Catatan Pewarta Warga: Perangi Praktik Jurnalistik yang Tidak Etis

by: Retty N. Hakim

Sebuah artikel singkat dari halaman Humaniora harian Kompas, Senin, 23 Maret 2009 menarik perhatian saya. Judul artikel tersebut adalah “Perangi Jurnalistik yang Tidak Etis”, berisi imbauan Dewan Pers agar masyarakat dapat membantu memerangi praktik-praktik jurnalistik yang tidak etis demi penegakan kemerdekaan pers. Bagaimana pewarta warga bisa ikut serta di dalamnya?

Dalam Surat Terbuka Dewan Pers kepada Pemerintah Daerah di Seluruh Indonesia, Sabam Leo Batubara selaku Wakil Ketua Dewan Pers, dikutip oleh harian Kompas mengatakan: “Mereka yang mengaku wartawan itu memeras, memaksa, atau mengancam narasumber.” Sejumlah keluhan dan pengaduan kemudian masuk ke Dewan Pers mengenai penyalahgunaan profesi wartawan.

Pernyataan tentang Praktik Jurnalistik yang Tidak Etis yang sudah dikeluarkan Dewan Pers tanggal 5 Maret 2008, memuat 4 poin utama:

1.     Wartawan wajib menegakkan prinsip-prinsip etika, sesuai dengan kode etik jurnalistik (KEJ). Wartawan tidak melakukan pemaksaan dan klaim sepihak terhadap informasi yang ingin dikonfirmasikan.

2.     Wartawan tidak boleh menerima suap (amplop) dari narasumber.

3.     Masyarakat berhak menanyakan identitas wartawan dan mengecek kebenaran status media tempatnya bekerja. Masyarakat berhak menolak melayani wartawan.

4.     Dewan Pers menghimbau agar komunitas wartawan dan pers bahu membahu bersama masyarakat memerangi penyalahgunaan profesi wartawan dan melaporkan ke polisi.

Praktik jurnalistik seperti ini yang membuat Ohmynews dan Wikimu, tidak mengeluarkan kartu identitas bagi netizen atau pewarta warga di internet. Posisi pewarta warga, walaupun adanetizen yang profesinya memang adalah wartawan, adalah tetap sebagai bagian dari masyarakat.

Intisari edisi Februari 2009 memuat tulisan “Ramai-ramai Jadi Wartawan Warga”. Di salah satu bagian tulisan itu saya diwawancara dalam posisi sebagai wartawan warga dari OhmyNews International. Sebenarnya saya sendiri lebih senang memakai istilah pewarta warga daripada istilah wartawan warga. Himbauan Dewan Pers di atas membuat saya meninjau etimologi kata pewarta dan wartawan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (edisi keempat, tahun 2008) diberikan definisi:

Warta: berita, kabar

Pewarta: orang yang mewartakan

Wartawan: Orang yang pekerjaannya mencari dan menyusun berita untuk dimuat di surat kabar, majalah, radio, dan televisi; juru warta; jurnalis

 

Kalau saya membaca kata “pekerjaannya” sebagai “memiliki profesi” maka citizen journalist tidak bisa diterjemahkan sebagai jurnalis warga, melainkan hanya sebagai pewarta warga. Mengapa? Karena makna profesional sendiri antara lain antara lain adalah adanya pembayaran untuk melakukannya, belum lagi diperlukan juga kepandaian khusus untuk menjalankannya. Apakah tulisan saya di wikimu akan menerima bayaran? Tidak. Bahkan,  sekarang OhmyNews International juga tidak lagi memberikan insentif per artikel, melainkan diganti dengan pemberian hadiah bulanan (dalam bentuk uang tunai) untuk beberapa netizen terpilih.

Dalam beberapa artikel saya terdahulu, masalah identitas ini memang pernah saya angkat. Yang paling jelas menggambarkan pergumulan saya mengenai masalah identitas sebagai pewarta warga bisa dibaca pada artikel bersambung “Pewarta Warga: Pencarian Identitas Diri”. Di dalam kebimbangan akan kebutuhan identitas diri sebagai penunjang dalam mencari informasi dan mendekati narasumber, saya juga amat menyadari kemungkinan penyalahgunaan identitas pewarta warga oleh oknum yang kurang bertanggung jawab.

Arya Gunawan, pengajar Program Studi Jurnalistik FISIP UI kepada Intisari mengatakan idealnya antara media tradisional dengan para penggiat jurnalisme warga harus saling bekerja sama. Satu catatan penting bagi wartawan dikemukakan Arya adalah bahwa wartawan kini dituntut untuk mengetahui standar profesinya seperti akurasi, kejujuran, keberimbangan, obyektivitas, yang semuanya masuk dalam etika jurnalistik. Di atas semua itu dibutuhkan disiplin untuk selalu melakukan verifikasi.

Sebagai pewarta warga, identitas diri dibutuhkan terutama dalam mencari informasi dan verifikasi. Tetapi bagaimana sebuah portal penggiat jurnalisme warga bisa melakukan verifikasi tanggung jawab anggota komunitasnya dalam turut serta menjunjung tinggi etika pers? Hal ini hanya bisa dikembalikan ke nurani setiap anggota komunitas itu.

Sebenarnya dengan adanya kerjasama yang baik antar masyarakat dengan media, seharusnya keberadaan pewarta warga justru bisa menjadi kontrol bagi wartawan amplop maupun aparat korup. Dengan terbukanya akses bagi warga untuk menyuarakan berita dari sudut pandang sebagai masyarakat, maka praktik jurnalistik yang tidak etis seharusnya bisa dihilangkan. Wartawan sebagai ujung tombak media, tapi tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi media. Dengan hadirnya pewarta warga, diharapkan pelayanan aparat Negara kepada semua warga berlaku sama. Setiap warganegara berhak memperoleh informasi dan pelayanan yang dibutuhkannya. Wartawan bisa saja menerima perlakuan khusus yang membuat liputannya luput melihat celah-celah yang ternyata dirasakan oleh warga masyarakat. Justru dari celah ini peran pewarta warga menjadi besar artinya. Wartawan kemudian bisa melakukan investigasi yang lebih mendalam berdasarkan informasi dari pewarta warga. Fungsi kontrol timbal balik bisa terjadi bila ada kerjasama antara pewarta warga sebagai bagian dari masyarakat dengan wartawan sebagai bagian dari media massa, dengan pemerintah dan anggota legislatif sebagai pemegang mandat pengelolaan Negara dari rakyat.

Tujuan kehadiran pewarta warga sebenarnya adalah menghadirkan obyektivitas dan pelayanan pers yang lebih baik, serta membangun masyarakat dan Negara yang lebih baik. Dengan tulisan yang bertujuan ikut membangun, serta keikutsertaan menjaga nama baik pewarta warga sebagai bagian dari masyarakat, mari kita ikut memerangi praktik jurnalistik yang tidak etis.

source: http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=13577

pb: mattula_ada@live.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: