukkan profesionalitas mereka. Tentu saja tidak tertutup kemungkinan bagi warga untuk menjadi jurnalis profesional di kemudian hari (walaupun rasanya kemungkinan ini hanya berlaku untuk yang berusia muda).

Yang penting untuk keduanya miliki adalah kredibilitas, karena yang menentukan apakah sebuah tulisan layak menjadi “berita” (mungkin bisa juga dibaca sebagai “bacaan”) adalah pembaca, dan pembaca biasanya hanya setia kepada sumber berita yang mereka percaya. Gaya bahasa penulisan adalah masalah selera pasar.

Tulisan saya yang selalu serius tidak selalu menarik pembaca untuk membacanya, tapi toh pembaca di internet tidak terbatas jumlahnya. Pembaca tulisan di wikimu tidak selalu anggota komunitas wikimu saja. Karena itu kredibilitas nama menjadi hal yang sangat penting. Kalau menjaga kredibilitas namanya, maka tidak akan ada penulis yang berani menjadi “serigala” dengan memasukkan berita yang tidak benar. Sanksi sosial akibat tidak memperhatikan kredibilitas bisa menjadikan penulis kehilangan pembacanya. (bersambung)

source: http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=12503

pb: mattula_ada@live.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: