Makna Poligami Dalam Islam!!

by: Mattula’ada

A.Definisi Poligami

Poligami berarti sebuah system pernikahan yang membolehkan seseorang mempunyai lebih dari satu pasangan. Poligami ada dua macam, yaitu poligini dan poliandri. Poligini adalah seorang lelaki menikahi lebih dari satu perempuan, sedangkan poliandri adalah seorang perempuan menikah dengan lebih dari satu laki-laki. Di dalam Islam, poligini terbatas diizinkan, sedangkan poliandri dilarang secara mutlak.

B.Istri-istri Rasulullah saw

Terlalu banyak versi mengenai istri Nabi Muhammad saw. Ada yang mengatakan bahwa jumlah istri nabi hanya 4, ada pula yang mengatakan 9, 12, bahkan ada yang mengatakannya 18. Mengenai status istri Rasulullah sebelum dinikahi, banyak hadits menyatakan bahwa sebagian besar berstatus janda tua beranak yang mantan suaminya notabene merupakanpengikutRasulullah yang mati syahid di medan pertempuran. Agar istri-istri dan anak-anak dari para pejuang ini tidak terlantar dan tetap mendapatkan tempat yang terhormat, maka dipristrikanlah mantan-mantan istri dari para pejuang tersebut.

Sementara isteri pertama beliau,yaitu Siti Khadijah adalah seorang saudagar (pedagang) tersohor yang kaya raya dan meminang Rasulullah yang pada waktu itu masih menjadi karyawannya agar sudi untuk menjadi suaminya. Mengapa St. Khadijah bersikap demikian? Karena Khadijah sangat kagum terhadap kepribadian Nabi Muhammad yang sangat pandai berdagang tanpa pernah berbohong sedikitpun. Oleh sebab itulah beliau diberi gelar ‘Al-Amin’ (orang yang jujur dan dapat dipercaya) oleh orang-orang yang pernah mengenalnya. Gelar tsb diperoleh Rasulullah jauh sebelum beliau diangkat sebagai nabi oleh Allah swt. Sedangkan istri Nabi lainnya yang terkenal yaitu Aisyah. Siti Aisyah merupakan anak Abu Bakar (sahabat Rasulullah), dimana Abu Bakar sendiri yang memohon agar Rasulullah (Nabi Muhammad) sudi memperistrikan anaknya. Tentang usia pernikahan Aisyah yang katanya masih berusia 9 tahun, ini hanya berdasar satu hadits dhaif yang diriwayatkan oleh Hisyam bin ‘Urwah saat beliau sudah ada di Iraq, dalam usia yang sangat tua dan daya ingatnya sudah jauh menurun. Mengenai Hisyam, Ya’qub ibn Syaibah berkata, “Apa yang dituturkan oleh Hisyam sangat terpercaya, kecuali yang dipaparkannya ketika ia sudah pindah ke Iraq.” Malik ibnu anas pun menolak segala penuturan Hisyam yang sudah berada di Iraq.

Oleh para orientalis, hadits dhaif ini sengaja dibesar-besarkan untuk menjelek-jelekkan Rasulullah SAW. Padahal menurut kajian-kajian semacam al-Maktabah Al-Athriyyah (jilid 4 hal 301) dan juga kajian perjalanan hidup keluarga dan anak-anak dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, maka akan diperoleh keterangan kuat bahwa Aisyah sesungguhnya telah berusia 19-20 tahun ketika menikah dengan Rasululah SAW. Suatu usia yang cukup matang untuk menikah. Bagi yang mau lebih jauh menelusuri tentang keterangan ini, silakan menelusuri Tarikh al-Mamluk (Jilid 4, hal. 50) dari at-Thabari, Muassasah al-Risalah (Jilid. 2 hal. 289) dari Al-Zahabi, dan sumber-sumber ini dituliskan kembali oleh Dr. M. Syafii Antonio, M. Ec dalam buku “The Super Leader Super Manager: Learn How to Succeed in Business & Life From The Best Example” (ProLM; Agustus 2007). Jadi tidak benar tudingan dan fitnah para orientalis bahwa Rasulullah menikahi Aisyah di saat gadis itu masih berusia sangat belia.

Dari berbagai sumber yang diperoleh, kita dapat mengetahui bahwa Rasulullah menikahi istri-istrinya tidak berdasarkan pada nafsu safwat, namun lebih kepada untuk menjaga sekaligus menuntun aqidah mereka. Dan memang terbukti bahwa para istri Nabi tsb memiliki peranan yang sangat besar dalam membantu pengembangan syiar Islam. Perlu diketahui disini bahwa hingga usia 49 tahun, Nabi hanya punya 1 istri, yakni St. Khadijah yang telah berusia 40-an tahun dengan status janda beranak. Dengan demikian, selama 24 tahun (Rasulullah menikah pada usia 25 tahun) beliau tidak berpoligami .

Walau demikian, pada akhirnya Nabi Muhammad mendapat perintah dari Allah untuktidak kawin lagi, dan tentu saja Rasulullah menuruti perintah tsb. Hal ini terlihat pada QS. Al-Ahzaab [33] ayat 52 yang mengatakan :

“Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudahitu dantidak boleh(pula) mengganti mereka dengan isteri isteri (yanglain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan- perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki. Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu. “

Mungkin Allah merasa cemas jangan sampai Rasulullah sudah tidak sanggup berbuat adil lagi terhadap isteri- isterinya. Yah, bagaimanapun juga Nabi adalah seorang manusia yang tentunya juga memiliki kelemahan seperti kita-kita ini. Namun ada pula yang beralasan bahwa turunnya ayat tsb setelah semua tujuan mulia dari pernikahan Nabi tadi terpenuhi meskipun Nabi belum memiliki anak laki-laki.Perlu diketahui, bahwa hanya Khadijah istri Nabi yang memberikan anak, 4 putri dan 2 putra. Kedua putra nabi meninggal sebelum 1 tahun.

C. Firman Allah Tentang Poligami

Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci di muka bumi ini yang mencantumkan frasa “nikahi satu saja!!”. Tidak ada kitab lain yang menganjurkan laki-laki untuk memiliki satu istri saja. Tak satupun dalam kitab-kitab lain tsb, entah itu Weda, Ramayana, Mahabarata, Bagawat Gita, Talmud, atau Injil, bisa ditemukan batasan jumlah istri. Baru belakangan saja para pendeta Hindu dan Gereja membatasi jumlah istri menjadi satu saja.

Kebanyakan tokoh religius Hindu menurut kitab mereka mempunyai istri banyak. Raja Dasarata, ayah Rama, punya lebih dari satu istri. Krisna punya beberapa istri. Namun anehnya menurut hukum India hanya kaum muslimin yang diizinkan mempunyai lebih dari satu istri. Walau demikian, berdasarkan sensus penduduk India 1975, orang-orang Hindu lebih banyak berpoligini daripada umat Islam.

Pada zaman dahulu, laki-laki Kristen diperbolehkan memiliki istri sebanyak yang mereka mau karena Injil tidak membatasi jumlah istri (lihat situs: http://www.ladangtuhan.com/komunitas/aku-mau-bertanya/poligami-menurut-alkitab/). Baru beberapa abad lalu Gereja membatasi jumlah istri menjadi satu saja. Begitupun dalam agama Yahudi, poligini diizinkan. Menurut Hukum Talmud, Abraham mempunyai 3 istri dan Salomo punya ratusan istri. Praktik poligini berlangsung hingga rabi Gershom ben Yehudah (960-1030 M) mengeluarkan peraturan melarang hal itu. Komunitas Yahudi Sephardi yang berdiam di negara-negara Islam meneruskan praktik itu hingga tahun 1950, sampai undang-undang majelis tinggi rabi Israel memperluas larangan mempunyai istri lebih dari satu.

Kembali kepada Al-Qur’an, dalam QS. An-Nisaa’ ayat 3 dikatakan :

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Disini jelas Islam memperbolehkan seorang pria beristri lebih dari satu (maksimal 4) hanya dia jika mampu berlaku adil terhadap masing-masing isterinya. Bila merasa tidak mampu berbuat adil, maka cukup beristri satu saja.

Ket. gambar : Pemilik RM Wong Solo, H. Puspo Wardoyo, bersama keempat istrinya

Sumber: http://fajar-aryanto.blogspot.com/2010/03/h-puspo-wardoyo-pemilik-restoran-wong.html 

Mungkin diantara pembaca ada yang bertanya mengapa Rasulullah memiliki istri lebih dari 4 padahal dalam QS. An-Nisaa’ ayat 3 hal itu dilarang? Jawabannya seperti tercermin dalam QS 33:50 bahwa Nabi Muhammad diperkecualikan dari perintah tsb. Lalu mengapa bisa demikian?, berarti Allah tidak adil dong! Allah dengan ilmu-Nya yang tak terbatas mengetahui perangai tiap-tiap manusia. Rasulullah adalah manusia yang memiliki sifat mulia dan agung, yang belum ada seorang manusiapun yang hidup setelahnya mampu menandingi sikapnya. Dan terbukti kan bahwa manusia saat ini yang beristri 2 saja, rumah tangganya penuh gonjang-ganjing, apalagimau beristri seperti yang dilakukan Rasulullah (hmm.. entah apa yang akan terjadi). Selain itu, mungkin karena situasi dan kondisi pada waktu itu sehingga Allah berkata demikian (QS 33:50), sebelum akhirnya QS 33:52 turun.

Nah, yang mungkin menjadi pertanyaan selanjutnya adalah: “Mampukah seorang suami berlaku adil kepada setiap istrinya?”. Rasanya sangat sulit dan tidak mungkin. Allah pun mengetahui hal ini, yang tercermin pada firmanNya dalam QS. An-Nisaa’ [4] ayat 129 yang berbunyi :

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Selain itu dalam suatu hadits Rasulullah dikatakan :

“Barang siapa yang mempunyai dua istri, lalu ia lebih condong kepada salah satunya dibandingkan dengan yang lain, maka pada hari Kiamat akan datang dalam keadaan salah satu pundaknya lumpuh miring sebelah.” (HR. Lima)

Jadi sesungguhnya Islam sangat tidak menganjurkan seorang pria beristri lebih dari satu, karena bukanlah hal yang mudah. Namun disisi lain, Islam juga tidak mungkin melarang seorang pria beristri lebih dari satu karena berbagaialasan. Selain alasan seperti pada kasus Nabi Muhammad, juga karena ha lini masih jauh lebih baik daripada pria tersebut berselingkuh atau berzina dengan wanita lain sehingga dapat lebih menyakiti hati istri dan anak-anaknya. Sebagaimana kita ketahui,sangat banyak kasus perceraian yang terjadi di belahan bumi ini akibat suami berselingkuh (berzina) dengan wanita lain idamannya (WIL). Tentu ini sangat menyakiti hati seorang istri dan sangat mempengaruh ijiwa (mental) anak-anaknya. Memang dengan menikah lagi, bukan berarti tidak menyakiti hati anak dan istri sebelumnya. Namun dengan berzina, keluarga mereka akan menjadi bahan olok-olok masyarakat dan akan menimbulkan rasa malu yang luar biasa yang sanga tsulit dilupakan dari ingatan. Di Indonesia sendiri kasus seperti ini sangat sering kita dengar dalam suatu berita, misalnya yang terjadi pada para artis dan beberapaorang wakil rakyat (anggota DPR). Begitu pula disisi wanita yang lemah imannya yangsulit mendapatkan suami, maka diambillah jalan pintas menjajakan dirinya (menjadi WTS) yang selain bertujuan untuk mendapat uang yang berlimpah juga sekaligus untuk dapat merasakan nikmatnya bercinta. Namun ternyata akibat dari hal ini jauh lebih berbahaya, karena penyakit AIDS siap memangsa kapan saja tanpa terduga.

Selain itu, sebagaimana kita ketahui bahwa perbandingan kelahiran lelaki danperempuan boleh dikata sama di semua tempat. Tetapi dalam kematian anak, laki-laki yang matilebih banyak daripada perempuan.Ini karena ternyata bayi laki-laki lebih rentan terhadap penyakit dibanding bayi perempuan. Selain itu, selama perang, laki-laki lebih banyak yang terbunuh daripada perempuan. Lebih banyak laki-laki yang mati karena kecelakaan atau penyakit daripada wanita. Rata-rata masa hidup perempuan juga lebih panjang daripada masa hidup laki-laki. Hal ini terbukti dalam kehidupan sehari-hari bahwa kita lebih banyak menjumpai para janda daripada duda.

Setiap bangsa yang beradab mempunyai kelebihan wanita. Inggris 4 juta, Jerman 5 juta, Rusia 7 juta, dan lain-lain. Sementara di Amerika yang merupakan negara adidaya terdapat kelebihan wanita sebesar 7,8 juta jiwa dan cenderung terus bertambah seiring berjalannya waktu. Ini berarti bahwa bila setiap pria di Amerika menikah, masih ada 7.800.000 wanita yang tertinggal, wanita yang tidak akan mendapatkan seorang suami. Satu hal yang perlu diketahui adalah bahwa beberapa pria tidak akan pernah dapat menikah karena berbagai macam alasan, seperti misalnya merasa belumsiap atau belum mampu dalam halfinansial, menderitaimpoten atau ejakulasi dini, mengalami gangguan kesehatan, dll.

Tetapi masalah kelebihan wanita di Amerika sangatlah kompleks.98% dari penghuni penjara adalah pria. Kemudian ada 25 juta para pelaku sodomi yang secara halus mereka menyebutnya “gay”. Di kota New York terdapat lebih dari satu juta wanita lebihbanyak daripada pria. Bahkan jika semua populasi pria yang cukup berani untuk menikah dengan lawan jenisnya di kota ini dikumpulkan, masih teta pada 1.000.000 wanita tanpa suami. Tetapi yang terburuk adalah reputasi bahwa sepertiga dari populasi pria dikota ini adalah “gay” (homoseksual/melakukan sodomi). Orang-orang Yahudi yang paling ribut dalam setiap debat, tetap diam seribu bahasa karena takut dicap sebagai bangsa timur yang terbelakang. Gereja dengan jutaan penggemar kelahiran kembali yang mengklaim mendiami rumah Roh Kudus, juga tak bersuara tentang topik ini.

Pendiri Gereja Mormon, Joseph Smith dan Brigham Young dengan mengklaim sebuah wahyu baru pada tahun 1830 mengajarkan dan melaksanakan poligami tak terbatas untuk memecahkan masalah kelebihan wanita. Saat ini, orang-orang Mormon telah membatalkan ajaran gereja pendahulu mereka tersebut untuk mendamaikan tuduhan Amerika pada masalah poligami. Apa yang harus dilakukan oleh wanita-wanita Amerika/Barat/Eropa yang malang ini?. Mereka benar-benar akan menjadi tua merana!!.

D. Mengapa Poliandri Dilarang Dalam Islam

Banyak orang, termasuk beberapa muslim, mempertanyakan logika bolehnya laki-laki Islam mempunyai lebih dari satu pasangan tetapi menolak “hak” yang sama bagi perempuan.

Oleh karena itu, perluditekankan terlebih dahulu bahwa dasar sebuah masyarakat Islam adalah keadilan dan keseimbangan. Allah menciptakan pria dan wanita sederajat, tetapi dengan kemampuan berbeda dan tanggung jawab berbeda. Pria dan wanita berbeda secara fisiologis dan psikologis. Peran dan tanggung jawab mereka juga berbeda. Laki-laki dan perempuan setara dalam Islam, tetapi tidak identik.

Surat An-Nisa ayat 22 hingga 24 menjelaskan perempuan yang tidak boleh dinikahi laki-laki Islam. Lebih jauh disebutkan dalam surat An-Nisa ayat 24, “juga ( terlarang ) perempuan-perempuan yang sudah menikah.

Poin-poin berikut menyebutkan beberapa alasan mengapa poliandri dilarang dalam Islam:

1.Jika seorang laki-laki memiliki lebih dari satu istri, kedua orang tua anak yang lahir dari pernikahan semacam itu mudah diidentifikasi. Ayah dan ibu mudah dikenali. Apabila seorang perempuan memiliki lebih dari satu suami, hanya ibu yang bisa diidentifikasi dan bukan ayah.Islam sangat menekankan pentingnya identifikasi kedua orang tua, ibu dan ayah. Para psikolog menerangkan bahwa anak-anak yang tidak mengenal orang tua mereka, khususnya ayah, akan mengalami trauma dan gangguan mental yang berat. Mereka mengalami masa kanak-kanak yang tidak bahagia. Karena alasan inilah, anak-anak pelacur tidak memiliki masa kanak-kanak yang sehat. Jika seorang anak yang terlahir dari hubungan semacam itu masuk sekolah kemudian sang ibu ditanya siapa nama ayahnya, ia akan memberikan dua atau lebih nama! Kita tahu bahwa kemajuan mutakhir memungkinkan identifikasi ibu dan ayah dengan bantuan uji genetika,namun sampai saat ini tak ada satupun teknologi yang mampu menjamin keakuratannya sampai 100%. Selain itu dari sisi lain,semua hukum,baik sekuler maupun agama,setuju bahwa pria adalah kepala keluarga. Apabila poliandri diperbolehkan, siapa yang akan menjadi kepala keluarga? Apakah para suami akan bekerja sama satu sama lain, atau ada satu yang akan menjadi pemimpin? Hal ini tentunya sukar atau tidak akan diterima oleh yang lainnya.

2. Secara alami, laki-laki lebih poligamis daripada perempuan.

3. Secara biologis, laki-laki lebih mudah menjalankan kewajiban sebagai suami walaupun punya beberapa istri. Seorang perempuan yang punya beberapa suami, mustahil menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Seorang perempuan mengalami beberapa perubahan fisiologis dan perilaku karena berbagai fase daur menstruasi.Secara tabiat, seorang perempuan hanya bisa hamil sekali dalam setahun. Namun, laki-laki dapat menurunkan banyak anak dari beberapa istri dalam satu waktu.

4. Seorang perempuan yang punya lebih dari satu suami akan mempunyai beberapa mitra seks pada saat yang sama dan berpeluang lebih besar mendapat penyakit seksual menular yang bisa ditularkan kembali kepada suami-suaminya sekalipun jika mereka semua tidak melakukan hubungan seks di luar perkawinan. Hal demikian tidak akan terjadi pada seorang laki-laki yang mempunyai lebih dari satu istri, terkecuali istri-istri itu ada yang melakukan hubungan seks di luar nikah (berzina).

Alasan-alasan di atas adalah yang mudah diidentifikasi orang. Boleh jadi ada lebih banyak lagi alasan mengapa Allah dengan ilmu-Nya yang tak terbatas, melarang poliandri.

wb: mattula_ada@live.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: