No Tipping, No Undertable


by: Indra Sastrawat

Dalam buku karya Purdi E. Chandra “Cara Gila Jadi Pengusaha” disalah satu babnya di tulis tentang pengalaman si penulis ketika menginap di salah satu hotel di Jakarta. Ada yang unik di hotel tersebut yaitu pihak manajemen hotel melarang bellboy untuk menerima tip sebagaimana lazimnya hotel-hotel. Dan anjuran itu dilaksanakan seluruh staf termasuk bellboy dengan sepenuh hati. Hasilnya kinerja hotel menjadi bagus.

Bukan hanya tip tapi juga bakpia, intinya semua karyawan dilarang menerima pemberian dari tamu hotel, no tipping no bakpia, begitu centilan bung Purdi E. Chandra. Bagi karyawan yang diketahui menerima tip akan dikeluarkan.

Saya lantas membayangkan seandainya polisi dan aparat Negara bisa melakukan seperti yang dilakukan bellboy itu.Alangkah indahnya negeri ini semuanya berjalan sesuai dengan prosedur. Polisi tidak usah jadi calo di jalanan hanya untuk selembar duit haram.  Juga aparat Negara dari lurah sampai pejbat Negara tidak perlu lagi ngobyek untuk mengincar duit-duit haram. Dan keluarga pun makan dari uang halal, bersekolah dengan uang halal, berobat dengan uang halal hingga naik haji juga dengan uang halal, tapi mungkin kah itu bisa terjadi !!! atau itu hanya bisa terjadi di sebuah negeri Utopia seperti dalam kamus Plato.

Padahal tiap tahun bermilyar-milyar duit Negara habis untuk menggelar diklat sekedar mengajarkan arti sebuah etika dan menghindari prilaku korup.

Pernah suatu hari kampung kami kedatanagn seorang polisi muda berpangkat perwira menengah. Alumnus sekolah kepolisian ini juga merupakan salah satu polisi terbaik di Jawa, kehadiran polisi ini dimanfaatkan untuk berdiskusi. Salah satu pertanyaan dari warga kampung adalah menyoal kebiasaan polisi meminta upeti layaknya raja di zaman feodal dulu.

Tidak ingin malu sang polisi muda ini menjawab bahwa di kepolisian sedang digalakkan reformasi dan budaya seperti itu berusaha dihilangkan, terus soal upeti masih biasanya terjadi kalau warga yang kasusnya diselesaikan oleh polisi memberikan rasa terima kasihnya dengan memberi uangtanda terima kasih. Lantas apa duit itu diambil, Tanya warga ???..iya, kami ambil karena itu sukarela. Saya lantas mengamini dalam hati bahwa mental polisi memang tidak lebih baik dari mental bellboy.

Tanpa merendahkan profesi bellboy, saya mau sampaikan bahwa untuk menjadi bellboy tidak perlu ijazah yang tinggi, kalau begini jadi polisi tidak perlulah berijazah toh kualitasnya tidak lebih baik dari bell boy itu. Pengalaman lain ketika kerja di perusahaan swasta pelayaran, suatu hari saya mendapat tugas menemani seorang kawan untuk mengurus dokumen administrasi kapal kami. Sebenarnya saya diajak hanya kartena mereka khwatir kalau duit yang dibawanya itu kurang.

Dan benar saja, ketika rekan saya sementara didalam mengurus dokumen itu, saya ditelpon untuk ikut masuk katanya duitnya kurang. Setelah didalam teman menghampiri saya dan berkata duitnya kurang sejuta rupiah, saya bilang “ok, kita bayar asal ada bukti tanda terimanya”. Kata temanya  “tidak ada kuitansi untuk biaya ini, ini hanya uang tip saja” uang tip kok sampai satu juta.

Karyawan itu atau tepatnya kepala seksi hanya berkata itu sudah biasa dan termasuk biaya undertable. Sebagai seorang akuntan saya belum pernah menemukan dalam akun yang namanya biaya undertable atau biaya dibawah meja alias biaya siluman, ini hanya akal-akalan saja mendapatkan duit tambahan. Karena bingung saat di jurnal sebagai biaya yang mana maka biaya ini saya kategorikan biaya lain-lain.

Begitu susahnya menghilangkan budaya tip di lingkungan birokrat kita. Sampai-sampai tertanam dalam image sebagian besar  bahwa yang berseragam ini bermental korup, padahal saya yakin tidak semua aparat mau menerima uang tip seperti bellboy di salah satu hotel di Jakarta. Dalam episode ini mental polisi tidak jauh beda dengan bellboy, atau kalau dalam pertandingan skorsnya draw atau seri.

Lalu beranikah polisi, jaksa, hakim, lurah, dll berkata No tipping No undertable !!! hehehehe atau haruskah kita menyandarkan pada seleksi alam saja, yaitu menunggu satu generasi korup ini hilang Dari bumi lalu lahir tunas-tunas baru yang bersih. Saya bahkan tidak yakin kalau tunas-tunas baru ini bisa bersih, soalnya mereka sekolah dan makan dari duit-duit haram generasi sebelumnya hingga mereka mewarisi sifat selalu minta tip. Kalau begitu saya hanya berharap kepada Tuhan yang maha kuasa untuk mengubahnya.

salam

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: