Menyorot Kredibilitas Reportase dalam Jurnalisme Warga

by: Joko Martono

Dari sebutannya saja sebagai: jurnalisme warga (baca: citizen journalism), apalagi penyebarluasan informasinya disampaikan melalui media online. Mestinya tidak akan “pas” bahkan terlalu naif kalau tiba-tiba dibandingkan dengan hasil kerja para jurnalis profesional yang bekerja untuk media mainstream (suratkabar, majalah, radio, televisi, kantor berita, dan sebagainya). Terutama dalam hal kualitas produk, misalnya hasil reportase – tentu lebih memiliki bobot pemberitaan yang dikelola media mainstream karena telah diperkuat barisan pewarta terlatih.

Jika dilihat karakteristik medianya saja sudah berbeda, ketersediaan sumber daya manusia, pendanaan, organisasi/kelembagaan, rekrutmen pewartanya juga berlainan, sehingga dari secuplik cermatan aspek tersebut maka proses dan mekanisme kerja untuk membuahkan suatu reportase jelas tidaklah akan sama.

Pewarta profesional yang bekerja untuk mengisi rubrikasi di media mainstream telah dibekali kemampuan jurnalistik. Walaupun mereka berlatar belakang keilmuan berbeda namun sudah digodok dalam sebuah pelatihan internal (in house training). Teknik peliputan terhadap peristiwa selalu mempertimbangkan akurasi, presisi, cover bothside, nilai berita disesuaikan kode etik dan muaranya tentu menghasilkan reportase yang benar.

Di samping itu, dalam sistem maupun mekanisme kerja secara organisatoris – jurnalis profesional tunduk pada pemegang otorita di atasnya, hasil peliputan harus diolah melalui seleksi ketat sebelum dipublikasi atau dikonsumsikan kepada khalayak.

Sedangkan dalam jurnalisme warga, justru sebaliknya. Sebab itulah beberapa sisi perbedaan tersebut sebenarnya sudah menunjukkan sejauhmana kredibilitas reportase yang telah dihasilkan oleh pewarta warga. Pertanyaan ringan menjadi layak dilontarkan, bagaimana mungkin tanpa pemahaman jurnalistik yang memadai – pewarta warga pada umumnya (semua orang/tanpa pandang bulu ikutan memasok dan menyebarkan informasi) bisa menghasilkan reportase berkredibilitas atau layak dipercaya?

Dalam kaitan penampilan reportase di kompasiana.com bilamana ada yang berpendapat masih perlu dipertanyakan validitas data atau sumber pemberitaan, malahan ada yang semakin melebar dengan menyebutkan beralih fungsi – menurutku ini terlalu lebay-lah. Menjadi kurang relevan (walau pun telah di amini sebagian kalangan) karena dasar pijakan yang dipakai “jelas-jelas tidak jelas” sehingga ke arah mana maksud dan tujuan tulisan menjadi semakin bias.

Kehadiran jurnalisme warga sesungguhnya memiliki nilai lebih. Setelah era reformasi bergulir, rakyat punya ruang untuk langsung menyuarakan aspirasi maupun opininya. Setiap warga punya peluang sama untuk memberikan kontribusi, “siapa saja boleh menjadi pewarta dan menulis tentang apa saja” tanpa dibayar, apalagi mengharap bayaran.

Namun kehadiran para pewarta atau jurnalis warga dapat di-ibaratkan “pisau bermata dua.” Di satu sisi, bisa menguntungkan atau memiliki nilai lebih karena media mainstream mempunyai keterbatasan daya jangakau peliputan bahkan tidak mampu meng-cover seluruh peristiwa yang terjadi di wilayah luas seperti Indonesia. Dalam hal inilah keberadaan pewarta/jurnalis warga menjadi penting untuk membantu peliputan dan penyebaran informasi yang pantas diketahui khalayak.

Sebagai contoh, Cut Putri, seorang warga Aceh berhasil merekam detik-detik pertama tsunami Aceh tahun 2004 lalu merupakan sebuah reportase warga yang memiliki nilai pemberitaan. Hasil jepretan beliaulah media mainstream menjadi terbantu untuk mengangkat peristiwa itu sebagai berita utama. Bukankah ini merupakan suatu fungsi yang telah diberikan oleh pewarta/jurnalis warga yang selanjutnya berperanan dalam menyebarluaskan pesan-pesan mendesak dan perlu segera diketahui masyarakat luas?

Di sisi lain memang harus diakui bahwa kehadiran jurnalis warga bisa saja merugikan, dalam artian karena keakuratan datanya dinilai banyak kalangan belum setaraf dengan jurnalis profesional. Hal demikian bukan lantas kita buru-buru memvonis dan selalu nyinyir memojokkan keberadaan jurnalisme warga serta para pengelolanya tanpa dasar pemahaman yang kuat. Gejala tersebut bisa dimaklumi karena berbagai aspek yang melingkupinya sangat berbeda dengan jurnalisme profesional sehingga kredibilitas pewartaan maupun reportase dalam kancah jurnalisme warga masih memerlukan filter guna memilah dan memilihnya.

Harapan kita semua, terutama kepada para pewarta warga, di mana pun dan di media apa pun berkiprah, seyogyanya tidak asal-asalan dalam mengirim, memasok atau memosting sebuah produk berupa tulisan, termasuk dalam meliput, mengolah dan menyebarluaskan informasi tanpa mempertimbangkan dampak-dampak yang ditimbulkannya kelak di kemudian hari.*

source: http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2011/06/09/menyorot-kredibilitas-reportase-dalam-jurnalisme-warga/

pb: mattula_ada@live.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: