Manfaat Hebat Saat Shalat!!

by: Mattula’ada

Mungkin diantara kita masih banyak yang bertanya-tanya: “Mengapa Allah memerintahkan umat Islam untuk shalat? Bukankah shalat hanya menyita waktu kita dalam melakukan suatu aktivitas?”. Pendapat seperti inilah mungkin, yang banyak menyebabkan umat Islam malas untuk mengerjakan shalat.

Shalat adalah bentuk ibadah yang paling penting dan paling hakiki dalam Islam. Banyak ulama yang mengatakan bahwa tanpa shalat, segala bentuk ibadah lain yang kita kerjakan, boleh dikata tidak ada artinya. Oleh sebab itu, mereka mengatakan bahwa shalat merupakan tiang agama. Kalau tiangnya saja sudah rapuh, bagaimana bisa membangun pondasi iman yang kokoh?

Shalat tidaklah mengganggu pekerjaan yang kita lakukan. Kita hanya diperintahkan mengerjakan shalat yang sifatnya wajib selama 5x sehari semalam, yang terdiri dari : shalat maghrib (3 raka’at), shalat isya (4 raka’at), shalat shubuh (2 raka’at), shalat dhuhur (4 raka’at), dan shalat ashar (4 raka’at). Misalkan Anda adalah seorang pegawai kantoran yang masuk kantor jam 08.00 dan pulang pukul 16.00. Satu-satunya jadwal shalat yang ada pada waktu demikian adalah shalat dhuhur yang dapat dikerjakan pada saat jam makan siang, serta shalat ashar yang dapat dikerjakan pada saat jam pulang kantor, dimana masing-masing shalat tsb dapat dilakukan dalam waktu kurang lebih hanya 10 menit (termasuk berwudhu). Bahkan shalat shubuh (yang harus dikerjakan pada waktu shubuh dengan tempo kurang lebih hanya 7 menit [termasuk wudhu]) dapat membuat kita cepat bangun agar tidak telat masuk kantor.

Bagaimana jika ditempat kita kurang atau tidak ada air untuk berwudhu, atau kita berada dalam kondisi tertentu (misalnya sakit), dimana tidak memungkinkan untuk berwudhu dengan air? Untuk sebab ini, kita dapat bertayamum, yaitu menyapukan tanah (debu) yang suci ke muka dan kedua tangan, dengan niat untuk membolehkan bershalat dsb. Seandainya dengan bertayamum pun tidak memungkinkan (misalnya karena tidak adanya tanah yang bersih atau kita dalam keadaan terbelenggu dsb), maka kita tetap wajib mengerjakan shalat, walaupun tanpa wudhu dan tanpa tayamum. Walaupun tidak memenuhi aspek kebersihan jasmani, namun niat yang tulus untuk beribadah sudah cukup memenuhi aspek kebersihan rohani, sebagai pemisah antara amalan duniawi dan amalan ibadah mahdhah seperti shalat dsb.

Apabila seseorang terlupa atau tertidur sehingga keluar waktu shalat, maka ia diharuskan melaksanakannya segera setelah teringat atau terbangun dari tidurnya itu. Jika Anda berada dalam perjalanan jauh, Anda dapat mengqashar (memperpendek) raka’at shalat atau menjamak (menggabungkan) waktu shalat secara bersamaan; tergantung kondisi yang sedang Anda hadapi pada saat itu.

Jikalau Anda sakit parah, dan hanya dapat terbaring lemas ditempat tidur, maka Anda diperbolehkan untuk melakukan gerakan shalat sesuai kemampuan, bahkan jikapun hal ini tidak dapat dilakukan, maka cukup membaca bacaan shalat dalam hati saja.

Lalu, mengapa orang shalat harus menghadap kiblat (Ka’bah)? Anda bisa bayangkan jika Anda melakukan shalat berjama’ah di mesjid, dimana ada beberapa jamaah yang menghadap ke timur, sementara yang lainnya menghadap ke barat, utara, atau selatan; sungguh hal tersebut akan saling mengganggu antar jamaah dan pada akhirnya shalat tidak akan dapat berjalan dengan baik. Selain itu, shalat akan terasa sangat janggal (tidak enak) dipandang mata. Lagipula dengan bersama-sama menghadap kiblat, shalat kita akan terasa khusyuk dan kitapun dapat merasakan akan indahnya ‘kebersamaan’.

Namun ada pula pengecualian untuk hal ini, yaitu apabila seseorang berada dalam keadaan ketakutan yang sangat (misalnya ditengah-tengah berkecamuknya pertempuran atau keadaan huru hara yang membahayakan jiwanya, atau dalam upaya menyelamatkan hartanya dari kebakaran, kebanjiran, dsb, sementara waktu shalat telah mendesak), maka dibolehkan baginya shalat sambil berjalan atau berlari, walaupun tepaksa hanya membaca di dalam hati, tanpa ruku’ dan sujud, serta tanpa menghadap kiblat.

Seorang ulama besar bernama An-Nawawi menjelaskan dalam ‘Al-Majmu’, “Apabila tiba waktu shalat fardhu, sedangkan mereka para musafir sedang berkendaraan, lalu seseorang merasa takut, jika turun dari kendaraannya untuk shalat menghadap kiblat akan tertinggal dari rombongannya, atau khawatir atas keamanan dirinya atau hartanya, maka ia tetap tidak dibolehkan meninggalkan shalat sehingga keluar waktunya. Demi menjaga ‘kehormatan waktu’ shalatnya itu, ia wajib melaksanakannya diatas kendaraan (walaupun sambil duduk dengan ruku’ dan sujud sekedarnya, serta tanpa menghadap kiblat).” Hal ini berlaku pula bila Anda berada di kereta api atau pesawat terbang, yang adakalanya mengalami hal serupa. Namun alangkah baiknya jika Anda merasa sanggup, Anda dapat mengulangi shalat Anda tsb setelah sampai di tempat tujuan atau di suatu tempat yang layak, bila memang waktunya masih memungkinkan.

Dari pemaparan-pemaparan diatas, nampak terlihat bahwa Allah SWT menghendaki kemudahan buat umatnya, bukan kesukaran, sebagaimana firmanNya dalam S. Al-Baqarah [2] ayat 185 berikut :

……Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…….

Terlepas dari semua itu, shalat dapat mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar, karena kita selalu ingat kepada Allah SWT yang memerintahkan kita agar kita bertaqwa. Lagipula, apalah sumbangsih dan wujud terima kasih kita kepada Allah sebagai Tuhan yang memberikan kita segala kenikmatan (yang tidak dapat diperoleh oleh makhluk lainnya), kalau bukan dengan menyembah-Nya. Allah berfirman :

Artinya :

014. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaahaa [20] : 14)

Artinya :

045. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-‘Ankabuut [29] :45)

Selain itu, ternyata gerakan shalat yang benar dapat memberi efek kesehatan bagi tubuh. Shalat dianggap sebagai amalan ibadah yang paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Gerakan-gerakannya sudah sangat melekat dengan gestur (gerakan khas tubuh) manusia. Sudut pandang ilmiah menjadikan shalat sebagai ‘obat’ bagi berbagai jenis penyakit, serta yang terpenting adalah sebagai pencegahan dari serangan suatu penyakit. Masing-masing gerakannya mempunyai manfaat yang tak terbayangkan sebelumnya. Berikut ini penjelasannya :

a.Takbiratul Ihram, yakni berdiri tegak, lalu mengangkat kedua tangan sejajar telinga atau bahu, dan melipatnya di depan dada bagian bawah. Gerakan seperti ini melancarkan aliran darah, getah bening (limfe), dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung dibawah otak memungkinkan darah mengalir lancar ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua tangan didekapkan didepan dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.

(Gambar: Gerakan Takbiratul Ihram)

b.Ruku’, yakni dalam posisi yang sempurna ditandai dengan tulang belakang yang lurus. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang. Postur ini bermanfaat menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat syaraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi relaksasi bagi otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah latihan kemih untuk mencegah gangguan prostat.

(Gambar: Gerakan Ruku’)

c.I’tidal, yakni posisi bangun dari ruku’, tubuh kembali tegak setelah mengangkat kedua tangan setinggi telinga atau bahu. I’tidal adalah variasi postur setelah ruku’ dan sebelum sujud. Gerak berdiri setelah ruku’ dan sebelum sujud merupakan latihan pencernaan yang baik. Organ-organ pencernaan didalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Efeknya, pencernaan menjadi lebih lancar.

(Gambar: Gerakan I’tidal)

d.Sujud, yakni posisi menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai. Manfaatnya, aliran getah bening dipompa ke bagian leher dan ketiak. Posisi jantung diatas otak menyebabkan darah kaya akan oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang, sehingga dapat memacu kecerdasan. Karena itu, lakukan sujud dengan tuma’ninah, jangan tergesa-gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Postur ini juga menghindarkan gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik rukuk maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan, juga memudahkan proses persalinan.

(Gambar: Gerakan Sujud)

e.Duduk, terdapat dua macam, yaitu iftirosy (tahiyyat awal) dan tawarru’ (tahiyyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki. Manfaatnya, saat iftirosy, kita bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan syaraf nervus ischiadus. Posisi ini menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarru’ sangat baik bagi pria, sebab tumit menekan aliran kandung kemih (urethra), kelenjar kelamin pria (prostata) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan dengan benar, postur ini mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarru’, menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.

(a)                           (b)

{Gambar (a): Duduk iftirasy antara kedua sujud. Kedua telapak tangan diatas lutut, telapak kaki kiri diduduki dan telapak kaki kanan tegak diatas lantai. Gambar (b): Bentuk dan sikap duduk iftirasy. Kaki kiri diduduki, kaki kanan berdiri tegak dengan jari-kari dihadapkan ke arah kiblat.}

(Gambar: Duduk tasyahud akhir dengan sikap tawarru’. Kaki kiri diselorohkan di bawah kaki kanan sehingga bersilangan. Telapak kaki kanan diberdirikan bertumpu pada ujung jari yang dilipat menghadap kiblat)

f.Salam, yakni gerakan memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal. Manfaatnya adalah relaksasi otot sekitar leher dan kepala,menyempurnakan aliran darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala dan menjaga kekencangan kulit wajah.

(Gambar: Gerakan Salam)

Dari hal-hal yang telah dijelaskan diatas, kita dapat berkesimpulan betapa besar nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Bahwa ternyata segala apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya itu justru mempunyai manfaat yang sangat besar bagi kita dan semata-mata untuk kepentingan kita juga.

Maka tidaklah mengherankan jika Allah berfirman :


Artinya :

031. Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan. 032. Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. 033. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. 034. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari apa yang kamu mohonkan kepadaNya. Dan jika kamu menghitung ni`mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni`mat Allah). (QS. Ibrahim [14] : 31-34)

Artinya :

017. Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. 018. Dan jika kamu menghitung-hitung ni`mat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nahl [16] : 17-18)

Artinya :

100. Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maaidah [5] : 100)

Sumber:

~ Al-Qur’an dan Terjemahnya, 2002, Lembaga Penyelenggara Penterjemah Kitab Suci Al-Qur’an Departemen Agama, Jakarta.

~ http://aboutagama.blogspot.com

~ M. Quraish Shihab, 1999, Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat, Mizan, Bandung.

~ Muhammad Albani, 2007, Berobat Dengan Sedekah, Insan Kamil, Sukoharjo.

~ Muhammad Bagir Al-Habsyi, 2005, Fiqih Praktis: Menurut Al-Quran, As-Sunnah, dan Pendapat Para Ulama, Mizan, Bandung.

~ Moh. Zuhri, 1987, Kunci Ibadah Dengan Bimbingan Shalat Lengkap, Sayyidah, Bandung

wb: mattula_ada@live.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: