Gawat, Mahasiswi Rela Jadi Pengemis!

by: Indra Sastrawat

Adzan Magrib baru saja lewat, lampu penerangan jalan remang-remang memantul di jalanan. Angin sepoi-sepoi seperti mengirim isyarat kesejukan. Sekelompok anak muda dengan wajah ceria baru saja mendatangi sebuah mobil sambil melantunkan sebait lagu. Suaranya benar-benar fals tapi semangatnya luar biasa. Sekilas tiada yang luar biasa dari persitiwa yang baru saja saya alami, kecuali bahwa yang barusan mengamen itu ada sekelompok mahasiswa dengan memakai jas almameter.

Melihatnya rasa kecewa berkecamuk dalam dada saya. Saya tidak menyangka anak-anak muda dengan jas almamaternya tidak lebih baik dari para gempel di lampu merah. Jas almamater seharusnya balutan kehormatan seorang intelektual muda.

Sebuah kardus sebagai penggangti kotak sumbangan di pegang manis oleh seorang mahasiswi. Dengan senyum lembutnya dia mendatangi satu persatu pengendara jalan berharap ada yang membuang selembar rupiah atau sebuah koin eceran. Di kardus sumbangan tertulis kalimat singkat “sumbangan bakti sosial”. Entah apa yang di dalam benak para mahasiswa dan mahasiswi yang jumlahnya sekitar 5-6 orang. Sesulit itukah mendalang dana untuk kegiatan mahasiswa sampai mereka menjual harga diri sebagai pengamen di jalanan.

Setahu saya, sepuluh tahun silam ketika mahasiswa dana kemahasiswaan juga sangat terbatas tapi maaf kami tidak pernah berpikir untuk lari ke jalanan sebagai pengemis atau pengamen. Jalanan bagi kami adalah mimbar untuk rakyat bukan mimbar peminta.

Kejadian malam itu bukan yang pertama saya alami di Makassar. Pernah, ketika sedang mengisi bensin di SPBU di depan pintu Satu Unhas, seorang mahasiswi mendatangi saya untuk menawarkan sebuah coklat yang harganya tidak lebih dari 2000 rupiah. Di jualnya coklat itu seharga Rp. 5000 (lima ribu rupiah), katanya untuk kegiatan kemahasiswaan.

Seorang pengendara didekat saya, tertarik untuk menanyakan almamater para mahasiswi ini, jawabnya singkat saya dari politeknik, jas hitam sebenarnya sudah menjawab pertanyaan tadi. Si penanya langsung merespon dengan jawaban singkat pula “itu kampus saya dulu” sambil memberikan duit 10.000 (sepuluh ribu). Mereka sebenarnya bukan sedang jualan coklat tapi sedang mengemis,bahkan di mall sekalipun harga sebuah coklat itu tidak lebih dari 2000 rupiah.

Pengalaman ketiga juga satu temui di lampu merah depan pintu satu Unhas, lagi-lagi mahasiswi manis sedang menebar senyum sambil menenteng kardus sumbangan. Yang membuat dada saya sesak adalah mereka mengenakan jas merah, jas kehormatan bagi warga Makassar, jasi ini pernah di kenakan oleh Jusuf Kalla, Tenri Abeng hingga Arifin Tumpa.

Yang membuat dada saya sesak karena mereka mengaku dari Fakultas Ekonomi dan bisnis. Dari nama fakultas saja bisa di ketahui bahwa anak-anak muda ini harusnya telah mengerti tentang kewirahusaan, minimal paham sedikit tentang ekonomi fiskal, dan jika takdir mengizinkan mereka nanti itu otak kebijakan ekonomi nasional kita.

Sebuah fakta yang memalukan. Apakah ini buah dari yang namanya privatisasi Universitas ataukah ini buah dari kurangnya perhatian rektorat terhadap kegiatan kemahasiswaan. Sekali lagi tiga kejadian diatas hanya contoh kecil, dibalik itu saya masih yakin ada anak muda negeri ini yang berpikir kreatif.

Beberapa saat lalu, sebuah proposal elegan datang di kantor kami. Sebuah kegiatan  seminar internasional tentang ekonomi syariah akan di lakukan di kampus Unhas, pelaksana kegiatannya membuat saya bangga adalah adik-adik junior saya. Toh mereka mampu, lalu kenapa harus tersesat di jalanan menjadi pengemis dan pengamen. Tinggal bagaimana mahasiswa ini bisa mengemas kegiatan mereka dengan elegan dan cantik, dengan membuat proposal yang layak untuk dijual.

Salam

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: