Tutur Tinular, Abu Nawaz, dan PSSI Siluman

by: Indra Sastrawat

Generasi tahun 90an pasti kenal dengan sandiwara radio terpopuler bernama Tutur Tinular. Sandiwara yang berlatar sejarah ini menjadi hit pada zamannya. Arya Kamandanu, Mei Shin, Ranggalawe hingga Mpu Tong Bajil membuat angan-angan kecil kami mengembara ke suatu dimensi sejarah masa lalu. Sandiwara ini memang fenomenal. HIngga di akhir decade 90an Tutur Tinular menjelma di layar kaca, dan pamor Tutur Tinular tetap mempesona.

Tergiur oleh rating tinggi, akhir tahun lalu muncul lagi versi terbaru Tutur Tinular dengan nama Tutur Tinular versi 2011. Berbeda dengan sebelumnya Tutur Tinular versi baru menyimpang dari cerita aslinya. Seperti munculnya tokoh dalam cerita Mahabarata dalam cerita tersebut, lalu property dan setting gambar yang kadang menampilkan aspal atau menara Telkom. Persoalan lain adalah melencengnya cerita dari alur sejarah, kostum pemain yang tidak sesuai dengan latar sejarah Majapahit dan Singosari, dan munculnya music pop dangdut dalam cerita padahal music ini tidak menggambarkan budaya masa itu.

Setelah diamati ternyata antara Tutur Tinular versi 2011 punya benang merah dengan PSSI Siluman atau PSSI versi KPSI.

1.      Munculnya tokoh diluar struktur yang menjadi ketua umum PSSI bayangan tersebut. Di luar struktur karena La Nyala menyalahi aturan yang mensyaratkan calon ketum minimal 5 tahun sebagai pengurus PSSI.

Foto: Ketua KPSI, La Nyalla Mattaliti

2.      Kemunculan KPSI  ini seperti ingin mengulang kembali masa-masa lalu zaman Nurdin Halid dulu, sama persis dengan munculnya  Tutur Tinular 2011.

3.      Tokoh pentolan KPSI banyak membelokan fakta sesungguhnya tentang PSSI. Berdalih atas nama kongres Bali mereka menjadi pembelot. Sama persis dengan Tutur Tinular versi 2011 yang ceritanya telah melenceng dari cerita aslinya.

4.      Dibalik kehadiran KPSI tidak bisa dielakkan karena pengaruh duit, orang-orang KPSI seperti cacing kepanasan karena kebijakan baru PSSI yang melarang klub professional memakai APBD. Belum lagi karena penunjukan MNC Group sebagai pemegang hak siar live mengusik beberapa oknum. Kejadiannya sama dengan munculnya Tutur Tinular versi 2011 yang hanya ingin meraup keuntungan.

5.      Ketua umum KPSI sekarang adalah politisi salah satu partai gurem yang gagal menembus pemilu 2014, speertinya dia memang sengaja dating menggoyong PSSI seperti sebuah melodi lagu dangdut yang bersayu-sayu. Bila ditarik benang merahnya maka KPSI mirip dengan sebuah iringan lagu dangdut dalam sinetron Tutur Tinular versi 2011.

***********

Kelakuan KPSI atau PSSI bayangan yang memang mencita-citakan sepakbola kita kena sanksi dari FIFA  mirip dalam kisah Abu Nawaz.

Alkisah pada suatu hari datang dua orang wanita menghadapa baginda raja. Mereka yang sedang mempersengketakan seorang anak, sama-sama keduanya mengklaim anak mereka. Sang raja bingung menentukan siapa sebenarnya ibu sah anak tersebut ??? lantas sang raja menyerahkan masalah ini ke Abu Nawaz. Kemudian Abu Nawaz ditunjuk menjadi hakim antara keduanya. Keesokan paginya kedua ibu tersebut dipanggil dalam persidangan.

Lama berargumentasi keduanya sama-sama mengklaim anak tersebut adalah anak mereka. Lalu muncul inisiatif Abu Nawaz membagi dua anak tersebut. Salah satu ibu tersebut histeris mendengar penyataan Abu Nawaz sedangkan ibu yang lain gembira dengan solusi Abu Nawaz. Sambil berurai airmata si ibu tadi mengikhlaskan anak tersebut menjadi milik ibu yang satunya dari pada harus membagi dua anak itu yang sama saja membunuhnya. Melihat kejadian itu Abu Nawaz akhirnya mengetahui siapa sesungguhnya pemilik sah anak itu, tiada lain adalah seorang ibu yang dari tadi menangis tidak sudi anaknya terbagi dua.

Bila ditarik benang merahnya ke persoalan dualisme sepakbola kita, sesungguhnya ibu yang tidak sudi membagi dua anaknya adalah PSSI pimpinan Djohar Arifin yang tidak rela jika PSSI terbagi dua.

Foto: Ketua PSSI, Djohar Arifin Husin

Sedangkan ibu jahat yang gembira melihat anak terbagi dua tiada lain adalah para gerombolan KPSI yang telah mengatur strategi PSSI terbagi dua dan kemudian mendapatkan sanksi dari FIFA yang di analogikan sebagai anak yang terbagi dua yang pastinya akan mati. Sedang Abu Nawaz dari cerita ini tiada lain adalah FIFA sendiri yang semoga bijak memandang persoalan ini.

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: