Suara Jurnalisme Warga

by: Mung Pujanarko

Kita sudah sama-sama mengetahui kalau jurnalisme warga itu adalah bentuk komunikasi verbal dan non verbal yang sampai kepada komunikan-komunitas melalui beragam media, baik cetak maupun elektronik. Namun kemudian masih banyak orang yang lalu mengajukan pertanyaan, “Kalau saya sudah menjadi citizen journalist, seorang pewarta warga, lalu apa yang sebaiknya saya tulis, saya wartakan ?, karena saya takut seperti Prita Mulyasari, baru mengeluh sedikit saja di milis, terpublikasi di internet, tahu-tahu terjerat UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik), dipenjara pula, padahal niatnya hanya mewartakan apes yang dialaminya”.

Saudara pembaca, citizen journalism atau jurnalisme warga ini sekali lagi adalah alamiah dan ilmiah sifatnya. Alamiah karena merupakan dorongan Hak Asasi Manusia untuk bersuara, menyuarakan apa yang dialaminya, apa yang dilihatnya. Ilmiah karena secara sadar atau tidak, citizen journalist telah menerapkan ilmu komunikasi.

Siapa saja tidak dilarang atau dihambat untuk menyalurkan hak asasi manusia miliknya yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa berupa dorongan berkomunikasi. Memang ada etika dan tata cara komunikasi, namun ini adalah amat relatif dan bahkan norma berkomunikasi adalah berbeda dalam setiap suku bangsa dan puak-puak yang mendiami bumi ini.

Tapi yang saya ingin kemukakan adalah bagi kita yang suka menapaki jalan pewarta warga, memiliki dorongan yang kuat untuk menuliskan warta berita bagi orang banyak, maka tidak perlu anda resah apa topik yang akan kita tulis.

Setiap pewarta warga dapat menulis apa saja yang dialaminya, misalnya seperti saat sekarang ini ada banjir di berbagai wilayah di Indonesia. Jika kita kebetulan adalah pewarta warga yang tinggal di lokasi banjir tersebut, kita bisa menulis tentang apa saja yang masyarakat rasakan, masyarakat butuhkan dalam situasi banjir seperti ini. Saya pernah mengadakan pelatihan menulis, ketika seorang peserta mencari topik yang tidak dikuasainya maka dia akan macet untuk menulis, tapi ketika dia saya minta untuk menuliskan peristiwa luar biasa yang pernah dialaminya, maka dia lancar sekali menuliskannya, menceritakannya dalam tulisan seperti halnya berbicara scara verbal. Intinya jika peristiwa itu di depan mata kita, kita alami, maka menulispun tanpa terasa kita bisa menyalurkan prinsip Harold Lasswell 5W- 1H. Tidak perlu kita khawatir tidak dapat menulis. Apalagi jika menulis peristiwa untuk situs pewarta warga, di setiap situs pewarta warga manapun, biasanya digawangi oleh korektor bahasa sebagai admin-nya.

Seorang pewarta warga tidak perlu menunggu reporter televisi untuk datang ke lokasi banjir itu untuk memberitakan, barulah bantuan datang. Tidak, citizen reporter atau citizen journalist (pewarta warga) dapat secara langsung mengabarkan apa yang dirasakan, dialami dan dibutuhkan oleh masyarakat, komunitas di sekitarnya.

Jika kita seorang warga desa yang baru saja terkena gusur secara sewenang-wenang, maka kita bisa langsung menuliskannya untuk diunggah dalam jejaring sosial kita, atau dalam media yang menyediakan ruang jurnalisme warga. Takut karena keselamatan terancam ?, kita bisa mengirim email pribadi kepada PPWI atau kepada media massa mana saja untuk meliputnya, atau bila kita masih ragu, maka kita dapat merekam peristiwa itu dan kita segera unggah ke youtube dengan nama samaran.

Tapi sekarang ini sepanjang saya pernah bekerja media masa konvensional di Pulau Jawa, masyarakat sudah sadar dan berani mengunjungi kantor redaksi untuk menceritakan warta bila ada ketidak-adilan di desanya. Kegiatan mengunjungi kantor redaksi ini terjadi bila tidak ada seoarang pun warga desa yang mampu mengunggah warta di internet melalui media sosial, atau cj web (citizen journalist-web). Tapi bila di luar Pulau Jawa, memang terjadi banyak kendala bagi warga untuk mengabarkan sebuah tragedi atau ketidak-adilan atau peristiwa penting di desanya.

Tragedi Mesuji bisa sampai teredam dan terendam selama tiga bulan lamanya sebelum naik ke permukaan. Untungnya ada warga yang melakukan kegiatan citizen journalist dengan merekam dengan kamera hand phone dan menyebarkannya secara terus bergulir, dan secara alamiah sampai sekarang seluruh Indonesia tahu. Sekarang ini bukan era orde baru, di mana pembantaian satu desa tidak akan mungkin terungkap oleh siapapun, karena saking takutnya orang untuk bersuara, ada guyonan, candaan : “Kalau mau ke dokter gigi di Singapura saja, karena di negara itu bebas buka mulut”.

Yah, dan memang jaman dulu itu tak ada jurnalisme warga, boro-boro, bikin media konvensional saja sulitnya luar biasa, dan bila kita bukan siapa-siapa, ya hanya mimpi saja punya media massa. Kini tidak, untungnya dan akhirnya, kita benar-benar bisa bersuara di media massa, meskipun ada UU ITE yang bisa digunakan untuk menjerat suara di ranah cyber-media. Tapi kalau yang bersuara banyak, -atau sendiri sekalipun- tapi mantap dalam menyuarakan aspirasi yang hakiki, maka argumentasi hukum demi kebenaran dan keadilan bisa dikemukakan dalam pengadilan untuk memperoleh keadilan.

Topik untuk kegiatan pewarta warga memang idealnya tidak perlu susah-susah diburu, tidak perlu dicari secara susah payah seperti halnya topik untuk liputan wartawan reguler. Wartawan reguler dalam tuntutan kerjanya berbeda dengan pewarta warga, karena dalam tuntutan pekerjaannya, secara profesional wartawan reguler dibayar, wartawan reguler dibebani oleh keharusan meliput berita berdasarkan desk liputannya. Namun pewarta warga menyuarakan suaranya, berdasarkan hak asasi manusia miliknya, yakni mengemukakan aspirasi, dan menyuarakan aspirasi komunitasnya untuk mewartakan apa saja yang dirasakan oleh panca inderanya. Inilah kekhususan jurnalisme warga, maka itu topik jurnalisme warga bisa saja seperti ini misalnya :

-“ Kami ingin agara polusi dari pabrik tak mencemari desa kami : atau “Desa ‘ini’ tercemar berat polusi ”

-“ Kami ingin agar kemaksiatan tidak ada di lingkungan kami, dll”

-“ Warga wilayah ‘tertentu’ membutuhkan bantuan akibat bencana”

-“ Bantuan belum dirasakan oleh warga wilayah ‘tertentu’ padahal sudah ada penggalangan dana secara nasional,” dll “

Dan berbagai macam topik yang kita mampu menyuarakannya, secara tulisan maupun siaran audio visual. Warta kita tentu harus didukung oleh bukti dan fakta yang ada apa adanya. Di Indonesia karena tingkat pendidikan yang cenderung masih rendah, maka berkembangnya jurnalisme warga membutuhkan waktu yang lama, mungkin -bila tidak ada aral melintang- bisa sampai 10 tahun baru orang bisa biasa dengan jurnalisme warga.

Di Amerika dan Eropa sebagai Negara Dunia Pertama yang telah lebih lama merdeka, aktivitas pewarta warga kini telah berkembang dengan pesat dan baik, ada fenomena “we media/media kita” atau bahkan “I media/ media saya”. Contohnya seorang yang bernama Kevin Sites yang pergi ke berbagai tempat konflik (hot zone) yang berbahaya di seluruh dunia dengan modal back packers, kamera dan laptop, seorang solo jurnalis yang tidak tergabung dalam grup media raksasa, untuk mewartakan apa saja yang terjadi di lokasi konflik berrbahaya tersebut.

Di Indonesia, contohnya kasus Mesuji, warga membutuhkan waktu hingga tiga sampai empat bulan untuk menyampaikan peristiwa penembakan petani sawit plasma, warga kepada media massa konvensional. Bila hal serupa terjadi di Amerika maka hanya dalam hitungan menit, berita ini telah sampai seluruh negara bagian, dan dalam hitungan jam berita seperti Mesuji, -seperti kasus sekte David Koresh di Waco, Texas Amerika yang diserbu tentara federal mengakibatkan tewasnya anggota komunitas itu- sampai mendunia.

Tapi semoga dengan seiring berkembangnya waktu, kita Pewarta Warga Indonesia dapat secara alamiah mengeluarkan aspirasi kita, warta penting kita bagi komunitas masyarakat kita, bagi Negara kita, sebagai kesadaran hak asasi manusia yang telah kita sandang semenjak kita lahir.

Dalam Teori Komunikasi Massa oleh Dennis Mc Quail (2008) djelaskan bahwa public interest atau kepentingan publik, dapat dikomunikasikan oleh media massa konvensional sebagai agensi informasi dan oleh publik itu sendiri yang membuat  medianya, membuat net work medianya, sebagai konsekuensi logis berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi.

Jurnalisme Warga / Citizen Journalism tentu saja sah menggunakan media sosial jenis apa saja (konvergensi media). Kita hidup sekarang ini seperti apa yang dikatakan Dennis Mc Quail dalam : ”Mass Communication Theory” (2008) sebagai “Global Communication Village”atau sebuah desa komunikasi global. (*)

Mung Pujanarko : Menempuh Thesis Jurnalistik di  IISIP Jakarta.

source: http://pewarta-indonesia.com/kolom-pewarta/mung-pujanarko/7441-suara-jurnalisme-warga.html

pb: mattula_ada@live.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: