Afriyani Effect

by: Indra Sastrawat

The Profumo Affair merupakan sebutan bagi politikus yang tersandung skandal. Sebutan ini berawal dari kisah John Profumo seorang politisi Inggris Raya yang berselingkuh dengan mata-mata Rusia bernama Christine Keeler. Kasus ini dianggap memalukan dan akhirnya membuat John Profumo mengundurkan diri. Skandal ini juga mengubah cara media dalam meliput skandal sex politik, di mana tidak ada lagi yang ditutup-tutupi, membongkar tuntas semuanya sekaligus menghancurkan integritas para politisi dan membawa jatuhnya pemerintahan.

Di sepakbola dikenal istilah Bosman. Bermula dari keinginan Jean Marc Bosman yang ingin pindah ke klub baru, namun klub berusaha menghalangi proses perpindahan Bosman. Bosman lalu melaporkan hal itu ke Pengadilan Eropa, lewat perjuangan panjang Bosman memenangi gugatan. Para pemain Uni Eropa yang kontraknya telah habis, boleh pergi dengan bebas. Klub barunya pun tidak perlu menyetor sejumlah uang pada klub lama merupakan salah satu isi dari aturan Bosman.

Maka wajar nama seseorang diabadikan untuk suatu peristiwa besar yang pernah terjadi pada suatu masa.

Pekan lalu bulan Januari 2012, sebuah peristiwa tragis terjadi. Sebuah minibus yang dikendarai Afriyani Susanti menabrak 12 pengendara, 9 diantaranya tewas. Dari hasil penyelidikan diketehaui semalam sebelum kejadian tragis itu, Afriyani habis berpesta narkotika dan minuman keras dengan sobatnya.Effek dari pesta semalam bisa dilihat dari sikap innocence si Afriyani sehabis menabrak para korban tersebut. Sepertinya pengaruh dari narkoba dan miras belum hilang dari kepala Afriyani, efek yang ditimbulkan pemakai narkoba sejenak bisa menghilangkan kesadaran penggunanya seperti yang terjadi pada diri Afriyani Susanti, Afriyani Effect.

Gambar: Afriyani, sang pengemudi brutal

Dan seperti Profumo dan Bosman, maka sebentar lagi nama Afriyani akan digunakan untuk istilah bagi pengendara brutal.

Pengendara yang berada dibawah pengaruh narkoba dan miras dan mengakibatkan kecelakaan mungkin punya istilah baru yaitu Afriyani Effect. Kejadian tragis sabtu kelabu yang menewaskan 9 orang ini pantas masuk dalam lembaran kelam transportasi kita.

Dampak lain dari tragedi Tugu Tani yang bisa menggiring opini pemerintah dan masyarakat untuk mengubah banyak kebijakan:

1.   Narkoba masih menjadi salah satu pembunuh terbesar di Indonesia. Kalau selama ini ada anggapan kalau pemakai narkoba hanya merugikan pemakainya, maka dengan kejadian di Tugu Tani membuka mata, hati dan pikiran kita bahwa narkoba bisa membahayakan orang disekitarnya. Pemerintah harus menghukum seberat-beratnya bagi pemakai dan pengedar narkoba.

2.   Diskotik atau klub malam masih merupakan sarang bagi peredaran narkoba dan miras, artinya kerja polisi masih jauh dari kata memuaskan. Razia minuman keras selama ini tidak mampu mematikan bisnis minuman haram ini. Diskotik perlu mendapat pengawasan yang ketat, kalau perlu sebaiknya ditutup saja.

3.   Walau dari hasil olah TKP rem minibus dalam kondisi baik namun kita tidak boleh menutup mata dengan tingginya jumlah kecelakaan lalu lintas dari mobil minibus. Pemerintah perlu mengkaji ulang kelayakan minibus sejenis Xenia dan Avanza ini, setahu saya kedua mobil ini tidak lolos uji kelayakan di benua Eropa, entahlah mungkin standar kecelakaan Eropa dengan negeri kita memang berbeda, walau kita semua tahu nyawa orang Eropa dan Indonesia sama nilainya.

4.   Hikmah lain dibalik peristiwa ini adalah betapa pentingnya arti sebuah asuransi. Ketika musibah datang dimana kepala rumah tangga menjadi korban maka klaim asuransi bisa membantu anggota keluarga yang ditinggalkan. Sering kali tangisan keluarga bertambah panjang tidak hanya rasa sedih kehilangan orang disayang tapi juga rasa khawatir tentang masa depan si anak yang ditinggalkan. Manfaat lain asuransi mampu meringankan biaya perawatan di rumah sakit.

5.   Tidak bisa ditutupi lagi gaya pergaulan di kota-kota besar dan mungkin juga di seluruh negeri ini telah banyak perubahan. Gaya hura-hura yang gemar berpesta seringkali menimbulkan dampak negatif. Dari pesta narkoba, pesta miras hingga pesta seks dianggap biasa, padahal pemuda merupakan tiang Negara.

6.   Hukuman pidana bagi pengendara brutal di Indonesia termasuk sangat rendah maksimal 6 tahun. Bandingkan di Amerika pengendara yang memakai narkoba dan miras dan menyebabkan kematian dihukum antara 15 tahun hingga 45 tahun. Bisa saja dengan Afriyani Effect ini, hukum pidana kita bisa saja berubah.

Dan semoga Afriyani effect mampu menyadarkan kita semua untuk lebih arif di jalan raya, menghormati nyawa yang mulia titipan dari Tuhan maha pencipta, jangan lupakan bahwa kesalahan sedetik dan sekecil apapun di jalan raya mampu menghadirkan malapetaka yang besar.

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: