Profesi Termahal di Negeri Ini: Menjadi Anggota DPR

by: Indra Sastrawat

Pernah anda bertanya ke anak-anak tentang cita-cita mereka ??? sebagian besar mereka menjawab “jika besar ingin menjadi dokter, Insinyur, pilot, pemain bola, aktris” hampir tidak ada yang menjawab ingin menjadi anggota DPR. Ketika masih kanak-kanak mereka masih waras, namun ketika dewasa sepertinya kewarasan mereka telah sirna.

Diatas hanya sekedar ilustrasi sederhana, betapa profesi yang dekat dengan masyarakat menjadi pilihan, lalu apakah menjadi anggota DPR tidak mendekatkan seseorang dengan rakyat ??? Faktanya menjadi anggota DPR bukan lebih mendekatkan seseorang dengan rakyat tapi mendekatkan mereka dengan sel tahanan karena gemar korupsi, mendekatkan mereka dengan uang hingga sense of crisis menjadi hilang, mendekatkan mereka dengan golongan kaya yang menyebabkan mereka menjadi selebritis baru.

Anggota DPR mendapatkan ketenaran yang tinggi, mereka bagai terbang ke langit ke-7 namun lupa untuk mendarat ke bumi. Biaya untuk mendapatkan satu kursi di strata terendah di DPRD kota/daerah saja minimal harus menghabiskan uang pribadi seratus juta rupiah (Rp. 100 juta), satu kursi DPRD Provinsi lebih mahal lagi minimal dua ratus lima puluh juta rupiah (Rp. 250 juta) dan paling mahal satu kursi DPR pusat harganya selangit satu milliar rupiah (Rp. 1 milliar), pantas saja jika terpilih mereka bagai terbang ke langit ke-7.

Biaya ini jauh lebih mahal dari kuliah bertahun-tahun untuk menjadi seorang dokter spesialis, dengan uang sebanyak itu ratusan mungkin juga ribuan pelajar bisa kuliah sampai strata 3 di universitas terbaik di dunia. Tidak berlebihan jika profesi wakil rakyat merupakan profesi yang mahal, dimana hanya segelintir orang yang mampu meraih mimpi sebagai wakil rakyat terhormat.

Seorang filsuf  Yunani kuno bernama Plato pernah berujar bahwa seorang anggota senat mestinya tidak usah menerima gaji dari negara, alasannya sederhana menjadi senator merupakan kehormatan, dan kehormatan tidak pantas dibayar dengan uang rakyat. Pilihan ini tentu sulit mengingat biaya tinggi menjadi anggota DPR. Maka tidak mengherankan jika ada calon anggota DPRD di pulau Sulawesi yang menjual istrinya demi biaya kampanye, dan banyak kasus lagi dimana calon wakil rakyat yang menjual asetnya demi ketenaran sebagai wakil rakyat.

Ibarat berdagang seorang anggota DPR yang terpilih sekuat tenaga mengembalikan semua duit pribadi yang telah di investasikan di ladang politik. Permasalahannya adalah gaji dan tunjangan anggota DPR rasa-rasanya tidak mampu membuat Break even point atau bahasa awamnya kembali modal dalam waktu yang singkat, belum lagi gaya hidup parlente membuat post pengeluaran wakil rakyat ini semakin buncit. Jalan pintasnya adalah ramai-ramai melakukan mark-up.

Solusi paling ampuh adalah menekan biaya tinggi pemilihan kita, mengawasi setiap pengeluaran negara yang rawan di gerogoti parpol, membatasi setiap sumbangan yang masuk ke kas parpol dan transparansi laporan keuangan. Jika beberapa point diatas bisa dilaksanakan, saya yakin harga satu kursi di DPR tidak semahal seperti sekarang, dan menjadi wakil rakyat bukan lagi mimpi bagi rakyat di negeri zamrud khatulistiwa.

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: